
Setelah semua kekacauan yang terjadi, akhirnya sekarang Alfredo dan keluarga bisa sedikit bernafas lega dan hidup dengan tenang.
Begitu juga dengan Ajeng dan Aldo, sebagai pasangan pengantin baru mereka sangat lega bahwa sekarang tidak ada lagi yang akan menganggu kebahagian mereka.
Semua orang sudah kembali pada rutinitas semula. Felicia dan Ajeng sibuk dengan cafenya sementara Alfredo sibuk dengan semua pekerjaan sebagai CEO sekaligus dosen.
Mia sudah mulai bisa berjalan dan kesehatanya berangsur - angsur mulai membaik. Semua berkat pengobatan rutin yang dia lakukan serta besarnya dukungan dari keluarga.
Pagi itu, cuaca mendung mulai menghias langit. Hawa dingin yang menyeruak ke permukaan membuat siapa saja enggan untuk meninggalkan peraduannya. Termasuk juga Sammy yang hari ini terlihat sangat sulit untuk dibangunkan.
" Sayang...ayo cepat bangun....nanti terlambat ke sekolah lho...", ucap Felicia sambil mengecup pipi Sammy berulang kali.
" Lima menit lagi ya ma...", ucapnya sambil menggeliat.
" No...no...Sammy, ayo bangun sekarang sayang sebelum papamu yang turun tangan ", ancam Felicia.
Mendengar papamya disebut, Sammypun segera bergegas masuk kedalam kamar mandi. Hal tersebut tentu saja membuat Felicia tersenyum lebar.
" Huuffft...sekarang karang tinggal membangunkan bayi besar ", batin Felicia.
Feliciapun segera bergegas kedalam kamarnya untuk membangunkan suaminya yang masih bergelung dengan selimut tebal.
" Mas...ayo cepat bangun. Katanya ada kelas pagi ini...", ucap Felicia sambil berusaha untuk membuka selimut yang membungkus tubuh suaminya.
" Lima menit lagi sayang...", ucap Alfredo parau.
" Nggak anak, nggak bapak sama saja ", gerutu Felicia sebal.
Tiba - tiba perut Felicia terasa diaduk - aduk, hal tersebut membuatnya segera berlari masuk kedalam kamar mandi.
" Huekkk....huekkk....", Felicia memuntahkan semua isi yang ada dalam perutnya.
Mendengar suara tersebut, Alfredo spontan turun dari tempat tidur sambil berlari. Di depan wastafel, Felicia sudah berdiri lemas dengan muka pucat.
Alfredopun memegangi rambut Felicia dan memijat lembut tekuknya agar istrinya tersebut bisa mengeluarkan semua yang ada dalam perutnya.
Setelah rasa mual itu hilang, Alfredo segera mengendong istrinya dan membaringkannya keatas ranjang sambil menghapus keringat yang ada didahi Felicia.
" Kamu tidak apa - apa sayang...apa perlu ke dokter...", tanya Alfredo cemas.
" Aku tidak apa - apa, hanya masuk angin...", ucap Felicia tersenyum, berusaha untuk menenangkan sang suami.
Alfredopun segera bergegas ke bawah untuk mengambilkan Felicia air hangat agar perutnya enakan. Setelah membuat teh manis hangat, diapun segera bergegas naik.
" Nih diminum biar perutnya hangat...", ucap Alfredo sambil membantu istrinya untuk duduk.
" Terimakasih mas...", ucap Felicia sambil meminum teh hangat buatan suaminya.
Melihat istrinya sudah sedikit membaik, Alfredopun segera bergegas masuk kedalam kamar mandi untuk memberishkan dirinya dan bersiap berangkat kekampus.
__ADS_1
" Beneran nggak perlu kerumah sakit...", tanya Alfredo sambil memasukkan beberapa berkas kedalam tasnya.
" Iya mas...aku sudah baikan, istirahat sebentar juga sudah baikan ", ucap Felicia sambil mulai berbaring agar suaminya tidak cemas.
" Ya sudah...aku berangkat dulu. Kalau ada apa - apa segera hubungi aku ya ", ucap Alfredo lembut.
Setelah mengecup kening istrinya, Alfredo segera turun ke bawah. Di meja makan semua sudah berkumpul, termasuk baby Rafael yang sudah berada diatas kursi bayinya sambil memainkan mainan yang ada didepannya.
" Lho, mama kemana pa...", tanya Sammy penasaran melihat sang papa turun sendiri tanpa sang mama.
" Mama lagi nggak enak badan, jadi istirahat dikamar ", ucap Alfredo sambil mengusap lembut kepala putranya.
" Nggak dibawa ke dokter aja ", tanya Mia cemas dengan kondisi menantunya yang memang beberapa hari ini bergadang karena Rafael agar rewel.
" Sudah aku tawari, tapi nggak mau. Aku minta tolong ya mi, kalau kondisinya semakin buruk, mami cepat kasih kabar ke aku ", ucap Alfredo berpesan.
" Iya, nanti mami kabari kalau ada apa - apa ", ucap Mia berusaha menenangkan anaknya yang terlihat cemas.
