
Saat yang ditunggu – tunggu akhirnya datang juga. Malam ini semua orang terlihat berbahagia saat rombongan keluarga Aldo terlihat berjalan beriringan menuju ke rumah Ajeng.
Semua orang yang tadinya berbincang - bincang langsung berdiri menyambut mempelai laki - laki bersama keluarganya.
Keluarga dan tetangga yang diminta untuk menyambut kedatangan pempelai laik – laki beserta keluarganya segera menggiring rombongan tersebut masuk ke ruang tamu, tempat prosesi akad nikah akan dilangsungkan.
Karena malam ini hanya berisi acara akad nikah saja, jadi Aldo hanya mengajak keluarga terdekat saja untuk datang, selebihnya keluarga yang lain dan sahabat akan datang pada acara resepsi yang akan diadakan besok siang.
Aldo terlihat sangat tampan dengan memakai setelan jas berwarna hitam serasi dengan peci hitam yang ada diatas kepalanya.
Beberapakali terlihat Aldo meremas kedua tangannya sambil sesekali melirik ayah Ajeng yang duduk didepannya.
“ Tarik nafas yang dalam…santai…jangan gugup…”, bisik Alif sambil menepuk pundak adiknya pelan.
Bukan hanya Aldo yang gugup, Ajeng yang berada didalam kamar juga terlihat sangat gugup menunggu Aldo selesai mengucapkan ijab qobul ditemani Felicia dan sepupunya.
Dag…dig…dug….itu ;ah yang dirasakan semua orang saat Aldo menjabat tangan ayah Ajeng sebagai wali dalam pernikahan ini.
Semua orang menyimak prosesi akad nikah dengan hikmat. Seketika hati Ajeng dan semua orang langsung plong saat semua orang berteriak SAH….
“ Alhamdulillah…selamat ya Jeng akhirnya sudah resmi jadi nyonya Aldo ”, ucap Felicia penuh haru.
Tak terasa air matanya menetes dengan deras melihat kebahagiaan di wajah sahabat sekaligus saudaranya itu.
Tak lama kemudian Ibunda Ajeng bersama ibu mertuanya datang kedalam kamar dan mengucapkan selamat kepada pengantin perempuan.
Acara haru biru yang terjadi didalam kamar tersebut harus terhenti dengan kedatangan Aldo yang membawa masuk buku nikah agar ditanda tangani oleh Ajeng yang saat ini sudah sah menjadi istrinya.
Setelah tanda tangan Ajeng segera mencium punggung tangan Aldo yang sekarang sudah sah menjadi suaminya.
Aldo yang sejak tadi terpesona dengan kecantikan Ajeng langsung mencium kening sang istri cukup lama. Tanpa aba – aba dia langsung m*****t bibir merah yang ada didepannya.
“ Tunda dulu malam pertama kalian…ingat besok Ajeng masih harus berdiri selama acara ”, ucap Felicia mengingatkan.
Alfredo yang melihat istrinya hendak menganggu kemesraan pengantin baru itu segera membawanya keluar dari kamar.
Begitu juga dengan semua orang yang tanpa diminta langsung meninggalkan sepasang pengantin baru tersebut didalam kamar.
“ Apaan sih mas…aku itu belum selesai bicara…”, ucap Felicia sebal karena dipaksa keluar oleh suaminya
padahal masih ada beberapa hal yang ingin disampaikannya kepada Aldo dan Ajeng.
“ Sudah…biarkan saja…namanya juga pengantin baru…”, ucap Alfredo sambil membawa istrinya menjauh dari kamar pengantin.
“ Tapi besok Ajeng itu harus berdiri seharian…kasian kan kalau dihajar sekarang. Belum lagi kalau Aldo
membuat lukisan di tubuh Ajeng, pasti susah nutupinya meski sudah pakai foundation…”, ucap Felicia menjelaskan.
“ Curhat nih ceritanya…”, ucap Alfredo dengan senyum mengoda.
“ Apaan sih…”, ucap Felicia makin sebal dengan ulah suaminya.
“ Kamu pasti ingat dengan malam pertama kita yang super panas itu kan…”, bisik Alfredo pelan.
