Lika - Liku Cinta Alfredo

Lika - Liku Cinta Alfredo
AKHIRNYA SAH


__ADS_3

Keadaan rumah yang pada awalnya sepi tiba - tiba telah ramai dengan banyaknya orang yang mulai menata dan menghias rumah dengan berbagai hiasan pernikahan dan bungga hidup.


Kursi dan meja juga sudah mulai berdatangan satu persatu.


Bahkan tenda besar untuk acara sudah terpasang dihalaman depan rumah.


Ditangan seorang ahli, rumah mewah itu dalam waktu singkat telah diubah menjadi gedung pesta yang indah.


Mia beserta rombongan sekarang sedang beristirahat di ruang keluarga yang ada di lantai dua.


Karena lantai satu dan taman depan rumah akan dipergunakan untuk acara pesta.


Sedangkan Felicia, Ajeng, Leon, Istri dan kedua anaknya berada didalam kamar pengantin untuk dirias.


" Aku tidak menyangka kalau calon suamimu bisa segila ini " , ucap Ira masih sedikit terkejut dengan semua kejadian diluar prediksinya itu.


" Apa dia benar - benar tidak mengatakan apapun tentang ini padamu ? ", ucap Ajeng yang juga penasaran dengan kejutan besar yang telah disiapkan Alfredo.


" Tidak...aku sendiri juga sangat terkejut dengan semua ini. Tapi aku cukup senang ", ucap Felicia tersenyum.


" Tampaknya dia sangat tidak sabar untuk mengikatmu ", ucap Ira sedikit cemas, karena dia melihat kalau calon adik iparnya itu sedikit possesif dan over protektiv terhadap Felicia.


" Sekali lagi aku tanya...apa kamu benar - benar yakin dengan keputusanmu ? ", ucap Leon cemas sambil menepuk pundak adiknya.


" Aku tahu kalau Alfredo kadang sedikit possesif, tapi itu semua dia lakukan karena khawatir padaku " , ucap Felicia mencoba menenangkan kekhawatiran kakaknya.


" Dan soal wanita itu, merekalah yang mengejar Alfredo, tapi dia sama sekali tidak pernah menanggapinya. Soal foto yang dikirim kepada kakak itu, memang sengaja diambil dari sudut pandang tertentu sehingga yang melihatnya akan memiliki pemikiran sesuai keinginan orang yang memotretnya, padahal kenyataannya tidak seperti itu. Aku bisa mengatakan ini karena saat kejadian yang ada difoto itu aku juga berada disana " , ucap Felicia menjelaskan.


" Kakak hanya tidak ingin melihat kamu nantinya sedih dan kecewa " , ucap Leon sambil menghela nafas dalam.


" Iya, aku tahu kalau kakak khawatir dan mencemaskanku. Sekarang yang aku minta cuma satu, tolong selalu doakan agar aku tetap sehat dan bahagia dengan pernikahanku ", ucap Felicia dengan mata berkaca - kaca.


" Mas...., sudah ya, jangan bikin Felicia sedih. Nanti make upnya luntur lho " , ucap Ira menegur suaminya.


Para perias yang sudah terbiasa dengan kejadian seperti itu hanya bisa tersenyum dan segera mengambil tisu serta menghapus air mata yang belum sepenuhnya tumpah dengan perlahan dan mulai merias wajah Felicia kembali.


Sedangkan diruang keluarga, semua orang dibuat pusing oleh tingkah laku Alfredo yang sedang berjalan mondar - mandir seperti setrika.


" Pak, sebaiknya anda duduk dan menenangkan diri dulu, jika tidak nanti pakaian anda akan basah terkena keringat " , ucap Alex sambil memberikan sebotol air dingin dan sekotak tisu.


Setelah menghabiskan sebotol air dingin dan menyeka keringatnya, Alfredo mulai berjalan menuju kamar tempat calon istrinya dirias.

__ADS_1


" Cantik sekali istriku...", batin Alfredo terpesona saat melihat Felicia yang terbalut kebaya warna emas yang membuat kulit putihnya semakin bersinar.


" Hey....pengantin pria tidak boleh melihat dulu. Ayo pergi...", usir Ajeng sambil mendorong tubuh Alfredo keluar kamar.


" Sebentar saja Jeng...", ucap Alfredo memohon.


"Tidak !!!...habis ini kamu bisa puas - puasin menatap istrimu. Tapi tidak sekarang " , ucap Ajeng yang masih mendorong tubuh Alfredo semakin menjauh.


"Jaga dia lex...jangan biarkan dia mendekat kearah kamar pengantin ", perintah Ajeng dengan mata melotot.


" Galaknya....untung cantik ", guman Alex pelan tapi masih bisa didengar semua orang yang langsung menyambutnya dengan gelak tawa.


Menjelang sore, semua persiapan telah selesai.


Para petugas pemerintahan yang bertugas untuk mencatat pernikahan dan penghulu beserta para saksi dari kedua belah pihak sudah siap di ruangan yang telah didesain sebagai tempat akad nikah berlangsung.


