
Sesampainya dibandara, Willy segera pergi kerumah sakit untuk melihat kakeknya, Ardinanta yang dalam keadaan kritis.
Saat Willy datang, dia langsung masuk keadalam ruang perawatan.
Seluruh keluarga sudah berkumpul disana, semua itu atas permintaan kakek mereka yang sempat sadar dan meminta dokter untuk mengumpulkan seluruh anggota keluarganya karena dirinya sudah tidak kuat lagi.
" Sudah lengkap ya tuan...?" , ucap pengacara Ardinanta dan dijawab anggukan oleh kakeknya Willy itu.
Setelah semua isi wasiat telah dibacakan beserta apa saja kewajiban yang harus dipenuhi oleh anggota keluarga sebelum menerima harta warisan, Ardinanta merasa lega.
" Ingat, penuhi kewajiban dalam surat wasiat dan jangan berebut. Semua sudah dibagi menurut porsi masing - masing ", ucapnya, setelah itu Ardinanta mulai tidur untuk selama - lamanya.
" Tuan Ardinanta sudah tiada. Bapak dan Ibu saya turut berduka cita" , ucap dokter sedih.
Semua yang berada dalam ruangan langsung berhamburan menuju lelaki berusia delapan puluh lima tahun itu sambil memeluknya dengan erat, menguncangnya agar kembali sadar.
" Ayah....", teriak anak - anaknya.
" Tidak kek....kakek tidak boleh pergi...", ucap Willy sambil menangis tersedu - sedu di samping sang kakek.
Suasana haru menyelimuti ruang rawat itu. Mereka masih belum bisa menerima jika ayah dan kakek mereka telah meninggal dunia.
Semua orang merasakan duka yang mendalam, begitu juga dengan Willy, dia merasa masih beruntung karena diberikan kesempatan terakhir untuk melihat kakeknya sebelum beliau meninggal dunia.
Felicia, Anton, dan Wisnu secara spontan langsung memeluk Willy untuk menguatkannya.
Mereka bertiga tetap setia menemani profesornya hingga jenazah dibawah pulang ke rumah duka dan dimakamkan.
Bersama dalam tim selama satu tahun telah membuat mereka sangat akrab, terutama Anton dan Wisnu yang sudah menganggap profesornya itu kakak mereka sendiri yang selalu membimbing mereka dengan sabar.
Saat Anton dan Wisnu berada dibawah untuk membantu menyambut tamu yang datang, Felicia menemani Willy didalam kamar.
Kondisi profesornya yang terlihat begitu terpukul membuat gadis itu tidak berani untuk meninggalkannya sendiri.
Alfredo yang baru saja mendarat segera menghubungi kekasihnya, tapi beberapa kali sambungan telepon dan pesan yang dikirimnya sama sekali tidak mendapat respon dari gadis itu.
Diapun mencoba untuk menghubungi Ajeng dan maminya, tapi keduanya juga tidak mengetahui keberadaan Felicia.
Bahkan mereka juga tidak tahu kalau gadis itu akan pulang hari ini. Mereka pikir Felicia baru akan pulang besok atau lusa karena padatnya jadwal disana.
" Dimana kamu sayang..", batin Alfredo cemas.
" Tolong... jangan hukum aku seperti ini. Aku benar - benar takut kehilanganmu" , gumannya sedih.
Kring....kring....kring....
" Roland", guman Alfredo saat melihat nama di layar ponselnya.
R : Bos, saya mau lapor. Nona Felicia saat ini sedang berada dikediaman keluarga Ardinanta.
R : Tadi sore tuan Ardinanta meninggal dunia.
A : Ok. Terimakasih atas infonya.
Mendengar informasi keberadaan sang kekasih, Alfredopun segera menutup telepon dan langsung menuju kediaman keluarga Ardinanta.
Saat tiba disana, dilihatnya halaman rumah Ardinanta penuh dengan karangan bunga berisi ucapan berbela sungkawa dan para tamu yang akan melayat.