Pagi itu Alfredo tidak konsen mengajar. Dia kepikiran kondisi istrinya yang terlihat lemas dan pucat sewaktu ditinggal tadi. Meski Felicia berkata dia baik - baik saja, namun Alfredo tidak percaya begitu saja karena cukup hafal dengan sifat istrinya yang tidak ingin merepotkan orang lain.
Setelah kelas selesai, Alfredopun segera bergegas pulang. Semua janji dengan klien dikantornya hari ini dia batalkan. Untung saja untuk jadwal mengajar, hari ini hanya satu kelas saja.
Sesampainya dirumah, dia langsung berlari menuju kedalam kamar. Diedarkan pandangannya keseluruh area kamar saat tidak mendapati istrinya diatas ranjang.
Semua ruangan telah dia masuki, namun sosok sang istri tidak dia temukan. Dengan panik dia mulai mencari Felicia keseluruh rumah, tapi hasilnya nihil. Tiba - tiba pandangan matanya menangkap sesosok tubuh yang cukup dia kenal tergeletak di teras belakang.
" Sayang...bangun sayang....", ucap ALfredo sambil menepuk pipi Felicia berulang kali.
Karena tidak mendapatkan respon, Alfredopun segera mengangkat tubuh Felicia dan membawanya kedalam mobil.
" Rumah sakit...ya, aku harus segera bergegas kesana ", batin Alfredo cemas.
Alfredo mengendarai mobilnya dengan cepat agar bisa segera sampai di rumah sakit. Sesampainya dirumah sakit, dia segera mengendong Felicia dan membawanya ke UGD agar mendapat penanganan.
" Gimana kondisi istri saya dok...", tanya Alfredo cemas.
" Istri anda tidak apa - apa. Untuk hamil muda, wajar kalau mengalami hal semacam ini ", ucap sang dokter tenang.
" Ha...hamil dok...", ucap ALfredo dengan mata berbinar.
" Selamat ya pak...saat ini kandungannya sudah menginjak usia tujuh minggu ", ucap sang dokter tersenyum.
" Terimaksih dok...", ucap Alfredo bahagia.
" Saat infusnya sudah habis, istri anda sudah diperbolehkan pulang ", ucap sang dokter.
" Baik dok, terimaksih sekali lagi ", ucap ALfredo penuh rasa syukur.
Diapun segera menghampiri sang istri yang masih terbaring lemas dan mengecup keningnya cukup lama sebagai rasa bahagia.
__ADS_1
" Padahal aku sudah pakai alat kontrasepsi, tapi kenapa bisa tembus juga ya ", guman Felicia binggung.
" Alat kontrasepsi sembilan puluh sembilan persen akurat. Dan masih ada peluang gagal, meski hanya satu persen. Itu berarti sprermaku benar - benar unggu bisa jadi yang satu persen itu ", ucap Alfredo bangga.
" Tapi mas...Rafael masih kecil ", ucap Felicia sedih.
" Ini rejeki sayang, harus kita syukuri, biar baby Rafael ada teman bermain nantinya ", ucap Alfredo berusaha menenangkan kegelisahan istrinya.
" Sudah...jangan terlalu dipikir, kasian dedek bayinya kalau sampai mamanya stress ", ucap Alfredo sambil mengusap perut sang istri yang masih datar dengan lembut.
Sementara itu, Mia dan Sammy terlihat sangat cemas menunggu kedatangan Felicia dari rumah sakit. Mia sangat menyesal kenapa dia membiarkan Felicia dirumah tadi. Seharusnya dia menemani Felicia dan membiarkan supir yang menjemput Rafael yang tiba - tiba pulang cepat.
Hati mereka sedikit lega saat mendengar suara mobil Alfredo memasuki halam rumah. Dengan cepat, Mia dan Sammy segera bergegas membukakan pintu.
" Kamu tidak apa - apa nak... "
" Mama tidak apa - apa..."
Ucap Mia dan Sammy berbarengan.
" Mama tidak apa - apa, hanya perlu istirahat agar dedek bayi sehat ", ucap Alfredo tersenyum.
Seketika MIa dan Sammy saling berpandanga, binggung dengan ucapan Alfredo barusan. Namun dalam hati mereka berdua memiliki pemikiran yang sama.
" Mama hamil...", ucap Sammy senang.
" Iya sayang...", ucap Felicia sambil mengelus pucuk kepala Sammy.
" Yeahhh....Sammy punya adik lagi ", teriak Sammy girang.
Semua orang terlihat sangat bahagia mendengar kabar tersebut. Alfredo sangat bersyukur bahwa sekarang dia mempunyai keluarga yang saling mendukung dan mensupport antara satu dengan yang lain. Rumah yang dulu selalu muram dan sepi, sekarang sudah penuh warna dan kebahagiaan.
------------------------------------------------------------- E N D ------------------------------------------------------------------------
Saya ucapkan banyak terimaksih kepada seluruh pembaca yang terus mengikuti kisah LIKA - LIKU CINTA ALFREDO hingga akhir.
Saya sangat bersyukur karya pertama saya bisa diterima dan saya minta maaf jika sempat hiatus agak lama.
Sekali lagi saya ucapkan terimaksih atas support dan dukungan semuanya selama ini.
__ADS_1