
Sesuai dengan prediksi kalau malam ini Setyo mulai bergerak. Terlihat ada enam orang berpakaian hitam sedang mendekat ke sebuah rumah munggil bergaya minimalis tempat Roland tinggal.
“ Akhirnya mereka datang juga ”, guman Roland sambil mengawasi keenam orang yang terlihat mengendap – endap disekitar rumahnya melalui rekaman kamera pengawas rumahnya yang bisa diakses dari ponselnya.
Keenam anak buah Setyo tersebut mulai melumpuhkan satu persatu kamera pengawas yang terpasang disekitar rumah Roland.
Setelah semua kamera pengawas sudah berhasil dilumpuhkan, mereka mulai beraksi. Dua orang naik keatap, dua orang berada disamping dan belakang rumah, dan dua orang lagi berusaha menerobos dari arah depan.
Roland yang sudah siap menyembut kedatangan mereka pura – pura tidur. Perlahan – lahan terdengar suara orang sedang berusaha untuk membuka pintu dan mencongkel jendela rumahnya.
“ Kenapa lama sekali…ternyata hanya para amatir yang datang ”, batin Roland geli.
Setelah cukup lama berusaha akhirnya salah satu anak buah Setyo berhasil membuka jendela samping rumah.
Mereka berempat pun kemudian segera masuk kedalam rumah melalui jendela yang telah terbuka dan segera menuju kamar tidur tempat Roland berada.
Dengan langkah mengendap – endap kedua anak buah Setyo memasuki kamar Roland. Sedangkan
dua orang lagi mengikuti langkah teman mereka yang berada didepan sambil terus waspada siapa tahu ada orang lain selain Roland yang tinggal di rumah tersebut.
Satu orang segera mengeluarkan saputangan yang sudah ditetesi obat bius dan mulai membekap hidung dan mulut Roland.
Roland yang sudah tahu akan aksi yang dijlankan penjahat tersebut segera menahan nafas saat kain mulai menyentuh kulitnya dan berpura – pura pingsan.
Melihat Roland yang sudah tak bergerak salah satu anak buah Setyo mengangkat tubuh Roland dan menyampirkannya di bahu kananya seperti mengangkat karung beras.
Setelah berhasil membawa Roland, salah satu anak buahnya segera merapikan tempat tidur Roland seakan tidak ada orang yang menempatinya.Pekerjaan yang mereka lakukan benar – benar rapi dan tidak meninggalkan jejak apapun disana.
Alfredo yang sudah standby dimarkas Martin sejak sore mulai waspada saat melihat pergerakan Roland meninggalkan kediamannya.
“ Akhirnya mereka mulai beraksi…”, guman Alfredo sambil terus menatap layar monitor yang menampilkan jejak Roland.
Martinpun segera menghubungi anak buahnya yang tidak jauh dari lokasi Roland berada untuk bersiap – siap.
Anak buah Roland tidak sadar jika mobil mereka dibuntuti oleh anak buah Martin. Didalam mobil tanpa mereka sadari Roland merekam semua percakapan yang telah mereka lakukan lewat perekam suara yang ditaruhnya di pena yang dibawa Roland.
“ Selain amatir mereka juga sangat bodoh ”, batin Rolad meremehkan saat mendengar anak buah Setyo mengungkapkan beberapa kejahatan yang dilakukan oleh sang bos.
Rekaman tersebut bukan hanya tersimpan dipena yang dibawanya tapi juga terkoneksi dengan monitor yang ada dimarkas Martin.
Mendengar percakapan anak buah Setyo tersebut Alfredo dan Martin tersenyum puas karena bisa mendapatkan bukti yang bisa digunakan untuk menjerat Setyo.
Dari percakapan tersebut, Martin mulai menyuruh anak buahnya untuk kembali menyelidiki beberapa kasus yang sudah ditutup karena kurangnya bukti dan tidak ada petunjuk apapun.
“ Tampaknya umpan yang kita pasang benar – benar sempurna…”, ucap Martin tersenyum puas.
“ Roland memang selalu bisa diandalkan ”, puji Alfredo yang merasa bangga dengan kinerja orang kepercayaannya itu.
Perlahan mobil mulai menuju markas Setyo yang berada diarea hutan jati. Tanpa mereka sadari anak buah Martin sudah mengepung area hutan tersebut.
__ADS_1
Mendengar suara mobil memasuki halaman Setyo dan Yasmin yang sedang berunding di ruang kerja segera keluar.
“ Masukkan ke sel…”, perintah Setyo tegas.
Dua anak buahnya segera membawa Roland kedalam penjara bawah tanah yang berada di markas tersebut.
“ Kenapa tidak langsung dihabisi saja…aku khawatir dia akan melarikan diri jika sudah sadar ”, ucap Yasmin cemas.
“ Tenang saja…semua orang yang sudah berada didalam sel ku tidak akan mudah untuk bisa lolos ”, ucap Setyo tertawa bahagia.
Sementara itu Martin segera menghubungi anak buahnya yang berada dilokasi setelah keberadaan Roland menghilang dari radar.
“ Umpan masih didalam markas dan belum ada pergerakan…”, lapor anak buah Martin yang berada dilokasi.
“ Terus pantau, laporkan tiap ada pergerakan meski hanya sedikit…”, ucap Martin tegas.
“ Siap…”, ucap anak buah Martin tegas.
“ Sepertinya Roland sekap di bawah tanah, tentu saja sinyal tidak bisa tembus ”, ucap Alfredo menenangkan Martin yang sedikit gelisah ketika kehilangan jejak Roland.
“ Perintahkan anak buahmu untuk mengecek sekitar markas dan hati – hati akan ranjau yang dipasang disekitar lokasi ”, ucap Alfredo menjelaskan.
