Lika - Liku Cinta Alfredo

Lika - Liku Cinta Alfredo
KANGEN....


__ADS_3

Seperti biasa pagi ini Ajeng melakukan rutinitas hariannya, bangun tidur setelah sholat subuh dia langsung pergi ke dapur memasak bersama Bundanya, kemudian sarapan bersama keluarga kecilnya.


Jam setengah delapan, kekasihnya akan menjemputnya untuk pergi kecafe sekalian berangkat ke kantor.


Meski tidak ada yang special, tapi semua rutinitas yang monoton tersebut cukup membuat Ajeng bahagia.


Semenjak menikah, Felicia yang sudah tidak terlalu intens mengurus cafenya membuat dirinya mulai fokus untuk mengantikan posisi sahabatnya tersebut jika sedang tidak berada di tempat.


Apalagi sejak hamil, melahirkan hingga sekarang sahabatnya tersebut sama sekali belum menguinjakkan kakinya di café yang sudah dirintisnya mulai dari nol itu.


Meski capek karena banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikannya, namun semua tersebut dilaluinya dengan gembira karena ada Aldo disampingnya.


" Capek yang...", ucap Aldo sambil menyeka keringat kekeasihnya dengan saputangan yang dibawanya.


" Sebentar lagi selesai....tanggung tinggal sedikit lagi yang...", ucap Ajeng tersenyum.


Kemudia diapun segera fokus kembali pada tumpukan berkas yang ada didepannya.


Setelah menunggu selama sepuluh menit, akhirnya pekerjaan Ajeng selesai.


Diapun segera beranjak duduk di sofa dan menemani kekasihnya itu makan siang.


Sebenarnya Ajeng sudah sering memperingatkan Aldo untuk tidak datang ke cafe hanya sekedar makan siang bersamanya.


Selain jarak kantor Aldo yang cukup jauh dengan café, setiap siang Ajeng selalu disibukkan oleh berkas - berkas yang berdatangan dan harus segera diselesaikan.


" Kan sudah kubilang, mending makan siang di café dekat kantor aja...", ucap Ajeng lembut,


sambil mengusap bekas makanan yang belepotan dibibir kekasihnya dengan tisu.


" Tadi kebetulan habis meeting dengan klien dekat sini, jadi sekalian mampir aja ", ucap Aldo beralasan.


Selalu ada sejuta alasan bagi Aldo untuk datang disiang hari ke café meski dilarang.


Alasan yang bagi Ajeng terlihat dibuat - buat itu tak bisa menyembunyikan kebahagiaan yang ada didalam hatinya.


Perhatian kecil dari Aldo yang tidak seberapa itu bagi Ajeng cukup berarti.


Meski Aldo hanya datang, makan lalu kembali kekantor, namun sudah membuat dirinya bersemangat untuk melewati hari yang cukup padat itu.


Entah ada angin apa yang membuat Felicia malam ini menginjakkan kakinya di café.


Tentu hal tersebut membuat seluruh pegawainya terkejut sekaligus senang.


" Non Felicia...", ucap mereka serentak bersamaan.


Tak lama kemudian seluruh karyawannya menghambur kedalam pelukan Felicia.


Bahkan karyawannya yang terlihat sedang merapikan meja dan mengantarkan makanan kepada pengunjung, cepat - cepat menyelesaikan pekerjaannya dan menghambur kedalam pelukannya.


" Sudah....sudah...ayo kita masuk...", ucap Felicia ramah.


Diapun mulai mengajak karyawannya masuk kedalam ruangan karena tidak ingin menganggu kenyamanan pengunjung yang dari tadi menatap mereka dengan pandangan beraneka ragam.


Ada yang terlihat tersenyum namun ada pula yang terlihat mengerutu akibat kehebohan yang tercipta beberapa saat tersebut.


Bukan hanya karyawannya yang ikut masuk, suami, mertua, anak dan bik Ina juga ikut masuk kedalam.


Ya....Felicia terpaksa harus ikut memboyong seluruh anggota keluarganya termasuk bik Ina agar bisa datang meninjau café yang sudah lama tidak dia datangi, meski harus dengan perjuangan.


