
Meski Alif tidak bisa memiliki Felicia tapi dirinya sudah cukup bahagia dengan melihat senyum gadis cantik yang telah mengisi hatinya tersebut.
Alif tidak ingin menghilangkan perasaannya ini, tapi juga tidak ingin merusak hubungan Felicia dengan suaminya dan hadir sebagai orang ketiga.
Dia hanya perlu menjadi pengagum rahasia saja.
Itulah yang sudah diputuskan oleh Alif setelah semalaman bergulat dengan perasaannya.
"Cinta tak harus memiliki " itulah kata yang saat ini dia sematkan dalam hatinya dalam - dalam agar selalu menjadi kontrol dirinya.
Sekarang yang menjadi fokusnya adalah kesehatan dan kesembuhan Felicia.
Dengan telaten dan penuh kesabaran dia merawat gadis itu saat suaminya berada di kantor.
Ya....Alif selalu datang keruang rawat Felicia untuk mengecek kondisi gadis itu saat suaminya sudah tidak berada dalam ruangan.
Hal tersebut dilakukannya agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dan juga membuatnya lebih nyaman untuk merawat gadis itu.
Felicia memang menyuruh Alfredo untuk pergi bekerja meski suaminya tersebut terlihat enggan untuk meninggalkannya.
Tapi karena istri kecilnya tersebut mengancam akan mogok makan dan minum obat, maka Alfredo terpaksa mengalah dan dengan berat hati meninggalkannya dengan sang mami dan bik Ina yang menjaganya.
Mia dan bik Ina yang mengetahui bahwa Alif adalah ayahnya Alika tidak terlalu curiga sewaktu dokter tampan itu memperlakukan menantunya dengan sangat baik.
Mereka pikir perlakuan baik Alif tersebut merupakan sebuah bentuk ucapan terimakasih karena Felicia telah menyelamatkan putri kesayangannya.
Bukan hanya Mia dan bik Ina yang berpikiran seperti itu, Felicia juga menganggap bentuk perhatian Alif sebagai ucapan terimakasih dan rasa bersalahnya telah menyebabkan Felicia sampai seperti ini.
Jadi gadis itu menerima segala macam perhatian yang ada, karena dia memang membutuhkan perawatan yang lebih baik untuk saat ini, agar kondisi tubuhnya cepat membaik dan bisa secepatnya keluar dari rumah sakit..
Alif yang melihat Felicia menyambut niat baiknya untuk merawatnya hingga sembuh merasa sangat bahagia, hatinya terasa berbungga bungga.
Hangat...itulah yang menjalar dihatinya saat ini.
" Cinta memang tak harus memiliki. Asal kamu bahagia aku juga akan bahagia " , batin Alif damai.
Dia sama sekali tidak menyangka jika akan mengalami hal seperti ini.
Baginya senyuman Felicia sudah seperti mentari yang bersinar dipagi hari.
Selain menghangatkan, juga baik bagi kesehatan tubuh dan jiwanya.
Karena sinar tersebutlah semua makhluk dapat hidup dan tumbuh dengan baik.
Begitu juga dengan perasaan Alif, dia akan membiarkannya tumbuh dan berkembang dengan baik lewat sinar itu.
Tanpa adanya keegoisan yang dapat membuatnya pudar dan menghilang.
Seperti awan mendung yang menutupi sinar sang mentari.
" Akhir - akhir ini dokter Alif terlihat tambah cakep aja ya....apalagi kalau sedang tersenyum seperti itu.. ", ucap seorang perawat yang kebetulan berpapasan dengan Alif di lorong.
" Iya, orang kalau sedang jatuh cinta pasti wajahnya selalu terlihat berseri - seri dan segar dipandang mata " , ucap teman yang ada disampingnya.
Merekapun segera berjalan dengan cepat saat melihat Alif menoleh kearah mereka dengan tatapan tajam.
__ADS_1
Selanjutnya wajah Alif yang sebelumnya ceria berubah menjadi kaku kembali.
Senyum yang menghiasai wajahnya hilang dalam sekejam saat mendengar bisik - bisik dari para perawat yang kebetulan berpapasan dengannya.
Sebenarnya Alif bisa saja cuek dan membiarkan saja gosip yang berkembang disana seperti biasanya.
Asalkan dia tidak merespon tentunya lambat laun hal tersebut akan hilang dengan sendirinya.
Tapi entah kenapa, untuk kali ini rasanya lain. Dia tidak ingin kalau gosip tersebut sampai terdengar ke telingga Felicia, apalagi suaminya.
Bagaimanapun juga dia tidak mau hubungan baik ini rusak hanya karena adanya gosip murahan seperti itu, meski pemicunya adalah perubahan sikapnya yang begitu mencolok.
" Apakah sikapku segitu terlihatnya kah...", guman Alif pelan.
" Sangat terlihat...", ucap Robert sambil tersenyum.
" Benarkah, perasaan aku masih bertingkah wajar seperti biasa ", ucap Alif tak percaya.
" Aku tahu kalau gadis itu sangat cantik, tapi sebaiknya kamu jangan mengusiknya. Karena Alfredo itu sangat possesif terhadap istrinya, dan kuperingatkan agar kamu jangan sampai membuatnya marah jika masih ingin bekerja dirumah sakit ini ", ucap Robert pelan sambil menepuk pundak Alif dan pergi keluar ruangan.
Alif sepenuhnya sadar dengan semua kata yang telah diucapkan oleh Robert kepadanya.
Dia cukup sadar diri untuk mengalah dan hanya menjadi pengagum gadis itu dari kejauhan.
"Aku sudah cukup bahagia setiap kali melihat senyuman terukir indah diwajahmu" , batin Alif tersenyum.
Tampaknya dewa asmara bukan hanya membidikkan panahnya kearah Alif, tapi juga kepada adiknya Aldo.
