
Setelah pertengkaran hebat yang terjadi semalam, suasana meja makam pagi ini terasa begitu mencekam.
Aura dingin yang keluar dari sepasang kekasih yang berada dimeja makan sangat terasa.
Membuat yang lainnya akhirnya hanya bisa diam membisu menikmati sarapan yang telah tersaji dipiring masing - masing.
Alfredo yang beberapa hari terakhir kemarin berusaha menghindar, pagi ini sudah mulai kembali seperti biasanya.
Duduk bersama dengan kekasih dan keluarga kecilnya menikmati sarapan pagi bersama, seperti hari - hari biasa.
Jika pada hari biasa, selalu ada obrolan ringan yang mewarnai tiap paginya tapi tidak dengan pagi ini.
Yang terdengar hanya suara sendok dan garpu yang bergesekan dengan piring.
Para pelayan yang biasanya menyapa dengan ramah, pagi ini hanya bisa terdiam membisu. Tidak ada seorangpum yang berani bersuara jika tidak ada yang bertanya.
Sepanjang ritual makan pagi berlangsung, Alfredo sangat berharap bahwa kekasihnya itu akan menyapa dan meminta maaf pada dirinya.
Begitu juga dengan Felicia, dia sangat berharap laki - laki yang ada didepannya mengucapkan sepatah kata permintaan maaf karena telah membentaknya tadi malam.
Tapi semuanya tidak terjadi, keduanya memiliki ego yang cukup tinggi, kata maaf merupakan sesuatu yang terlalu sulit untuk diucapkan.
Begitu juga dengan yang lainnya, mereka ingin sekali memecah kesunyian yang ada, tapi saat melihat wajah keduanya niat tersebut mereka urungkan.
Ingin mendamaikan mereka, tapi tidak mengetahui permasalahan apa yang menjadi penyebab pertengkaran, akhirnya mulut mereka hanya terbuka saat menikmati makanan yang ada.
Setelah selesai, semua orang segera bergegas menuju kemobilnya masing - masing dan berangkat tanpa ada satupun yang mengeluarkan suara.
Setelah semua urusan dicafe beres, Felicia segera beranjak pulang.
Saat dalam perjalanan pulang, tiba - tiba dia melihat kekasihnya tersebut sedang berbincang akrab dengan seorang wanita cantik di depan sebuah restoran Jepang.
Sebelum pergi, wanita cantik itu sempat memberikan Alfredo sebuah kecupan perpisahan.
Meski hanya ciuman di pipi, tapi hal tersebut membuat hati Felicia memanas.
__ADS_1
" Katanya sibu, tapi masih bisa berkencan dengan wanita lain " , ucap Felicia geram.
Saat ini hatinya penuh dengan rasa cemburu. Ingin rasanya dia keluar dan bertanya langsung kepada kekasihnya itu.
Tapi niat tersebut diurungkannya saat melihat Alfredo telah pergi dengan mobil yang menjemputnya.
Dengan hati panas, Felicia segera memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai rumah.
Sesampainya di rumah, Felicia segera masuk kedalam kamar untuk membereskan semua barang yang akan di bawanya pergi.
" Mungkin sebaiknya, aku juga membereskan barangku yang lainnya ", batin Felicia sambil merapikan semua barang yang ada di kamarnya.
Sore itu, Felicia segera berpamitan kepada Mia dan Sammy sambil membawa turun semua barang yang hendak di bawanya.
Mia dan Sammy terlihat sangat terkejut dengan keberangkatan gadis itu yang dirasa sangat tiba - tiba dan melihat semua barang yang hendak dibawanya.
Felicia memang belum memberitahukan kepada siapapun mengenai rencana kepergiannya yang sudah direncanakan dari satu minggu yang lalu.
Saat itu dia berpikir untuk meminta izin kekasihnya dulu baru memberitahukan kepada seluruh keluarganya.
Dan mengenai banyaknya barang yang dibawanya, Felicia beralasan bahwa sebagian besar barang tersebut adalah titipan dari kampus, peralatan yang akan dipakai dirinya beserta tim disana.
Bukan hanya Mia dan Sammy saja yang terkejut, Ajeng yang pagi tadi baru diberitahu oleh Felicia juga merasa sangat terkejut dan kecewa karena mendapatkan kabar mendadak.
