
Ini sudah hari ketiga Alif menginap di rumah sakit karena banyaknya pasien yang kritis dan memerlukan pemantauan khusus, membuatnya harus bermalam disana.
Dengan langkah gontai dia menuju ruang kerjanya. Saat Alif hendak mengistirahatkan badannya, tiba - tiba ponselnya berbunyi.
" Papa beneran nggak bisa datang ya...", ucap Alika sedih dari balik telepon.
" Maaf ya sayang, papa beneran tidak bisa datang. Disini masih banyak pasien yang butuh pertolongan papa ", ucap Alif lembut dan merasa bersalah karena tidak bisa menepati janjinya.
" Untuk kegiatan hari ini, Alika sama om Aldo dan oma dulu ya " , ucapnya lembut.
" Baiklah pa....papa juga jangan lupa makan dan istirahat, jangan sampai sakit.... ", ucap Alika pelan.
Kemudian telepon terputus dan Alif segera melanjutkan pekerjaannya untuk mengecek kondisi pasien yang baru dioperasinya kemarin.
Jika Alika datang dalam acara pertunjukan bakat kali ini dengan wajah sedih, namun hal tersebut berbeda dengan Sammy yang terlihat sangat gembira.
Ini untuk pertama kalinya dia mengikuti acara yang diadakan disekolahnya bersama mama dan papanya.
Jika dahulu Sammy hanya ditemani oleh nenek dan pengasuhnya, kali ini dia bisa tersenyum bahagia karena keberadaan kedua orang tuanya.
" Sammy...",panggil Alika sambil melambaikan tangan.
Sammy dan kedua orang tuanya segera menghampiri Alika yang ditemani oleh Oma dan om nya.
" Ma...kenalkan ini om Aldo dan oma ", ucap Alika sambil mengandeng tangan Felicia dengan manja.
Alfredo tidak terlalu terkejut dengan panggilan Alika terhadap Felicia karena istrinya tersebut sudah menceritakan semuanya pada hari dimana Alika bermain di rumah.
Jika Alfredo bersikap biasa bahkan terlihat bahagia saat melihat istrinya tersebut mengandeng Sammy dengan tangan kanannya dan Alika dengan tangan kirinya, seakan mereka berdua adalah anak kandungnya.
Tapi hal tersebut tidak untuk Aldo dan Dinda yang masih terlihat sangat terkejut dengan sikap Alika.
Selama ini Alika adalah gadis cerewet dan pemilih. Dia termasuk anak yang tidak mudah dekat dengan seseorang yang baru dikenalnya.
Tapi dengan Felicia hal tersebut tidak berlaku, melihat betapa lengket dan manjanya Alika kepada gadis cantik itu.
" Maaf jika cucu saya sering merepotkan anda ", ucap Dinda merasa tidak enak karena dari tadi Alika nempel terus ke Felicia.
" Tidak apa - apa bu, saya cukup senang bisa bermain dengan Alika " , ucapnya sambil tersenyum.
" Alika gadis yang sangat cerdas dan memiliki keingintahuan yang cukup tinggi. Hal tersebut cukup bagus untuk anak seusianya" , ucapnya lagi sambil terus menatap kedua anak kecil yang sedang asyik ngobrol disamping panggung dengan konstumnya sambil menunggu giliran mereka untuk tampil.
" Sekarang kita saksikan pertunjukan dari kelas 3A yang akan menampilkan cerita rakyat yang berjudul malin kundang" , ucap MC yang langsung disambut tepuk tangan dari seluruh penonton.
Alfredo dan Felicia menatap dengan rasa bangga anak lelakinya yang sedang berdiri diatas panggung.
Selama acara berlangsung, Alfredo sama sekali tidak melepaskan tangan sang istri dan hal tersebut tentu membuat banyak pasang mata merasa kagum sekaligus iri akan kemesraan mereka.
" Itu mamanya Sammy yang baru ya....cantik dan masih muda kelihatannya " , ucap salah satu wanita yang ada dibelakang Dinda.
" Dengar - dengar usinya masih sembilan belas tahun lho Jeng...", ucap teman wanita itu pelan.
Semua wanita yang ada disitu sangat terkejut mendengar betapa mudanya mamanya Sammy.
" Pantes saja pak Alfredo sama sekali tidak melepaskan genggamannya " , ucap yang lainnya dengan sirik.
" Dunia memang tidak adil. Dia masih muda, cantik, pintar, kaya dan punya suami yang sayang lagi padanya " , ucap yang lain dengan nada sedih.