FLAS BACK ON


" Mas....", ucap Felicia manja.

__ADS_1


" Hmmm...", hanya itu yang keluar dari mulut Alfredo tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel yang ada ditangannya.


"Besok...boleh tidak aku pergi ke café " , ucap Felicia hati - hati.


"Untuk apa...", ucap Alfredo datar setelah terdiam beberapa saat.


" Kan sudah lama aku tidak kesana...pengen tahu saja kondisi disana bagaimana ", ucapnya sedikit takut sambil memainkan tangannya di dada suaminya.


" Bukannya tiap hari Ajeng mengirim laporan kepadamu....", ucapnya masih dengan nada datar.


" Tapi kan tidak sama kalau kita melihat langsung suasana disana ", ucap Felicia merajuk.


" Gampang...tinggal suruh Ajeng kirim foto dan video café saat pagi, siang dan malam hari...beres...", ucapnya lagi masih dengan nada datar dan pandangan tetap kearah ponselnya.


"Tapi itu tidak sama...", ucapnya sambil mencebikkan mulutnya karena kesal.


Alfredo yang melihat istrinya merajuk seperti itu ingin tertawa tapi ditahannya.


Dia tidak mau terlihat mudah dirayu didepan istrinya.


Ditampilkannya muka datar dihadapan Felicia, Alfredo ingin tahu sejauh mana perjuangan istrinya untuk membujuknya agar diperbolehkan pergi ke cafenya.


" Aku janji tidak akan lama disana...", ucap Felicia sambil mengangkat dua jarinya.


Melihat suaminya tidak merespon Feliciapun mulai mengeluarkan jurus andalannya.


Dengan perlahan dia mulai naik dan duduk dipangkuan suaminya, mengalungkan kedua tangannya dileher sang suami.


Melihat hal itu Alfredo hanya menaikkan sebelah alisnya tanpa merubat raut wajah tanpa ekspresi yang sedari tadi ditunjukkannya.


" Boleh ya...", cup....Felicia mengecup bibir Alfredo.


" Aku janji tidak akan lama...", cup...ucapnya sambil kembaki mengecup bibir suaminya.


Tapi kecupannya yang terakhir tidak dibiarkan oelh Alfredo berlalu begitu saja.


Dia segera m*****t bibir merah didepannya itu dengan rakusnya.


C****n yang awalnya lembut akhirnya menjadi semakin panas saat keduanya mulai saling serang.


Dan kegiatan malam yang cukup panjang dan melelahkanpun tak terelakkan.


Felicia menikmati semua hal yang telah dimulainya, bahkan tanpa segan dia memimpin jalannya kegiatan malam kali ini.


Gerakannya yang cukup agresif dan sedikit liar membuat Alfredo tersenyum bahagia.


Dia akhirnya bisa kembali melihat sisi lain dari sang istri yang cukup lama tidak nampak.


" Rupanya dia berjuang cukup keras agar aku mengijinkannya " , batin Alfredo sambil membelai lembut kepala istrinya yang sudah tertidur akibat kelelahan setelah melakukan permainan panas berkali - kali.


" Karena kamu sudah sangat memuaskanmu malam ini, maka permintaanmu aku kabulkan ", ucapnya pelan sambil mengecup kening istrinya dengan lembut.


Kemudian diapun segera mengikuti jejak sang istri pergi ke alam mimpi dengan senyum di bibirnya.


FLASH BACK OFF


Setelah berbincang cukup lama dengan karyawannya, akhirnya orang yang ditunggu - tunggu pun datang.


" Felicia...", teriak Ajeng dengan mata melotot akibat terkejut.


" Ada angin apa yang membawamu kesini...", ucapnya masih dengan wajah terkejut.


" Aku kangen dengan kalian...", ucap Felicia sambil tersenyum.

__ADS_1


" Lalu mereka....", ucap Ajeng menatap satu persatu anggota keluarga Felicia yang datang bersamanya.


" Mereka juga kangen ingin kesini....kita sepaket ", ucap Felicia tersenyum canggung.