__ADS_1
Seketika muka Felicia memerah menahan malu membayangkan bagaimana kondisinya waktu pertama kali melakukan hal tersebut dengan sang suami.
“ Justru karena aku sudah pernah merasakan, makanya aku ingin memberi saran pada Ajeng, jangan
sampai dia mengalami seperti yang aku rasakan ”, ucap Felicia ketus.
Untuk menutupi rasa malunya Felicia pura – pura marah dan meninggalkan suaminya dibelakang yang terlihat tertawa geli melihat reaksi sang istri saat diingatkan mengenai malam pertamanya yang cukup panas.
Namun senyum di wajah Alfredo hilang seketika saat dilihatnya Alif berjalan mendekat kearah mereka dengan mata tidak lepas dari istrinya.
Alfredo segera mengejar langkah sang istri dan menarik pinggangnya saat melihat Alif hendak menyapa Felicia.
Melihat sifat possesif Alfredo membuat Alif hanya bisa tersenyum masam. Namun karena Felicia sudah menyapanya dengan ramah akhirnya Alifpun membalas sapaan tersebut dengan senyum termanis yang langsung
mendapatkan pelototan tajam dari Alfredo.
“ Awas copot tuh mata…”, ucap Alif pelan sambil menepuk pundak Alfredo dan berlalu.
Felicia yang mendengar sindiran Alif untuk suaminya hanya bisa tertawa. Namun tawanya terhenti saat melihat suaminya menatap tajam kearahnya.
“ Awas copot tuh mata …”, ucap Felicia menirukan dan kemudian tertawa terbahak – bahak.
Diapun segera berjalan cepat meninggalkan suaminya yang terlihat geram dan hendak menerkamnya.
“ Awas kamu ya…”, ucap Alfredo geram.
Alfredo segera berjalan dengan cepat agar bisa menyusul sang istri untuk memberinya pelajaran. Sammy yang melihat papanya mengejar sang mama ikut berlari juga.
“ Mama sama papa main kejar – kejaran kok nggak ngajak Sammy sih…”, protes Sammy dengan wajah polosnya.
Mereka bertigapun akhirnya main kejar – kejaran di halaman depan rumah Ajeng yang sudah mulai sepi karena beberapa tamu dan undangan sudah pada pulang setelah proses akad nikah selesai.
Saat keluarga Aldo pamit undur diri, Felicia dan keluarga juga ikut berpamitan karena Sammy sudah terlihat mulai mengantuk.
Semua orang malam ini pulang dengan hati gembira sambil menunggu acara puncak yang akan dilaksanakan keesokan harinya.
Didalam mobil Alfredo terus mengenggam tangan sang istri sambil sesekali memberikan kecupan dipunggung tangannya. Sementara kedua anaknya sudah terbang kealam mimpi.
Mia yang melihat kemesraan anak dan menantunya tersenyum bahagia. Dia berharap kebahagian yang mereka rasakan saat ini tidak akan pernah hilang.
Saat sudah sampai kedalam rumah, Alfredo langsung mengangkat tubuh Sammy dan membaringkannya diatas tempat tidurnya.
Diselimutinya tubuh sang buah hati dan mengecup keningnya sebelum dirinya meninggalkan kamar. Hal tersebut juga dilakukannya kepada baby Rafael yang terlihat sangan nyenyak tidur didalam box bayinya dalam kamar terpisah.
Sesampainya didalam kamar, Alfredo segera memembersihkan diri didalam kamar mandi dan berganti pakaian agar bisa segera menyusul sang istri yang sudah siap diranjang.
“ Apaan sih mas…”, ucap Felicia yang merasa terganggu dengan sifat manja sang suami.
“ Kita malam pertama juga yuk…”, ajaknya sambil mengambil alih ponsel yang sedang di pegang oleh istrinya.
“ Kita tidur saja…besok hari yang padat ”, ucap Felicia sambil mulai menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.
“ Tapi mas pengen…”, ucap Alfredo merajuk.
__ADS_1
Karena tidak mendapat respon, Alfredopun langsung masuk kedalam selimut dan mulai berbuat ulah.