Semenjak Felicia dirawat dirumah sakit, Ajeng mendapatkan tugas untuk menjemput Sammy disekolah serta tempat les dan juga menemaninya belajar di rumah.
Bahkan Alika juga ikut les bahasa asing bersama Sammy.
Karena hal tersebut akhirnya Ajeng dan Aldo sering bertemu, entah itu di sekolah, tempat les, ataupun di rumah Bramasty.
Meski pada awalnya mereka sering berselisih pendapat tentang cara pengajaran yang diberikan kepada Sammy dan Alika berbeda, namun lambat laun mereka berdua mulai menyadari bahwa benih - benih cinta sudah tumbuh dihati masing - masing.
Rasa nyaman yang ada menyebabkan hubungan mereka semakin akrab.
Mesmi belum secara resmi berpacaran, namun melihat keakraban mereka membuat Felicia bahagia.
Terutama Dinda yang sangat suka dengan Ajeng.
Karena menurutnya Ajeng adalah sosok menantu ideal.
Meski Ajeng sedikit galak, namun dia memiliki sikap tegas dan disiplin yang cukup baik bagi Alika yang sangat manja.
Dan hal tersebut sangat bagus buat anak bungsunya, mengingat Aldo termasuk orang yang plin - plan dan kadang tidak punya pendirian.
Jika ada seseorang yang tegas dibelakangnya, tentunya akan membuat anak bungsunya tersebut tidak salah langkah dan bisa sukses seperti kakaknya.
Pribadi Ajeng yang hangat dan ramah membuat Dinda dan Alika nyaman berada didekatnya.
Kabar tentang kedekatan tersebut tentu saja juga dirasakan oleh Felicia.
Sebagai sahabat yang cukup mengenal Ajeng dan keluarga, Felicia sangat bahagia akhirnya bisa menemukan jodohnya.
__ADS_1
Meski usia Aldo lebih muda dari Ajeng namun hal tersebut bukanlah hal yang penting, asal komunikasi diantara mereka masih bisa berjalan dengan lancar.
" Aku setuju jika kamu bersama Aldo " , ucap Felicia tersenyum mengoda.
" Apaan sih...aku dan Aldo cuma teman biasa, tidak lebih " , ucap Ajeng dengan muka yang memerah akibat malu.
" Teman apa teman ", goda Felicia yang membuat wajah Ajeng semakin memerah menahan malu.
" Tapi usianya tiga tahun dibawahku ", ucap Ajeng sedih.
" Hey...usia tidak bisa dijadikan patokan ", ucap Felicia menenangkan sahabatnya.
" Tapi tingkahnya sangat kekanak - kanakan ", ucap Ajeng cemas.
" Nah... itu PR mu untuk bisa menjadikannya pria dewasa. Aku yakin kamu bisa ", ucap Felicia menyemangati sahabatnya.
" Terimakasih ya, kamu selalu bisa mengerti aku ", ucap Ajeng sambil memeluk Felicia dengan erat.
Saat Alfredo datang, Ajengpun segera membereskan berkas yang telah ditandatangani oleh Felicia dan berpamitan untuk menjemput Sammy pulang dari les sekalian kembali ke café, mengingat posisi tempat les Sammy yang masih satu gedung dengan café Felicia.
"Kenapa Ajeng kok mukanya merah kaya gitu. Sakit ?...", tanya Alfredo cemas mengingat selama istrinya tersebut dirumah sakit, Ajenglah yang sudah berjasa kesana kemari untuk mengurus Sammy dan café milik istrinya.
"Tidak apa - apa, dia hanya sedang jatuh cinta saja...", ucap Felicia tersenyum geli.
" Jangan bilang kalau cowok itu Aldo...", ucap Alfredo tidak percaya.
" Kenapa kalau dia...bukankah dia anaknya baik " , ucap Felicia sambil mengerutkan dahi.
" Tapi dia lebih mudah dari Ajeng sayang...", ucap Alfredo masih belum yakin akan pilihan Ajeng.
" Kenapa tidak...brondong jauh lebih nikmat ", ucap Felicia sambil tersenyum.
" Maksudmu yang tua itu tidak enak...begitu ", ucap Alfredo sambil menciumi muka Felicia hingga gadis tersebut kegelian.
" Mas...cukup mas...ampun...ampun...", ucap Felicia sambil tertawa karena geli.
Kegiatan mereka terhenti saat ada seseorang mengetuk pintu ruang rawat.
Tak lama kemudian muncul seorang perawat sambil membawakan obat untuknya.
" Kami masukkan obatnya dulu ya bu" , ucap perawat tersebut sopan.
Kemudian perawat tersebut menyuntikkan obat kedalam selang infuse yang ada ditangannya. Saat obat masuk terasa sangat ngilu hingga tak terasa Felicia mencengkeram lengan suaminya.
" Untuk obat kali ini memang agak sedikit ngilu bu, tapi sebentar lagi rasa ngilunya akan hilang " , ucap perawat tersebut sambil tersenyum.
" Sudah selesai. Jika tidak ada yang ditanyakan, saya permisi dulu ya bu ", ucapnya sopan dan berlalu dari hadapan Felicia dan Alfredo.
" Apa masih ngilu tangannya...", ucap Alfredo sambil memijat pelan tangan kanan istrinya agar obat tersebut dapat mengalir dengan lancar.
" Sedikit....tapi sekarang sudah lumayan hilang " , ucapnya sambil tersenyum.
Felicia sangat bahagia mendapat suami yang sangat perhatian dan penyanyang seperti Alfredo.
Padahal dulunya dia sama sekali tidak pernah membayangkan kalau akan menikah secepat ini, apalagi menikah dengan seorang duda beranak satu.
__ADS_1