
Ruang rawat Vera dan Setyo dijaga petugas seketat mungkin agar tersangka tidak bisa kabur.
Setelah kondisi pasien mulai stabil, mereka mulai dipindahkan ke rumah sakit angkatan agar bisa diawasi secara maksimal.
Istri Setyo yang mendengar kabar tentang penangkapan suaminya, segera menghubungi keluarganya yang berada ditanah air.
Dia meminta agar mereka bisa mengupayakan agar suaminya tersebut bisa bebas dari jerat hukum dan segera mengirimnya keluar negeri agar bisa berkumpul bersama keluarganya.
Meski sempat kecewa dengan sikap sang suami yang lebih memilih balik ke tanah air demi Vera setelah mengantar dan mengurus semua keperluan keluarganya tersebut agar bisa menetap di luar negeri.
Tapi demi tiga orang anaknya dia harus membawa suaminya tersebut kembali ke sisinya.
"Mungkin ini saat yang tepat agar dia bisa lepas dari wanita ular itu" , ucap istri Setyo geram.
Dia sangat yakin suaminya akan bersedia untuk kembali kepadanya jika dia membantunya bebas.
Karena dia tahu kalau Vera akan segera menjalani hukuman mati seperti vonis yang telah dijatuhkan kepadanya sebelum melarikan diri.
Setelah kondisi kedua tersangka pulih, mereka berdua segera dihadapkan dengan persidangan.
Vera yang terkena pasal berlapis atas pembunuhan berencana atas Irene dan Bramasty serta pemalsuan surat wasiat, juga mendapatkan tuntutan baru tentang percobaan pembunuhan berencana terhadap Felicia tersebut langsung mendapatkan vonis hukuman mati dari hakim setelah melihat bukti dan para saksi yang hadir.
Sedangkan Setyo yang merupakan kaki tangan Vera, setelah melalui beberapa kali persidangan, karena tidak adanya bukti yang kuat yang mengarah keterlibatan dirinya, maka hanya dijatuhi vonis hukuman selama dua tahun kurungan dan denda. Tapi pengacaranya masih ingin menuntut banding.
Meski Alfredo tidak cukup puas dengan hasil putusan yang diterima oleh Setyo, tapi dirinya berusaha untuk menerima hasil yang ada.
Dan hari ini Alfredo mengunjungi mantan istrinya yang dua hari lagi akan menjalani hukuman mati seperti yang telah divoniskan oleh hakim di ruang tahanan.
Dia sangat berharap wanita yang telah menemaninya selama delapan tahun itu merasa bersalah dan meminta maaf kepadanya dan keluarganya.
Tapi tampaknya harapan Alfredo tersebut sia - sia belaka. Vera sama sekali tidak menampakkan rasa bersalah dan menyesal telah membunuh sepupunya Irene dan mertuanya Brahmasty.
Dia malah bersikap arogan dan menyumpahi Alfredo supaya tidak akan pernah bisa bersanding dengan Felicia selamanya.
Mendengar kata - kata wanita yang ada di depannya membuat darah Alfredo mendidih. Vera yang melihat perubahan ekspresi muka yang ditunjukan oleh laki - laki didepannya hanya tertawa terbahak bahak.
" Kamu telah menyia - nyiakan wanita yang sangat mencintaimu begitu dalam seperti diriku. Maka akan kupastikan bahwa kebahagiaan tidak akan pernah berpihak padamu. Gadismu itu tidak akan pernah bisa kamu miliki. SELAMANYA..hahahahaa...", ucap Vera sanbil tertawa terbahak - bahak.
Alfredo yang tidak ingin hilang kendali saat mendengar ocehan mantan istrinya itu meminta petugas agar segera membawanya kembali kedalam sel.
__ADS_1
Selama perjalanan pulang, Alfredo terus kepikiran sumpah serapah yang diucapkan oleh Vera terhadap dirinya.
Ketakutan mulai mengerogoti hatinya, takut akan kehilangan gadis yang sangat dicintainya.
Selama ini dia sudah dua kali kehilangan Felicia, meski akhirnya dia bisa menemukan dan membawa kembali gadis itu ke sisinya, tapi hatinya masih belum tenang jika dia belum bisa menjadikan Felicia sebagai istrinya.
Dengan statusnya hanya sebagai kekasih, tidak terlalu kuat untuk mengikat gadis itu yang kapanpun bisa berubah pikiran dan pergi meninggalkannya.
Kegalauan hatinya tersebut dia ungkapkan ke Mia, maminya. Mia menyarankan agar Alfredo segera melamar Felicia.
Bukannya tidak mau, Alfredo sudah berusaha melamar Felicia meski belum secara resmi. Tapi setiap dirinya menyinggung masalah itu, Felicia selalu berusaha menghindar.
Penjelasan Alfredo tersebut tentunya membuat Mia merasa sedih. Dia bertekad akan mencari tahu apa alasan Felicia selalu menghindar saat dilakukan pembahasan mengenai pernikahan kepada Ajeng, sahabatnya.
Karena sepengetahuan Mia, Felicia itu sangat sayang dan cinta kepada Alfredo dan Sammy cucu semata wayangnya itu.
Jadi kemungkinan besar, pasti ada alasan lain yang membuat gadis cantik itu menghindari pernikahan.
Ajeng yang didatangi oleh Mia saat Felicia sedang berada dikampus sama sekali tidak merasa curiga.
Karena Mia selama ini memang sering datang ke café kalau sedang bosan sambil menunggu cucunya pulang sekolah.
