Lika - Liku Cinta Alfredo

Lika - Liku Cinta Alfredo
KONDISI MIA


__ADS_3

Hari ini seperti biasa setelah Alfredo berangkat kekantor, Felicia akan dijaga oleh Mia dan bik Ina.


" Mami sakit ? ", tanya Felicia saat melihat Mia yang sedikit pucat pagi ini.


" Tidak sayang..., mami hanya agak pusing saja " , ucap Mia berbohong.


" Mami istirahat saja di rumah. Aku tidak apa - apa kok mi sendirian disini. Lagian kan ada suster, kalau ada apa - apa aku tinggal panggil mereka ", ucap Felicia cemas.


" Tidak apa - apa, mami sudah minum obat. Istirahat sebentar juga sembuh " , ucap Mia lembut.


Karena terus didesak oleh menantunya, akhirnya Mia pun berbaring diranjang yang disediakan bagi penunggu pasien.


Setelah mertuanya tertidur akibat pengaruh obat, Felicia memanggil bik Ina agar mendekat kepadanya.


" Bik...apa mami sering kaya gini ? ", bisik Felicia pelan.


" Tidak juga sih non, cuma tiga hari terakhir kondisi nyonya sedikit drop ", ucap bik Ina lirih.


Kemudian Feliciapun mencoba menghubungi suaminya untuk membicarakan mengenai kondisi sang mami.


F : Mas...lagi sibuk kah?


A : Ini habis meeting sama tim marketing


A : Ada apa sayang....


F : Hari ini mas bisa pulang cepet nggak?


A : Kamu nggak apa - apa kan sayang...? (tanya Alfredo dengan nada cemas )


F : Aku nggak apa - apa


F : Ini tentang mami...


A : Ada apa dengan mami ?


F : Hari ini mami kelihatan pucat banget


F : Mumpung di rumah sakit, bagaimana kalau mami sekalian periksa...


A : Ya udah....hari ini aku usahain bisa pulang cepat.


F : Makasih sayang...


F : I love u honey...


A : I love u too my wife...


Setelah sambungan telepon terputus, Felicia segera menghadap ke arah dokter Alif yang sudah masuk kedalam ruang rawat untuk memeriksa kondisinya.


"Sudah semakin membaik, luka dipunggung dan kepala sudah kering. Dengan kondisi seperti ini kemungkinan besok kamu sudah bisa pulang setelah lepas perban " , ucap Alif menjelaskan.


" Dokter Alif hari ini sibuk tidak ? " , ucap Felicia tiba - tiba.


" Dua jam lagi saya ada jadwal operasi, setelah itu kemungkinan senggang. Kenapa ? ", tanya Alif penasaran.

__ADS_1


" Kalau dokter senggang, ada yang ingin saya konsultasikan " , ucap Felicia tersenyum.


" Baik. Nanti selesai operasi saya langsung kesini " , ucap Alif tersenyum manis.


Kemudian Alif meninggalkan ruang perawatan Felicia bersama dua suster yang menemaninya keliling.


Dibantu oleh bik Ina, Felicia mendekati tempat dimana mertuanya beristirahat.


Dibalik wajahnya yang mulai keriput terlihat sekilas raut muka kesakitan.


"Mami kenapa, bagian mana yang sakit ? " , batin Felicia sedih melihat kondisi mertuanya, tak terasa airmatanya menetes.


" Saya yakin nyonya tidak apa - apa, mungkin hanya kecapekan. Non Felicia balik ke tempat tidur lagi ya...", bujuk Ina agar majikannya itu mau diajak kembali ketempat tidurnya.


qMeski dirinya juga merasa khawatir dengan kondisi nyonya besarnya itu, tapi dia juga harus menjaga kondisi Felicia yang masih belum sepenuhnya pulih jika tidak ingin kena marah Alfredo.


Setelah menyelesaikan operasinya, Alif segera bergegas menuju ruang rawat Felicia.


Dia cukup penasaran dengan apa yang gadis itu ingin konsultasikan dengannya.


Melihat Alif sudah berada didepannya, Feliciapun segera mengatakan apa yang membuatnya gelisah mulai tadi.


" Aku bisa lihat obat - obatan yang dikonsumsi oleh mertuamu ", tanya Alif cemas.


Kemudian bik Ina segera mengambilkan kotak yang berisi obat - obatan yang rutin dikonsumsi oleh Mia.


Sekilas tidak ada yang aneh dari obat - obatan yang dikonsumsi oleh mertua Felicia itu.


Namun tiba ? tiba pandangannya tertuju pada botol obat berwarna putih.


Deg....


" seperti yang aku duga " , batin Alif cemas.


Felicia yang melihat perubahan ekspresi Alif setelah melepas label obat tersebut terlihat sangat penasaran.


" Sudah berapa lama mertuamu mengkonsumsi obat ini ?" , tanya Alif sambil menatap Felicia tajam.


" Sekitar empat tahunan dok..." , ucap Mia yang tiba - tiba bersuara.


" Ibu dapat rekomendasi obat ini dari dokter siapa ? " , tanyanya lagi.


" Dokter Priambudi siapa gitu dok saya lupa nama panjangnya " , ucap Mia mencoba mengingat - ingat nama dokter yang direkomendasikan oleh Vera.