Setelah turun, Alfredo mulai mengedarkan pandangannya kesegala penjuru, namun gadis yang dicarinya sama sekali tidak nampak.
Diapun mencoba bertanya kebeberapa anggota keluarga Ardinanta yang kebetulan keluar untuk mengantar tamu tentang keberadaan Felicia, tapi tidak membuahkan hasil.
Mereka sama sekali tidak tahu siapa gadis yang sedang dicarinya itu.
Setelah tiga puluh menit menunggu, akhirnya Alfredo menyerah. Saat hendak pulang, dari arah pintu masuk terlihat Wisnu salah satu anggota tim yang ikut ke B*******n bersama kekasihnya. Alfredopu berjalan mendekatinya.
Wisnu yang melihat Alfredo mendekat kearahnya sedikit merasa cemas.
" Waduh....ayang bebebnya Felicia datang gimana ini ", batin Wisnu cemas.
"Aku harus bilang apa ini... Kalau jujur nanti pasti ramai....kalau bohong, ketahuan bisa melayang ini nyawa...", gumannya dengan badan gemetar.
Alfredo segera menarik tangan Wisnu saat laki - laki itu mencoba kabur dari hadapannya.
" Iya, apa ada yang bisa saya bantu om?" , tanya Wisnu pura - pura lupa dengan wajah Alfredo.
" Wisnu kan. Saya Alfredo, pacarnya Felicia. Kita pernah bertemu di B********n. Apa kamu masih ingat ? , ucap Alfredo menatap Wisnu tajam.
__ADS_1
" Ohhh....yang datang kepenginapan malam - malam itu ya ", ucap Wisnu sambil berpura - pura berpikir.
" Iya, betul.." , ucap Alfredo tersenyum.
" Ada apa ya om ?", tanya Wisnu pura - pura bodoh.
" Kamu tahu Felicia ada dimana ?", tanyanya langsung.
" Tadi sih ada disini om...tapi kalau sekarang saya tidak tahu lagi. Masih disini apa sudah pulang ", Jawab wisnu sambil berusaha mencari Felicia diantara para tamu.
" Coba ditelepon saja om ", saran wisnu.
" Sudah, tapi nggak diangkat " , ucap Alfredo sedih.
" Mungkin hp nya disilent om, jadi nggak kedengeran ", ucap wisnu beralibi.
" Saya permisi mau antar ini dulu om, soalnya sudah ditunggu " , ucap Wisnu sambil mengangkat tas kresek yang ada ditangannya.
Setelah Wisnu masuk kedalam rumah dan menghilang dibalik kerumunan, Alfredopun mulai melangkahkan kakinya menuju mobil dan beranjak meninggalkan halaman keluarga Ardinanta.
Sementara itu, didalam kamar Felicia dengan telaten menyuapi Willy yang mulai pagi belum makan.
Melihat kedekatan mereka berdua, Merry tersenyum bahagia.
" Siapa itu kak ?", tanya Stella, tantenya Willy.
" Mahasiswanya.." , ucap Merry singkat.
" Tidak mungkin kalau hanya mahasiswanya, kalau dilihat dari perhatian yang diberikannya mulai dari rumah sakit tadi. Bahkan sekarang dengan telaten nyuapin Willy ", ucap Stella kepo.
" Kita harus segera turun untuk menyambut tamu yang semakin banyak berdatangan" , ucap Merry meninggalkan adiknya yang masih diselimuti rasa penasaran.
Willy yang mendapatkan perhatian dari gadis yang sangat disayanginya itu merasa sangat bahagia.
Dia tidak menyangka kalau Felicia akan menemaninya dan memberikan perhatian lebih terhadapnya seperti ini.
Felicia tidak menyadari bahwa apa yang dilakukannya dapat membuat dirinya berada dalam masalah.
