Lika - Liku Cinta Alfredo

Lika - Liku Cinta Alfredo
PANTI ASUHAN


__ADS_3

Tak terasa sudah satu bulan Alfredo dan Felicia menjadi suami istri. Suasana penuh kebahagiaan menyelimuti keluarga baru itu.


" Kamu beneran nggak mau mengadakan resepsi... ? ", tanya Alfredo untuk kesekian kalinya.


" Nggak usah mas, mending uangnya disimpan atau dialokasikan buat yang lain ", ucap Felicia pelan sambil terus menatap televisi yang ada didepannya.


Saat ini semua keluarga sedang bersantai diruang keluarga sambil melihat tayangan komedi di televisi.


Beberapa kali terdengar gelak tawa saat para komedian beraksi.


" Bagimana kalau bulan madu...? , tanya Alfredo sambil membelai lembut kepala sang istri yang bersandar dibahunya.


" Tidak diperlukan..." , ucap Felicia pelan, masih dengan tatapan kearah layar yang ada didepannya.


" Kenapa....apa kamu ingin dananya disimpan juga ?" , ucap Alfredo sinis, dan dijawab angukan oleh Felicia.


" Kamu pikir suamimu ini miskin hingga tidak bisa mengadakan acara resepsi dan pergi bulan madu " , ucap Alfredo dengan nada agak tinggi karena geram.


Karena suara Alfredo yang sedikit keras dengan nada tinggi membuat semua orang yang berada di ruang keluarga menoleh kepada mereka.


Tidak enak dengan tatapan aneh yang diberikan mertua dan anaknya, Felicia segera mengajak Alfredo kedalam kamar dengan alasan dirinya sudah mengantuk.


" Bukan seperti itu sayang..." , ucap Felicia sambil menyentuh pipi Alfredo dengan lembut saat mereka sudah berada didalam kamar.


" Bagiku..., kita sudah menikah secara hukum dan agama itu sudah cukup ", ucap Felicia lembut.


" Tapi ini pernikahanmu, sekali seumur hidup, aku tidak mau nantinya kamu kecewa " , ucap Alfredo sedih.


Meski dia sebenarnya juga tidak menginginkan adanya resepsi karena ini adalah pernikahan ketiga kalinya, tapi dia tidak mau istri kecilnya itu merasa kecewa nantinya.


" Aku hanya ingin membuat pernikahan ini berkesan bagimu. Aku i...." , ucapan Alfredo terpotong saat tiba - tiba b***r merah istrinya membungkamnya.


" Bagiku....bersamamu adalah suatu hal yang membahagiakan dan tidak bisa digambarkan dengan apapun. Pernikahan itu bukan pestanya yang membuat berkesan, tapi perjuangan yang ada hingga hal tersebut terjadi, itulah yang berkesan dihatiku " , ucap Felicia sambil menatap Alfredo dengan penuh cinta.


" Dan....perjuanganmu untuk langsung menghalalkanku saat itu juga adalah hal yang paling romantis dan sangat berkesan bagiku " , ucapnya pelan sambil memeluk suaminya dengan erat.


" Besok kan hari minggu, bagaimana kalau kita pergi ke panti ", ucap Felicia mengusulkan.


" Ke panti asuhan yang waktu itu kita undang " , tanya Alfredo berpikir.


" Iya..., yang itu. Waktu dengar ceritanya kan sepertinya panti mereka kesulitan keuangan, bagaiman kalau kita coba lihat dan bantu mereka ", tanya Felicia dengan wajah penuh harap.


"Baiklah....besok pagi kita kesana " , ucap Alfredo sambil mengangkat istrinya ke atas ranjang.


" Tapi sekarang, kamu manjain aku dulu ya ", ucap Alfredo manja.


" Maunya....", ucap Felicia sambil mencubit hidung suaminya dengan gemas.


Setelah meneruskan ngobrol dan bersenda gurau, akhirnya mereka berdua melalui malam itu dengan panas.


Malam yang sempat tertunda akibat kesibukan dan sifat manjanya Sammy yang memonopoli Felicia setiap malamnya.


Pagi itu, Sammy terlihat begitu semangat mengumpulkan semua pakaian, buku, dan mainan yang sudah tidak pernah dipakainya untuk disumbangkan ke panti.


Setelah persiapan selesai, mereka bertiga menuju ketempat yang dituju. Sebuah desa X yang berada dilereng pegunungan, lumayan terpelosok jauh dari keramaian.


