
Berbekal sebuah kartu nama yang masih disimpannya hingga sekarang, Felicia bersama profesor Willy segera menuju X city tempat kakaknya tinggal.
" Semoga alamatnya belum berubah " , batin Felicia cemas.
Profesor Willy yang melihat kegugupan diwajah Felicia segera mengenggam erat tangan gadis itu.
Felicia yang cukup terkejut dengan tindakan dosen tampannya itu spontan melepaskan genggaman tangan profesor Willy.
" Maaf, jika itu membuatmu tidak nyaman. Aku hanya ingin menenangkanmu ", ucap profesor Willy merasa bersalah.
" Saya tidaka apa - apa prof....han...hanya sedikit gugup saja ", ucap Felicia terbata - bata.
Kemudian kondisi didalam mobil menjadi sunyi karena kejadian barusan. Untuk memecah kecanggungan yang ada, Felicia mulai menyalakan musik.
Suara alunan musik yang ceria berhasil mencairkan suasana yang ada.
Setelah berjalan hampir satu jam dengan mengandalkan googlemap, akhirnya mereka tiba di X city.
Setelah melapor ke pos satpam yang berada didepan, dan meninggalkan kartu identitas, mereka dikawal satu orang security menuju rumah Leon.
Rumah mewah dua lantai bergaya minimalis tersebut terlihat begitu asri dengan berbagai macam bunga dan tanaman hijau yang tumbuh subur didepannya.
Setelah menghela nafas panjang beberapa kali, akhirnya Felicia memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah.
Tok...tok....tok....
Terlihat seorang anak perempuan cantik dengan rambut panjang dikepang dua, berusia tujuh tahun membukakan pintu.
"Siapa nak...", tanya sang bunda sambil berjalan kedepan.
Sesampainya di depan pintu, Ira cukup terkejut hingga diam terpaku dengan kedatangan Felicia yang cukup mendadak.
Tidak terasa air matanya mulai menetes karena bahagia.
" Bunda kenapa menangis ?" , tanya Vita yang langsung menghampiri Ira dengan tatapan cemas.
" Bunda tidak apa - apa sayang" , ucap Ira sambil mengusap air matanya yang seakan tidak berhenti mengalir.
" Mari masuk...", ucapnya mempersilahkan setelah sempat terdiam beberapa saat.
Felicia dan Willy segera duduk di sofa ruang tamu yang didominan berwarna biru itu.
" Kakakmu hari ini masuk shift malam dan baru saja berangkat ", ucap Ira sambil membawakan minuman untuk tamunya.
" Iya kak, tidak apa - apa. Aku juga datangnya mendadak tanpa pemberitahuan " , ucap Felicia canggung.
" Perkenalkan, ini dosenku namanya professor Willy " , ucap Felicia memperkenalkan saat melihat tatapan curiga dari kakak iparnya.
"Ohhh....aku kira calon suamimu " , ucap Ira dengan tatapan mengoda.
" Habis kalian terlihat sangat serasi ", ucap Ira masih dengan senyum mengoda.
Felicia yang digoda oleh kakak iparnya hanya bisa tersenyum canggung.
__ADS_1
Hal itu berbeda dengan Willy yang langsung tersenyum lebar, seakan mendapat lampu hijau dari kakak ipar Felicia.
Keramahan Ira ditambah dengan hangatnya Willy membuat suasana yang awalnya canggung karena ini baru pertama kalinya mereka bertemu menjadi cair.
Semua pikiran negative tentang kakaknya yang selama ini ada, berangsur - angsur mulai menghilang.
" Benar kata professor, jika kita melihat langsung kebenaran yang ada, mungkin tidak seburuk dan semenakutkan seperti apa yang selama ini kita pikirkan" , batin Felicia.
Setelah mengobrol cukup lama dengan kakak iparnya, Felicia jadi mengetahui semua fakta kenapa kakaknya sampai pergi dari rumah dan penyebab kakaknya tidak bisa pulang untuk menghadiri pemakaman orang tuanya.
