
Seharian ini hati dan pikiran Alfredo sangat tidak tenang.
Beberapa kali dia melihat ponselnya berharap ada pesan balasan dari sang kekasih. Bukannya membalas, bahkan pesan yang dikirimkannya mulai semalam masih belum dibaca oleh Felicia.
Ingin rasanya Alfredo menghubungi kekasihnya itu saat ini juga. Tapi niatnya tersebut dia urungkan saat melihat jadwal kegiatan Felicia hari ini yang cukup padat.
Alex yang menyadari kegelisahan dari bosnya itu hanya bisa geleng - geleng kepala.
Dia cukup paham kalau saat ini bosnya sedang terkena penyakit malarindu tropikangen.
" Baru juga beberapa hari ditinggal, sudah begini. Bagaimana kalau sebulan...", batin Alex gemas.
Selain rindu, sebenarnya Alfredo lebih ingin tahu bagaimana tanggapan kekasihnya itu saat membaca pesan yang dikirimkannya.
Apakah itu sudah cukup mewakili dirinya untuk meminta maaf dan memperbaiki hubungan yang ada atau dia harus bertemu langsung agar kesalah pahaman yang ada diantara mereka bisa segera terselesaikan.
Sementara itu di sebuah kampus B terlihat seorang gadis berjalan dengan muka letih menuju kantin.
Karena padatnya jadwal, seharian ini Felicia belum mengisi perutnya dengan makanan. Alhasil, sekarang perutnya terasa sangat perih dan sakit, seperti diremas - remas.
Dengan muka pucat, dia berusaha untuk mengunyah roti yang ada dimulutnya dengan perlahan. Dan sebelum roti itu keluar lagi, cepat - cepat dia dorong dengan menggunakan teh manis hangat yang tadi dipesannya.
" Untunglah masih bisa mau masuk, meski hanya sedikit , ucap Felicia lemas.
Dipandanginya roti yang masih tersisa ditangannya dengan pandangan nanar. Sebenarnya dia termasuk orang yang pantang untuk membuang makanan, tapi mau bagaimana lagi, perutnya sudah tidak bisa diajak kompromi.
Professor Willy yang sejak tadi mencari Felicia akhirnya bisa bernafas dengan lega setelah melihat asistennya itu sedang duduk di kantin.
"Kamu tidak apa apa ?" , tanya Profesor Willy cemas saat melihat muka Felicia yang pucat.
" Tidak apa - apa prof, ini hanya penyakit lama. Sebentar lagi juga sudah baikan ", ucap Felicia berusaha tersenyum sambil menunjukkan obat yang habis diminumnya.
" Apa aku suruh Anton untuk mengantarmu kepenginapan agar bisa istirahat ", ucap professor Willy mulai khawatir.
" Saya sudah tidak apa - apa prof. Tugas disini masih banyak, kasian teman - teman kalau saya tinggal ", ucap Felicia meyakinkan.
" Baiklah, jika kamu merasa begitu " , ucapnya sambil beranjak untuk memesan makanan.
Saat makan, professor Willy sesekali mencuri pandang kearah gadis cantik yang duduk didepannya.
Felicia yang sempat tertarik dengan professor Willy sedikit salah tingkah dengan tatapan yang diberikan dosen tampan yang ada didepannya itu.
Badan tegap, gagah, dengan kulit kuning langsat, wajah tampan, cerdas, gadis mana coba yang tidak tertarik dengannya.
Ditambah lagi sikapnya yang dewasa dan berwibawa membuat mahasiswa menaruh hormat dan segan terhadapnya.
Awalnya Felicia sempat tertarik pada profesornya yang merupakan idola kampus itu.
Tapi perasaan itu tidak terlalu dia perdulikan, yang dia sadari hanya satu yaitu dirinya merasa nyaman saat berbicara atau mendiskusikan sesuatu dengan professor tampannya itu.
Sehingga waktu mendapatkan beasiswa S2, Felicia memberanikan diri untuk mendaftar sebagai asisten dan gabung dalam program pengembangan kurikulum yang berbasis teknologi yang diketuai oleh professor Willy.
