
Malam itu, terlihat sesosok lelaki tampan berusia tiga puluh lima tahun dengan wajah letih memasuki salah satu rumah yang cukup besar di X city, perumahan dinas khusus pegawai pertambangan yang berada di kota B********n, K********n T***r.
Dia adalah Leonardo Ganendra Putra, anak sulung pasangan Ganesha dan Diandra, kakak kandung Felicia yang sudah terpisah dengannya selama sepuluh tahun lamanya.
" Mas mau langsung makan, apa mandi dulu ?" , tanya Ira, istri Leon saat melihat suaminya masuk dan duduk di meja makan.
" Mas mandi dulu, udah lengket banget ini badan ", ucapnya sambil berlalu menuju kamar mandi yang ada diujung dapur.
Sedangkan Ira sibuk mempersiapkan makan malam buat suaminya yang baru selesai bertugas.
Setelah membersihkan badan, Leon segera menyantap hidangan yang telah disediakan oleh istrinya.
"Adikmu lagi berada dikota ini lho.." , ucap Ira memberitahu suaminya.
"Ohhh.....", jawab Leon singkat.
" Apa kamu tidak ada rencana untuk menemuinya ? Bagaimanapun juga dia adalah adik kandungmu" , ucap Ira sedih.
Leon yang masih bimbang dengan perasaannya hanya diam membisu mendengar ucapan istrinya.
Setelah makanan yang ada dipiringnya habis, dia segera menuju kamar untuk beristirahat.
"Aku capek, jangan ganggu aku selama istirahat ", ucapnya langsung pergi meninggalkan Ira yang masih terdiam di meja makan.
Didalam kamar, Leon terlihat gelisah tidak dan tidak bisa tidur.
Beberapa kali dia membolak - balikkan tubuhnya berharap matanya segera terpejam, tapi hasilnya nihil.
Akhirnya Leon duduk ditepi ranjang, diambil ponselnya yang tergeletak diatas nakas.
Dilihatnya gambar sesosok gadis cantik sedang tersenyum lebar. Dipandanginya wajah gadis itu hingga tidak terasa air matanya jatuh.
Ira yang sejak tadi mengintip dari balik pintu akhirnya mulai mendekati suaminya dan ikut duduk diranjang.
Digenggamnya dengan erat kedua tangan sang suami untuk menguatkannya.
"Kamu harus menurunkan egomu. Aku tahu kamu sangat rindu dengan adik kecilmu itu" , ucap Ira sambil berkaca kaca.
"Maafkan aku ya mas. Semua ini gara - gara aku hingga kamu harus kehilangan keluargamu ", ucap Ira sambil terisak.
"Tidak ada yang salah. Ini semua sudah menjadi suratan takdir " , ucap Leon sambil memeluk erat istrinya. Air mata keduanya pun mengalir dengan derasnya.
" Akan kucoba meluangkan waktu untuk bertemu dengannya sebelum dia balik ke J**a " , ucap Leon lembut sambil melepas pelukannya.
" Terimaksih ya, sudah mendampingi dan berada disiku selama ini ", ucapnya sambil mengecup kening sang istri.
"Sama - sama mas. Itu sudah kewajibanku sebagai istrimu" , ucap Ira lembut.
"Sekarang mas istirahat" , ucap Ira sambil mulai melangkah meninggalkan kamar.
Dengan hati yang sedikit lega, Leon berusaha untuk memejamkan mata dan mengistirahatkan tubuh dan pikirannya agar kembali segar.
Keesokan harinya semua orang sudah bersiap untuk memberikan presentasi mengenai program yang akan mereka luncurkan.
Digedung serbaguna Universatas M terlihat seorang gadis cantik sedang mempresentasikan program yang telah dibuatnya bersama tim dihadapan seribu peserta yang hadir.
Meski program tersebut rencananya hanya akan diujicobakan di kampus M, tapi tampaknya antusias para akademis di kota minyak tersebut cukup tinggi.