Felicia merasa sangat lega, bahwa kakaknya tidak seburuk yang dia bayangkan. Selama ini dirinya hanya mengetahui cerita hanya dari kedua orang tua dan kerabat terdekatnya saja, tanpa mengetahui langsung dari mulut sang kakak.
Jika Felicia merasa lega, lain lagi dengan Alfredo. Saat ini hatinya cukup resah dan gelisah mengetahui bahwa sang kekasih tidak berada dipenginapan dan pergi bersama Willy.
Ingin rasanya dia segera menyusul mereka berdua, tapi niat itu dia urungkan karena tidak mau menambah permasalahan yang ada.
Dia akan berusaha untuk mendengar penjelasan dari kekasihnya itu setibanya dia di penginapan.
Anton dan Wisnu yang menemani Alfredo menunggu kedatangan dosen dan teman se timnya harus menelan ludah beberapa kali. Raut muka Alfredo yang cukup menyeramkan membuat kedua teman Felicia tersebut tidak berani untuk mengajaknya bicara.
Bahkan acara komedi yang ada di televisi sudah seperti film horror yang sangat menegangkan dan menakutkan.
Ingin rasanya mereka menghubungi Felicia, tapi Alfredo melarang mereka agar tidak memberitahukan mengenai kedatangannya disini.
Setelah menunggu hampir empat jam, akhirnya orang yang ditunggu datang.
Felicia yang tidak mengetahui kedatangan Alfredo masuk keruang tamu dengan gembira karena beban yang selama ini menganjal hatinya sedikit hilang sambil membawa sebungkus martabak manis ditangannya dan disusul oleh profesor Willy di belakangnya.
Senyuman yang tadi menghias wajah cantiknya mendadak hilang saat dia melihat pria yang duduk di ujung sofa menatapnya dengan tajam.
Melihat tatapan membunuh dari kekasihnya itu, dengan canggung Felicia mulai memperkenalkan rekam se timnya satu persatu. Dan segera membawa kekasihnya tersebut kedalam kamarnya.
Dia tidak ingin kekasihnya tersebut membuat kekacauan disana, melihat raut wajah cemburu yang tercetak jelas di wajahnya saat melihat dirinya masuk bersama professor Willy tadi.
"Jam berapa mas sampai...", tanya Felicia memecah kecangungan yang ada.
" Kok nggak kasih kabar dulu..? ", tanyanya lagi setelah pertanyaan pertamanya tidak mendapatkan respon.
" Bagaimana aku bisa memberi kabar jika pesanku sama sekali tidak kamu baca ", ucap Alfredo sinis.
" Maaf, aku tadi sibuk jadi belum sempat lihat notif yang ada di ponsel ", ucap Felicia membela diri.
Ya....aku tahu kamu sangat sibuk...sibuk jalan - jalan dengan professor tampanmu itu ", ucap Alfredo sinis sambil menekankan setiap kata yang dia ucapkan.
" Aku tidak ada hubungan apa - apa dengan professor Willy ", ucap Felicia menjelaskan
" Tadi itu, aku meminta bantuan untuk mengantar menemui kakak kandungku, demi mendapatkan restu agar kita bisa menikah ", ucapnya lagi.
Alfredo yang mendengar ucapan terakhir kekasihnya sangat terkejut. Karena selama ini yang dia tahu Felicia hidup sebatang kara setelah kedua orang tuanya meninggal.
"Kakak...", tanya Alfredo curiga.
" Iya, aku sebenarnya mempunyai kakak kandung yang sudah terpisah denganku selama sepuluh tahun. Dia adalah wali sahku jika ingin menikah ", ucap Felicia datar.
__ADS_1
" Kenapa kamu tidak mengatakan hal ini dari awal ", ucap Alfredo kecewa.
Pria itu sangat kecewa dengan kekasihnya, karena Felicia lebih percaya dengan dosennya untuk bertemu dengan kakaknya dibandingkan dirinya yang merupakan kekasihnya.