Diawalai dengan obrolan ringan hingga akhirnya Mia berbicara keinti permasalahan yang ingin di bahasnya dengan Ajeng.
Tiba tiba Ajeng teringat satu nama, tapi dia tidak mungkin membahas tentang hal tersebut dengan Mia.
Karena Ajeng sendiri juga tidak mengetahui apapun mengenai kakak kandung Felicia, seseorang yang sangat tabu untuk diucapakan namanya ataupun di lakukan pembahasan tentangnya.
Melihat raut muka cemas yang ditunjukkan Ajeng membuat Mia sedikit curiga bahwa ada sesuatu yang sengaja gadis itu tutupi dari dirinya.
Demi kebahagiaan putra semata wayangnya, dan seluruh keluarga kecilnya, Miapun akhirnya melakukan acting dengan berpura - pura sangat sedih meratapi nasib putra semata wayangnya itu.
"ohh.. Nasibmu sungguh malang sekali nak... Istri pertama yang kamu cintai meninggal dibunuh saudaranya sendiri. Dan kamu juga terpaksa menjalani pernikahan tanpa cinta selama delapan tahun yang terasa seperti di neraka. Dan saat kamu sudah kembali mendapatkan cinta...kamu masih juga belum bisa bersamanya. kenapa kebahagiaan masih belum juga berpihak kepadamu..." , acting Mia.
" Kenapa nasibmu begitu buruk nak....mama hanya ingin bisa melihatmu bahagia sebelum ajal menjemput ", ucap Mia sambil berderai air mata.
Melihat Mia bersedih seperti itu, Ajeng merasa iba. Dengan perlahan didekapnya Mia dalam pelukannya.
Mia yang melihat bahwa actingnya berhasil semakin mendramatisir keadaan dengan menangis terisak - isak yang membuat pertahanan Ajeng akhirnya runtuh total.
__ADS_1
"Bu...silahkan diminum tehnya, biar hati Ibu sedikit tenang ", ucap Ajeng sambil menyerahkan segelas teh hangat yang ada diatas meja.
"Felicia tidak mau menikah ini mungkin berhubungan dengan kak Leon bu ", ucap Ajeng hati - hati.
"Leon...?", tanya Mia penasaran.
" Iya, kak Leon itu adalah kakak kandungnya Felicia dan satu - satunya keluarga yang masih hidup ", ucap Ajeng menjelaskan.
"Maksudnya....", tanya Mia dengan wajah semakin binggung dengan kata - kata Ajeng.
" Saya sendiri juga tidak terlalu tahu tentang siapa itu kak Leon. Karena Felicia akan sangat marah jika saya menyebut nama itu. Jadi saya sangat mohon kepada Ibu untuk tidak memberitahu Felicia kalau saya sudah memberitahu ibu tentang kak Leon, jika tidak maka dia tidak akan pernah menganggap saya sahabatnya lagi " , ucap Ajeng memohon dengan wajah cemas.
Ajeng patut cemas karena Felicia sempat menegurnya dan tidak akan pernah menganggapnya sebagai sahabat jika berusaha mencari info apapun tentang kak Leon.
Mia yang melihat wajah cemas dan ketakutan dari Ajeng mengerti jika hal tersebut tentunya bukan sesuatu yang baik.
Melihat bagaimana Felicia berusaha untuk mengubur rapat - rapat semua kenangan tentang kakaknya itu.
Tidak ingin membuat Ajeng semakin tertekan, akhirnya Mia segera beranjak dari café dengan alasan masih ingin pergi ke supermarket membeli beberapa kebutuhan rumah yang kebetulan sudah habis.
Ditemani bik Ina, Mia segera meninggalkan Ajeng yang masih termenung di kursinya.
Gadis itu meruntuki kebodohannya yang bisa larut dalam suasana yang diciptakan oleh Mia tadi.
Saat ini dirinya sudah pasrah jika pada akhirnya sahabatnya itu akan sangat marah terhadapnya.
Sementara itu dikampus, Felicia terlihat sedang berdiskusi dengan professor Willy mengenai beberapa program yang telah dibuatnya, dan rencananya akan diuji cobakan ke beberapa universitas sebelum akhirnya diluncurkan.
" Untuk melihat apakan program ini bisa berjalan lancar, maka kita harus terjun sendiri dalam waktu uji coba ini " , ucap Profesor Willy menerangkan.
" Karena kampus yang akan kita jadikan sample tersebar di beberapa kota besar yang ada di Indonesia, maka kita harus menginap. Bagaimana menurutmu Felicia..?", ucapnya ingin mendengar pendapat dari murid kesayangannya itu.
" Baiklah...saya setuju. Dengan kita bisa melihat langsung program yang diuji cobakan, kita bisa menganalisis kampus seperti apa yang cocok dengan program tersebut, agar tepat sasaran ", ucap Felicia antusias.
"Lalu bagaimana dengan kekasihmu. Setelah hilangnya kamu di Jogja, tentunya dia akan sulit percaya padaku " , ucap professor Willi cemas.
" Untuk masalah itu, biar saya yang urus. Professor tenang saja ", ucap Felicia berusaha meyakinkan profesornya.
"Baiklah, saya percaya padamu" , ucap Profesor Willy sambil menepuk pundak Felicia.
__ADS_1
Felicia yang sangat antusias dengan program yang sedang dijalankannya bersama dengan professor willy , segera melangkahkan kakinya menuju lantai empat gedung bersama, tempat professor Budi berada.
" Aku harus minta professor Budi untuk membujuk Alfredo agar mengijinkanku pergi ", guman Felicia sambil tersenyum.