
Siang itu, Alfredo yang terlihat sangat mengantuk berupaya untuk menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk diatas mejanya.
Alex yang melihat kondisi bosnya sedikit kelahan karena harus menjadi suami siaga bagi istrinya yang hampir melahirkan merasa tidak tega dan menyuruh bosnya itu untuk beristirahat sebentar.
" Bapak sebaiknya istirahat dulu sebentar....meeting siang ini akan saya undur besok sore ", ucap Alex mulai membereskan berkas yang ada di meja kerja Alfredo.
"Terimakasih lex...", ucapnya sambil berlalu menuju ruang ganti.
Didalam ruang ganti tersebut tersedia satu buah tempat tidur yang tidak terlalu besar yang dulu sering dia gunakan jika sedang lembur dikantor dan malas untuk pulang, waktu masih bersama Vera.
" Sudah cukup lama....akhirnya ruangan ini kugunakan lagi " , guman Alfredo lirih.
Tidak perlu menunggu waktu yang lama, saat tubuhnya menyentuh ranjang matanya langsung terpejam dengan sendirinya.
" Bos tampaknya benar - benar kelelahan " , batin Alex saat mendengar suara dengkuran halus dari arah ruang ganti.
Tidak ingin menganggu waktu istirahat bosnya, Alexpun segera kembali ke ruangannya untuk merescedule ulang semua jadwal Alfredo hari ini.
Hari ini dia berencana untuk mengosongkan semua jadwal yang ada agar bos nya itu bisa beristirahat dengan tenang.
Diusia kandungan istrinya yang sudah menginjak delapan bulan tiap malam Felicia kesulitan untuk tidur.
Pinggangnya yang terasa sakit dan perutnya yang sudah membesar membuatnya kesulitan untuk mendapatkan posisi tidur yang nyaman.
Dan hal tersebut membuat Alfredo merasa kasihan.
Dengan sabar dia mengelus pinggang dan perut istrinya agar berkurang rasa sakit yang ada.
Kegiatan tersebut sudah hampir dua minggu ini rutin dia lakukan sehingga terpaksa dia harus berjaga sepanjang malam untuk menemani sang istri.
Meski capek, tapi Alfredo sama sekali tidak mengeluh.
Dia melakukannya dengan senang hati demi menyambut datangnya sang buah hati tercinta.
Cukup lama Alfredo tertidur, saat bangun dia melihat suasana di luar sudah gelap gulita.
" Berapa lama aku tertidur ...", guman Alfredo lirih.
Saat dia lihat ponselnya ternyata banyak sekali panggilan tak terjawab yang masuk kedalam ponselnya.
Ponselnya memang sengaja di silent agar istirahatnya tidak terganggu.
Bola matanya langsung membulat setelah melihat bahwa istrinya juga melakukan panggilan berulang kali ke ponselnya.
Saat dia mencoba menghubungi balik, ponsel istrinya sudah tidak aktiv.
Hal tersebut membuat Alfredo mulai panik takut terjadi hal buruk pada istrinya.
Mengingat Felicia tidak akan melakukan panggilan berulang kali jika hal tersebut bukanlah sesuatu yang sifatnya mendesak dan penting.
Kepanikan Alfredo semakin bertambah saat dia mengetahui bahwa ponsel maminya juga tidak aktiv.
Dengan sedikit berlari, Alfredo bergegas turun ke parkiran dan menuju ke apartemen istrinya.
Ditengah perjalanan tiba - tiba ponselnya berbunyi, ada nama Ajeng tertera disana.
Alfredo segera menepikan mobilnya untuk mengangkat panggilan tersebut.
" Dimana kamu....kenapa dari tadi telepon nggak ada yang kamu angkat....istrimu mau melahirkan sekarang di rumah sakit bersalin xxxx....", ucap Ajeng marah.
__ADS_1
Alfredo yang sangat cemas dengan kondisi Felicia yang melahirkan sebelum waktunya segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Sesampainya di rumah sakit xxxx dia segera berlari ke bagian administrasi untuk mencari informasi keberadaan sang istri.
Setelah mendapatkan informasi, Alfredo segera berlari menuju ruang operasi.
Disana terlihat semua anggota keluarganya berkumpul, ada Ajeng beserta keluarganya dan Alif bersama adik dan bundanya.
Semua orang tampak cemas menunggu istrinya selesai dioperasi.
" Kemana saja kamu....kenapa tidak bisa dihubungi dari tadi....", bentak Mia marah.
Dipukulnya lengan sang anak beberapa kali untuk meluapkan emosinya yang sedari tadi dia pendam.
Mia tadi sore begitu panik saat menantunya itu berteriak kesakitan dengan mengeluarkan darah segar diantara kedua kakinya.
Mia yang panik segera menghubungi anaknya, tapi tidak mendapatkan respon maka dirinya segera menghubungi Alif agar dikirimkan ambulan secepatnya.
Untungnya Alif yang baru saja selesai bertugas segera mengirim ambulans kelokasi Felicia berada bersama satu orang perawat dan supir ambulan.
Dengan pertolongan cepat yang diberikan oleh Alif membuat nyawa ibu dan anak tersebut dapat tertolong.
Ranti yang dikabari oleh Alif segera meluncur kerumah sakit untuk menyiapkan ruang operasi karena ketuban Felicia sudah pecah.
Alfredo yang mendengar cerita sang mami badannya langsung terasa lemas tak bertenaga.
Dia meruntuki dirinya yang bisa lalai dalam menjaga istrinya.
Ini sudah kesekian kalinya Felicia meregang nyawa karena ketidak becusannya menjaga sang istri dengan baik.
Banyak doa dipanjatkan oleh semua orang agar ibu beserta bayinya dapat diselamatkan.
Oekkk......
