
Alfredo dan Alif masih setia menunggu di depan ruang rawat Felicia dengan perasaan tak menentu.
Setiap ada suster yang keluar dari ruangan tersebut, mereka langsung berdiri untuk menanyakan perkembangan yang ada.
Gelengan kepala dari suster setiap kali ditanya mengenai kondisi Felicia membuat badan keduanya terasa sangat lemas.
Untuk menghilangkan kesedihan yang ada, Alfredo segera berjalan ke arah ruangan bayi dimana putra kedua berada.
Bayi munggil yang tampan terlihat mengeliat dengan mata terpejam.
Tak terasa air mata Alfredo menetes dipipi saat dia melihat anaknya yang tertidur pulas di kamar bayi.
" Doakan mama cepat sadar ya boy...", batin Alfredo sedih.
Sementara itu diapartemen Felicia, Mia yang sedang menemani cucu pertamanya tidur masih belum bisa memejamkan mata.
Pikirannya masih tertuju pada kondisi menantunya yang sampai saat ini masih belum sadarkan diri.
Mia khawatir jika Felicia akan mengalami nasib yang sama dengan Irene, menantunya yang pertama.
" Apakah cucuku akan kembali kehilangan mamanya...", batin Mia sedih.
Saat semua orang sedang kalut dengan pikirannya masing - masing.
Felicia yang terbaring tak sadarkan diri di ruang rawatnya pelan - pelan membuka matanya, dilihatnya hamparan rumput hijau yang sangat luas didepannya.
Sedangkan disamping kanannya terlihat jalan setapak dengan hamparan bunga beraneka macam dan warna di sebelah kanan dan kirinya.
" Dimana aku...", guman Felicia binggung.
Karena hal terakhir yang diingatnya adalah dirinya berada di dalam kamar mengerang kesakitan karena perutnya tiba - tiba terasa sakit sekali.
Tiba - tiba dari kedua kakinya mengucur darah segar membuatnya semakin panik sehingga berteriak memanggil mami mertuanya, dan selanjutnya dia tidak ingat lagi apa yang terjadi.
Namun sekarang dia berada di tempat yang terlihat sangat asing baginya dan sendirian tanpa ada siapapun.
Dalam keadaan binggung, Felicia mulai berdiri dan berjalan menyusuri jalan setapak yang ada disebelah kanannya, sambil menikmati kicau burung yang bertengger di atas pohon.
Rambut coklat Felicia yang mulai memanjang terlihat sedikit berantakan karena tertiup angin, tapi hal tersebut sama sekali tidak mengurangi kadar kecantikan gadis yang mengenakan gaun putih tanpa lengan itu.
Sudah cukup lama Felicia berjalan tapi dia sama sekali belum menemukan seseorang yang bisa untuk ditanyai.
Samar - samar terdengar suara gemericik air tidak jauh dari tempatnya berdiri membuat gadis itu mulai menajamkan pendengarannya dan berjalan menuju sumber suara.
" Masyaallah....indahnya " , guman Felicia kagum melihat keindahan yang ada didepannya.
Sebuah sungai yang cukup besar dan jernih airnya sehingga ikan yang berada didalam sungai tersebut terlihat dengan jelas.
Dengan perlahan Felicia mulai berjalan mendekat dan duduk ditepi sungai .
Dimasukkannya kedua kakinya ke dalam air, ikan - ikan kecil yang berada disana mulai mengerubuti kakinya hingga Felicia merasa geli.
" Ini seperti terapi kaki...", batinnya tersenyum.
Cukup lama Felicia duduk sambil memandang ikan - ikan beraneka ragam disana.
Dia mulai mengamati pemandangan disekitar sungai yang terlihat begitu indah.
Berbagai bunga beraneka warna tumbuh disana.
Pohon - pohon besar yang tumbuh di sepanjang aliran sungai membuat tempat itu sejuk karena tidak terkena sinar matahari secara langsung.
