
Sejak Felicia bertemu dengan Robert tempo hari dicafe , Alfredo semakin possesif. Dia tidak mengijinkan istrinya keluar dari rumah tanpa didampingi dirinya.
Perasaan takut kehilangan sosok yang sangat dicintainya membuat Alfredo akhirnya melakukan hal itu. Apalagi setelah melahirkan, bentuk tubuh Felicia yang semakin padat itu membuatnya terlihat semakin sexy.
Aura ibu muda yang terpancar dari wajah Felicia membuatnya terlihat cantik. Belum lagi sifat ramah dan hangat yang dimiliki oleh istrinya itu sering membuat orang lain merasa nyaman berada didekatnya.
Hal itu terkadang menjadi boomerang bagi Alfredo yang memiliki sifat possesif dan over protek tiv terhadap orang - orang yang disayanginya.
Mia yang melihat kepossesifan putra tunggalnya itu hanya bisa mengelus dada. Namun sifat putranya yang keras kepala dan tak ingin dibantah membuatnya tidak bisa berkata apa – apa.
“ Kuharap kamu bisa sabar menghadapi kelakuan suamimu itu…”, ucap Mia sedih
“ Aku sudah biasa ma diperlakukan seperti itu, jadi sudah kebal ”, ucap Felicia terkekeh.
“ Perasaan dulu saat bersama Irene dan Vera dia tidak seperti itu ”, ucap Mia sedih, pikirannya menerawang jauh mengingat dua menantunya yang sudah tiada.
“ Itu karena usia mereka tidak semuda Felicia ”, ucap Alfredo yang tiba – tiba sudah berada dibelakang mereka.
“ Salah sendiri cari istri masih kecil…”, ucap Mia menyindir.
“ Ku sangat yakin kalau awalnya Felicia menerimamu karena terpaksa ”, ucap Mia sinis.
“ Kok mami tahu sih kalau aku terpaksa menerima anak mami… ”, ucap Felicia tersenyum.
“ Pastilah…tidak mungkin gadis muda, cantik, pintar, dan kaya sepertimu mau sama lelaki beristri yang tua ini ”, ucap Mia mengejek.
“ Tua…darimananya aku terlihat tua…gini – gini masih banyak gadis remaja yang antri minta untuk kujadikan istri…”, ucap Alfredo bangga.
Mia pun hanya mencebikan bibirnya mendengar ucapan sombong anaknya. Sedangkan Felicia hanya bisa tertawa melihat tingkah mertua dan suaminya itu.
“ Untungnya sekarang sudah ada baby Rafael, jika tidak maka Sammy pasti sangat kesepian karena tidak punya saudara ”, ucap Mia tersenyum bahagia.
“ Hmmm....Seandainya tidak terjadi musibah, Sammy sekarang mungkin sudah punya tiga adik ”, guman Felicia pelan.
“ Tiga…”, ucap Alfredo terkejut.
“ Ma…maksudku, anak kita sudah tiga jika yang kemarin aku tidak keguguran ”, ucap Felicia beralibi.
“ Hampir saja…”, batin Felicia lega, saat mertua dan suaminya tidak lagi membahas mengenai kalimat yang sempat dia ucapkan tadi.
Dilain sisi, saat ini Ajeng merasakan perasaan yang tidak menentu. Hatinya dibuat dag...dig…dug…dengan kedatangan Dinda dan Alif beserta Alika ke rumahnya tanpa pemberitahuan.
Yang membuat sesak adalah kedatangan mereka kali ini bukan hanya sekedar bersilaturahmi, tapi untuk melamar dirinya.
Meski hatinya merasa senang, namun Ajeng juga merasakan terkejut dan binggung dalam waktu yang bersamaan membuatnya tidak bisa berpikir apa – apa dan dadanya terasa sesak karena dipenuhi oleh kebahagian.
“ Kenapa sih nggak bilang kalau mau kesini…minimal kasih kabar dulu atau apa gitu biar aku nggak kelimpungan kaya gini…”, ucap Ajeng marah.
“ Kalau aku memberitahumu, bukan Surprise lagi dong yang…”, ucap Aldo sambil mencubit hidung mancung Ajeng.
“ Kamu pingin aku jantungan ya…”, ucapnya dengan mata melotot.
