
Siang hari yang panas, ditengah lapangan terlihat dua orang wanita sedang berkelahi, sedangkan tahanan yang lainnya hanya menonton dan menyoraki jagoan mereka.
Baku hantam dan saling jambak mewarnai perkelahian siang itu.
Meski wanita, namun tenaga mereka berdua cukup kuat. Para petugas yang berusaha melerai, ikut jatuh terpental.
Karena anak buahnya tidak bisa mengatasi, Akhirnya kepala rutan turun tangan.
Dilepaskannya tembakan diudara untuk menghentikan aksi mereka.
Vera dan Nisa, mereka berdua merupakan narapidana yang memiliki sifat buruk dan sering terlibat perkelahian dengan para narapidana lainnya.
Setelah kedua pembuat onar tersebut berhasil diamankan, para petugas segera membubarkan kerumunan yang ada untuk kembali melakukan tugasnya masing masing.
" Kalian lagi....kalian lagi....", ucap kepala rutan dengan nada malas.
" Kali ini, siapa yang memulai duluan? ", tanyanya dengan tatapan tajam.
Ditatap tajam oleh kepala rutan, Vera dan Nisa hanya bisa bungkam.
Sedetik kemudian mereka saling pandang satu dengan yang lain.
Sejujurnya, mereka sendiri tidak begitu tahu siapa yang lebih dulu memulai perkelahian. Awalnya hanya adu mulut yang kemudian beralih ke adu fisik.
BRAAKKK.......
" Ditanya bukannya jawab malah saling pandang ", teriak kepala rutan sambil memukul meja dengan keras.
Bukan hanya Vera dan Nisa saja yang kaget dengan tindakan kepala rutan tersebut, pertugas yang berada disana juga ikut terkejut dan langsung mengelus dadanya.
" Baik... Kalau tidak ada yang mengaku, kalian berdua bersihkan semua toilet yang ada di rutan selama satu minggu ini ", perintahnya sambil berjalan pergi meninggalkan ruangan.
Sedangkan Vera dan Nisa yang mendapatkan hukuman tersebut hanya bisa membulatkan mata tanpa bisa berkata apa apa.
" ya.. lebih baik diam seperti ini daripada hukuman bertambah berat " , batin mereka berdua yang langsung segera dibawah pergi oleh petugas untuk kembali ke selnya.
Tak berselang lama, Vera yang lagi mengobati luka diwajahnya, didatangi petugas yang kemudian membawanya ke ruang kunjungan.
Setyo sedikit terkejut dengan pemandangan yang ada didepannya.
Dia hanya bisa geleng - geleng kepala saat melihat luka lebab di mata Vera sebelah kanan dan luka sobek di sudut bibir kiri bawah.
" Kamu habis berkelahi lagi ? ", tanya Setyo sambil menatap kearah luka diwajahnya.
" Heem...", ucap Vera singkat.
" Kenapa sekarang kamu tidak bisa mengontrol emosi. Jangan seperti ini, itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri ", ucap Setyo khawatir.
" Aku boring, jadi butuh pelampiasan ", ucap Vera cuek.
" Tapi tidak seperti ini caranya ", ucap Setyo lembut sambil memegang sudut bibir Vera yang robek.
__ADS_1
" Isshhh.....", ucap Vera sambil meringis dan berusaha menghalau tangan Setyo yang menyentuh bibirnya.
" Sakit...", tanya Setyo khawatir.
" Sudah tahu pakai nanya ", ucap Vera sebal.
Setyo yang mendapatkan tatapan tajam dari wanita yang ada didepannya langsung tertawa.
Sedangkan Vera yang melihat hal itu hanya bisa cemberut.
" Bagaimana tugasmu ?", tanya Vera dengan tatapan mengintimidasi.
" Jangan bilang kau gagal lagi " , sindirnya, karena melihat Setyo hanya menghela nafas panjang saat dia tanya.
" Ini semua ulah suamimu " , ucap Setyo membela diri.
" ehh.....Mantan suami maksudku" , ralatnya sambil cengar - cengir melihat Vera menatapnya dengan pandangan ingin membunuh.
" Dia menutup semua akses yang ada. Banyak anak buahku yang telah dia tangkap. Jadi sementara ini aku belum bisa bergerak " , ucap Setyo membela diri.
" Apa kamu sudah ada rencana lain? ", tanya Setyo pelan.
Vera hanya terdiam mendengar pembelaan yang dilakukan Setyo.
Otaknya mulai bekerja untuk mendapatkan cara agar dirinya bisa segera keluar dari tempat ini.
" Sini...", ucap Vera sambil menyuruh Setyo mendekat.
" Bawa aku kabur...." , ucapnya sambil berbisik.
" Pikir sendiri. Makanya punya otak itu dipakai " , ucap Vera sambil memukul kening Setyo.