Saat ini yang ada dipikirannya adalah perasaan empati kepada profesornya itu.
Dia tahu bagaimana sakitnya saat ditinggalkan oleh anggota keluarga yang sangat kita sayangi. Dan saat kita memerlukan dukungan, tapi tidak ada seorangpun yang perduli.
Mia yang melihat kedatangan anak semata wayangnya dengan lesu berusaha untuk menghiburnya.
"Untuk sementara biarkan dia menenangkan diri dulu. Kalau kamu tekan terus, bisa - bisa dia semakin menjauh " , ucap Mia sambil mengusap pundak anak kesayangannya itu.
Meski belum kenal Felicia lama, tapi Mia sudah bisa mengerti karakter gadis itu semenjak berada di rumahnya.
Gadis yang sangat keras kepala dan jika dia sudah membuat keputusan, akan sulit untuk digoyahkan.
"Sammy mana mi...", tanya Alfredo mengubah topik pembicaraan.
" Diatas lagi belajar. Kamu sebaiknya jangan mengatakan kepadanya kalau Felicia sudah kembali , ucap Mia khawatir dan dibalas anggukan oleh Alfredo.
Dengan langkah gontai dia berjalan menaiki tangga menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri dan beristirahat, berharap esok mendapatkan kabar yang baik.
Sementara itu Felicia yang masih berada dikediaman Willy mulai membuka ponselnya yang berisi puluhan telepon dan pesan dari Ajeng serta Alfredo.
Keduanya sama - sama menanyakan tentang keberadaannya.
Saat hendak membalas pesan yang ada, tiba - tiba mama Willy menghampirinya dan duduk disebelahnya.
" Terimakasih ya sayang, sudah menemani Willy hari ini" , ucap Merry lembut.
" Malam ini nginep disini kan...", tanyanya penuh harap.
" Iya tante, saya ingin menginap disini jika diijinkan ", ucap Felicia sambil tersenyum.
" Tentu saja, tante sangat senang kalau kamu mau tinggal sisini. Tapi harus menginap disini sampai tujuh harinya ya. Tradisi orang tua katanya seperti itu ", ucap Merry menjelaskan dengan semangat sambil menuntun Felicia menuju sebuah kamar disamping kamar Willy.
" Kamu tidur disini ya sayang ", ucap Merry lembut sambil membuka kamar yang didominasi warna biru muda itu.
" Sekarang kamu istirahat dulu. Kalau ada apa - apa bisa panggil tante dibawah " , ucap Merry sambil menujukkan posisi kamarnya pada Felicia.
" Terimakasih tante sudah diterima dengan baik dirumah ini" , ucap Felicia sopan.
" Sama - sama sayang. Selamat malam" , ucap Merry sambil menutup pintu kamar dan membiarkan Felicia beristirahat.
__ADS_1
Meski badan terasa sangat capek, tapi mata Felicia masih belum bisa dipejamkan.
Beberapa kali dia membolak - balikkan badan hingga tak terasa tenggorokannya terasa kering.
Melihat air diatas nakas telah habis, dia melangkahkan kakinya turun kearah dapur.
Sebelum sampai dapur, dia melihat sosok yang di kenal sedang duduk termenung di meja makan sambil memegang sebuah foto.
" Profesor belum tidur. Mau saya buatkan coklat hangat " , ucap Felicia sambil mengeluarkan minuman coklat bubuk sachet dari saku celananya.
" Boleh..." , ucap willy lemah.
Sambil menikmati coklat hangat, Willy menceritakan semua kenangannya dengan sang kakek.
Felicia yang mendengar hal itu segera menganggam kedua tangan Willy berusaha untuk menguatkan dan menghilangkan semua kesedihan yang ada dihatinya.
Melihat keakraban tersebut, Merry yang hendak pergi kedapur akhirnya mengurungkan niatnya.
Dia tidak ingin menganggu moment berharga tersebut.
