Lika - Liku Cinta Alfredo

Lika - Liku Cinta Alfredo
EXTRA CHAPTER 1


__ADS_3

Kehamilan Felicia yang kedua ini sangat menyiksa hingga membuat dirinya benar – benar harus bedrest selama masa kehamilan.


Bukan hanya tubuhnya yang sangat lemah namun indra penciumannya juga semakin sensitive membuatnya tidak bisa menghindar dari yang namanya mual dan muntah.


Hanya Alfredo dan Rafael saja yang bisa mendekat kearah ibu hamil tersebut karena aroma dari dua orang tersebut sangat Felicia suka.


Kalau untuk Alfredo, mungkin ini bawaan bayi yang ingin selalu dekat dengan sang papa. Dan untuk Rafael, Felicia suka dengan aroma susu dan minyak telon yang keluar dari tubuhnya.


Semua orang tampaknya cukup maklum akan hal tersebut, namanya juga wanita hamil tentunya mempunyai perilaku yang kadang tidak bisa dinalar dengan akal sehat. Namun keanehan tersebut tidak bisa dipahami oleh


Sammy.


Bocah laki – laki itu terlihat sangat sedih karena dirinya tidak bisa berdekatan dengan sang mama dan sering menatap iri ketika melihat adik dan papanya bersama Felicia.


Seperti sore ini, dia hanya bisa memandang sang mama dari balik pintu tanpa bisa mendekat, takut kejadian


beberapa hari kemarin terulang kembali saat dirinya dengan egois ingin berada disamping Felicia dan nekat masuk kedalam kamar sang mama.


Hasilnya Felicia terus muntah sepanjang waktu saat Sammy berada dalam dekapannya hingga tubuhnya menjadi sangat lemas dan terpaksa harus diinfus agar tidak kekurangan cairan.


Melihat hal itu, Sammy dengan berat hati keluar dari kamar sang mama. Meski dia sangat rindu dengan pelukan hangat Felicia, namun dirinya juga sangat sedih jika melihat mamanya harus menderita seperti itu saat dekat dengannya.


Dan sejak saat itu, Sammy yang tidak ingin membuat mamanya tersiksa memilih melihat mamanya dari jauh dan berusaha  untuk menahan  kesedihannya agar air mata yang sudah terkumpul dipelupuk mata tidak jatuh.


Seperti biasa, saat sang mama menyadari kehadirannya dan melihat kearahnya, Sammy akan langsung memalingkan muka dan buru – buru pergi. Felicia yang melihat hal tersebut tentu saja hatinya terasa sangat sakit.


Tapi dia juga tidak bisa berbuat apa – apa, karena jika Sammy mendekat maka dia akan langsung mual dan muntah. Hal itu terus saja terjadi meski dia berusaha keras untuk menahannya, bahkan obat mual yang diberikan dokter juga tidak bisa menahan rasa mual tersebut jika sudah mencium aroma yang merangsangnya untuk muntah.


Sore ini, seperti biasa, baby Rafael yang sudah dimandikan akan diantar kekamar Felicai untuk diberi susu dan ditidurkan. Setelah Rafael yang berada disampingnya tertidur pulas, Felicia segera mengambil ponsel yang

__ADS_1


terletak diatas nakas dan mengirimi putra sulungnya itu pesan.


Hanya inilah cara yang bisa Felicia lakukan sekarang agar anak sulungnya itu tidak merasa ditinggalkan, meski dia sangat paham jika hal tersebut sama sekali tidak bisa mengurangi raut kesedihan diwajah Sammy.


“ Kamu sedang mikirin apa sampai mukanya ditekuk seperti itu…”, ucap Alfredo yang baru saja datang dan langsung mengecup pucuk kepala sang istri.


“ Aku kepikiran Sammy mas…”, ucap Felicia sedih.


“ Nanti aku coba bicara lagi dengan Sammy. Semoga saja dengan bertambahnya usia kandunganmu maka mual


dan muntah yang kamu alami bisa berkurang…”, ucap Alfredo berusaha untuk membesarkan hati sang istri.


Alfredo cukup tahu bagaimana manjanya Sammy kepada Felicia, dan sekarang bukan hanya memeluk,


mendekat kearah mamanya saja dia tidak bisa.Tentu bocah kecil tersebut sangat sedih.


Sementara itu di lantai bawah, seperti biasa, tiap sore Alika akan datang kerumah untuk belajar bersama dengan Sammy. Sebenarnya misi Alika tiap hari kerumah Sammy adalah untuk mencari teman dalam belajar dan menghiburnya,


Alike tidak sanggup melihat kesedihan yang tercetak jelas diwajah sahabatnya itu setiap hari. Padahal diawal mendengar kabar kehamilan sang mama, Sammy adalah orang yang terlihat paling bahagia dan tidak sabar menunggu adik kecilnya itu lahir kedunia.


Namun sejak indra penciuman Felicia semakin sensitive dengan bau, kesedihan mulai merasuki bocah laki – laki itu hingga aura kebahagiaan yang selama ini terpancar diwajahnya mulai menghilang.


“ Salah Alika…bukan seperti ini….”, ucap Sammya sambil menghapus pekerjaan yang sudah Alika capek –


capek tulis.


“ Kenapa kamu hapus semua….yang salah kan cuma dua baris ini….”, ucap Alika tidak terima hasil kerja kerasnya dihapus begitu saja oleh Sammy.


“ Sekarng tulis ulang lagi jika tidak ingin aku hapus lagi semuanya…”, ucap Sammy tajam.

__ADS_1


“ Dasar…”, ucap Alika sedikit dongkol.


Dengan enggan dia mulai menulis kembali jawaban yang ditunjukkan oleh Sammy. Meski selalu dibentak dan


dimarahi, namun Alika sama sekali tidak dendam. Justru dia sangat senang karena dengan dia membuat kesalahan seperti ini emosi Sammy bisa tersalurkan.


Mungkin cara dilakukan Alika tidak tepat, namun hanya hal ini lah yang bisa terpikir diotak gadis kecil tersebut agar sahabatnya bisa melampiaskan rasa yang dipendamnya dalam dada.


Karena, jika disuruh bercerita tentunya Sammy tidak akan mau. Meski masih kecil, namun harga diri Sammy sebagai seorang laki – laki cukup tinggi.


Dia tidak mau berkeluh kesah dihadapan orang lain, apalagi dihadapan seorang gadis karena hal tersebut


dapat menunjukkan betapa lemahnya dia.


Dan sekarang…lihatlah…dua bocah kecil tersebut sedang menikmati camilan dan segelas susu sambil tertawa


riang melihat film kartun dilayar televise yang ada dihadapannya.


Setelah belajar bersama, dua sahabat tersebut selalu menutup aktivitas mereka dengan bersantai di depan televise sambil memakan camilan yang dibuat sanga nenek ditemani segelas susu hangat.


Itulah aktivitas tiap sore yang dilalui oleh Sammy dan Alika selama kehamilan Felicia. Dan jika hari libur maka gentian Sammy lah yang akan menghabiskan waktu dirumah Alika ataupun keluar dengan Ajeng dan Aldo.


Meski Ajeng sedang hamil besar, namun hal tersebut tidak menghalangi aktivitasnya sama sekali. Bahkan


sahabat Felicia itu tidak mengalami yang namanya mual atau ngidam seperti ibu hamil pada umumnya.


Tentu saja hal tersebut membuat Aldo sangat bahagia karena tidak perlu direpotkan seperti Alfredo yang


tengah malam harus mencari rujak uleg.

__ADS_1


__ADS_2