Dinda yang tidak sengaja mendengarkan obrolan wanita yang ada dibelakangnya jadi berpikir bahwa pantas saja kalau cucunya bisa selengket itu dengan gadis cantik yang baru saja dikenalnya itu.
" Sayang dia sudah bersuami, jika belum...aku pasti dengan senang hati menjadikannya menantu " , batin Dinda sedih.
Felicia yang dari tadi tersenyum tiba - tiba terlihat sangat panik dan berlari dengan kencang saat melihat tiang yang menyangga backgroud pertunjukan mau jatuh.
Dengan sigap dia segera melindungi Sammy dan Alika yang berada didekat tiang itu dengan memeluknya.
Tiangpun jatuh diatas tubuhnya, ujungnya yang runcing menancap ke punggung Felicia.
__ADS_1
Semua orang berteriak histeris melihat kejadian itu, begitu juga dengan Alfredo yang baru saja kembali dari kamar kecil langsung berlari kearah istri dan anaknya berada.
" Kalian tidak apa - apa kan ", ucap Felicia tersenyum.
"Jangan takut ya, mama ada disini melindungi kalian " , ucap Felicia lembut sambil mengusap air mata yang menetes dipipi Sammy dan Alika.
Tak berapa lama, Feliciapun jatuh pingsan karena banyaknya darah yang mengucur dari punggung dan kepalanya.
"Mama...." ,teriak histeris Sammy dan Alika berbarengan sambil menangisi tubuh mamanya yang bersimbah darah.
Dengan rasa panik Alfredo segera membawa istrinya ke rumah sakit, sedangkan Sammy dan Alika dibawa oleh Dinda dan Aldo dengan mobilnya.
Didalam mobil Dinda sedikit kualahan menghadapi tangisan Alika dan Sammy yang tidak kunjung berhenti.
Sesampainya di rumah sakit, Alfredo segera memanggil petugas jaga yang langsung dengan sigap membawa Felicia dengan posisi dimiringkan karena ada besi kecil yang menempel dipunggungnya yang harus dilepaskan melalui operasi agar tidak terjadi pendarahan hebat.
Alif yang sangat lelah terlihat panik saat melihat kedatangan putrinya yang sedang menagis kencang dalam pelukan oma nya.
Setelah mendengar cerita dari sang bunda, Alif segera berlari kearah ruang gawat darurat untuk melihat keadaan Felicia.
Disebuah ranjang terlihat seorang gadis cantik dengan mata terpejam dengan besi yang menancap di punggung kanannya, dengan darah yang terus mengalir dari lukanya.
" Ruang operasinya sudah siap dok...", ucap salah satu perawat.
Allifpun segera berlari untuk berganti pakaian dan menuju ruang operasi.
Alfredo yang berada di luar ruang operasi hanya bisa terduduk lemas.
Dirinya sama sekali tidak menyangka jika harus berada disini kembali.
Rasanya seperti de ja vu, pengulangan yang sangat menyakitkan baginya.
Alfredo terus berdoa agar istrinya tidak dalam kondisi kritis seperti waktu itu.
"Pa...mama tidak akan tidur lama lagi kan...", ucap Sammy sambil bercucuran air mata.
" Doain mama ya sayang, agar mama bisa melewati semuanya ini ", bisik Alfredo sedih.
Dia sangat tahu, bukan hanya dirinya yang trauma dengan kondisi ini. Anak semata wayangnya tersebut juga merasakan hal yang sama.
Bahkan Alfredo yang melihat anaknya tidak berhenti menangis akhirnya mencoba menghubungi psikiater yang dulu sempat merawat anaknya.
Alfredo takut kalau mental Sammy kembali terguncang melihat mamanya terluka untuk menyelamatkannya.
Suasana tegang dan penuh haru menyelimuti ruang tunggu yang berada didepan kamar operasi.
Semua pikiran dan perasaan semua orang yang berada disana bercampur aduk.
Mia dan Ajeng yang kebetulan sedang bersama terlihat memasuki rumah sakit dengan sedikit berlari.
Mereka sangat terkejut saat mendengar kabar bahwa Felicia mengalami kecelakaan dan saat ini sedang menjalani operasi di rumah sakit.
Alika dan Sammy terlihat tertidur dipangkuan Dinda karena lelah menangis.
Kedua anak kecil itu sama sekali tidak berhenti menangis saat melihat Felicia pingsan di sekolahan.
Setelah lima jam operasi berlangsung, tiba - tiba pintu ruang operasi terbuka.
Terlihat Felicia didorong oleh dua orang suster untuk dipindahkan keruang rawat.
"Gimana kondisi istri saya dok...?", tanya Alfredo cemas.