__ADS_1
Sehingga membuat professor Willy mulai mempertimbangkan untuk menguji cobakan program tersebut dikampus yang lainnya.
Leon yang hadir ditengah - tengah para peserta akademis, merasa cukup bangga.
Dia sama sekali tidak menyangka bahwa adik kecilnya yang dulu sangat cengeng dan manja bisa menjadi pribadi yang dewasa dan mandiri seperti sekarang.
Tak terasa air matanya menetes, rasa bahagia atas keberhasilan yang telah diraih adiknya itu tergambar jelas di wajahnya.
Ingin rasanya dia segera menghampiri dan memeluk erat adik semata wayangnya itu, mengucapkan " Selamat " dan melepaskan semua kerinduan yang selama ini terpendam.
Tapi hal tersebut diurungkannya melihat bretapa sibuknya gadis tersebut melayani pertanyaan dari beberapa praktisi dan dosen yang meminta penjelasan lebih tentang program yang sebentar lagi akan diuji cobakan.
"Munkin aku harus menunggu waktu yang tepat ", batin Leon sambil melangkah meninggalkan gedung tempat acara berlangsung.
Felicia yang sempat melihat sosok kakaknya didalam gedung pertemuan, mencoba untuk memastikan pengelihatannya dengan berusaha untuk menghampiri pria yang sedang berbincang dengan rekannya didekat pintu keluar.
Tapi tampaknya nasib belum mau mempertemukan mereka.
Saat hendak mengejar pria yang diduga sebagai kakaknya, tiba - tiba Felicia dihadang oleh salah satu dosen dari universitas B yang ingin agar kampusnya juga masuk dalam list daftar uji coba program tersebut.
Saat selesai memberi penjelasan, orang yang mirip dengan kakaknya itu telah meninggalkan gedung.
Ada sedikit rasa kecewa dalam hati Felicia saat kehilangan jejak pria itu.
Felicia yang sempat bengong akhirnya mulai tersadar saat pundaknya ditepuk oleh professor Willy agar bersiap menuju lab kampus untuk mulai menjalankan program yang akan diuji cobakan.
" Mungkin belum saatnya bertemu ", batin Felicia, kemudian dia segera menyusul rekan se - timnya yang sudah jalan mendahuluinya.
Sementara itu, dikantornya Alfredo yang mendapatkan laporan tentang segala kegiatan Felicia hari ini merasa sangat bahagia.
Ingin rasanya malam itu juga dia terbang ketempat kekasihnya tersebut berada.
Beberapa kali Alfredo mencoba mengetik pesan untuk kekasihnya itu, tapi tidak ada satupun pesan yang berhasil dia kirim.
Setiap selesai mengetik, dia akan langsung menghapusnya.
Dan itu dilakukannya berulang kali, hingga Alex yang berada disebelahnya sedikit gregetan dengan kelakuan bos nya itu.
Tampaknya kegalauan bukan hanya melanda Alfredo, Felicia yang berada di tempat yang berbeda juga melakukan hal yang sama.
Sudah cukup lama gadis cantik itu memandang ponsel yang ada dihadapannya.
Dan beberapa kali juga tulisan yang sudah dia ketik dihapusnya kembali. Hingga ketiga orang yang ada dihadapannya hanya bisa mengehela nafas.
Ingin rasanya mereka menegur gadis itu, tapi tidak ada yang cukup berani melihat raut muka yang ditunjukkan Felicia saat ini, siap membunuh siapa saja yang mengusiknya.
Ditengah kesunyian yang ada, tiba tiba ponsel Felicia berbunyi. Saat melihat nama yang muncul dilayar, gadis itu segera beranjak masuk kedalam kamarnya.
Jantungnya berdegub dengan kencang sambil memegang ponsel yang berbunyi di tangannya.
Cukup lama ponsel tersebut dia biarkan berbunyi, sampai pada akhirnya di panggilan ke tiga dia usap layar ponsel untuk bisa melihat sambungan video dari si penelepon.