Jalan menuju desa juga banyak yang rusak dan berlubang serta penuh dengan lumpur akibat hujan semalam, sehingga mobil harus berjalan pelan pelan agar tidak terperosok.


Setelah tiga puluh menit melewati jalan beraspal yang rusak, akhirnya mereka mulai memasuki gerbang desa.

__ADS_1


Masih banyaknya sawah yang membentang dikanan dan kiri jalan, serta pohon - pohon besar yang tumbuh disepanjang jalan, membuat suasana desa terlihat sangat asri dan menyegarkan mata.


Suatu pemandangan yang tidak bisa kita dapatkan diperkotaan.


Dari kejauhan terlihat sebuah rumah tua dengan halaman yang cukup luas dimana anak - anak bebas bermain dan berlarian disana.


Anak - anak panti tertawa riang gembira bermain dihalaman membuat suasana hati menjadi tenang saat melihatnya.


Semua anak menoleh saat mobil memasuki halaman rumah yang tak berpagar itu. Hanya ada tanaman ketela pohon di sekililing halaman rumah sebagai batas antar tanah.


Perlahan - lahan satu persatu anak - anak mulai mendekat saat Sammy turun dari dalam mobil.


" Sammy main dulu sama mereka ya ma ", ucap Sammy meminta ijin saat anak - anak panti mengajaknya bermain.


" Iya sayang, tapi tidak boleh bertengkar ya " , ucap Felicia lembut sambil membelai kepala anaknya.


Kemudian Sammy pun mulai membaur dengan anak - anak untuk bermain dihalaman rumah.


Dari dalam rumah terlihat bu Diah jalan ke depan dengan cepat sambil membenahi jilbab yang dipakainya.


" Selamat datang Bapak...Ibu....mari silahkan masuk " , ucap Diah sambil mempersilahkan tamunya untuk masuk.


Setelah seluruh barang yang ada dimobil dikeluarkan mereka segera masuk kedalam rumah.


Hati Felicia tersentuh saat melihat kondisi yang terlihat didalam rumah. Ruang tamu terlihat sangat luas karena tidak ada meja, kursi, ataupun barang elektronik.


Hanya ada jam yang menempel di dinding, itupun terlihat sudah sangat tua.


Di pojok ruangan terlihat kasur tipis untuk alas tidur anak - anak yang tersusun rapi. Jadi perkiraan bahwa kalau malam mereka akan menata kasur dalam ruangan tersebut untuk tidur.


" Mari silahkan duduk. Maaf hanya beralaskan tikar " , ucap Diah sambil mengelar tikar yang terlihat berlubang disana - sini.


" Tidak apa - apa bu. Kami yang seharusnya minta maaf karena datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu ", ucap Felicia lembut sambil tersenyum.


" Kalau boleh saya tahu, disini ada berapa anak yang tinggal, kok sepertinya lebih banyak dari yang sudah datang ke acara ",ucap Felicia penasaran.


" Disini totalnya ada seratus dua puluh anak, lima puluh anak perempuan dan tujuh puluh anak laki - laki ", ucap Diah menjelaskan.


" Kemarin yang kami ajak hanya sebagian saja, karena yang lain kebetulan juga dapat undangan dari desa sebelah ada acara pengajian ", ucapnya lagi.


" Apa kami boleh melihat - lihat kondisi panti bu..? , tanya Alfredo sopan.


" Boleh pak...mari silahkan " , ucap Diah ramah sambil bangkit dari duduknya dan mengantar tamunya keliling rumah.


Dibelakang ruang tamu ada satu kamar sebagai gudang penyimpanan dan almari yang berisi baju anak - anak panti.


Dapurnya masih menggunakan tungku dengan kayu bakar sebagai mengantar apinya.


Kamar mandi berada diluar rumah dengan bangunan terpisah hanya berupa tembok tanpa adanya atap yang melindunginya.


Sebagian besar anak yang berada dipanti asuhan adalah anak - anak yang telah ditinggal mati oleh kedua orang tuanya dan tidak punya kerabat didaerah sana, serta anak - anak yang sengaja dibuang oleh orang tuanya.


Untuk makan sehari - hari mereka mengandalkan hasil kebun yang ditanami jagung, ketela pohon, cabai, dan sayur mayur.


Serta kebun jeruk dan kopi yang mereka rawat sebagai lahan tempat mereka mencari makan.