Bahkan kepergian Felicia yang cukup lama membuat Ajeng harus bekerja ekstra keras untuk menggantikan posisi sahabatnya itu, mengingat ada dua cabang cafe yang baru dibuka sehingga membutuhkan perhatian ekstra.
Tapi karena kepergian Felicia ini adalah demi misi yang mulia dan membawa nama baik kampusnya tempat dia menuntut ilmu dan bekerja membuat semua orang akhirnya dengan berat hati merelakannya pergi.
"Kakak cantik harus janji untuk sering menghubungi Sammy selama disana ", ucap Sammy menangis sambil memeluk Felicia dengan erat.
"Oya, selesai ujian Sammy kan libur. Kalau pas libur dan tempatnya tidak terlalu jauh, nanti kakak akan ajak Sammy ikut, sekalian liburan. Gimana...", bujuk Felicia sambil tersenyum.
"Janji ya kak...", ucap Sammy sambil menyodorkan jari kelingkingnya dan disambut oleh Felicia dengan bahagia.
" Kamu hati - hati disana. Jaga diri baik - baik " , ucap Mia sambil membelai kepala Felicia saat gadis itu mencium punggung tangannya untuk berpamitan.
__ADS_1
" Felicia berangkat sekarang ya ", ucapnya lagi dan segera masuk kedalam mobil dan segera meninggalkan rumah yang entah kapan dia bisa berada disana lagi.
Setelah selesai menurunkan semua barangnya di apartemen dan hanya menyisakan satu koper untuk di bawanya pergi, Felicia segera memesan taxi online.
Dalam perjalanan menuju bandara, meski hatinya panas oleh kejadian tadi siang, tapi dia masih menyempatkan diri untuk berpamitan dengan kekasihnya tersebut lewat pesan.
Felicia masih belum sanggup untuk bicara langsung, karena takut emosinya kembali tersulut.
Sementara itu Alfredo yang membaca pesan dari Felicia terlihat sedikit kecewa.
Karena dia berharap kekasihnya itu datang kekantor dan berpamitan langsung pada dirinya, bukan melalui pesan seperti ini.
Tapi didalam sudut hatinya yang paling dalam dia merasa bahagia karena gadis itu masih menganggap keberadaan dirinya sebagai kekasih.
Dihubunginya anak buah yang disuruh pengawal Felicia dari kejauhan.
Meski dirinya tidak setuju dengan keberangkatan kekasihnya itu, tapi dia juga tidak ingin sesuatu yang buruk menimpah gadis yang sangat dicintainya itu.
Di Bandara, terlihat professor Willy dan dua orang temannya sudah menunggu dirinya di pintu masuk.
Felicia yang datangpun segera bergabung bersama rekan - rekannya dan masuk ke dalam bandara.
Sebenarnya Felicia sedikit berat saat mengetahui kota pertama yang akan mereka datangi adalah kota B********n.
Sekelebat bayangan kakak kandungnya muncul dikepala. Semua masa lalu yang sangat menyakitkan kembali datang.
Masa lalu yang sangat ingin dia lupakan. Meski dalam hati kecilnya sudah memaafkan semua perbuatan kakaknya itu, tapi entah kenapa dirinya masih sangat engan untuk bertemu, atau sekedar mendengar namanya.
" Apakah ini sudah suratan takdir aku harus bertemu dengannya" , batin Felicia bergejolak.
Sesudah semua selesai diurus dan tiba waktunya pemberangkatan, dengan menghela nafas berat Felicia melangkahkan kakinya menuju pesawat yang akan mengantarkannya ke kota dimana orang yang paling dia sayangi, dia rindukan sekaligus paling dia benci berada.
" Kota itukan begitu luas, lagian kita juga sudah sangat lama tidak bertemu, tentunya dia tidak akan mengenaliku seandainya kita berpapasan ", batin Felicia berusaha untuk menghibur dirinya.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua setengah jam akhirnya Felicia dan tim berada dikota Minyak atau biasa disebut Banua Patra.
__ADS_1
Kota pertama yang akan menjadi sarana ujicoba dan melihat keberhasilan program yang telah mereka buat selama setahun ini.
Akankah dikota ini Felicia bisa berdamai dengan masa lalunya atau malah semakin mantap untuk membuang dan melupakannya.