Dihirupnya udara sejuk yang selama ini sulit didapatkannya selama tinggal diperkotaan.
__ADS_1
" Segernya....", ucap Felicia sambil memejamkan mata menikmati setiap udara segar yang masuk ke dalam paru - parunya.
Dinikmatinya pemandangan yang menyegarkan mata itu sambil menikmati angin yang sepoi - sepoi yang menerpa kulitnya.
Setelah dirasa cukup, Feliciapun mulai berdiri hendak meninggalkan tempat itu.
Karena kurang hati - hati, saat hendak bangun dia terpeleset dan jatuh kedalam sungai.
Byuuurrr.....
Hup...hup....hup.....
" Eh....ternyata hanya segini saja, kupikir tadi dalam " , ucap Felicia menertawakan kebodohannya yang mengira dirinya sempat tenggelam tadi.
" Airnya ternyata seger juga ya..." , ucapnya gembira.
Diapun mulai bermain air di sungai yang sangat jernih itu.
Ikan - ikan yang berada di dalam sungai berenang dengan bebas tidak terpengaruh dengan kehadiran Felicia disana.
Felicia cukup menikmati berada didalam sungai yang tidak terlalu dalam tersebut.
Tiba - tiba dari balik air terjun yang berada didepannya terlihat setitik cahaya yang cukup menyilaukan mata.
" Cahaya apa itu, padahal disamping kanan dan kirinya terlihat beberapa pohon besar yang menghalangi sinar matahari langsung menerpa air terjun ", batin Felicia penasaran.
Untuk menuntaskan rasa penasaran yang ada, Felicia mulai berenang mendekat kearah air terjun.
Karena kedalaman air disana tidak sama dengan tempat saat dia terjatuh yang hanya sebatas pinggang, maka Felicia mulai berenang hingga masuk kedalam air terjun.
Ternyata ada gua yang cukup besar berada dibalik air terjun yang tidak terlalu tinggi itu.
Feliciapun segera berjalan masuk kedalam gua yang tidak terlalu gelap itu.
Ternyata cahaya menyilaukan itu berasal dari peti yang berada diujung gua.
Setelah dirasa semua aman, dia mulai berusaha membuka peti yang ternyata tidak dikunci tersebut.
Saat dibuka, keluar beberapa gelembung udara. Dari semua gelembung udara yang keluar terdapat satu gelembung udara yang cukup besar.
Karena cukup penasaran, Felicia mengamati dengan seksama gelembung yang cukup besar itu.
Disana dia melihat seorang bayi munggil yang cantik baru saja lahir, disampingnya terlihat seorang anak kecil laki - laki dan pasangan suami istri yang diyakini sebagai orang tua bayi itu.
" Kakak...mami...papi....", ucap Felicia sambil menangis.
Gelembung tersebut ternyata menampilkan moment dimana dirinya pertama kali lahir kedunia.
Selanjutnya mulai muncul gelembung - gelembung besar lainnya yang menampilkan semua perjalananan hidupnya mulai bayi hingga dewasa.
Tak terasa air mata Felicia mengucur dengan derasnya melihat semua kenangan yang ada, terutama kenangan dengan kedua orang tuanya.
Tangisnya semakin pecah saat dia melihat seorang bayi laki - laki yang sangat tampan baru lahir dari rahimnya.
"Apakah ini anak ku...", ucap Felicia sambil berusaha mengapai gelembung yang ada di depannya.
Blupp.....blup.....blup.....
Tiba - tiba semua gelembung yang berada disana hilang perlahan dan terlihat seberkas cahaya yang cukup menyilaukan mata tepat berada didepannya.
Sambil memincingkan mata, Felicia berusaha untuk melihat apa yang ada didepannya tersebut.
" Kamu belum waktunya ada disini....kembalilah ..." , ucap suara yang berasal dari cahaya tersebut.
