
Aldo menepuk pelan pipi sang istri saat mobil sudah berada didepan rumah yang dituju. Namun bukannya bangun Ajeng malah menjadikan telapak tangan suaminya sebagai sandaran.
“ Yang…ayo bangun…sudah sampai ”, ucap Aldo dengan lembut.
“ Bentar lagi yang…masih ngantuk ”,guman Ajeng masih dengan mata tertutup.
“ Nanti didalam boboknya dilanjutin…sekarang turun dulu yuk ”, Aldo dengan sabar berusaha membujuk Ajeng agar mau bangun dan turun dari dalam mobil.
Dengan sedikit kesal karena tidurnya terganggu Ajeng membuka mata dengan malas. Aldo yang mendapatkan pelototan dari sang istri hanya bisa terkekeh.
“ Duh…gemesin banget sih kamu yang kalau lagi gini…nggak ingat ada pak Amir sudah aku habisin kamu
sekarang ”, batin Aldo gemas.
Sementara itu semua orang yang sedang berkumpul didalam ruang keluarga langsung bangkit
dari posisi duduknya masing – masing saat mendengar suara mobil berhenti didepan rumah.
Lampu yang menerangi ruang tamu dan ruang tengah segera dimatikan saat pintu mobil terbuka dan munculah dua sosok yang sudah mereka tunggu – tunggu sejak tadi.
“ Kok lama banget sih nggak turun – turun…”, gerutu Dinda tidak sabaran.
Cukup lama dia mengintip dari balik tirai jendela ruang tamu tapi anak dan menantunya tidak kunjung turun dari dalam mobil yang membawanya dari bandara.
“ Jangan – jangan itu bukan mereka…”, ucap Dinda cemas.
“ Itu mereka tante…ayo sekarang kita berada diposisi masing – masing ”, ajak Felicia lembut .
Dinda segera beranjak dari tempatnya saat sudah melihat anak dan menantunya turun dari dalam mobil. Mereka semua pun segera berada diposisi masing – masing sesuai dengan apa yang telah direncanakan dari awal.
Sambil mengumpulkan seluruh nyawanya akibat terpaksa bangun, Ajeng segera menghentikan langkah kakinya saat melihat bangunan yang berada didepan matanya.
“ Rumah siapa ini yang…kok sepi amat…”, tanya Ajeng sedikit ngeri melihat rumah dengan penerangan
yang sangat minim tersebut.
Aldo yang ditanya bukannya menjawab malah terkekeh sambil mengandeng tangan sang istri agar segera melangkah masuk.
Baru beberapa langkah, kaki Ajeng kembali berhenti. Dengan persaan was – was dia menatap sekeliling rumah yang terlihat sangat sepi, tidak ada tanda – tanda makhluk hidup ada disana.
Diliriknya bangunan yang berada disebelah kanan dan kiri rumah tersebut, tampak jelas bahwa rumah yang berada disebelahnya adalah bangunan kosong yang terlihat masih baru dan belum berpenghuni. Hanya lampu yang ada ditaman saja yang menyala sebagai penerangan jalan.
Perumahan yang nantinya akan menjadi tempat tinggal Ajeng tersebut memang masih terbilang
baru, jadi penghuninya masih belum terlalu banyak.
Apalagi untuk blok yang saat ini rumah Ajeng berdiri hanya dihuni oleh empat orang dari sepuluh rumah yang berjajar rapi.
Dan untuk membuat kejutan berjalan dengan lancar, Felicia sengaja tidak membawa mobil dan menyuruh sopir pribadi suaminya untuk menjemputnya jika acara sudah selesai.
__ADS_1
Begitu juga dengan yang lainnya, dimana mobil yang mereka bawa diparkir agak jauh dari rumah dan tersembunyi, tentunya ada petugas yang menjaga mobil tersebut.
Suasana sepi mencekam dan hembusan angin malam yang cukup dingin membuat bulu kudu Ajeng tiba – tiba berdiri.
Krikk….krikkk….krikkkk….
“ Kok horror gini ya…”, guman Ajeng sambil bergidik ngeri.
“ Yang…kita pulang aja yuk…”, rengek Ajeng dengan wajah penuh harap.
“ Felicia menyuruh kita menunggu disini, jadi ayo kita tunggu didalam saja…”, ucap Aldo datar, berusaha
untuk menahan tawanya melihat wajah sang istri yang ketakutan tapi terlihat sangat mengemaskan baginya.
“ Bilang aja ke Felicia kalau besok kita kesini lagi…siangan gitu…ya…ya….”, ucap Ajeng masih merengek.
“ Tidak bisa yang…aku sudah janji mau kesini malam ini…lagian kuncinya juga sudah di aku ”, ucap Aldo
langsung melangkah maju dan meninggalkan sang istri yang masih membeku di depan pagar.
“ Lho…tunggu aku yang…”, ucap Ajeng sambil buru – buru menyusul sang suami yang sudah berada didepan
pintu rumah.
“ Kok kamu bisa punya kunci rumah ini…”, tanya Ajeng penasaran waktu melihat Aldo mengeluarkan kunci
rumah dari saku celananya.
“ Emang pak Amir kemana…lalu bagaimana kita pulang nanti…”, ucap Ajeng dengan wajah panik saat tidak melihat
supir beserta mobil yang tadi ditumpanginya.