Suasana menjadi hening saat kedua mempelai memasuki ruangan.


Dengan mata berkaca - kaca Leon sebagai wali sah Felicia duduk samping penghulu dan menatap dua sejoli yang ada didepannya.


"Saya terima nikahnya Felicia Ariandra Putri binti Ganesha dengan mas kawin tersebut diatas secara tunai " , ucap Alfredo dalam satu tarikan nafas.


" SAH...", jawab mereka serentak.


Mendengar kata tersebut semua orang tidak bisa menahan airmata karena bahagia. Begitu juga dengan Alfredo dan Felicia.


Setelah saling memasang cincin, mereka berdua langsung menandatangani surat nikah yang telah disediakan.


Air mata bahagia mengalir dengan derasnya dipipi Felicia. Dengan perlahan Alfredo mengecup kening gadis didepannya yang sekarang telah sah menjadi istrinya.


Begitu juga dengan Felicia yang langsung mengecup punggung tangan pria yang telah resmi jadi suaminya itu.


Acara berlanjut ke inti yaitu sungkeman dan berbagai ritual lainnya. Semua prosesi berjalan dengan lancar.


Selanjutnya adalah acara ramah - tamah dan menyambut para tamu yang merupakan tetangga dan rekan kerja sang kakak yang mendapatkan undangan secara mendadak.


" Kenapa mendadak sekali ", ucap beberapa teman kerja Leon yang hadir.


" Rencananya cuma lamaran, nggak tahunya langsung minta nikah " , ucap Leon menjelaskan.


" Terimakasih ya sudah datang....ayo dinikmati hidangannya " , ucap Leon mempersilahkan rekan kerjanya untuk menyantap hidangan yang telah tersedia.

__ADS_1


Meski acara tersebut tidak direncanakan, ternyata tamu yang datang cukup banyak.


Mengingat posisi kakaknya yang cukup tinggi ditempat kerjanya membuat hampir seluruh karyawan yang ada ditambang menghadiri acara pernikahan tersebut, meski mereka tidak mendapatkan undangan secara resmi.


Untung saja Alfredo dan tim event organizer sudah membuat planning cadangan seandainya tamu yang datang diluar dari perkiraan mereka.


Ditangani seorang yang cukup berpengalaman dan ahli dibidangnya, membuat pesta tersebut berjalan dengan lancar dan tidak sampai membuat malu tuan rumah.


Malam harinya didalam kamar Felicia setelah berganti pakaian dan membersihkan badanya terlihat mulai meluruskan kedua kakinya yang terasa ngilu akibat terlalu lama berdiri dengan sepatu hak tinggi.


Alfredo yang melihat istrinya terlihat sangat lelah segera menghampiri dan mulai memijat telapak kakinya.


" Mas, pelan - pelan....sakit...", ucap Felicia sambil meringis.


" Segini cukup ", tanya Alfredo cemas melihat muka kesakitan sang istri.


" Iya....segitu cukup....mmm...., ucap Felicia sambil menahan rasa sakit.


" Mas....sudah ya...aku tidak kuat , ucap Felicia beberapa saat dengan nafas tidak beraturan akibat menahan rasa sakit yang ada, sambil memegang tangan Alfredo yang mulai masih terus memijat kaki istrinya.


"Sabar sayang....tahan....tanggung ini....sebentar lagi selesai.., ucap Alfredo ikut menahan nafas akibat melihat raut kesakitan di wajah istrinya.


Semua orang yang sedang menguping dari balik pintu mendengar erangan tertahan dari mulut Felicia dan desahan nafas Alfredo hanya bisa tersenyum geli.


Dibenak mereka sudah mulai terlintas hal - hal yang biasa dilakukan oleh pengantin baru di malam pertama mereka.


" Ada apa kalian disini....ayo bubar " , ucap Leon membubarkan semua orang yang berada didepan kamar Felicia sambil geleng - geleng kepala.


Sedangkan dirinya yang mendengar suara - suara tersebut segera kembali kedalam kamar agar tidak terpancing untuk melakukannya, mengingat sang istri sekarang lagi berhalangan.


Tidak berapa lama kemudian, Alfredo yang melihat istrinya terkulai lemas segera mengambilkan air minum ke dapur.


Saat keluar dari kamar, semua orang yang berada diruang keluarga hanya tersenyum mengoda melihat banyaknya keringat yang ada di leher dan wajah Alfredo.


Alfredo yang merasa sedikit aneh dengan tatapan semua orang berusaha cuek tidak menghiraukan dan fokus menuju dapur untuk mengambil air minum buat istrinya.


Sesampainya didalam kamar, Alfredo melihat istrinya tersebut sudah tertidur karena kelelahan segera membenahi rambut yang menutupi wajahnya dengan perlahan dan menyelimuti rubuhnya agar hangat.


Sedangkan dirinya mulai membersihkan diri dan berganti baju akibat keringat yang mengucur deras selama memijat tadi.


Karena tubuhnya terasa sangat lelah, Alfredopun ikut berbaring disamping istrinya dan mulai menuju alam mimpi.

__ADS_1


__ADS_2