Sebenarnya bukan hanya Felicia yang tertarik, dari awal bertemu dengan gadis itu, dosen tampan itu sudah menaruh hati padanya.
__ADS_1
Bahkan ini adalah pertama kalinya professor Willy berinisiatif untuk menerima asisten.
Perasaan Felicia yang belum sempat berkembang itu telah padam dengan sendirinya saat Alfredo datang.
Pria tampan beranak satu itu mampu mengobrak - abrik seluruh pertahanannya dan membuatnya jatuh kedalam perasaan yang cukup dalam, seperti saat ini.
Kembali dia lihat ponselnya, ada pesan masuk dari kekasihnya itu yang masih belum dia baca mulai dari semalam.
Felicia masih belum berani untuk membaca ataupun membalas pesan dari kekasihnya itu.
Terkendala jarak yang ada, serta kondisi fisik dan psikis keduanya yang sama - sama letih, tentunya tidak akan bisa menyelesaikan permasalahan yanga ada.
Jika terlalu dipaksakan untuk berkomunikasi, takutnya permasalahan yang ada akan menjadi semakin besar.
Lebih baik mereka berdiam diri dulu, setidaknya untuk saat ini.
" Ya... untuk sementara waktu mungkin ini jalan terbaik " , batin Felicia sedih.
Ditutup dan dimasukkan kembali ponsel yang berada didalam genggamannya itu kedalam sakunya sambil menghela nafas panjang.
Tindakan Felicia itu tidak luput dari pengamatan professor Willy yang ada di depannya, memandangnya dengan tatapan khawatir.
"Apa ada masalah ?", tanya professor Willy khawatir.
"Tidak ada prof, hanya saja...", ucap Felicia ragu - ragu .
" Ya...", ucap Profesor Willy penasaran.
" Hufftt....se....sebenarnya dikota ini saya mempunyai seorang kakak. Sudah sepuluh tahun kami tidak pernah bertemu ", ucapnya sedih
" Sepuluh tahun...itu berarti kamu baru berusia delapan tahun saat kakakmu pergi ?" , tanya professor Willy yang dibalas anggukan oleh Felicia.
" Apa yang menjadi dasar kakakmu pergi ? ", tanyanya lagi.
" Karena kedua orang tuaku tidak merestui hubungan kakakku dengan kekasihnya" , ucap Felicia sedih saat mengingat hal itu.
"Jadi mereka kawin lari..." , ucap professor Willy hati - hati.
" Sepertinya begitu. Karena sejak kakak pergi, mama setiap malam selalu menangis. Dan karena hal itu juga kondisi mama mulai memburuk " , ucap Felicia dengan mata mulai berkaca - kaca.
Felicia sangat sedih jika harus mengingat hal itu, peristiwa yang membuat hatinya teriris - iris setiap kali mengingatnya.
Peristiwa itulah yang membentuknya menjadi pribadi tangguh dan mandiri seperti sekarang.
Kondisi mamanya yang jauh dari kata sehat, tapi juga tidak bisa dibilang sakit karena tidak ditemukan penyakit apapun dalam dirinya, membuat Felicia kecil harus menyiapkan semua kebutuhannya sendiri.
Meski ada pembantu rumah tangga, tapi beliau tidak bisa membantunya dalam segala hal, karena banyaknya tugas yang harus dikerjakannya di rumah.
Sehingga Felicia kecil dituntut untuk bisa mandiri agar tidak merepotkan semua orang.
Bahkan diusia sekecil itu dirinya juga ikut membantu untuk mengurus mamanya yang sudah kehilangan gairah untuk hidup.
Sedangkan, papanya yang merasa sedih setiap melihat kondisi istrinya, memilih untuk menenggelamkan diri dalam pekerjaan, sehingga Felicia terabaikan.
__ADS_1
Anak kecil yang masih membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tuanya itu dituntut oleh keadaan untuk bisa memahami kondisi keluarganya yang mulai berantakan semenjak kepergian kakaknya.
