
Saat ini, semua orang sedang berkumpul di depan ruang operasi menunggu Felicia keluar dari ruangan itu.
Mia dan Ajeng yang diberi kabar oleh Roland segera meluncur ke rumah sakit.
" Sudah tujuh jam lamanya, tapi kenapa pintunya masih belum terbuka" , ucap Alfredo cemas.
Alfredo terus berjalan mondar - mandir didepan pintu operasi dengan wajah tegang.
Begitu juga dengan Mia dan Ajeng yang tak henti - hentinya berdoa agar operasi berjalan lancar.
Dalam keheningan, tiba tiba mereka dikejutkan oleh teriakan Sammy yang sedang tidur dipangkuan Ajeng.
Sammy tampaknya sedang bermimpi burung. Beberapa kali tubuhnya diguncang oleh Mia agar cucunya tersebut bangun tapi tidak berhasil.
Sammy semakin berteriak histeris. Hal tersebut tentu saja mengundang perawat yang berjaga tidak jauh dari tempat operasi mendatangi mereka.
Setelah bangun, Sammy masih beberapa kali berteriak histeris namun akhirnya terdiam setelah dipeluk erat oleh neneknya.
Perawat yang datang menyarankan kepada Alfredo agar Sammy di bawah ke seorang psikiater.
" Mungkin anak anda terguncang setelah mengalami kecelakaan. Jiwanya saat ini sedang tidak stabil, makanya dia bereaksi seperti itu ", ucap perawat tersebut sambil menyodorkan nomor kontak psikiater yang biasa bertugas di rumah sakit tersebut.
Alfredo mengambil kertas yang disodorkan padanya sambil melihat putra semata wayangnya yang berada didekapan sang nenek dengan air mata yang terus mengalir.
Melihat pemandangan tersebut hatinya cukup hancur. Begiti juga dengan Mia dan Ajeng yang tidak berhenti meneteskan air mata.
Tidak berapa lama kemudian, pintu ruang operasi terbuka. Terlihat dokter yang mengoperasi Felicia keluar bersama beberapa perawat yang menemaninya melakukan operasi.
" Bagaimana keadaan istri saya dok ?", tanya Alfredo dengan perasaan cemas.
" Nyawa pasien terselematkan, tapi kondisinya saat ini masih kritis. Dan mengenai janin yang ada dikandungannya, kami mohon maaf, bayi tersebut tidak bisa kami selamatkan ", ucap dokter dengan wajah sedih.
" Bayi dok ? maksud anda ? " , tanya Alfredo binggung. Begitu juga dengan semua orang yang berada dalam ruangan tersebut.
" Betul pak, usia kandungan istri anda baru menginjak empat minggu. Jadi mungkin belum terlihat. Karena mendapat benturan yang cukup keras saat kecelakaan, menyebabkan pendarahan yang memicu terjadinya keguguran " , jelasnya sambil menepuk bahu Alfredo agar kuat menjalani cobaan ini.
Alfredo yang mendengarkan penjelasan dari dokter langsung lemas. Dia duduk terdiam sambil menangis.
Mia yang melihat kondisi anaknya tersebut mendekati dan mengenggam tangannya dengan erat.
Membiarkan anak semata wayangnya itu menumpahkan semua kesedihan yang ada di hatinya.
Diam diam ada seorang wanita yang mengawasi dan mendengar semua kejadian yang ada di depan ruang operasi tersebut.
__ADS_1
Senyum dari bibirnya mengembang mendengar kondisi Felicia kritis.
" Akan kubuat kamu bernasib sama dengan Irene, Felicia ", ucap Vera dengan senyum jahatnya.
Tidak ingin dicurigai, Vera segera meninggalkan rumah sakit mengunakan masker dan topi untuk menutupi wajahnya.
Dia harus segera menyusun rencana agar bisa masuk kedalam ruang ICU dan menghabisi Felicia.
Akibat kecelakaan tersebut Felicia sekarang dalam kondisi kritis. Tubuh Felicia yang terbujur dalam ruang ICU membuat Alfredo merasa de ja vu.
Kejadian yang dialaminya sekarang ini hampir sama dengan kondisi Irene. Saat itu istrinya dalam keadaan kritis setelah melahirkan, dan sekarang kekasihnya juga dalam kondisi kritis akibat keguguran.
Dan semua ini adalah ulah dari Vera. Mengingat hal tersebut membuat darah dalam diri Alfredo mendidih.
Tidak mau mengulangi kesalahan yang sama, Alfredo benar benar menjaga ketat tempat Felicia dirawat. Dia tidak mau kecolongan seperti waktu menjaga istrinya.
Selain dokter dan perawat terpilih yang bisa menjaga kekasihnya tersebut, Alfredo juga menempatkan beberapa pengawalnya untuk menjaga ruang rawat Felicia.