Felicia yang semula bersikap acuh tak acuh akhirnya menyerah saat permainan l***h sang suami yang bergerak lincah di bawah sana telah membuat tubuhnya b*******h.
Alfredo yang melihat istrinya menyerah langsung tancap gas sebelum Felicia kembali berubah pikiran. Aksi keduanya baru berhenti saat menjelang pagi dan keduanya langsung terlelap kealam mimpi karena semua energy telah terkuras habis.
Hari ini seluruh orang yang berada didalam kediaman Bramasty bangun kesiangan kecuali Rafael dan bik Ina yang sudah selesai berjalan – jalan ditaman.
Meski enggan, namun Felicia harus bangun untuk memantau persiapan acara resepsi Ajeng yang akan berlangsung siang ini.
“ Jam berapa sekarang…”, tanya Alfredo saat melihat istrinya sudah rapi dan siap untuk pergi.
“ Jam Sembilan sayang…mas nanti nyusul sama sammy dan mami ya. Sekarang aku pergi dulu bersama Rafael dan bik Ina …semua baju sudah aku siapkan…”, ucap Felicia sambil mengecup sekilas bibir suaminya dengan lembut dan langsung menghilang dari balik pintu.
Sementara itu Alfredo yang hendak masuk kedalam kamar mandi dikejutkan oleh kedatangan putra sulungnya yang terlihat sangat panik mencari mamanya.
“ Mama mana pa…”, tanya Sammy sambil mengedarkan pandangannya mencari sang mama.
“ Mama sudah berangkat duluan sama adikmu ”, ucap Alfredo datar.
“ Ya…kok Sammy ditinggal sih…terus nanti siapa yang bantu Sammy pakai bajunya…Sammy nggak mau
pakai sepatu ini…maunya yang itu….bla…bla…bla…”, cerocos Sammy.
“ Ok…nanti papa bantu ”, ucap Alfredo singkat dan langsung menutup pintu kamar mandi membuat sammy yang
berada diliuar hanya bisa menatap pasrah.
“ Pasti kaya gini kalau sama papa…nggak asyik…”, ucapnya sebal.
Bocah cilik itupun langsung keluar dari dalam kamar untuk mencari sang nenek. Sammy merasa lebih baik meminta bantuan kepada Mia daripada harus dibantu papanya yang dia yakin pasti hasilnya kacau dan jauh dari
harapannya.
Sementara itu di café Felicia beserta seluruh karyawan yang hari ini diliburkan telah mempersiapkan beberapa hal kecil yang masih kurang untuk acara yang akan berlangsung empat jam lagi itu.
Felicia ingin memastikan semuanya beres, untuk itu dia memantau sendiri semuanya agar acara bahagia sahabatnya itu bisa berjalan dengan sempurna.
“ Akhirnya selesai juga….”, guman Felicia puas dengan hasil kerja seluruh timnya.
Diapun segera menghampiri baby Rafael yang tengah asyik bermain dengan beberapa orang karyawannya.
“ Ma…ma…ucu…”, ucap Rafael sambil merentangkan kedua tanganya minta digendong sang mama.
“ Uhh…anak mama haus ya…”, ucap Felicia mengangkat tubuh munggil Rafael dan mengosk hidungnya kehidung
bayi tampan itu.
Rafael yang merasa kegelian tertawa gembira dengan mimik muka yang mengemaskan sehingga membuat semua orang yang berada disana ingin mencubit pipinya yang gembul dan mengoda.
Kemudian Felicia segera membawa baby Rafael masuk kedalam ruang kerjanya untuk memberikan asi esklusif.
Sambil menyusu tanpa sadar bayi tersebut mulai terlelap karena capek bermain. Setelah dirasa sudah cukup, Felicia segera membaringkan tubuh Rafael keatas ranjang yang berada diujung ruang secara perlahan dan
__ADS_1
menyuruh bik Ina untuk menjaganya.
Felicia segera keluar dan mulai menyuruh semua orang agar bersiap karena sebentar lagi tamu undangan akan segera datang.