
Sammy sama sekali tidak menyangka bahwa papanya akan membentaknya seperti itu.
Selama ini semarah - marahnya Alfredo dia tidak pernah membentak ataupun mengeluarkan kata - kata kasar kepada anak semata wayangnya itu.
"Mama dimana...Sammy mau ikut dengan mama...", ucap Sammy dengan berderai air mata.
" Papa sudah tidak sayang lagi sama Sammy.....tadi papa bentak - bentak Sammy dan berkata kasar demi membela wanita itu. Sammy nggak mau tinggal dengan wanita itu ma....Sammy mau ikut dengan mama....", ucapnya lagi dengan air mata yang semakin deras.
"Ma....jawab Sammy ma....", teriaknya dengan isak tangis semakin keras.
Ponsel yang berada ditanggannya sudah basah oleh airmatanya.
Felicia yang mendengar suara tangis anak tirinya tersebut hatinya terasa sangat sakit.
Dengan isak tangis tertahan dia mulai berbicara dengan sahabatnya.
"Jeng...tolong jemput Sammy dan mami ya... Aku takut mereka terluka saat Alfredo mengijinkan wanita itu tinggal dirumah ", ucap Felicia cemas.
Cukup dirinya saja yang tersakiti, dia tidak ingin anak kecil itu ikut merasakan sakit yang dirasakannya.
Kondisi Mia yang mulai membaik juga menjadi perhatiannya.
Dia tidak mau kalau maminya tersebut kembali sakit dan kondisinya semakin menurun akibat tertekan.
Sesuai permintaan Felicia, sore itu Ajeng ditemani Aldo menjemput Sammy dan Mia untuk tinggal bersama Felicia didalam apartemennya.
Mia yang melihat kedatangan Ajeng sedikit terkejut namun akhirnya dia paham dan menyetujui keinginan menantunya itu.
Untuk membuat anaknya jera, Mia meminta agar para pelayan dan pengawal yang berada disana tidak mengatakan apapun mengenaik kepergiannya.
" Nanti kalau ditanya tuan, bilang saja kalau aku dan Sammy pergi berbelanja sebentar ", ucap Mia kepada seluruh pelayan dan petugas keamanan yang berjaga disana.
Setelah semua siap mereka berlima dengan bik Ina pergi meninggalkan kediaman Brahmasty.
Sementara itu Michele yang sangat percaya diri karena telah dibela oleh Alfredo dari kemarahan mami dan anaknya merasa bahwa tujuannya sebentar lagi akan tercapai.
" Memang kita akan kemana sayang...", ucap Michele manja.
" Nanti kamu juga akan tahu ", ucap Alfredo datar.
Senyum Michele yang sejak masuk kedalam mobil terus menghiasi wajahnya tiba - tiba hilang saat mobil memasuki halaman kantor polisi.
Dengan wajah binggung dia tetap mengikuti Alfredo yang menyuruhnya keluar dari dalam mobil dan melangkah masuk kedalam.
Beberapa polisi yang kenal dengan Alfredo menundukkan kepala tanda hormat membuat kekhawatiran yang ada dihati Michele sedikit menghilang.
" Mungkin dia mau bertemu temannya disini ", batin Michele penuh percaya diri.
Alfredo kemudian mengajak Michele masuk kedalam ruangan kosong yang hanya berisi dua kursi yang saling berhadapan dan satu meja ditengahnya.
Wanita tersebut terlihat binggung saat Alfredo menyuruhnya duduk dan langsung meninggalkannya sendirian.
__ADS_1
Sementara itu di ruang sebelah, Alfredo langsung menemui Bima dan beberapa temannya yang bertugas sebagai penyidik dikepolisian.
" Buat dia berbicara. Aku hanya mau mengetahui siapa dalang dibalik semua ini ", ucap Alfredo tajam.
" Siap...", ucap Bima yang langsung menemui Michele diruang interogasi.
Michele yang melihat kedatangan Bima sedikit terkejut.
Diedarkannya pandangan keseluruh ruaangan dengan tatapan cemas.
Bima yang sudah berada didalam ruangan segera mengajak Michele mengobrol ringan agar wanita tersebut sedikit rileks.
Alfredo yang melihat dan mendengar semua jawaban dari Michele merasa sangat geram bagaimana pintarnya wanita tersebut menghindari semua jebakan pertanyaan yang dilontarkan kepadanya.
" Tampaknya dia sudah pro bos...jadi sedikit memakan waktu untuk bisa mengetahui semuanya, kecuali kamu memegang kartu As nya ", ucap Rizky tersenyum.
Setelah hampir dua jam berlalu, Bima yang belum mendapatkan hasil segera keluar ruangan berbarengan dengan pelayan yang mengantarkan makanan dan minuman untuk Michele.
" Sulit...Mulutnya benar - benar tertutup rapat " , ucap Bima sambil geleng - geleng kepala.
" Kalau begitu biarkan dia bermalam disini. Bukti tersebut cukupkan membuat dia mendekam di sel sekarang" , ucap Alfredo tajam.