Sejenak Alif tampak berpikir mengenai nama yang sempat Mia utarakan barusan.


Ada kejanggalan disana, meski Alif baru pindah kekota ini sekitar dua tahun tapi dirinya hafal nama - nama dokter spesialis yang ada dikota ini.


" Kalau saya boleh tahu dokter Priambudi itu dokter spesialis apa ya bu ? dan kalau saya boleh tahu juga dimana tempat prakteknya, mungkin saya bisa ajak beliau berkonsultasi ? " , ucap Alif sopan.


" Sepertinya dokter spesialisasi saraf, karena pada awalnya dulu saya sempat mengalami stroke ringan. Kalau untuk tempat prakteknya saya tidak tahu karena dokter Priambudi selalu datang ke rumah bersama menantu saya yang dulu ", ucap Mia menjelaskan.


" Maksud saya istri Alfredo sebelum Felicia " , ucap Mia menjawab rasa penasaran dari wajah Alif.


Alif kemudian menganggukan kepala sebagai ungkapan bahwa dirinya mengerti apa yang dimaksud oleh Mia.

__ADS_1


" Saya boleh membawa obat ini bu untuk saya teliti " , ucap Alif meminta ijin.


" Apa ada yang aneh dengan obat saya dok ? " , tanya Mia cemas.


" Saya hanya ingin tahu kandungan apa yang ada didalamnya, karena kata Felicia setiap ibu selesai mengkonsumsi obat ini jantung ibu berdebat dengan kencang dan sedikit pusing..." , ucap Alif menjelaskan.


Tidak ingin membuang waktu, Alif pun segera pamit udur diri dan bergegas membawa obat tersebut kedalam lab untuk diperiksa.


"Kalau dilihat dari nama dan komposisi yang ada, ini seperti obat yang biasa digunakan untuk binatang" , batin Alif cemas.


" Tapi kenapa istrinya Alfredo yang dulu memberikan obat ini kepada mertuanya " , batin Alif penasaran.


Tidak mau asal tebak tanpa adanya bukti, segera dia menguji kandungan apa saja yang terdapat dalam obat tersebut.


Setelah tahu kandungan apa yang ada didalamnya barulah dia akan memberitahukan kepada Mia dan keluarganya.


Sementara itu diruang rawat Felicia, Mia dan menantunya bertanya - tanya ada apa dengan obat itu.


" Apa mungkin obat itu palsu, melihat label yang asli ditutupi label baru diatasnya ", ucap Mia penasaran.


" Mami biasanya nebus obat itu diapotik mana ? ", tanya Felicia penasaran.


" Mami tidak beli diapotik. Obat itu langsung diantar kurir punyanya dokter Priambudi langsung " , ucap Mia menjelaskan.


" Kita berdoa saja semoga hasil lab nya bukan sesuatu yang buruk " , ucap Felicia berusaha untuk menenangkan maminya.


Meski Felicia terlihat tenang, namun dalam hatinya tersirat sesuatu kekhawaatiran melihat raut wajah cemas Alif saat dia membaca label asli obat tersebut.


Felicia tidak mau berspekulasi terlalu jauh sebelum mendapatkan bukti.


Untuk itu dia akan menunggu hasil dari lab dan menunggu suaminya datang untuk membahas permasalahan ini.


Karena kedatangan tamu penting dikampusnya, Alfredo yang sudah menyelesaikan semua pekerjaan dikantornya terpaksa harus pergi kekampus dulu untuk menemui tamu penting itu sebelum dirinya pergi kerumah sakit.


" Maaf ya sayang, aku terlambat datang. Tadi tiba - tiba ada telepon dari kampus menyuruhku datang ", ucap Alfredo merasa bersalah.


" Lalu sekarang apa urusannya sudah beres semua ? ", tanya Felicia sambil tersenyum.


"Alhamdulillah semua sudah teratasi dengan baik " , ucapnya bangga.


" Baguslah kalau begitu jadi sekarang aku bisa membicarakan masalah ini dengan mas ", ucap Felicia serius.


" Masalah apa ?" , tanya Alfredo penasaran melihat raut wajah serius dari sang istri.


Sebelum Felicia menjelaskan permasalahan yang ada, tiba - tiba dari balik pintu Alif datang dengan raut wajah tegang.


" Apa bapak bisa ikut saya sebentar, ada yang mau saya diskusikan ", ucap Alif kepada Alfredo.


" Apa saya bisa ikut juga dok...", tanya Felicia menawarkan diri.


" Untuk sementara saya ingin bicara dengan pak Alfredo dulu " , ucap Alif sambil mengajak Alfredo menuju keruangannya.


Meski agak sedikit binggung, namun Alfredo tetap mengikuti Alif karena penasaran dengan apa yang akan dokter itu katakan kepadanya.


" Apa ini berkaitan dengan Felicia...apa ini sesuatu hal yang buruk sampai aku dipanggil keruangannya ", batin Alfredo berkecamuk.

__ADS_1


Hati Alfredo semakin tak menentu saat kakinya melngkah masuk kedalam ruang kerja dokter bedah tersebut.


__ADS_2