
Disamping koper besar terlihat seorang gadis cantik sedang memilah barang apa saja yang hendak dimasukkan ke dalam koper dengan wajah binggung.
" Tidak usah bawa banyak barang, nanti kita beli saja disana ", bisik Alfredo pelan.
" Ini juga sudah aku pilih mas, aku cuma bawa yang paling aku butuhkan saja. Kan nggak semua barang harus kita beli jika tidak terlalu penting " , ucap Felicia masih dengan kegiatannya memasukkan barang kedalam kopernya.
" Aku sangat senang jika kamu bisa menghabiskan uangku " , ucap Alfredo sedikit sebal dengan tingkah sang istri yang dinilainya terlalu hemat itu.
" Tapi sayangnya, aku nggak mau...", ucap Felicia memutar bola matanya malas dan kembali sibuk dengan kopernya.
Sebenarnya Felicia sudah jengah dengan pembahasan seperti ini.
Meski dia tahu bahwa harta suaminya tidak akan habis, tapi namanya kehidupan kita tidak tahu kapan akan berubah.
Bisa saja tiba - tiba nantinya mereka berada dititik paling terendah, dan jika saat itu tiba setidaknya masih ada yang mereka buat untuk bertahan.
Selama ini uang bulanan yang dikasih suaminya sama sekali tidak pernah dia gunakan sepeserpun, semuanya dia biarkan tersimpan dalam tabungannya.
Karena untuk kebutuhan makan dan keperluan sehari - hari sudah ada anggaran sendiri.
Bahkan jika dia diberi uang diluar uang bulanan, biasanya Felicia simpan sebagian dan sebagian sudah dia belikan sejumlah tanah di beberapa tempat, tentunya tanpa sepengetahuan suaminya.
Bukannya dia ingin menyembunyikan semua ini dari suaminya, tapi Felicia hanya berjaga - jaga jika terjadi hal buruk pada keluarga besar suaminya, dia masih punya tabungan.
Itulah yang selalu dia pikirkan selama ini, hidup sebatang kara sejak berusia dua belas tahun membuatnya harus memiliki perencanaan keuangan yang cukup baik agar bisa bertahan hidup dengan cara berhemat, mengeluarkan uang saat memang dibutuhkan.
Sore itu, Sammy terlihat merajuk saat orang tuanya hendak pergi untuk berbulan madu.
Jika tidak sedang bersekolah, mungkin Sammy akan ikut orang tuanya berlibur.
" Mama tiap hari harus telepon Sammy ya " , ucap Sammy menangis.
" Iya sayang...", ucap Felicia lembut sambil menghapus air mata Sammy.
" Mama cepat pulang, jangan lama - lama perginya ", ucap Sammy semakin terisak.
" Iya sayang....mama janji nggak akan pergi lama ", ucap Felicia lembut sambil memeluk anaknya dengan erat.
Setelah dibujuk, akhirnya Sammy melepaskan Felicia untuk pergi.
Mobilpun segera melaju kearah bandara dengan kecepatan sedang karena mereka sedang tidak terlalu buru - buru.
" Lho...kita naik pesawat pribadi ? , tanya Felicia kaget.
"Tentu saja. Perjalanan kita jauh, aku tidak mau kamu merasa tidak nyaman ", ucap Alfredo tersenyum nakal.
" Tampaknya aku tidak akan bisa beristirahat selama perjalanan ini ", batin Felicia lemas.
Dia sudah tahu arah pemikiran suaminya itu kenapa memilih menggunakan pesawat pribadi daripada pesawat komersil. Karena dia ingin bulan madunya dimulai diatas pesawat.
" Kamu belum pernah mencoba melakukan diatas udara seperti ini kan sayang ", ucap Alfredo berbisik pelan.
"Tentu saja belum, aku hanya melakukan ini denganmu....emmmm...", ucap Felicia tertahan karena bibir dan tangan suaminya itu sudah menjelajah kemana - mana.
Kemudian Alfredo segera ******* bibir merah yang ada didepannya dengan rakus.
Sentuhan dan belaian yang diberikan oleh suaminya mampu membuat Felicia seakan melayang.
Pergulatan panaspun terjadi dan menimbulkan suara - suara yang bisa membuat badan panas dingin bagi siapa saja yang mendengarnya.