Dan puncaknya adalah meninggalnya mereka dalam sebuah kecelakaan saat papanya hendak membawa mamanya ke rumah sakit untuk berobat.
Felicia yang saat itu masih berumur sebelas tahun, dan baru saja lulus dari sekolah dasar merasa sangat terpukul.
Hidup sebatang kara dan mengandalkan harta warisan dari orang tuanya menuntutnya untuk bisa berpikir lebih dewasa.
Karena harta yang ditinggalkan oleh orang tuanya tidak terlalu banyak, saat ada kesempatan, Felicia mulai mengikuti ujian akselerasi agar pendidikannya bisa diselesaikan dalam waktu yang singkat.
Berbekal otaknya yang cerdas, hanya dalam waktu empat tahun dirinya sudah bisa lulus dari sekolah menengah atas dan melanjutkan ke jenjang perkuliahan yang hanya ditempuhnya dalam waktu dua setengah tahun.
Melihat gadis yang ada dihadapannya diam termenung, Professor Willy segera mengenggam tangan Felicia, berusaha untuk menenangkannya.
" Kamu sudah cukup hebat. Sekarang orang tuamu pasti bangga terhadapmu. Melihat anak gadisnya sudah tumbuh dewasa dengan prestasi yang membanggakan ", ucap Profesor Willy sambil tersenyum.
" Tapi bagaimanapun juga kamu harus bisa berteman dengan masa lalumu. Beri hatimu kesempatan. Mungkin kejadian sesungguhnya tidak seperti yang kamu pikirkan selama ini. Temuilah kakakmu, mumpung kita masih disini dan sebelum kamu menyesal nantinya " , ucap Profesor Willy bijak.
" Temui kakakmu, selagi kamu masih bisa ", ucapnya lagi berusaha meyakinkan Felicia.
" Terimakasih prof..." , ucap Felicia sambil tersenyum.
Entah kenapa dirinya selalu bisa merasa lega setelah bercerita kepada dosen tampannya itu.
Profesor Willy segera menghapus air mata yang meleleh dari pipi gadis yang ada dihadapannya.
Setelah dirasa Felicia sudah cukup tenang, dia mengajak gadis itu untuk kembali ke lab meneruskan tugas yang belum terselesaikan.
Mereka berdua tidak menyadari jika apa yang mereka lakukan tidak lepas dari pengawasan anak buah Alfredo yang ditugaskan untuk mengawal Felicia.
Hati Alfredo terasa sangat panas saat melihat video yang dikirimkan anak buahnya.
Kata - kata Sammy malam itu terngiang kembali ditelingganya.
" Aku harus secepatnya kesana, sebelum terlambat ", batin Alfredo cemas.
" Alex, siapkan tiket ke B********n sore ini " , perintah Alfredo.
" Baik pak...." , ucap Alex yang langsung memesankan tiket pesawat dan hotel untuk bosnya.
" Ada apa lagi ini ....", batin Alex cemas.
" Semoga nona Felicia tidak kenapa - kenapa ", gumannya sambil mulai menyiapkan berkas yang harus di tanda tangani oleh bosnya itu sebelum pergi.
Sementara itu, Felicia bersama tim sudah menyelesaikan uji coba program dikampus B dan segera mengemasi semua peralatan yang digunakan kemudian beranjak pulang.
Ditengah perjalanan mereka menyempatkan diri untuk makan malam bersama sebelum kembali kepenginapan.
" Malam ini prof sibuk tidak ?", tanya Felicia saat baru turun dari mobil.
"Kenapa ?", jawab professor Willy penasaran.
"Kalau prof tidak sibuk, saya mau ajak prof ke suatu tempat " , ucap Felicia berharap.
__ADS_1
" Ok. Jam tujuh malam saya tunggu " , ucapnya sambil berjalan masuk kedalam restoran.
Felicia dengan senyum mengembang dibibirnya mengikuti langkah profesornya memasuki restoran.