" Bukannya dia sedang hamil, apa kamu tega..." , belum sempat menyelesaikan kalimatnya Alfredo sudah memukul kepala Bima dengan map yang dibawanya.
"Kandungannya sudah berusia hampir tiga bulan dan aku dijebak bulan kemarin. Jadi bisa dipastikan itu bukan anakku. Sekarang lakukan tugasmu dengan baik " , ucap Alfredo sambil berlalu.
" Bos mah bebas ngelakuin apa aja...", guman Rizky yang langsung beranjak dari tempatnya untuk membuat surat penahanan terhadap Michele.
Dia cukup terkejut bahwa Alfredo akan melakukan hal sekejam itu kepadanya yang lagi dalam kondisi hamil.
Sementara itu Alfredo yang baru tiba di rumah segera menuju kamar Sammy untuk meminta maaf atas perlakukan kasarnya tadi.
Namun anaknya tersebut tidak berada dalam kamarnya.
"Sammy...dimana kamu...", teriak Alfredo sambil mencari anak semata wayangnya tersebut keseluruh rumah.
" Tuan muda dan nyonya pergi berbelanja sebentar tuan ", ucap salah satu pelayan rumahnya menjelaskan.
" Sudah lama...", tanyanya lagi.
" Berangkat jam empat tadi tuan " , ucap pelayan tersebut sambil menunduk.
" Semoga tuan tidak bertanya - tanya lagi " , batin pelayan tersebut cemas.
Mendengar penjelasan tersebut, Alfredo pun bergegas masuk kedalam kamar melepas seluruh pakaiannya dan beranjak ke kamar mandi.
Sambil menenangkan diri di dalam bath up dia mulai merindukan istrinya.
Tak terasa air matanya mulai menetes waktu membayangkan Felicia menangis.
" Maafkan aku yang masih belum bisa membahagiakanmu sayang...", guman Alfredo lirih.
__ADS_1
Sementara itu apartemen yang semula terlihat sangat sunyi sekarang berubah menjadi ceria dengan canda tawa penghuninya.
Ada saja tingkah yang dilakukan oleh Aldo dan Sammy yang membuat semua orang tertawa.
Mia yang melihat senyuman diwajah menantunya tersebut sangat bahagia.
" Kuharap senyum itu tidak akan pernah pudar...", batin Mia penuh harap.
Felicia merasa terhibur dengan semua orang yang berada disini.
Orang - orang yang perduli dan sangat sayang padanya.
Karena kehadiran merekalah Felicia mulai sedikit melupakan bayangan yang sangat menyakitkan baginya.
Setelah hari mulai larut, Ajeng dan Aldo pamit undur diri.
Begitu juga Mia yang langsung menuju kamarnya unruk beristirahat ditemani dengan bik Ina.
Sedangkan Sammy memilih untuk tidur dengan mamanya meski masih ada satu kamar kosong lagi yang sudah disiapkan untuknya.
"Selama Sammy disini, Sammy boleh tidur dengan mama kan...", ucapnya penuh harap.
"Tentu saja boleh sayang....sekarang Sammy bobok ya agar besok tidak kesiangan bangunnya ", ucap Felicia lembut.
Diusapnya kepala anak tirinya itu dengan lembut hingga akhirnya Sammy tertidur.
Felicia yang masih merasa letih dan sedikit pusing akhirnya ikut tertidur juga.
Di kediaman Brahmasty, Alfredo yang sedang berada diruang kerjanya sedari tadi terus melirik jam yang ada didinding dengan perasaan cemas.
" Sudah jam sepuluh malam...tapi kenapa mami dan Sammy belum kembali ", gumannya cemas.
Kemudian dia segera mengecek cctv yang ada dirumahnya.
Dalam rekaman tersebut dia melihat mami dan anaknya beserta bik Ina pergi bersama Ajeng dan Aldo.
" Kenapa mami mesti membawa koper besar jika hanya berbelanja " , guman Alfredo curiga.
Untuk menenangkan hatinya dia mencoba untuk menghubungi Alex yang masih satu kawasan apartemen dengan istrinya untuk melihat keberadaan mami dan anaknya.
Alex yang sudah sejak awal di hubungi oleh Mia untuk memberi pelajaran kepada Alfredo akhirnya mulai memainkan peran yang diberikan kepadanya.
Alfredo yang mendengar semua penjelasan Alex terlihat sangat panik.
Segera dia keluar mengendarai mobilnya menuju rumah Ajeng, karena hanya itu satu - satunya petunjuk semua orang yang disayanginya berada.
Saat tiba di rumah Ajeng, orang tuanya mengatakan bahwa putrinya tersebut pamit untuk pergi keluar kota selama beberapa hari bersama Felicia untuk mengurus rencana pembukaan cabang café Felicia yang baru.
" Kalau mengenai kota mana yang dituju ibu tidak tahu nak, soalnya tadi juga Ajeng perginya terburu - buru ", ucap Bunda Ajeng menjelaskan.
Melihat kejujuran diwajah wanita paruh baya itu Alfredo segera pamit undur diri.
__ADS_1
Dirinya sama sekali tidak menyangka kalau akibat kebodohannya semua orang yang sangat disayanginya pergi meninggalkannya.