“ Pak Amir ijin mau isi bensin dulu katanya tadi…”, ucap Aldo sambil berusaha untuk membuka pintu rumah.
Mendengar ucapan suaminya, bukannya tenang Ajeng malah terlihat semakin cemas. Bagaimana tidak panik jika dirinya berada di lokasi asing yang sepi, meski bersama suaminya namun Ajeng takut terjadi hal – hal
yang tidak diinginkan.
Meski Yasmin sudah tertangkap, namun dia masih khawatir kalau gadis gila itu masih berulah meski dirinya sudah berada di balik jeruji.
“ Kenapa sih Felicia nyuruh kita ketempat sepi malam – malam gini, apa nggak ada hari lain apa…”, cerocos
Ajeng sebal.
Mendengar istrinya terus mengerutu hanya tersenyum tipis. Begitu juga dengan semua orang yang berada didalam rumah hanya bisa mengeleng – gelengkan kepala waktu mendengar ucapan Ajeng yang cukup keras tersebut.
Aldo sama sekali tidak menyangka jika Ajeng yang dulunya pemberani menjadi penakut seperti ini semenjak beberapa kali nyawanya menjadi incaran Yasmin.
“ Aku tidak menyangka kalau efek dari tindakan yang dilakukan oleh Yasmin mampu membuatnya seperti
__ADS_1
ini ” , batin Aldo sedih saat membayangkan beberapa kali nyawa sang istri hampir saja terengut oleh mantan kekasihnya itu.
Ceklek…..
Ajeng memegang lengan sang suami dengan erat saat masuk ke dalam rumah. Meski Ajeng sudah mau diajak masuk, namun kakinya terasa sangat berat saat dipaksa untuk melangkah.
Suasana gelap gulita tanpa ada satupun penerangan yang hidup membuat bulu kudunya kembali berdiri. Ditambah lagi diluar suasana mendung menyelimuti membuat tidak ada cahaya yang bisa masuk, kecuali lampu taman yang hanya remang - remang.
“ Kita tunggu diluar saja ya…didalam seram yang…”, bisik Ajeng pelan.
“ Diluar dingin yang…bisa sakit nanti kamu kalau kelamaan diluar ”, ucap Aldo penuh perhatian.
“ Tapi disini ser…auchh…”, kalimat Ajeng terputus saat tiba – tiba kakinya terantuk kaki meja.
“ Sakit yang…”, ucap Ajeng sambil kembali berjalan keluar untuk melihat kakinya yang terlihat sedikit merah karena tertatap benda keras.
“ Apa masih sakit…”, ucap Aldo sambil meniup – niup kaki istrinya yang terlihat sedikit merah itu.
Semua orang yang berada didalam rumah hanya diam mematung menyaksikan drama romantis
secara live tersebut.
“ Sampai kapan kita kaya gini…”, bisik Alfredo terlihat jengah sambil memandang adegan romantic didepannya
yang tak kunjung usai.
“ Hust…”, ucap Felicia memperingatkan suaminya yang hendak berulah.
Alfredo yang mendapatkan peringatan tersebut akhirnya terdiam daripada nanti malam tidak mendapatkan jatah. Sedangkan yang lainnya berusaha untuk menahan tawanya.
Setelah Ajeng sudah bisa berdiri, tanpa menunggu lagi mereka langsung menyalakan lampu dan hal tersebut tentu saja membuat Ajeng sangat terkejut.
SURPRISE…..
Teriak semua orang yang berada didalam ruangan serempak. Ajeng yang masih syok karena terkejut dengan apa yang terjadi hanya bisa membulatkan kedua bola matanya dengan mulut terbuka.
Dipandanginya satu persatu orang yang ada dihadapannya dengan ekspresi senang dan terharu. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa semua orang yang sangat disayanginya berada disini menyambutnya.
Ayah dan bunda Ajeng langsung merentangkan kedua buah tangannya untuk memeluk tubuh sang anak. Melihat hal tersebut Ajengpun segera menghambur kedalam pelukan ayah dan bundanya.
Bukan hanya kedua orang tuanya yang dia peluk, dia juga memberi salam dan memeluk hangat ibu mertuanya dan keponakan kecilnya Alika, serta menjabat tangan kakak iparnya yang turut hadir disana.
Tak lupa juga dia menyapa Mia, Alfredo, Felicia dan keduya anaknya Sammy dan Rafael serta bik Ina yang hadir juga disana.
Ajeng saat ini tidak bisa mengatakan apapun. Dia merasa specchless atas kejutan yang diberikan kepadanya.
Apalagi tadi saat Felicia mengatakan bahwa ini adalah rumah yang dihadiahkan untuknya sebagai ucapan selamat menempuh hidup baru bersama Aldo suaminya.
Tidak bisa berkata – kata, Ajeng hanya bisa menangis terharu dengan semua tindakan yang dilakukan oleh semua orang.
__ADS_1
Melihat hal tersebut Felicia segera memeluknya dengan erat dan memberinya segelas air putih agar Ajeng bisa sedikit tenang.
“ Terimakasih untuk semuanya….”, ucap Ajeng dengan mata kembali berkaca – kaca.