
Hari yang dinanti pun telah tiba, seluruh keluarga dan orang terdekat Alfredo pagi ini sudah bersiap untuk berangkat menuju kota B********n , kecuali Felicia dan Ajeng yang telah berangkat sehari sebelumnya untuk menyiapkan semuanya disana.
Terlihat satu rombongan telah menunggu kedatangan mereka di Bandara *******. Mereka adalah para juru rias dan event organizer yang memang telah dipersiapkan oleh Alex untuk mengurus semua yang diperlukan.
Meski terkesan mendadak, tapi jika uang yang berbicara tidak ada yang tidak mungkin terjadi.
Iring - iringan pengantinpun terlihat mulai meninggalkan bandara menuju X City tempat acara berlangsung.
Didalam mobil Alfredo terlihat sangat gugup, keringat dingin mulai mengucur deras di tubuhnya meski pendingin mobil sudah dinyalakan.
Alex yang duduk disebelah bosnya tersenyum tipis melihat wajah gugup Alfredo.
Selama sepuluh tahun bekerja dengan Alfredo, Alex belum pernah melihat bosnya segugup ini.
Padahal ini bukan pernikahan pertama yang dijalani oleh bosnya itu.
"Silahkan diminum pak ", ucap Alex sambil menyodorkan air mineral dingin dari dalam box.
" Terimakasih ", ucap Alfredo meneguk habis air yang diberikan oleh Alex sambil menyeka keringat di wajah dan lehernya.
"Ini bukan yang pertamakali, kenapa segugup itu...", ucap Mia menggoda.
" Bagaimana kalau Leon berubah pikiran dan tak mengijinkanku menikahi Felicia " , ucap Alfredo cemas.
" Kamu harus yakin....bukankah Felicia sudah ada disana. Dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi ", ucap Mia mencoba menenangkan.
Setelah menempuh perjalanan hampir dua jam, akhirnya mereka tiba disebuah rumah mewah dua lantai dengan model minimalis.
Tidak ada hiasan atau kegiatan apapun diluar rumah, karena Alfredo tidak mengatakan apapun kepada Felicia dan keluarganya bahwa hari ini akan langsung dilaksanakan pernikahan.
Keluarga inti dan sahabat dekat Alfredo turun dari mobil. Sedangkan yang lainnya tetap berada diluar sampai ada instruksi mereka harus masuk.
Deg…deg…deg…
Jantung Alfredo berdetak sangat cepat, dengan menarik nafas dalam beberapa kali akhirnya kaki pria beranak satu tersebut mulai melangkah masuk kehalaman rumah.
Keluarga Felicia yang sudah menanti kedatangan mereka segera menyambut tamunya yang berjumlah sepuluh orang itu.
Dengan wajah tegang, diedarkannya pandangan keseluruh ruangan, tapi dia sama sekali tidaak melihat wajah calon istrinya itu. Hanya Ajeng yang terlihat berjalan mondar - mandir menyiapkan hidangan buat tamu.
Setelah berbasa - basi sebentar akhirnya Mia yang mewakili pihak keluarga Bramasty mrengutarakan niatnya untuk meminang Felicia sebagai menantunya.
Selanjutnya suasana menjadi hening karena Leon beserta istri dan keluarga masih belum menjawab pinangan tersebut.
Mereka hanya terdiam sambil saling memandang antara satu orang dengan yang lainnya.
Melihat suasana sunyi mencekam, membuat Alfredo mulai merasa cemas.
Berbagai pikiran negative mulai hinggap dikepalanya. Apalagi sejak mereka datang sampai minuman hampir habis, Felicia sama sekali belum menampakkan batang hidungnya.
Mia yang melihat kecemasan diwajah putranya segera mengenggam erat tangan Alfredo dan berusaha untuk menenangkannya.
Lewat sorot matanya Mia mengatakan bahwa semua akan baik - baikn saja.
__ADS_1
"Sebelumnya, kami mohon maaf karena kami sekeluarga tidak bisa memberikan jawaban atas pinangan yang ibu ajukan" , ucap Leon memecah kesunyian.
Deg....
" Apa mereka menolak lamaranku ", ucap Alfredo terkejut.
Bukan hanya Alfredo yang terkejut dengan pernyataan Leon itu, tapi seluruh orang yang hadir disana juga tidak bisa menyembunyikan rasa terkejut mereka.
" kok ditolak....berarti tidak jadi nikah dong....kasihan....", itulah batin sebagian orang yang hadir disana.
Melihat anaknya panik, Mia semakin menguatkan genggaman tangannya dengan muka terlihat tenang sambil tersenyum.
Melihat wajah maminya yang terlihat tenang membuat rasa panik Alfredo sedikit berkurang.
" Karena yang bisa memberikan jawabannya...", ucap Leon memecah kesunyian.
" Hanya adik saya, Felicia yang bisa menjawabnya...", ucap Leon sambil melirik kearah adiknya yang datang dengan gaun putih selutut dengan aksen rendah berwarna biru langit dilengan dan bagian bawahnya, dengan aksen pita ditengahnya, terlihat manis dan cantik digunakannya.
Rambut Felicia yang biasanya dibiarkan tergerai, kini dirapikan keatas dengan hiasan bunga di sampingnya, menambah cantik parasnya.
Semua orang tak terkecuali Alfredo hanya bisa terdiam terpaku melihat kecantikan Felicia.
Ini pertama kalinya Alfredo melihat kekasihnya itu berdandan, karena selama ini Felicia hanya memakai bedak dan lipstic saja.
"Bagaimana Felicia, apa kamu bersedia menjadi istrinya Alfredo dalm suka dan duka. Dan bersamanya sepanjang hidupnya ", tanya Mia sambil tersenyum.