Martin pun segera menghubungi anak buahnya agar mulai mencari ruang bawah tanah yang ada didalam markas tersebut.
Sementara Roland yang sudah berada di dalam sel cukup kesulitan untuk membuka akses sel yang dia tempati.
Cukup lama Roland berkelut dengan tombol – tombol yang terdapat di pintu hingga keringat mulai mengalir deras dari dalam tubuhnya.
Bip…bip…
“ Akhirnya terbuka juga ”, ucap Roland lega.
Setelah pintu terbuka, Roland mengamati keadaan sekitar yang telah dipasang keamanan berlapis.
Satu persatu system keamanan yang terpasang disana mulai diretas oleh Roland dengan peralatan yang telah disiapkannya.
“ Ada untungnya juga aku prepare ini semua…”, batin Roland bangga.
Lamanya jam terbang yang dimilikinya selama bekerja bersama Alfredo membuat Roland sedikit demi sedikit mulai menguasai berbagai macam keahlian yang ditunjang dengan peralatan canggih yang dimilikinya.
Sementara itu dilantai atas Setyo dan Yasmin sedang merencanakan dengan matang untuk menculik Rafael serta menyingkirkan Ajeng yang saat ini sedang berada diluar pulau untuk berbulan madu.
“ Aku ingin menyingkirkan wanita ini dengan tanganku sendiri ”, ucap Yasmin penuh dendam
“ Baiklah…aku sisakan dia untukmu. Lalu bagaimana dengan suaminya…”, ucap Setyo menawarkan.
“ Buat dia cacat dan kecanduan dengan obat yang kamu miliki sehingga dia akan tergantung padaku untuk kelangsungan hidupnya ”, ucap Yasmin berapi – api.
Roland yang sudah menyusupi kamera pengawas dalam markas Setyo terlihat sangat geram dengan semua ucapan Yasmin yang ingin melenyapkan Ajeng dan menghancurkan Aldo.
__ADS_1
Roland berusaha untuk mengatur nafas agar tidak terpancing dengan amarah yang mulai menguasainya.
“ Tenang Roland…jangan bertindak ceroboh…”, batin Roland sambil menghirup udara dalam – dalam dan menghembuskannya secara perlahan.
Setelah sedikit tenang dia mulai mengirimkan pesan kepada Alfredo untuk melanjutkan aksinya.
Alfredo yang mendapat kabar dari anak buahnya itu segera berkoordinasi dengan Martin untuk melakukan penyergapan.
Martin segera menghubungi anak buahnya agar berkomunikasi langsung dengan Roland yang berada didalam markas agar langkah mereka bisa efektif.
Setelah mengetahui jumlah anak buah Setyo yang berada didalam dan luar markas serta posisi mereka, anak buah Martin segera bergerak dibawah komando Roland.
Satu persatu anak buah Setyo yang berada diuluar markas berhasil dilumpuhkan oleh anak buah Martin
tanpa menimbulkan suara.
Posisi mereka sekarang sudah digantikan oleh anak buah Martin. Perlahan mereka segera masuk sambil terus melumpuhkan penjaga yang tanpa sengaja bertemu dengna mereka.
Saat ini posisi markas sudah terkepung sehingga sangat kecil kemungkinan Setyo dan Yasmin bisa lolos dari sana.
Setyo dan Yasmin tidak menyadari jika tawanan mereka sudah lolos. Perkiraan Setyo, Roland baru akan sadar sepuluh menit lagi jika melihat dosis obat bius yang digunakannya cukup tinggi.
Roland berlahan – lahan berjalan mendekat kearah ruangan tempat Yasmin dan Setyo berada. Namun sebelum berhasil, langkah Roland dihentikan oleh anak buah Setyo yang kebetulan baru selesai dari dalam kamar
mandi.
Bukan hanya satu orang yang menyerang Roland saat ini, namun sudah banyak anak buah Setyo yang mulai berdatangan saat mendengar suara diruang tengah tersebut.
Melihat banyaknya lawan membuat Roland segera mengirimkan sinyal agar anak buah Martin segera masuk dan membantunya.
Mendengar keributan diluar ruangan membuat Setyo dan Yasmin yang lagi serius menyusun strategi keluar ruangan.
Melihat baku hantam yang terjadi, Setyo segera menarik tangan Yasmin dan membawanya menuju jalan rahasia agar bisa lolos.
Melihat targetnya kabur, Roland segera melakukan pengejaran. Alhasil kaki Yasmin menjadi sasaran peluru panas Roland.
Setyo yang melihat Yasmin tertembak semakin mempercepat langkahnya dan meninggalkan gadis itu begitu saja agar tidak menghambat langkahnya.
Panggilan Yasmin yang menyayat hati tidak dia perdulikan. Setyo terus berlari tanpa menoleh kebelakang.
Begitu juga dengan Roland yang melewati Yasmin begitu saja agar diurus anak buah Martin yang ada dibelakangnya.
Targetnya sekarang adalah Setyo. Beberapakali ditembakan yang dilepaskannya meleset membuat Roland sedikit geram.
Langkah Setyo terhenti saat anak buah Marti yang bertubuh tinggi besar tiba – tiba sudah berada didepan Setyo dan memukulnya hingga tubuh Setyo tersungkur ketanah.
Selanjutnya, petugas tersebut segera menembak kaki Setyo agar tidak bisa kabur dan memborgol tangannya meski mendapat perlawanan yang cukup sengit dari Setyo.
Akhirnya malam itu Setyo dan Yasmin bisa diringkus dan digiring masuk kedalam mobil tahanan yang sudah disiapkan.
__ADS_1