Para awak pesawat yang berdiam diri diluar hanya bisa menghela nafas dalam - dalam sambil menahan semua gejolak yang ada dalam diri mereka masing - masing akibat suara yang mereka dengar.
"Aku tidak menyangka Tuan Alfredo bisa seliar itu ....", ucap salah satu pramugari.
"Daun muda....tentu rasanya beda lah ", ucap temannya ikut menimpali sambil tersenyum
__ADS_1
" Tapi kurasa Tuan besar sangat bucin deh sama nyonya muda. Ini berbeda jauh dengan sikap Tuan terhadap nyonya Vera dulu. Jangankan perhatian, bahkan Tuan sama sekali tidak pernah bersikap lembut pada nyonya Vera ", ucapnya dan dianggukin oleh yang lainnya.
Selanjutnya meraka hanya terdiam tidak mau terlalu banyak berkomentar.
Selama perjalanan Alfredo hanya memanggil pramugari dan pramugara yang ada dipesawat untuk melayaninya makan.
Selebihnya mereka sama sekali tidak diperbolehkan untuk masuk kedalam ruang kabin itu.
Karena hampir sepanjang perjalanan, istri tercintanya itu tampil polos tanpa sehelai benangpun.
Hal tersebut adalah kelakuan Alfredo yang tidak membiarkan istrinya untuk menyentuh pakaiannya.
Dan itu membuat Felicia sedikit geram, pasalnya dia sangat malu dengan para kru yang berada dipesawat, apa nanti yang mereka pikirkan tentangnya.
Mengingat suara - suara yang dia keluarkan cukup keras dan tentunya bisa didengar oleh mereka.
Tapi apalah daya, tubuhnya sama sekali tidak bisa menolak sentuhan lembut dari suaminya itu.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih lima belas jam, akhirnya mereka tiba di Fiumicino Airport.
Felicia keluar dari pesawat dengan lunglai, badanya terasa remuk semua. Didalam mobil, Felicia mulai memejamkan matanya yang terasa cukup berat.
Setelah sampai didalam hotel, Felicia segera masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sedikit terasa lengket akibat pergulatan yang dilakukannya didalam pesawat.
Setelah selesai, Felicia segera merebahkan diri diatas tempat tidurnya yang sangat empuk. Tak perlu waktu lama, gadis cantik itupun segera terlelap.
Alfredo yang baru saja selesai menelepon, hanya bisa tersenyum melihat istrinya sudah tertidur dengan pulas.
" Tampaknya kamu sangat lelah sekali ", ucap Alfredo lirih sambil membenahi rambut yang menutupi wajah Felicia.
Kemudian Alfredo segera masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan langsung ikut rebahan disamping sang istri.
Saat matahari sudah hampir tenggelam, Felicia perlahan membuka matanya. Saat hendak bangun, tangan kekar Alfredo yang melingkar di perut menahannya.
Dengan enggan Felicia menuruti keingginan suaminya. Sambil memejamkan mata Alfredo kembali berulah nakal.
D********a leher Felicia berkali kali, bahkan sekarang tangannya sudah bergerak nakal keseluruh bagian tubuhnya.
Pergulatan panaspun terjadi berulang kali hingga akhirnya mereka tertidur kembali akibat kelelahan.
Tak terasa ini sudah hari ketiga mereka berada dinegara pizza, dan selama itu juga dua insan yang sedang dimabuk cinta ini sama sekali belum meninggalkan kamar hotel.
Bahkan saat makanpun mereka memintanya untuk dikirimkan kedalam kamar.
Alfredo sama sekali tidak membiarkan istrinya untuk beranjak pergi sedikitpun dari sisinya.
Berbagai macam gaya dan posisi sudah mereka coba, hanya agar istrinya tersebut bisa segera hamil.
"Jika mas terus mengurungku seperti ini didalam kamar, apa gunanya kita jauh - jauh datang kesini...", ucap Felicia geram.
"Jika malam ini kita tidak keluar, besok aku mau pulang ", ancamnya sambil berlalu menuju kamar mandi.
" Baiklah sayang, malam ini kita akan makan malam diluar..." , ucap Alfredo yang langsung menyusul istrinya masuk kedalam kamar mandi.