__ADS_1
“ Sudah…jangan marah lagi ya... Ayo sekarang kita ke depan ”, ucap Aldo berusaha menenangkan calon istrinya itu.
Sesampainya diruang tamu, mereka segera membahas tentang rencana pernikahan kedua anak mereka dalam waktu dekat.
Cukup lama diskusi yang mereka lakukan karena adanya perbedaaan pikiran antara keluarga Ajeng dan keluarga Aldo.
Setelah melalui diskusi yang cukup alot, akhirnya diputuskan bahwa pernikahan mereka akan diadakan empat bulan lagi dengan acara yang sederhana.
Meski waktunya telihat sangat singkat, namun Aldo sangat optimis bahwa semuanya akan berjalan dengan lancar sehingga waktu empat bulan sudah cukup untuk mempersiapkan segalanya.
Aldo ingin segera mengikat gadis yang telah beberapa bulan ini menjadi kekasihnya. Dia tidak ingin sampai didahului oleh orang lain mengingat gadisnya itu cukup banyak mempunyai teman laki – laki yang dekat dengannya.
Kabar mengenai pernikahan sahabatnya yang akan digelar empat bulan lagi itu tentu saja membuat Felicia merasa bahagia.
Dia sangat bersyukur bahwa sahabatnya tersebut akhirnya bisa melupakan masa lalunya dan berani untuk berkomitment.
“ Aku sangat lega akhirnya Ajeng bisa berdamai dengan masa lalunya ”, guman Felicia pelan.
FLASH BACK ON
Seperti biasa, hari itu sepulang dari café Felicia dan Ajeng menyempatkan diri untuk pergi ke taman yang berada disamping café.
Sambil memakan ice cream yang baru saja dibelinya, kedua sahabat karib ini bercengkrama dengan riang gembira sambil melihat aktivitas beberapa warga yang kebetulan berada disana.
Saat sedang asyik bercerita, tiba – tiba mata Ajeng melotot saat melihat video yang baru saja diterimanya. Wajahnya yang sangat terkejut membuat Felicia penasaran tentang apa yang sedang dilihat oleh sahabatnya itu.
“ Datanglah keapartemen kekasihmu sekarang juga, jika kamu tidak percaya ”, bunyi pesan dalam ponselnya.
“ Siapa Jeng…”, tanya Felicia penasaran.
“ Ayo…ikut aku ”, kemudian Ajeng segera menarik tangan Felicia dan mengambil motornya yang terparkir tidak jauh dari taman.
“ Jeng…pelan – pelan….”, teriak Felicia panik saat melihat sahabatnya itu membawa motor dengan kecepatan tinggi.
Saat ini hati Ajeng sedang gundah gulana memikirkan video yang dikirimkan kepadanya. Dia ingin melihat dengan mata kepala sendiri agar bisa mempercayai semuanya. Untuk itu dia memacu motornya dengan kecepatan
tinggi agar segera tiba di apartemen kekasihnya.
Brakkk…..
Ajeng membuka pintu apartemen secara kasar. Suasana sepi menyambut mereka, namun samar – samar dari arah kamar terdengar suara desahan yang saling bersautan.
Dengan wajah merah padam akibat menahan amarah yang sudah menguasai jiwa dan pikirannya Ajeng membuka secara kasar pintu kamar kekasihnya.
Bukan hanya satu, tapi ada tiga wanita cantik tanpa sehelai kainpun yang membalut tubuh mereka terlihat sedang bercinta dengan sang kekasih.
Melihat adegan yangmenurutnya tidak wajar dilakukan kekasihnya membuat Ajeng murka. Darahnya mendidih karena amarah yang sudah sampai diujungtanduk.
Dia sama sekali tidak menyangka bahwa kekasihnya itu tega mengkhianatinya seperti ini. Apalagi hadirnya tiga wanita yang bermain bersama laki - laki yang selama dua tahun menjalin kasih dengannya itu membuat dirinya semakin jijik.
Adam cukup terkejut dengan kedatangan Ajeng yang secara tiba – tiba. Namun dia tidak beranjak sama sekali dari ranjangnya. Hal itu tentu saja membuat Ajeng semakin murka.
