
Untuk menyambut kedatangan sahabatnya dari bulan madu, pagi ini Felicia beserta Mia membeli beberapa perabotan yang diperlukan untuk mengisi rumah baru yang dihadiahkannya buat Ajeng pada saat pernikahannya tempo hari.
Felicia membelikan berbagai macam perabotan rumah tangga untuk mengisi ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi hingga dapur.
Semuanya dia lengkapi sehingga saat Ajeng datang dia dan sang suami bisa langsung menempati rumah baru tersebut dan tinggal didalamnya tanpa memikirkan untuk membeli isi rumah itu.
Sedangkan untuk pernak – pernik kecil yang berhubungan dengan dekorasi dan tatanan pelengkap lainnya dia pasrahkan pada sang pemilik rumah nantinya.
Mia membuka jendela rumah agar udara luar bisa masuk, sedangkan dua orang pelayan yang dibawanya terlihat sedang membersihkan rumah yang tidak terlalu luas tersebut sambil menunggu kurir pengantar barang tiba.
“ Akhirnya mereka datang juga…”, ucap Felicia lega saat mendengar suara mobil berhenti di depan rumah.
Felicia mulai mengecek satu persatu pesanannya sambil melihat barang yang telah dibelinya tersebut diturunkan dari dalam mobil pick up yang membawanya.
Semua orang terlihat sibuk membantu kurir untuk memasukkan beberapa barang yang sudah diturunkan dari dalam mobil.
Sedangkan Mia sibuk untuk mengarahkan dimana saja barang tersebut harus diletakkan agar mereka tidak dua kali kerja.
Setelah semua barang sudah berada diposisi yang seharusnya, dua orang pembantu yang dibawanya kembali membersihkan ruangan yang telah kotor akibat aktivitas memasukkan barang.
Sedangkan Mia dan Felicia terlihat sibuk didapur untuk menata beberapa peralatan dapur yang sudah dibelinya seperti kompor, piring, sendok, garpu, pegorengan, pisau, dan peralatan memasak lainnya kedalam
tempat sesuai dengan fungsinya.
Rumah mungil type delapan puluh itu memiliki tiga buah kamar tidur dan dua buah kamar mandi serta satu buah dapur minimalis dengan ruang makan munggil yang langsung menghadap kearah taman yang berada di
belakang rumah.
Sedangkan untuk cat rumahnya dominan warna coklat muda seperti kopi sehingga dapat memberi kesan rumah minimalis modern yang hangat.
Apalagi desain interior yang diusung Felicia dalam pemilihan sofa dan tempat tidur menggunakan warna abu muda dengan coklat tua disepanjang sisinya serta beberapa aksen kayu untuk almari, sofa, dan beberapa penunjang peralatan dapur membuat tampilan ruangan terlihat hangat dan menyenangkan
“ Aku yakin kalau Ajeng akan suka dengan semua ini…”, batin Felicia puas.
Saat memutuskan untuk membelikan sahabatnya itu sebuah rumah, Felicia sudah sempat bertanya kepada Ajeng apa saja yang ingin dia beli jika memiliki rumah sendiri.
Mulai dari warna apa yang diinginkan hingga perabotan apa saja yang ingin dibelinya. Ajeng yang kadang sering menghayal berbagai macam hal dengan Felicia mulai mengatakan tentang apa saja yang menjadi impiannya, termasuk memiliki rumah munggil yang asri yang nantinya akan dia tinggali bersama suami dan anak – anaknya.
Dari situlah Felicia mendapatkan ide untuk langsung mengisi rumah itu dengan berbagai macam perabotan agar nantinya Ajeng saat dia tiba bisa langsung menempati rumah tersebut.
Setelah semuanya selesai, Felicia dan Mia kembali pulang ke rumah untuk menjemput keluarga kecilnya dan kedua orang tua Ajeng untuk menyambut kedatangan sahabatnya tersebut dari bulan madu.
Sepanjang perjalanan pulang senyum Felicia tidak pernah luntur dari wajah cantiknya. Hal tersebut tentu saja membuat hati Mia terasa hangat. Mia merasa sangat bahagia jika menantu kesayangannya tersebut juga merasa bahagia.
__ADS_1
Sementara itu pasangan suami istri yang juga sedang merasa bahagia tersebut saat ini sedang membereskan barang bawaannya.
Jika saat berangkat mereka hanya membawa satu koper, tapi saat pulang barang bawaan mereka membengkak menjadi tiga koper.
Dua koper tersebut adalah barang – barang yang Ajeng beli selama berbulan madu dan satu koper lagi berisi oleh – oleh yang akan diberikan kepada keluarga dan teman – temannya.
“ Sudah semua…tidak ada yang ketinggalan….”, tanya Aldo memastikan lagi saat hendak bersiap keluar dari
kamar hotel.
