
Mentari pagi masuk lewat jendela kamar, sinarnya mampu menghangatkan pagi yang dingin.
Sammy yang masih mengantuk segera menarik selimutnya hingga menutup wajahnya.
" Bangun sayang....sudah siang" , ucap Felicia sambil membuka selimut yang menutupi muka Sammy.
" Sammy masih ngantuk ", gumannya dengan mata masih terpejam.
" Hari ini kakak loh.... yang antar jemput Sammy " , bujuk Felicia.
" Beneran kak...", ucap Sammy kegirangan.
" Iya..., pokoknya seharian ini kakak akan menemani Sammy kemanapun Sammy pergi ", ucapnya sambil tersenyum.
Sammy yang mendengar ucapan Felicia segera berlari ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Sedangkan Felicia mulai menyiapkan seragam sekolah dan perlengkapan yang akan dibawah Sammy ke sekolah dan menaruhnya diatas ranjang.
Setelah semua beres, Felicia segera turun untuk membantu bik Ina dan Mirna menyiapkan sarapan.
" Harumnya....masak apa nich ...?" , ucap Alfredo yang sudah berpakaian rapi di pintu dapur.
Felicia yang masih sebal dengan Alfredo karena mengusirnya tadi malam, hanya mendiamkannya.
Dibawanya nasi goreng yang baru selesai dibuatnya ke meja makan tanpa menghiraukan kehadiran kekasihnya yang berada didepannya.
" Dia masih marah...", batin Alfredo sambil berjalan membuntuti Felicia kearah meja makan.
Bik Ina dan Mirna yang melihat hal itu saling berpandangan heran. Tapi mereka juga tidak mau ikut campur jika tidak ingin kena semprot majikannya.
Di meja makan, Mia dan Sammy yang baru saja duduk segera menyantap nasi goreng yang dibuat Felicia.
" Hmmm.....enak sekali..." , ucap Sammy yang langsung menyantap habis makanan yang ada di depannya.
" Pelan - pelan sayang makannya, nanti kesedak ", ucap Felicia sambil membersihkan nasi goreng yang menempel di pipi Sammy.
" Kakak cantik memang pinter masak " , ucapnya sambil memberikan dua jempol kearahnya.
Semua orang yang melihat tingkah Sammy tersenyum bahagia.
Jika Felicia bisa tertawa lepas dan bercanda ria dengan anaknya, tapi hal tersebut tidak berlaku untuk papanya.
Alfredo yang beberapa kali melontarkan candaan terhadap Felicia hanya ditanggapi "ya" , "tidak " , "hmm...", dengan wajah datar.
__ADS_1
Sikap Felicia yang tidak biasanya itu tentu saja menarik perhatian Mia yang berada didepannya. Tapi dia juga tidak mau terlalu ikut campur dalam masalah asmara anaknya itu.
Anaknya itu sudah dewasa, sudah dua kali menikah, tentunya bisa mengatasi permasalahan yang kecil seperti ini.
Setelah selesai sarapan, Sammy dan Felicia segera berpamitan untuk pergi kesekolah.
Seperti janjinya tadi, hari ini Felicia akan meluangkan waktu buat anak kecil tersebut.
Sesampainya di sekolah, setelah Sammy masuk kedalam kelas Felicia baru beranjak pergi kekampus.
Hari ini dirinya hanya akan mengawasi mahasiswa ujian dan menyiapkan beberapa dokumen yang diperlukan professor Willy dalam mengajar.
Setelah semua pekerjaannya dikampus selesai, Felicia segera meluncur kesekolahan Sammy.
Saat sudah sampai, dilihat gerbang sekolah masih tertutup. Diliriknya jam yang ada ditangannya.
" Masih kurang lima belas menit lagi jam pulang. Kalau aku tinggal ke café dulu pasti nanti terlambat, kalau begitu aku tunggu disini saja " , guman Felicia.
Sambil menunggu, dari dalam mobil dia melihat ada penjual bakso diseberang jalan yang terlihat cukup ramai pembeli.
" Makan bakso pedas siang siang begini pasti enak " , ucapnya sambil mulai menyeberang jalan.
Dipesannya satu mangkok bakso dan es teh manis. Sambil menunggu pesananya siap, Felicia membuka ponselnya. Dia mulai mengecek dan membalas semua pesan yang masuk di ponselnya, kecuali pesan dari kekasih.
" Padahal statusnya on, tapi kenapa pesanku tidak dibalas ", ucap Alfredo geram.