Melihat raut muka aneh yang ditunjukkan oleh sahabatnya, Ajeng yakin ini pasti keingginan suami Felicia yang super possesif itu.


Kemudian datang seorang karyawannya yang langsung membisikkan sesuatu kepada Ajeng yang membuat gadis itu tersenyum.


" Ayo ikut aku, ada Robert di depan " , bisik Ajeng pelan.


" Tante, saya ajak Felicia ke depan dulu ya ", ucap Ajeng pamit kepada Mia.


Melihat gelagat yang cukup mencurigakan dari Ajeng, Alfredo segera menyuruh Sammy untuk menyusul mamanya.


Sammy yang sedang bermain dengan adiknya terlihat enggan untuk beranjak dari tempatnya.


"Jika kamu tidak kesana, jangan salahkan papa kalau mamamu diambil orang ", ucap Alfredo memprovokator anaknya.


" Apa maksud papa..", ucap Sammy binggung.


" Kalau mau tahu, segera susul mamamu...", perintah Alfredo.


Sammy yang sedikit binggung dengan ucapan papanya akhirnya beranjak dari tempat duduknya setelah berpikir sejenak.


" Apa maksud papa...memang mama mau diambil siapa ", batinnya binggug.


Sambil mengaruk - ngaruk kepalanya yang tidak gatal Sammy segera berjalan kedepan mencari mamanya.


Setelah berkeliling, akhirnya Sammy menemukan mamanya sedang dipeluk oleh seorang laki - laki tampan.


" Mama...", panggi Sammy yang langsung berlari menuju tempat Felicia dan Ajeng berdiri.


" Mama...??? ", ucap Robert binggung.


" Iya, aku sudah menikah. Perkenalkan ini anak sulungku Sammy namanya ", ucap Felicia memperkenalkan Sammy kepada Robert sambil tersenyum.


" Tunggu...bercandamu sangat tidak lucu Felicia ", ucap Robert sambil memandang Sammy dan Felicia secara bergantian.


" Anak ini sudah berusia Sembilan tahun...jadi tidak mungkin jika itu anakmu ", ucapnya meragukan Felicia.


" Jika kamu ingin menolakku, katakan saja seperti biasanya. Tapi tidak dengan cara ini...ini sama sekali tidak lucu Felicia ", ucap Robert menekankan kalimatnya.


Robert sadar kalau Felicia sudah berkali - kali menolaknya karena tidak memiliki rasa terhadapnya, namun dia tidak menyangka kalau Felicia akan berbohong seperti ini.


" Aku tidak bercanda Robert...ini memang anakku ", ucap Felicia meyakinkan dan di tambahi anggukan oleh Ajeng untuk menguatkan.


" Lalu dimana suamimu...", ucap Robert dengan nada mengejek.


" Aku suaminya...", ucap Alfredo yang tiba - tiba sudah ada disamping Felicia.


"Sayang....sepertinya Rafael lapar " , ucap Alfredo sambil memberikan baby Rafel kepada istrinya.


" Iya Robert, perkenalkan ini Alfredo suamiku, dan ini baby Rafael anak keduaku " , ucap Felicia sebelum berpamitan untuk memberi asi Rafael.


Setelah Felicia pergi, Ajengpun segera beranjak dari tempatnya untuk membantu rekannya karena café mulai ramai pengunjung.


" Sebaiknya anda menjauhi istri saya jika tidak ingin mendapatkan masalah " , ucap Alfredo berbisik ditelingga Robert sebelum pergi meninggalkan laki - laki tampan berdarah Pakistan itu.


Robert yang mendapat peringatan itu hanya terdiam mematung.


Bukan ucapan Alfredo yang membuatnya syok.


Tapi kenyataan bahwa gadis yang selama ini ditunggunya untuk dijadikan pedamping sudah bersuami dan memiliki anak.

__ADS_1


" Jika tahu begini sejak awal, mungkin saat itu aku seharusnya langsung menikahinya bukan malah mengajaknya berpacaran ", batinnya sedih.


__ADS_2