__ADS_1
“ Keluar kalian semua….”, bentak Ajeng sambil menjambak dan menampar pipi ketiga wanita yang bersama kekasihnya itu.
Melihat Ajeng mengamuk secara membabi – buta, ketiga wanita tersebut segera meninggalkan Adam seorang diri.
Bukan berusaha untuk menjelaskan kepada kekasihnya, Adam justru dengan santai mengambil kimononya dan berjalan keluar kamar menuju balkon sambil menyalakan sebatang rokok.
“ Apa kamu tidak ingin mengatakan sesuatu kepadaku…”, tanya Ajeng geram.
“ Apalagi yang harus aku katakan...Bukannya kamu sudah melihat semuanya ”, ucap Adam santai sambil menghisap rokok yang ada ditangannya dan memandang wajah Ajeng dengan tersenyum.
Plakkk….
Ajeng menampar wajah Adam dengan keras hingga telapak tangannya terasa panas. Bukannya marah mendapat perlakuan kasar dari kekasihnya, Adam justru tertawa dengan keras.
“ Jika kamu sudah tidak ada hal yang ingin dikatakan sebaiknya segera angkat kaki dari sini ”, ucapnya tajam.
“ Ka…kamu…”, ucap Ajeng sangat marah.
Dengan hati sedih, kecewa, dan penuh amarah Ajeng segera meninggalkan apartemen Adam.Felicia yang melihat Ajeng keluar dengan mata sembab segera berlari menyusulnya.
Saat perjalanan pulang, Felicia tidak membiarkan sahabatnya itu mengemudi motornya. Sepanjang perjalanan Felicia membiarkan sahabatnya itu menangis untuk menenangkan hatinya.
Selama tiga hari Ajeng yang menginap di apartemen Felicia tidak mau keluar kamar. Bahkan dia hanya memakan sepotong roti setiap harinya, itupun setelah dipaksa dan diancam oleh Felicia.
Setelah kejadian itu, pribadi Ajeng yang ceria hilang begitu saja. Dia jadi lebih pendiam dan sering melamun. Agar Ajeng tidak terus melamun akhirnya Felicia berinisiatif membuka cabang baru mengingat cafenya tersebut sudah punya nama dan selalu ramai.
Akhirnya dengan adanya cabang baru itu, Ajeng berangsur – angsur mulai melupakan mantan kekasihnya karena teralihkan dengan banyaknya pekerjaan yang harus dia urus di cabang yang baru.
FLASH BACK OFF
Alfredo yang baru masuk kedalam kamar dan melihat istrinya melamun di atas ranjang akhirnya berjalan mendekatinya.
Dia duduk disamping Felicia, cukup lama dia memandang wajah cantik sang istri yang terlihat sedikit sedih itu.
“ Jika begini…aku jadi kepikiran kejadian waktu aku menggugurkan kandunganku ”, guman Felicia sedih.
“ Kapan kamu menggugurkan kandunganmu ”, ucap Alfredo tajam.
Ucapan tajam suaminya mampu membuyarkan lamunan Felicia. Dengan mata membulat sempurna, Felicia berusaha untuk beralibi namun Alfredo kali ini tidak percaya begitu saja.
Dengan sedikit takut, akhirnya Felicia mengakui semuanya. Ada raut kesedihan dan kekecewaan terlihat jelas di wajah Alfredo.
Namun dia juga tidak bisa menyalahkan istrinya sepenuhnya, karena saat kejadian itu mereka hanya dua orang asing yang tidak saling kenal.
“ Ternyata feelingku waktu itu benar ”, guman Alfredo sedih.
“ Maaf ya…waktu itu aku binggung harus melakukan apa, karena semua itu diluar kendalikui...dan saat itu aku juga masih belum lulus, jadi hanya itu cara yang aku pikirkan ”, ucap Felicia dengan mata berkaca – kaca.
“ Sudah…kita lupakan masa lalu. Yang penting sekarang kita sudah bersama dan bahagia ”, ucap Alfredo lembut sambil memeluk Felicia dengan erat.
__ADS_1
“ I love u sayang ”, ucap Alfredo mengecup pucuk kepala istrinya dengan segenap jiwa dan penuh cinta.
“ I love u too honey ”, ucap Felicia dengan suara sedikit serak akibat menangis.