"Akhirnya...sebentar lagi keinginanku untuk menimang cucu akan terkabul ", guman Merry sambil beranjak kembali kekamar denga tersenyum.
.
.
.
.
Tujuh hari telah berlalu..
Tak terasa sudah satu minggu Felicia berada dikediaman Ardinanta. Hari ini adalah hari terakhir peringatan kematian kakek Ardinanta. Para tamu masih terlihat silih berganti berdatangan kerumah.
Saat Felicia sedang membereskan beberapa kue dan minuman yang tersaji diatas meja, tiba - tiba dari arah belakang pundaknya ditepuk.
Betapa terkejutnya gadis itu saat menoleh, disana telah berdiri seorang wanita cantik dan anggun,Ira kakak iparnya.
Dan disampingnya berdiri seorang pria tinggi, gagah dan tampan, siapa lagi kalau bukan Leon, kakak kandung Felicia.
" Kok melamun...", ucap Ira sambil menepuk pundak Felicia.
"Iya kak, apa kabar? Kapan datang? " , tanya Felicia sambil memeluk Ira.
"Apa kamu tidak kangen sama kakakmu ", tanya Ira sambil melepas pelukannya dan melirik pria yang berdiri disampingnya.
Felicia yang masih kaget dengan perasaan campur aduk hanya bisa diam terpaku di tempat.
Melihat hal tersebut Leon akhirnya mengalah dan langsung memeluk sang adik yang ada didepannya dengan erat.
" Bagaimana kabarmu dik...kamu sudah besar ya sekarang ", ucap leon sambil mengecup pucuk kepela Felicia dengan lembut.
Mendengar ucapan sang kakak, air mata yang sedari tadi berusaha ditahannya akhirnya keluar dengan derasnya.
Felicia menangis sesengukan didalam pelukan sang kakak. Begitu juga dengan Leon yang juga menitikkan airmata tak kuasa membendung rasa bahagianya.
"Ada apa kok pada berkumpul di sini ", ucap Damar, papa Willy sambil menghampiri anak dan istrinya yang sedang melihat moment bahagia itu
" Hush...jangan diganggu ", ucap Merry membungkap mulut Damar dengan telunjuknya dan memberi kode dengan lirikan kearah kakak adik yang masih berpelukan erat di depannya.
Setelah moment yang mengharu biru tersebut selesai, Leon bersama keluarga Willy duduk bersama.
" Om ikut senang akhirnya kamu bisa berkumpul dengan adikmu" , ucap Damar sambil tersenyum bahagia.
" Terimakasih om atas semua kebaikan yang telah om dan keluarga berikan kepada saya dan adik saya" , ucap Leon dengan penuh haru.
" Maaf jika adik saya sudah merepotkan om dan tante" , ucap Leon merasa tidak enak setelah mengetahui bahwa adiknya selama seminggu ini berada dikediaman Ardinanta.
" Kami justru senang dengan kehadiran Felicia disini. Setidaknya anak tante ini sekarang jadi lebih lembut dan murah senyum sekarang" , ucap Merry menggoda Willy.
" Apaan si ma...", ucap Willy tidak senang , sedangkan Merry yang melihat tingkah mengemaskan anaknya itu semakin menggodanya.
Semua yang melihat interaksi antara ibu dan anak tersebut hanya bisa tersenyum lebar, termasuk Felicia yang baru melihat sisi profesornya yang seperti itu.
Melihat gadisnya ikut menertawakan dirinya, Willy hanya bisa memasang muka juteknya dan menatap tajam Felicia.
Bukannya diam, melihat ekspresi Willy yang lucu membuat gadis itu tertawa semakin keras.
__ADS_1
Semua anggota keluarga yang melihat interaksi antara Willy dan Felicia hanya bisa saling melirik dan tersenyum bahagia.
" Kuharap Felicia bisa merubah pilihannya. Bagaimanapun Willy lebih baik dari Alfredo ", batin Leon penuh harap.