Alfredo terus melihat ponselnya menunggu balasan. Tapi yang ditunggu tidak kunjung ada.
" Maaf pak, apa rapatnya sudah bisa dimulai..? " , tanya Jesica, sekretarisnya.
Melihat semua orang sudah berada di ruang rapat, Alfredo segera memulai pertemuan rutin tiap bulan tersebut.
Suasana rapat yang berjalan selama tiga jam tersebut diwarnai ketegangan. Semua orang berusaha untuk tidak membuat kesalahan sekecil apapun melihat kondisi pimpinan mereka yang sedang dalam suasana hati yang kurang baik.
" Hufft......rapat kali ini pak bos sangat menyeramkan ", ucap manager personalia yang tadi juga terkena imbas kemarahan Alfredo.
" Kamu masih mending, coba lihat aku, dijadikan bulan - bulanan tadi " , ucap manager marketing dengan lemas.
Diantara semua divisi, bagian marketing lah tadi yang banyak disorot. Sudah hampir akhir tahun tapi target mereka masih diangka tujuh puluh lima persen. Angka yang sangat rendah jika dibandingkan dengan tahun tahun sebelumnya.
Kepala Alfredo terasa mau pecah melihat laporan anak buahnya yang sangat jauh dari harapan.
Ditambah lagi kondisi saham yang masih belum stabil akibat pemberitaan tentang kasus dan status Vera sebagai buronan.
__ADS_1
Selama menjadi istrinya, Vera memiliki tiga puluh persen saham diperusahaannya. Selain memiliki saham, Vera juga memiliki orang didalam perusahaan yang mendukungnya, dan hal tersebut tidak diketahui oleh Alfredo.
Orang - orang yang mendukung Vera itulah yang telah memainkan peran hingga saham perusahaan bisa anjlok seperti sekarang.
Sementara itu, Felicia yang sedang menunggu Sammy pulang menyantap bakso yang telah dipesannya dengan lahap.
Tanpa dia ketahui, ada seseorang yang sejak tadi memperhatikannya.
Dia adalah orang suruhan Vera yang diperintahkan untuk mengikuti gerak - gerik Felicia.
Karena bakso yang dimakan terlalu pedas, Felicia memesan lagi segelas es teh ke pelayan.
Roland yang yang bertugas untuk menjaga dan mengawasi gadis itu melihat seseorang yang mencurigakan mendekati pelayan yang akan mengantarkan minuman yang dipesan oleh Felicia.
Saat melihat gerakan yang mencurigakan, Roland berpura - pura menabrak pelayan tersebut hingga minuman yang dibawanya tumpah.
Orang suruhan Vera yang melihat kejadian itu sangat marah karena dia gagal meracuni gadis itu.
Saat mata Roland melihat kearahnya, lelaki tersebut langsung pergi menuju kearah parkiran mobil.
Roland yang melihat orang suruhan Vera tersebut kabur, berusha untuk mengejarnya.
Belum ada seratus meter dia berjalan, Roland segera menghentikan kendaraannya saat melihat dari arah yang berlawanan melaju mobil dengan kecepatan tinggi, sedetik kemudian terdengar teriakan orang orang dari warung bakso yang baru saja dia tinggalkan.
Dengan perasaan cemas, Roland memutar balik kendaraannya kedepan sekolahan Sammy.
Dia sungguh terkejut saat melihat Felicia yang terkapar dijalan bersimbah darah.
Disampingnya terlihat Sammy sedang menangis dengan keras.
Melihat hal itu, Roland segera mengangkat Felicia dan membawa Sammy pergi ke rumah sakit terdekat agar segera mendapatkan pertolongan.
Di sebuah restoran Italia, Alfredo yang baru selesai meeting dengan kliennya terlihat panik sehabis menerima telepon dari Roland.
Dengan kecepatan tinggi dia pacu mobilnya kearah rumah sakit tempat kekasihnya dirawat.
Tubuh Alfredo langsung terasa lemas saat mendengar kondisi Felicia dari Sammy dan Roland.
Dipeluknya putra kesayangannya tersebut dengan erat. Sammy masih terlihat sangat syok dengan kecelakaan yang baru saja dialaminya.
"Jika kakak cantik tidak mendorong Sammy, mungkin kakak cantik tidak sampai berdarah seperti ini " , ucap Sammy sambil sesengukan didalam pelukan papanya.
Alfredo terus memeluk Sammy sambil berusaha menenangkannya.
__ADS_1
Meski hatinya juga sedih, tapi dia harus tetap kuat demi anak dan wanita yang disayanginya.