Oekkk.....
Oekkk......
Tangisan suara bayi membuat semua orang akhirnya bisa bernafas dengan lega.
Semua raut kecemasan berubah menjadi tangis kebahagiaan saat bayi merah yang berbalut kain tersebut dibawah keluar oleh seorang perawat.
"Selamat tuan, bayi anda laki - laki lahir dalam keadaan sehat tidak kekurangan suatu apapun meski air ketubannya sempat pecah sebelum bayi keluar ", ucap Ranti menjelaskan.
" Lalu bagaimana dengan kondisi istri saya dok...", ucap Alfredo cemas.
" Alhamdulillah....ibu bayi juga dalam kondisi yang baik meski sempat kritis tadi waktu operasi. Tapi karena daya tahan tubuhnya cukup bagus dan karena cepat diberi pertolongan sehingga pendarahan dan ketuban yang pecah tidak terlalu mempengaruhi kondisinya ", ucapnya menjelaskan.
Semua orang terlihat mengucapkan puji syukur karena nyawa ibu dan bayinya terselamatkan.
Setelah mengadzani sang buah hati, Alfredo segera mendekati Alif dan mengucapkan banyak terimakasih karena cepat tanggap dan membawa istrinya ke rumah sakit.
Berkat dirinya, istri dan anaknya mendapatkan pertolongan tepat waktu sehingga nyawa keduanya dapat diselamatkan.
Alif yang mendapatkan ucapan terimakasih hanya bisa tersenyum simpul.
Dan segera melangkah menuju ruangan Ranti untuk minta penjelasan dari dokter cantik itu mengenai kata - kata yang sengaja disamarkan waktu menjelaskan tadi.
Sebagai seorang dokter, dia merasa ada yang janggal dari penjelasan Ranti tadi.
__ADS_1
Dia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk terhadap Felicia.
Meski tidak dapat memiliki gadis itu namun Alif juga tidak bisa melihatnya tersakiti dan menderita.
Sesampainya di ruangan Ranti, Alif segera menanyakan semua hal yang menganjal hatinya sejak tadi.
" Apa maksudmu dengan mengatakan Felicia tadi sempat kritis diruang operasi ", ucap Alif penuh selidik.
" Tadi saat operasi tiba - tiba tekanan darahnya turun drastis, mungkin hal itu terjadi karena banyaknya darah yang keluar selama dalam perjalanan. Tapi untungnya kondisinya kembali stabil sehingga operasi bisa berjalan dengan lancar ", ucap Ranti menjelaskan.
"Apa hal tersebut tidak berdampak bagi Felicia...", tanyanya lagi.
" Untuk saat ini tidak....tapi kita masih memerlukan observasi lebih lanjut " , ucapnya sedikit ragu.
" Untuk....", cecar Alif penuh curiga.
" Semoga saja dia mampu melewati semua ini ", ucap Ranti pasrah.
" Maksudmu....kondisinya bisa kembali kritis jika malam ini tidak dilewati dengan baik " , ucap Alif mulai cemas.
" Aku yakin kamu sudah paham dengan penjelasanku " , ucapnya lagi.
Alif yang mendengar kata terakhir yang keluar dari mulut Ranti tubuhnya langsung lemas.
Dengan lunglai, dia bersandar di kursi untuk menenangkan hatinya.
Meski Ranti tidak menjelaskan secara gamblang, sebagai seorang dokter dirinya tahu bahwa kesempatan Felicia untuk pulih adalah 50% - 50%.
" Kulihat kamu lebih khawatir dari pada suaminya ", tanya Ranti penuh selidik.
" Sebagai seorang sahabat, aku hanya tidak ingin hal - hal buruk menimpanya " , ucap Alif berusaha mematahkan tuduhan Ranti.
" Sahabat yang lebih dari suami...", ejek Ranti.
" Kabari aku jika ada perkembangan lebih lanjut " , ucap Alif berusaha untuk tidak pemperdulikan sindiran yang dilontarkan oleh Ranti.
Setelah keluar dari ruangan Ranti, Alif segera bergegas menuju ruang perawat.
Disana dia menemui kepala perawat untuk menanyakan perihal siapa saja perawat yang berjaga di ruang rawat Felicia.
Meski dia percaya terhadap Ranti, namun dia juga perlu memonitor langsung perkembangan Felicia.
Untuk itulah dia meminta kepada para perawat yang berjaga agar memberitahunya sekecil apapun perkembangan kondisi Felicia.
Sementara itu, Alfredo yang mendengar dari Ranti bahwa kondisi istrinya mulai stabil sedikit merasa cemas karena hingga saat ini Felicia belum berada di ruang rawat normal karena kondisinya yang masih belum sadarkan diri pasca operasi.
Kekhawatiran Alfredo semakin besar saat temannya tersebut sedikit berbelit sewaktu ditanya mengenai kondisi istrinya.
Alfredopun segera menemui Alif, siapa tahu papanya Alika itu mengetahui informasi mengenai kondisi sang istri.
Bukannya menjawab, Alif malah berpesan kepadanya agar terus berdoa agar kondisi Felicia bisa secepatnya pulih kembali.
" Sepertinya ada yang tidak beres...", batin Alfredo cemas.
Tidak mau berpangku tangan seperti sekarang, Alfredo segera bergegas menyuruh Alex untuk menghubungi direktur rumah sakit dimana istrinya dirawat.
" Aku tidak mau kecolongan lagi. Aku harus memastikan bahwa anak dan istriku tidak sedang dalam bahaya ", guman Alfredo sedih.
Entah kenapa, melihat sang istri terbaring belum sadarkan diri membuat dirinya marah dan sedih terhadap dirinya sendiri yang lagi - lagi membuat orang yang paling disayanginya berada dalam bahaya.
__ADS_1