Selanjutnya mereka hanya berkomunikasi lewat tatapan mata karena sudah ada petugas yang datang untuk membawa kembali Vera kedalam selnya.
Disepanjang jalan pulang, ucapan Vera waktu di rutan tadi terngiang ditelinganya.
Dia sudah cukup banyak mengecewakan wanitanya itu. Dan sekarang saatnya bagi Setyo untuk membuktikan bahwa dirinya mampu menjaga dan melindungi wanita yang dicintainya itu.
Dua hari lagi sidang pembelaan Vera akan dilaksanakan.
Tapi Setyo belum melihat peluang apapun yang bisa membawa wanitanya itu keluar dari jeratan hukum.
Untuk itu dia berinisiatif untuk pergi ketempat pengacara Vera.
Disana, Setyo berdiskusi tentang peluang apa yang dimiliki oleh wanitanya itu.
Tapi pengacaranya mengatakan bahwa peluang Vera sangatlah tipis. Mendengar hal itu Setyo mulai berpikir keras.
Sedetik kemudian senyum licik mulai menghiasi wajahnya. Setyo mulai mengatakan apa yang menjadi rencananya.
Pengacara Vera sangat terkejut dengan rencana gila yang disampaikan Setyo.
__ADS_1
Meski awalnya menolak untuk ikut andil dalam rencana tersebut, tapi akhirnya pengacara Vera setuju dengan beberapa syarat yang harus Setyo penuhi.
Setelah terjadi kesepakatan diantara mereka berdua, Setyopun pulang untuk melaksanakan rencananya.
Tak terasa waktu satu minggu sudah berlalu sejak hari terakhir sidang digelar.
Hari ini sidang lanjutan akan segera digelar dengan agenda pembelaan terdakwa.
Mia, sebenarnya ingin ikut menghadiri persidangan hari ini, tapi keinginannya tersebut dilarang oleh anaknya.
Karena Mia tetap memaksa, akhirnya Alfredo bersandiwara bahwa Felicia sedang sakit dan perlu dijaga.
Dengan berat hati Mia menyangupi permintaan putranya tersebut dan pergi menjaga Felicia di apartemennya.
Felicia yang terlihat lemas dan pucat membuat Mia percaya bahwa calon menantunya tersebut sedang sakit.
Sebenarnya Felicia tidak sakit, dia hanya kelelahan akibat gempuran yang dilakukan Alfredo semalam.
Mia yang melihat Felicia sangat pucat segera menyuruhnya untuk beristirahat. sedangkan dirinya bersama bik Ina mulai sibuk didapur, untuk memasak makanan buat calon menantunya itu.
Sementara itu didalam ruang persidangan hari ini suasananya sedikit memanas.
Pengacara Vera tidak terima dengan putusan hakim yang menyatakan bahwa kliennya tersebut bersalah dan dijatuhi vonis hukuman mati.
Bukan hanya berteriak, tapi pengacara Vera juga sempat memukul hakim yang memimpin jalannya persidangan.
Petugas yang melihat tindakan tersebut, segera berusaha untuk menangkapnya.
Untuk menghindari petugas yang mengejarnya, dia melempar semua barang yang bisa dijangkaunya.
Tidak hanya itu saja, pengacara Vera juga melempar kursi yang ada didepannya saat petugas sudah berada didepannya dan bersiap untuk menangkapnya.
Keadaan ricuh tersebut dimanfaatkan oleh Vera untuk mengambil pistol dari petugas yang sedang sibuk memengangi pengacaranya.
Berbekal pistol yang didapatkannya, Vera segera menyandera salah satu petugas perempuan yang kebetulan berada disampingnya.
Dia terus menodongkan pistol kearah kepala perempuan yang disanderanya. Bahkan dia menembak salah satu petugas yang mencoba berjalan kearahnya dan bernegosiasi dengannya.
Melihat aksi nekat Vera, petugas yang lainnya berjalan mundur dan membiarkannya keluar ruang pengadilan.
Diluar gedung Setyo sudah menunggu Vera didalam mobilnya.
Melihat Vera keluar bersama sandera, Setyo segera melajukan mobilnya menuju kearah Vera berada.
Vera yang melihat mobil Setyo sudah berada di depannya segera mendorong sandera hingga jatuh kejalan kemudian dirinya masuk kedalam mobil.
Setyo segera memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi keluar dari gedung pengadilan.
Para petugas yang berada dilokasi segera melakukan pengejaran. Sementara yang lainnya menolong korban sandera yang mengalami luka memar ditangan dan kakinya.
Alfredo yang melihat Vera kabur terlihat sangat marah.
__ADS_1
Segera dia menghubungi anak buahnya untuk mengejar Vera dan Setyo agar jangan sampai lolos.
Berbekal plat nomor yang sempat terekam kamera yang berada dihalaman pengadilan, aksi pengejaranpun berlangsung.