“ Sepertinya sudah semua yang…”, ucap Ajeng dengan pandangan menyapu semua ruangan yang ada dalam
kamar hotel.
Satu persatu bagian hotel dia lihat dan periksa sekali lagi untuk meyakinkan bahwa tidak ada barang yang tertinggal.
Setelah semua dirasa sudah masuk kedalam koper dan tidak ada lagi barang yang tertinggal mereka berdua segera turun untuk check out dan naik mobil yang telah disiapkan menuju bandara.
Selama perjalanan Ajeng tidak pernah sedetikpun melepaskan pegangan tangannya dari lengan suaminya. Hal tersebut tentunya menimbulkan perasaan iri bagi siapa saja yang melihat.
Tapi Ajeng tidak perduli, saat ini hatinya terasa penuh oleh bunga – bunga yang bermekaran dan kehangatan yang menyelimuti relung hatinya.
Senyum bahagia tidak pernah sekalipun luntur dari wajah keduanya. Saat ini Ajeng dan Aldo merasa seolah dunia milik mereka berdua.
Keluar dari bandara mereka langsung disambut hangat oleh pak Amir, supir keluarga Barmasty yang sudah menunggunya diloby.
“ Pak Amir sudah lama…”, tanya Ajeng ceria.
“ Baru dua puluh menit yang lalu non…”, ucap pak Amir tersenyum ramah.
Kemudian dia segera mengambil alih troler yang dipegang oleh Aldo dan bergegas menuju keparkiran untuk memasukkan koper – koper tersebut kedalam bagasi.
Setelah semua beres, mobil segera melaju meninggalkan bandara menuju rumah Ajeng yang baru.
“ Bagaimana kabar Felicia dan keluarga pak selama aku tinggal…”, tanya Ajeng untuk memecah kesunyian yang ada.
“ Alhamdulillah…nyonya sekeluarga dalam kondisi baik – baik saja ”, ucap pak Amir menjelaskan.
“ Syukurlah kalau begitu…”, ucap Ajeng lega.
Merekapun akhirnya berbincang tentang berbagai macam hal untuk mengisi waktu akibat kemacetan yang terjadi.
Pak Amir berusaha untuk mencari jalan alternative agar tidak terlalu terjebak dalam kemacetan terlalu lama saat melihat wajah lesu Ajeng.
__ADS_1
“ Lho…bukannya seharusnya kita belok kekanan ya…ini kok malah terus pak…”, tanya Ajeng biggung
saat mobil semakin menjauh dari posisi rumahnya berada.
“ Ini memang bukan kearah rumah non Ajeng, tapi ketempat lain sesuai instruksi nyonya ”, ucap pak Amir menjelaskan.
“ Lalu kita mau kemana sekarang pak…”, tanya Ajeng penuh selidik.
“ Saya juga tidak tahu non, hanya saja sama nyonya saya hanya disuruh mengantar non Ajeng dan den Aldo
kealamat ini ”, ucap pak Amir sambil menunjukkan pesan yang dikirimkan Felicia kepadanya.
“ Sudah…kamu duduk manis dan nikmati perjalanan…”, ucap Aldo menenangkan saat melihat Ajeng hendak
protes kembali kepada pak Amir.
“ Tapi aku sudah capek yang…pengen langsung rebahan…”, renggek manja Ajeng.
“ Sini…”, ucap Aldo sambil mengarahkan kepala sang istri keatas pundaknya.
“ Kamu istirahat dulu, kalau sudah sampai nanti aku bangunin ”, ucap Aldo sambil mengelus lembut kepala sang istri dengan penuh kasih sayang.
Diperlakukan seperti itu Ajeng yang badannya terasa sangat capek akhirnya segera memejamkan kedua buah matanya.
Aldo hanya tersenyum saat mendengar dengkuran halus yang menandakan bahwa istrinya sudah terbang kealam mimpi.
“ Apa masih lama pak…”, tanya Aldo pelan agar tidak membangunkan sang istri.
“ Jika lancar…lima belas menit lagi sampai den ”, ucap pak Amir masih fokus dengan pandangan kedepan.
“ den Aldo silahkan istirahat saja dulu…nanti kalau sudah sampai akan bapak bangunin ”, ucap pak Amir sambil
melirik Aldo dari kaca spion di depan.
“ tidak pak, terimakasih…”, tolak Aldo sopan.
Dia kemudian segera memainkan ponsel yang ada ditangannya, ber chat ria dengan Felicia yang sedang menunggu mereka untuk memberikan kejutan disana.
“ Mereka sudah sampai mana…”, tanya bunda Ajeng.
“ sekitar sepuluh menit lagi sampai…mari bu kita siap – siap sekarang ”, ucap Felicia sambil bangkit
dari tempat duduknya dan segera membawa bundanya Ajeng kedapur untuk mempersiapkan makan malam yang telah mereka bawa.
__ADS_1