"Saat itu aku berpikiran untuk tidak berurusan lagi dengan kakak ku setelah apa yang dia perbuat kepada mama dan papa. Tapi setelah datang kekota ini, hatiku mulai goyah dan ingin menemuinya " , ucapku mencoba menjelaskan.
" Lagipula aku juga masih ragu, apa aku ingin menikah denganmu apa tidak...", ucap Felicia sambil berjalan membuka jendela menikmati angin malam.
Ditatapnya langit cerah diatas sana yang bertaburan dengan bintang.
Hati Felicia sedikit bimbang saat bayangan wanita cantik yang mencium kekasihnya muncul kembali diingatannya.
" Apa ini karena Willy...", ucap Alfredo dengan tatapan tajam kearahnya.
" Bukan. Ini tidak ada hubungannya dengan professor. Sudah kubilang aku tidak ada hubungan apa - apa dengannya , ucap Felicia sebal.
" Kalau begitu siapa....apa Adrian ?" , tanyanya penih selidik.
" Kenapa mas selalu menuduhku, seakan semua permasalahan ini berasal dariku ", ucap Felicia mulai emosi.
" Lalu bagaimana dengan mas sendiri yang diam - diam berkencan dengan wanita dibelakangkun " , teriaknya penuh emosi.
" Apa kamu bilang. Aku berkencan...kapan...?", ucap Alfredo heran dengan kemarahan kekasihnya tak berdasar menurutnya.
" Lalu ini apa..." , ucap Felicia sambil menunjukkan foto Alfredo sedang dicium oleh seorang wanita cantik.
" Bahkan mas sudah berani terang - terangan dan melakukan hal menjijikan itu di depan umum " , sindir Felicia dengan muka mengejek.
Alfredo hanya terdiam melihat kecemburuan dan kemarahan yang terpancar dari mata sang kekasih.
Saat ini dia berusaha untuk tenang dan mencoba mencerna semua kata yang diucapkan oleh kekasihnya.
" Dia itu Cecilia, teman kuliahku dulu. Suaminya orang luar, jadi ciuman seperti itu sudah biasa baginya. Tidak ada maksud lain, hanya salam perpisahan " , ucapnya menjelaskan.
" Ya....tentu saja bagi orang seperti mas mengumbar kemesraan seperti itu memang sudah biasa" , sindir Felicia sambil memalingkan muka.
" Saat ditelepon bilangnya sibuk, chat juga jarang dibalas. Bahkan saat didatangi kekantor tidak ada katanya ada meeting. Ehhh....ternyata meeting plus - plus " , ucap Felicia sambil tersenyum mengejek.
"Jaga ucapanmu !!! ", bentak Alfredo geram.
Felicia yang dibentak oleh Alfredo untuk kedua kalinya mulai tersulut emosinya.
Kedua tangannya mulai mengepal menahan emosi yang hampir meluap, tapi ditahannya mengingat dia tidak sendiri dipenginapan ini.
"Sudahlah, sebaiknya mas kembali saja " , ucap Felicia sambil membukakan pintu kamar.
" Aku tidak akan kemana - mana sampai kita selesai berbicara " , ucap Alfredo dengan tatapan tajam.
" Baik, jika mas tidak mau pergi, aku yang pergi " , ucap Felicia melangkah meninggalkan kamar.
" Apa saya bisa meminjam kamar prof untuk satu malam ini saja , ucap Felicia saat sudah berada di ruanh tamu.
Alfredo yang berada dikamar sangat terkejut mendengar kata - kata kekasihnya itu.
__ADS_1
Dirinya yang sangat marah dan tidak rela kekasihnya tidur di kamar Willy segera menyeret Felicia untuk masuk kedalam kamar.
" Kamu tidur disini saja, aku yang akan pergi ", ucap Alfredo yang langsung pergi meninggalkan Felicia dan semua orang yang terdiam melihat kepergiannya tanpa mengucapkan sepatah katapun.