Kadang anak laki - laki mencari ikan disungai dan mencari belut ataupun bekicot disawah sebagai lauk.


" Dulu ada beberapa orang donator tetap yang menyumbang. Tapi sekarang hanya tersisa satu ", ucap Diah sedih.

__ADS_1


" Maka dari itu, banyak anak - anak yang putus sekolah dan membantu diladang dan kebun milik warga agar bisa mendapatkan uang untuk keperluan sehari - hari " , ucapnya dengan wajah semakin sedih.


"Untungnya banyak dari sekolahan atau kampus yang kadang datang kesini untuk memberi pakaian ataupun sembako, jadi kami cukup terbantu akan hal itu " , ucapnya penuh rasa syukur karena masih ada orang yang perduli dengan mereka.


Melihat hal itu, Alfredo segera menghubungi anak buahnya untuk segera datang ke panti.


Sambil menunggu anak buahnya, Alfredo dan Felicia menikmati pemandangan desa yang sangat asri sambil melihat anak semata wayangnya bermain bersama anak panti seusianya.


" Seru mainnya sayang...? ", tanya Felicia saat Sammy mendekat untuk minum.


" Seru banget ma...", ucap Sammy yang langsung kembali bermain setelah keringatnya diseka dengan handuk kecil oleh Felicia.


" Kapan ya rumah kita bisa ramai dengan suara anak - anak seperti ini " , ucap Alfredo sambil menatap anak - anak yang berlarian kesana - kemari.


" Memang mas pengen punya anak berapa ?", tanya Felicia penasaran.


" Sebanyak - banyaknya...", ucapnya dengan senyum mengoda.


" APA !!!!...", teriak Felicia kaget.


" Emang kamu mau pikir lahiran itu gampang apa " , ucap Felicia sewot.


"Kan... tadi sayang nanya....ya aku jawab ", ucap Alfredo tanpa rasa bersalah


" Tapi ya nggak gitu kali jawanya " , ucap Felicia sebal.


Alfredo yang melihat istri kecilnya marah berusaha untuk membujuknya, tapi tidak berhasil dan Felicia pun beranjak untuk membantu para pengurus panti yang terlihat sedang memetik sayuran untuk dimasak.


Menjelang sore, anak buah Alfredo datang dengan membawa beraneka macam lauk pauk untuk anak panti berbuka puasa.


Felicia dan para pengurus panti yang perempuan segera menata makanan diatas tikar yang telah digelar.


Sedangkan para pengurus panti yang laki - laki dan anak buah Alfredo mulai berkeliling rumah untuk melihat bagian mana saja yang rencananya akan direnovasi.


Setelah mendengar arahan dari sang bos, merekapun mulai membuat gambar kerja agar besok bisa segera terlaksana.


Sebelum malam tiba Alfredo sekeluarga beserta anak buahnya undur diri kepada para pengurus dan anak anak panti. Sammy terlihat sangat sedih saat berpisah dengan teman - teman barunya.


" Nanti kapan - kapan kalau papa sama mama tidak sibuk, kita main kesini lagi ya..." , ucap Felicia membujuk anaknya agar mau pulang.


"Janji ya ma..", ucap Sammy sambil memajukan jari kelingkingnya.


" Janji...", ucap Felicia tersenyum sambil menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Sammy.


Dengan perlahan mobil yang mereka tumpangi meninggalkan desa seiring dengan malam yang mulai datang.


Alfredo sangat bahagia melihat anaknya tidur terlelap dipangkuan sang mama.


" Untuk resepsi aku alokasikan buat dana renovasi panti. Tapi untuk bulan madu wajib, aku tidak mau ada bantahan ", bisik Alfredo tegas.


" Hufftt...baiklah " , ucap Felicia sambil menarik nafas dalam.


" Mau kemana..?" , tanyanya pelan.


" Kita keliling Eropa, disana banyak tempat tempat romantis yang bisa kita datangi ", ucap Alfredo sambil merebahkan kepala Felicia kepundaknya.


" Aku ingin Sammy secepatnya punya adik " , ucap Alfredo sambil mengecup tangan Felicia lembut.


"Iya..." , ucap Felicia pelan dan tak lama kemudian matanya sudah terpejam.

__ADS_1


Alfredo yang melihat istrinya tertidur mulai menyandarkan kepalanya kekursi dan ikut memejamkan mata.


__ADS_2