Saat diangkat, muncullah sosok bocah laki - laki yang sedang tersenyum kepadanya. Ada sedikit rasa kecewa dalam hatinya saat melihat wajah Sammy yang muncul dilayar.
" Apa dia tidak ingin menjelaskan padaku siapa sebenarnya wanita itu..", batin Felicia kecewa.
Sammy yang baru ditinggal sehari oleh Felicia sudah merasa kangen dan langsung menghubungi kakak cantiknya itu setelah selesai mengerjakan PR.
__ADS_1
Dengan meminjam ponsel papanya yang tergelatak diatas meja, bocah kecil itu menghubungi Felicia.
S : Hallo kakak cantik....
S : kakak lagi apa sekarang ?
F : Hallo Sammy sayang...
F : Ini kakak habis selesai makan.
F : Sammy sudah makan ?
S : Sudah....kakak kapan pulang, Sammy sudah kangen banget pengen ketemu kakak...
F : Sabar ya sayang, mungkin tiga hari lagi kakak pulang...
S : Kok lama...
F : Jangan sedih dong sayang. Kalau Sammy sedih, kakak jadi ikut sedih...
F : Sekarang Sammy bobok ya, biar besok tidak terlambat kesekolah
S : Baik kak. Kakak juga jangan tidur larut malam
S : Cepat pulang ya kak. Semua disini sudah kangen sama kakak.
F : Iya sayang....kakak juga kaaangen sama Sammy
Kemudian telepon ditutup, meski hanya obrolan yang sederhana sudah membuat hati Felicia menghangat.
Alfredo yang baru selesai mandi melihat wajah kekasihnya tersenyum saat melakukan panggilan video dengan anaknya juga merasa bahagia.
Meski tidak berbicara secara langsung, namun mendengar suaranya saja sudah membuat hati Alfredo menghangat.
Sammy memang sengaja menghubungi Felicia menggunakan ponsel papanya.
Dia ingin hubungan kakak cantiknya dengan papanya membaik. Makanya dia berinisiatif seperti itu.
" Sammy cuma bisa membantu papa seperti ini. Selanjutnya papa yang harus berusaha untuk meminta maaf kepada kakak cantik. Jangan biarkan kesalahpahaman ini berlarut larut, jika papa tidak ingin kehilangan kakak cantik untuk selamanya" , ucap Sammy sambil masuk kedalam kamarnya untuk segera tidur.
Ucapan Sammy tadi bukannya tanpa dasar. Semua ini dilakukannya agar papanya bisa membawa kakak cantiknya kembali ke rumah.
FLASH BACK ON
Malam itu, selepas kepergian Felicia, Sammy diam - diam pergi kekamar yang biasa ditempati oleh kakak cantiknya itu.
Betapa terkejutnya Sammy saat melihat ruangan tersebut telah kosong. Dengan mata berkaca - kaca dia mulai membuka semua almari yang ada disana.
Badannya langsung lemas saat melihat semuanya telah kosong. Tidak ada satupun barang Felicia tertinggal disana.
" Kenapa kakak cantik membawa semua barangnya. Apa kakak tidak akan kembali lagi ", ucap Sammy sambil menangis sesenggukan.
FLASH BACK OFF
Sedangkan Alfredo yang masih duduk di ruang keluarga hanya bisa terdiam mendengar nasihat dari putranya yang baru berusia delapan tahun.
Dia sangat malu, bagaimana seorang anak kecil bisa berpikiran bijak seperti itu, sedangkan dirinya sebagai orang dewasa, hanya untuk meminta maaf dan mengakui kesalahan sendiri saja tidak berani.
__ADS_1
Setelah ditimbang dan dipikirkan berulangkali akhirnya Alfredo memutuskan untuk mengalah dan sedikit menurunkan egonya dengan mengirimkan chat kepada Felicia.
Dia sangat berharap tindakannya ini dapat memperbaiki kembali hubungannya dengan Felicia.