Sammy yang setiap hari berusaha untuk menjenguk Felicia tapi dilarang oleh papa dan neneknya terlihat sangat sedih.
Dia merasa sedikit bersalah kepada kakak cantiknya itu, karena menyelamatkan dirinya kakak cantiknya harus kehilangan bayinya, yang merupakan calon adiknya.
Mia yang datang kerumah sakit untuk menjenguk Felicia berusaha mengajak anaknya tersebut makan. Dia tahu jika selama Felicia dirawat, anaknya itu jarang sekali makan.
Vera yang menempatkan orang untuk mengawasi tempat Felicia dirawat sama sekali tidak bisa bergerak. Karena ketatnya penjagaan yang diberikan Alfredo disana.
" S**l...., sudah satu minggu, tapi kita masih belum menemukan celah ", umpat Vera geram.
" Sabar....kesempatan itu pasti akan datang " , ucap Setyo menyemangati.
Tiba tiba ponselnya bergetar, Vera mendapatkan informasi dari anak buahnya bahwa setiap jam sepuluh malam, pengawal yang menjaga ruang rawat Felicia akan beristirahat secara bergantian diruang tunggu.
Hal itulah yang malam ini akan digunakan oleh Vera untuk menyelinap masuk kedalam ruang ICU tempat Felicia dirawat.
Dibalik dinding tempat Felicia dirawat, Vera sedang menunggu saat yang dinantikannya tiba.
" Mereka sudah pergi. Kali ini aku tidak boleh gagal ", batin Vera.
Diedarkannya pandangan disekililing ICU, saat dirasa aman, dengan jalan perlahan Vera mulai membuka pintu ruang rawat.
Belum sempat masuk, tiba tiba ada perawat yang datang. Vera yang kaget langsung pergi dari tempat rawat Felicia .
Perawat yang merasa curiga dengan wanita yang baru ditemuinya itu segera menghubungi Roland dan mengecek kondisi Felicia di dalam.
__ADS_1
Roland yang kebetulan berada di parkiran rumah sakit melihat wanita dengan ciri - ciri seperti yang disebutkan oleh perawat yang menjaga Felicia malam ini langsung berlari mengejarnya.
Vera yang baru saja menghubungi Setyo untuk menjemputnya diparkiran, segera berlari saat melihat seorang pria mendekat kearahnya.
Dengan perasaan panik, Vera yang melihat seorang perawat meninggalkan brankar diluar ruangan , segera naik.
Ditariknya selimut yang tergelak disamping brankar hingga menutup bagian kepalanya.
" Perasaan tadi jenazahnya sudah aku letakkan di ruang jenazah. Koq sekarang ada lagi " , guman perawat tersebut binggung dan bergidik ngeri.
Vera terlihat semakin cemas saat mendengar ada suara kaki mendekat.
Keringat dingin mulai mengucur dari tubuh Vera saat derap kaki berjalan semakin mendekat kearah brankar tempatnya bersembunyi.
" Kemana wanita itu, kenapa tiba tiba menghilang ", ucap Roland pelan, tapi masih bisa didenganr oleh Vera.
Namun tiba tiba brankar yang dia naiki mulai bergerak menjauh dari pria yang mengejarnya membuat Vera sedikit lega.
Kemudian brankar masuk kedalam ruangan yang sangat dingin.
" Aku tinggal brankarnya disini saja, takut nanti jenazahnya balik lagi ", batin perawat tersebut pergi sambil bergidik ngeri.
Dengah langkah cepat dia mulai meninggalkan kamar jenazah.
Vera yang sudah tidak lagi mendengar suara diluar segera membuka selimutnya.
Betapa terkejutnya vera saat mendapati dirinya berada di dalam kamar jenazah.
Diliriknya brankar yang ada sebelah kiri, bau anyir keluar dari tubuh seorang laki laki dengan muka hancur yang dibungkus plastik.
Dengan muka ketakutan Felicia segera melompat dari brankar keluar dari kamar jenazah.
Tanpa menghiraukan apapun Vera terus berlari hingga ke jalan raya.
Dengan nafas memburu dia menghubungi Setyo agar segera menjemputnya di halte bus depan rumah sakit.
Roland yang masih berjalan mengelilingi rumah sakit untuk mencari keberadaan wanita yang mencurigakan tersebut berhenti di lantai tiga untuk mengambil air putih yang tersedia disana.
Sambil minum, dia mengamati jalan raya yang terlihat dari balik kaca jendela.
Melihat sosok wanita yang sedang dicarinya berada di halte bus depan rumah sakit, Roland pun segera turun untuk mengejarnya.
Tapi sesampainya di bawah, terlihat wanita tersebut sedang naik ke dalam mobil yang menjemputnya dan meninggalkan rumah sakit.
__ADS_1
" S****n.....,hampir saja dapat " , umpat Roland penuh emosi.