Untuk menghibur istrinya yang lagi merajuk, Alfredo mengajak dinner di Ristorante Aroma, sebuah restoran yang cukup terkenal disana.
Tempat tersebut menggabungkan masakan Michelin dengan pemandangan Kota Abadi yang menakjubkan.
Disini mereka bisa melihat-lihat taman Colosseum dan Kaisar Nero sambil menikmati makanan Italia
" Bagaiman sayang...., apakah kamu suka ? " , tanya Alfredo sambil mengenggam erat kedua tangan Felicia.
" Sangat.....suka...." , ucap Felicia girang.
__ADS_1
" Mas....besok ke Positano yuk, katanya disana pemandangannya bagus dan romantis susananya kalau malam hari " , ucap Felicia dengan mata berbinar - binar.
" Baiklah....apa sih yang enggak buat kamu sayang " , gombal Alfredo.
" Asalkan nanti malam kamu bisa memanjakanku ", ucapnya lagi dengan senyum nakal.
" Apa tiga hari ini belum cukup....", ucap Felicia melotot
" Kalau denganmu aku tidak pernah cukup sayang ", ucap Alfredo sambil mengedipkan sebelah mata.
Felicia sangat heran dengan suaminya itu, diusianya yang sudah menginjak kepala empat tapi staminanya terbilang cukup kuat sehingga bisa mengempurnya berkali - kali.
Kadang dia berpikir bahwa suaminya tersebut seorang ****** *** melihat betapa liar dan beringasnya lelaki tersebut diatas ranjang.
Untungnya Felicia yang masih muda bisa mengimbangi keganasan suaminya itu.
Di pagi yang cerah terlihat Felicia sudah berdandan cantik dengan gaun hijau toska dengan tali spagethi dan sepatu kets berwarna senada berdiri didepan pintu bersama kopernya. Tujuan selanjutnya adalah Positano.
"Positano.... I'm coming...", ucap Felicia gembira.
Setelah melalui perjalanan hampir empat jam lamanya akhirnya mereka tiba di Positano.
Sebuah kota tepi laut yang terletak diatas tebing yang memiliki pemandangan sempurna untuk mengabadikan kisah cintanya dengan sang suami.
Terlihat dari kejauhan gedung gedung berwarna - warni nan cantik yang tersusun dijalan bertingkat tingkat menghiasi kota dari sisi pantai, membuat Felicia seakan berada dalam dunia yang berbeda.
"Cantiknya...", ucap Felicia takjub.
" Benar....sangat cantik" , ucap Alfredo sambil mengambil foto istrinya yang terlihat sangat takjub melihat pemandangan kota Positano.
" Itu apa mas...", tunjuk Felicia melihat banyak perahu yang berada ditengah laut.
"Kamu mau....nanti kita kesana. Tenang saja, aku sudah siapkan semuanya " , ucap Alfredo sambil m******i leher Felicia dengan lembut.
Sesampainya di hotel, Felicia segera berlari kearah balkon. Dinikmatinya pemandangan indah kota Positano dari atas.
Angin yang berhembus kencang membuat tubuh Felicia tercetak jelas dalam balutan gaunnya yang tipis.
Alfredo yang melihat pemandangan indah tersebut hanya bisa mengeram menahan gejolaknya.
Entah kenapa selama masa bulan madu ini dirinya gampang sekali turn on saat berdekatan dengan sang istri.
"Kenapa kamu begitu menggoda sayang, rasanya aku ingin segera menerkammu " , batin Alfredo gelisah.
Felicia yang ditatap intens oleh suaminya segera kembali kedalam kamar dan mengajaknya untuk makan.
Mereka menikmati makan siang di restoran yang berada ditepi tebing.
Untuk menyempurnakan malam ini, Alfredo mengajak Felicia naik perahu dan menikmati keindahan kota Positano dari tengah laut.
" Indahnya sayang....kerlap - kerlip lampu kota terlihat sangat indah disini " , ucap Felicia takjub.
"Apa kamu bahagia sayang...", bisik Alfredo lembut sambil memeluk istrinya dari belakang.
" Tentu saja aku bahagia " , ucap Felicia dengan tatapan penuh cinta.
" Terima kasih ya sayang , ucap Felicia lembut.
Merekapun menghabiskan waktu diatas kapal hingga pagi hari. Menikmati masa - masa indah bersama.
__ADS_1