__ADS_1
" Bagaimana caranya aku bisa kembali ?" , tanya Felicia binggung.
" Ikuti kata hatimu...kamu akan menemukan jalannya disana ", ucap suara cahaya tersebut.
Setelah mengucapkan kata itu, cahaya beserta peti yang ada didepannya hilang seketika.
Begitu juga dengan tubuhnya yang tiba - tiba sudah berada ditengah - tengah hutan pinus.
Samar - samar dia mendengar suara seseorang memanggil namanya sambil menangis.
Semakin lama suara tersebut semakin jelas terdengar.
"Sayang....cepatlah kembali....baby boy membutuhkanmu ", ucap Alfredo sesenggukan.
" Mas... tolong aku ", teriak Felicia keras.
Berulangkali dia memangil nama suaminya tersebut dengan keras.
Alfredo yang sedang menangis disamping ranjang istrinya segera mengangkat wajahnya melihat istrinya yang masih terbaring diam.
"Apa aku sedang bermimpi...aku seperti mendengar suara Felicia memanggil namaku ", batin Alfredo binggung.
Ditajamkannya pendengarannya saat sayup- sayup terdegar suara Felicia memanggilanya.
" Sayang....kamu ada dimana sayang...", ucap Alfredo sambil terus memandang wajah istrinya yang sama sekali tidak bereaksi tersebut.
" Apa kamu mendengarku....tolong aku mas...bawa aku kembali...", ucap Felicia sambil menangis sesengukan.
" Aku akan selalu ada disampingmu sayang....jangan takut ya...", ucap Alfredo lembut.
" Tolong aku...aku ingin pulang...", ucap Felicia yang langsung terduduk lemas.
" Aku ingin pulang mas....tolong aku....", ucap Felicia lemah.
Alfredo yang mendengar suara tangis Felicia yang menyayat hati hanya bisa mengenggam tangannya dengan erat sambil berurai air mata.
" Apakah benar yang aku dengar adalah suara istriku...tapi kenapa mulutnya tidak bergerak sama sekali ", batin Alfredo sedih.
Meski hal tersebut terlihat mustahil, tapi keyakinannya sangat kuat setelah melihat airmata yang menetes dari ujung mata sang istri.
" Dimanapun kamu berada, selalu ingat orang - orang yang menyayangimu selama ini. Merekalah yang nantinya akan menuntunmu pulang ", bisik Alfredo ditelinga Felicia.
" I LOVE U Sayang....", bisiknya lagi dengan suara bergetar menahan semua kesedihan yang ada.
Tiba - tiba Felicia yang berada dialam bawah sadar melihat seberkas cahaya yang sangat terang dan cantik.
Disana dia melihat semua orang yang dia sayangi sedang menunggunya sambil tersenyum bahagia.
Dengan sedikit berlari, Felicia mulai mendekati orang - orang yang sangat disayanginya itu.
Blesss......
Cahaya putih itu menyedot tubuhnya dan membawanya kedalam pusaran yang tak berujung.
Cukup lama Felicia berputar didalamnya hingga dia merasa tubuhnya sangat kaku.
Dengan perlahan dia mulai mengerakkan jari - jari tangannya yang berada didalam genggaman suaminya.
Alfredo yang merasakan pergerakan jari istrinya segera memanggil dokter dan perawat yang bertugas untuk mengecek kondisi istrinya.
Perawat yang mendengar panggilan dari ruangan Felicia segera datang untuk melihat kondisi pasien yang sudah mulai bergerak dan segera menghubungi dokter yang bertugas.
Alif yang masih berada diluar ruangan ikut masuk kedalam bersama dokter yang akan memeriksa keadaan Felicia didalam.
__ADS_1
Meski masih lemas, Felicia beruasaha untuk tersenyum saat melihat Alif dan suaminya berada disana.
Kemudian dokter dan perawat segera memindahkan Felicia ke ruang rawat biasa karena kondisinya sudah stabil.