" Sa...saya...", ucap Felicia gugup.Semua orang terlihat sangat tegang menanti kata dari mulut Felicia.
"Maaf... saya tidak bisa..." , ucap Felicia sambil menunduk.
" Apa !!!...Felicia menolak.....apa gadis itu masih belum yakin pada diriku ? ", batin Alfredo berkecamuk mendengar ucapan sepotong yang keluar dari mulut Felicia.
"Saya tidak bisa untuk mengatakan tidak ", lanjut Felicia sambil merona menahan malu.
Badan Alfredo langsung lemas mendengar ucapak Felicia. Pria tampan itu terlihat syok dengan pernyataan kekasihnya itu hanya bisa terdiam membisu.
Begitu juga dengan semua orang, Mia yang mengerti akan situasi yang ada segera berbicara untuk mencairkan suasana.
" Alhamdulillah...terimakasih ya sayang sudah mau menerima anak tante ", ucap Mia tersenyum hangat.
Alfredo yang masih syok merasa binggung mendengar ucapan sang mami. Kenapa maminya percaya diri bahwa Felicia mau menjadi menantunya, padahal jelas - jelas tadi gadisnya itu sudah menolaknya.
" Sayang tolong jelaskan pada calon suamimu ini, kelihatannya dia masih binggung ", ucap Mia dengan nada mengoda.
Semua orang yang mendengar ucapan Mia langsung tersenyum karena mereka sudah bisa mencerna apa yang Felicia ucapkan setelah mendengar Mia berbicara tadi.
Tapi hal tersebut tidak dengan Alfredo yang masih menampakkan wajah binggungnya.
" Aduh si bos ini malu - maluin aja. Bagaimana bisa bos tidak paham apa yang dikatakan oleh nona Felicia " , guman Alex gemas.
"Namanya juga lagi gugup, jadi kurang bisa berpikir jernih ", ucap Cindy sambil berbisik.
Felicia yang melihat calon suminya tersebut masih terlihat binggung langsung menghampirinya dengan muka gemas.
__ADS_1
" Sayang...kenapa wajahmu tidak bahagia begitu " , tanya Felicia pura - pura sedih.
" Mas tidak tidak mau nikahin aku ya " , ucapnya dengan mata berkaca - kaca.
" Bukan begitu sayang, aku sangat ingin menikahimu sekarang juga, tapi tadi jawabanmu...", ucap Alfredo dengan wajah sedikit kecewa.
Melihat wajah sedih dari sang kekasih membuat Alfredo mencerna kembali ucapan Felicia.
Tidak lama kemudian wajah penuh penuh keceriaan terbit disana. Felicia yang meruntuki kebodohan calon suaminya itu hanya bisa geleng - geleng kepala dengan wajah super gemas.
"Jadi....jadi kamu menerimaku sayang" , ucap Alfredo gembira dan langsung memeluk gadis cantik yang ada didepannya.
"Menurutmu..., ucap Felicia sebal.
" Sejak kapan calon suamiku menjadi bodoh seperti ini ", gerutu Felicia masih mengerucutkan bibirnya karena sebal.
Melihat hal itu, Alfredo yang merasa gemas melihat muka Felicia yang lucu pelan - pelan memajukan wajahnya.
" Belum sah....", ucap semua orang serentak saaat melihat Alfredo hendak mencium Felicia.
Mendengar hal itu, Felicia langsung merona menahan malu.
Sedangkan Alfredo hanya mengaruk - garuk kepalanya yang tidak gatal.
Melihat sepasang kekasih tersebut salah tingkah semua orang yang ada tertawa terbahak - bahak.
Jika semua orang yang berada didalam rumah diliputi rasa bahagia, tapi tidak dengan segerombolan orang yang berada diluar rumah.
Mereka semua sedang menunggu instruksi dengan cemas. Akhirnya supir keluarga Brahmasty yang ikut dibawa ke B********n, pak Amir memberanikan diri masuk kedalam rumah.
Alfredo yang terkejut dengan kedatangan pak Amir langsung mengangguk paham saat pria paruh baya itu berbisik kepadanya.
Karena terlalu tegang dan gugup selama proses lamaran berlangsung, dia sampai melupakan inti dari tujuannya kerumah ini.
"Mohon maaf sebelumnya...", ucap Alfredo menghentikan obrolan yang sedang berlangsung.
" Kalau diijinkan, hari ini juga saya akan menikahi Felicia " , ucap Alfredo mantap.
Kali ini sama sekali tidak terlihat wajah tegang dan gugup yang tadi tersirat. Yang ada hanya wajah penuh percaya diri yang terpancar disana.
" Me...menikah..?" , tanya Leon kaget.
"Sekarang....", ucapnya lagi dengan wajah tak percaya.
"Betul....tapi anda sekeluarga tidak perlu cemas karena kami sudah mempersiapkan semuanya " , ucap Alfredo menjelaskan.
Kemudian Alfredo menyuruh masuk semua orang yang telah dibawahnya kedalam rumah Leon.
Semua orang yang masuk mulai melaksanakan tugasnya masing - masing mengingat waktu yang diberikan hanya sebentar.
Leon beserta keluarga yang sangat terkejut dengan apa yang telah disiapkan oleh calon adik iparnya tersebut hanya bisa pasrah dan menerima semuanya.
" Aku tidak menyangka kalau rasa percaya dirimu cukup tinggi " , ucap Leon memuji.
__ADS_1
" Tentu saja, kakak...", ucap Alfredo mengoda, mereka berdua kemudian tertawa bersama.