"Alhamdulillah.... kondisinya sudah stabil, sekarang pasien masih dalam pengaruh obat bius. Kita tunggu perkembangannya setelah pasien sadar " , ucap Alif menjelaskan.
Alfredo dan semua orang yang berada disana terlihat sangat lega saat mendengar kabar tersebut.
Terutama Alif yang tadi sempat panik saat melihat kondisi Felicia yang kehabisan banyak darah dan sempat kritis saat operasi sedang berlangsung.
__ADS_1
Tapi untungnya dengan keahlian dirinya dan tim, operasi tersebut bisa berjalan dengan lancar dan kondisi Felicia kembali stabil.
Disamping ranjang, Alfredo terus mengenggam tangan sang istri dengan lembut.
Berharap gadis cantik didepannya tersebut segera membuka mata.
Alif yang melihat kemesraan itu hatinya terasa perih dan sangat sakit, tapi tidak berdarah.
Dengan langkah lunglai diapun berjalan menuju ruang kerjanya.
Dinda yang sempat melihat tatapan sedih dari putranya segera menyusulnya.
Ternyata bukan hanya Dinda yang mengamati hal tersebut, Aldo dan Ajeng yang berada disana juga melihat pandangan sedih Alif saat Alfredo memegang mesra tangan sang istri.
Aldo segera meninggalkan ruang rawat Felicia setelah hampir lima belas menit menunggu tapi bundanya tidak juga nampak.
Langkahnya berhenti saat melihat ruang kerja kakaknya sedikit terbuka.
Diurungkan niatnya untuk masuk saat mendengar percakapan bundanya dengan Alif.
" Kamu menyukai gadis itu...", tanya Dinda hati - hati.
"Kelihatan banget ya nda...", ucapnya sambil berusaha untuk tersenyum.
" Sejak kapan...? ", tanya Dinda penasaran.
" Waktu menjemput Alika di rumah Sammy " , ucapnya sambil mengingat kembali pertemuan itu.
" Tapi aku juga masih belum terlalu yakin nda, apa yang aku rasakan sekarang ", ucapnya lemas.
" Ditambah lagi...dia itu sudah punya suami " , ucapnya sedih.
Dari balik pintu, Aldo yang mendengar percakapan antara kakak dan bundanya merasa sangat sedih.
Bagaimana tidak, nasib percintaan kakaknya itu boleh dibilang tidak sangat tragis.
Saat baru saja mengenal cinta, dia sudah dikhianati oleh kekasih sekaligus cinta pertamanya.
Dan saat dia berusaha untuk membuka diri terhadap perempuan yang dijodohkan kepadanya, wanita itupun juga pergi meninggalkannya untuk selama - lamanya waktu melahirkan Alika.
Dan sekarang saat dia baru saja kembali merasakan cinta, kakaknya itu harus menghadapi kenyataan pahit bahwa wanita yang dicintainya sudah memiliki suami.
" Sungguh sangat tragis nasibmu bang ", batin Aldo sedih.
Ajeng yang baru saja kembali dari kantin melihat Aldo menangis di depan ruangan dokter segera menghampirinya.
"Kamu kenapa ? bukannya kamu om nya Alika kan ? ", tanya Ajeng penasaran.
" Oh...aku tidak apa - apa ", ucapnya sambil mengusap air mata yang jatuh dipipinya.
" Apa Alika sudah bangun ? ", tanya Aldo berusaha untuk menganti topik.
" Sudah... Alika dan Sammy baru saja bangun, makanya aku segera kekantin untuk membelikan mereka makanan " , ucap Ajeng tersenyum sambil menunjukkan tas kresek yang ada ditangannya.
Kemudia mereka berdua segera berjalan menuju ruang rawat dimana Felicia berada.
Sesampainya disana, Alika dan Sammy terlihat sedang duduk di sofa dengan raut muka sedih.
" Ini, kakak baru saja membeli susu sama kue, kalian mau yang mana...", ucap Ajeng lembut sambil mengeluarkan semua makanan dan minuman yang dibelinya.
" Aku nggak mau makan sebelum mama bangun ", ucap Sammy sedih sambil menatap kearah mamanya yang masih belum sadar.
" Aku juga...", ucap Alika sedih.
Mendengar jawaban Sammy dan Alika semua orang yang berada disana menatap kedua bocah itu dengan sedih.
Semua orang mulai membujuk kedua anak kecil itu agar mau makan, tapi tidak ada yang berhasil, mereka berdua tetap teguh pada pendiriannya.
__ADS_1
Sekarang yang bisa mereka lakukan hanya berdoa semoga Felicia bisa segera sadar dan membuat semua kekhawatiran ini menghilang.