
Raka sudah berkeliling mencari Yasmin kesemua tempat yang sering didatanginya, namun hasilnya nihil. Dia memukul stir mobilnya dengan keras sebagai bentuk pelampiasan emosinya.
“ Awas saja kalau sampai ketemu, aku tidak akan mengampuninya begitu saja ”, ucap Raka penuh dendam.
Sementara itu, Yasmin yang merasa sangat penat karena semua rencana yang dia susun rapi dan terencana gagal begitu saja.
Belum lagi keluarganya terus menghubunginya membuat kepalanya terasa mau pecah. Untuk menghilangkan semua penat yang ada dia membeli beberapa botol minuman keras.
Disinilah dia sekarang, disebuah gudang tua milik keluarganya yang sudah tidak terpakai, sendirian hanya ditemani botol minuman keras.
Satu persatu botol yang diminumnya telah habis. Yasmin yang mulai mabuk meracau tidak karuan. Meluapkan semua rasa yang ada dihatinya.
Rasa sedih, kecewa, dan amarah membuat dadanya terasa sesak dan menyakitkan. Saat ini hanya minuman lah yang bisa membuatnya sedikit melupakan permasalahan yang ada.
“ Sudah sejauh ini…aku tidak akan mundur lagi meski harus mengorbankan nyawaku. Aku akan membawa
j****g itu pergi ke neraka bersamaku ”\, ucap Yasmin sambil menyesap habis minuman yang ada ditangannya.
Prang….
Dia lempar begitu saja botol yang telah habis hingga hancur berkeping – keeping. Kemudian dia segera membuka botol yang masih penuh dan meminumnya kembali.
Hanya hal ini lah yang bisa dia lakukan malam ini agar bisa tertidur dengan nyenyak. Tak lama kemudian, badannya pun ambruk ketanah dan Yasmin mulai tertidur.
Cukup lama dia tertidur hingga sebuah tendangan dikepalanya membuatnya terbangun. Kepalanya terasa sangat pusing akibat tendangan yang baru saja diterimanya.
Dengan kondisi setengah sadar, Yasmin berusaha untuk duduk namun karena banyaknya minuman keras yang dikonsumsinya membuat dirinya tidak bisa menopang tubuhnya dan membuatnya kembali terjatuh.
“ Angkat dan bawa dia ke mobil ”, ucap Raka dengan tajam.
Ketiga anak buah Rakapun segera melaksanakan perintah sang bos untuk membawa adiknya masuk kedalam mobil.
Raka segera membawa Yasmin pulang agar tidak berkeliaran dan menyebabkan masalah bagi keluarganya kembali.
Sesampainya di rumah, ketiga anak buah Raka menghempaskan tubuh Yasmin keatas ranjang dengan kasar.
Yasmin yang ditampar Raka bebera pakali tidak terbangun akhirnya diambilkan air dari dalam kamar mandi.
Byurrr….
Muka dan sebagian tubuh Yasmin basah kuyup akibat siraman Raka. Sambil mengumpulkan nyawanya yang masih belum seratus persen, Yasmin berusaha untuk duduk.
Tiba – tiba dia merasa nyeri dikepalanya, dan saat dipegang ada darah segar mengalir ditangannya. Kepala Yasmin terluka akibat terkena ujung sepatu Raka saat menendang Yasmin digudang tadi.
Melihat hal tersebut, bukannya kasian Raka kembali menampar wajah cantik itu hingga meninggalkan luka lebam.
“ Apa maksudmu melakukan itu semua….apa kamu ingin keluarga ini hancur…”, bentak Raka penuh amarah.
“ Dasar anak s****n….”\, maki Raka dengan amarah yang meluap – luap.
Yasmin yang sudah terbiasa dengan teriakan dan caci makidari sang kakak hanya bisa diam membisu. Karena percuma baginya bersuara jika tidak akan didengarkan.
“ Kenpa diam saja…apa kamu bisu…”, bentak Raka sambil kembali melayangkan pukulan kewajah adiknya.
__ADS_1
Tak lama kemudian Susi datang dan langsung ikut memukul Yasmin. Bukan hanya memukul, Susi juga memaki dan mengucapkan kata – kata kasar kepada anaknya.
“ Jika tahu kamu kaya gini, aku tidak akan sudi untuk melahirkanmu…”, ucap Susi tajam.
“ Dasar anak s****n…”\, ucapnya lagi.
“ Kamu harus segera minta maaf kepada keluarga Bramasty sekarang juga, kalau perlu kamu bersujud di
kaki mereka agar keluarga ini tidak hancur…”, ucap Susi sambil menjambak rambut Yasmin hingga rontok.
“ Apa…minta maaf…aku tidak akan pernah meminta maaf kepada mereka ”, Teriak Yasmin dengan keras.
“ Kalau bisa, aku akan membunuh mereka dengan tanganku sendiri ”, ucapnya sombong sambil menahan sakit akibat jambakan maminya.
“ Apa kamu bilang….”, ucap Raka geram.
Diapun langsung melayangkan tendangan ke tubuh sang adik yang sudah tersungkur dilantai akibat hempasan tangan Susi.
“ Kalian tidak akan pernah bisa mengehentikanku…”, ucap Yasmin sambil tertawa keras.
“ Dasar tidak tahu diri….”, ucap Raka penuh amarah.
Diapun langsung menendang sang adik dengan membabi buta hingga Yasmin pingsan. Melihat putrinya tak sadarkan diri, Susi segera mengajak Raka keluar dan mengunci Yasmin didalam kamarnya.
“ Ada apa ini…”, tanya Ibra yang baru saja datang saat mendengar suara rebut – rebut di kamar putrinya.
“ Tidak ada apa – apa pi…papi sebaiknya istirahat lagi ya...”, ucap Susi lembut sambil berusaha untuk mengajak Ibra kembali kedalam kamar.
Dibantu istri dan anaknya Ibra dibawah kedalam ruang kerjanya. Sesaat dia memejamkan matanya saat dadanya kembali terasa sakit.
“ Papi tidak apa – apa…”, ucap Raka dan Susi berbarengan saat melihat laki – laki tersebut memegang dadanya dengan mata tertutup.
“ Tolong lihat ini ”, ucap Ibra sambil menyerahkan ponselnya ketangan anak sulungnya.
Raka segera mengertakkan giginya menahan amarah melihat pesan yang dikirim calon mertuanya itu.
“ Bagaimana mereka bisa tahu masalah ini…”, tanya Raka geram.
“ Kurasa, Alfredo sudah mulai bertindak. Kita harus segera membawa Yasmin untuk meminta maaf dan mengirimnya keluar negeri sebelum semuanya terlambat ”, ucap Ibra sambil memegang dadanya yang terasa sangat sakit.
Melihat suaminya kesakitan Susi segera berlari kedalam kamar dan mengambilkan obat suaminya. Setelah meminum obat yang diberikan istrinya, rasa sakit yang ada sedikit berkurang.
“ Kita harus bergerak cepat….”, perintahnya sambil memejamkan mata.
“ Tenang saja pi…jika Yasmin tidak bisa diajak berkompromi, maka aku tidak akan segan untuk menghabisinya, meski dia adikku sendiri…”, batin Raka penuh amarah.
Dia sangat marah dan kecewa karena usahanya untuk bisa menjadi bagian dari keluarga Alfonso hilang begitu saja.
Kerja keras yang selama ini dia lakukan agar dapat menjadi tunangan putri tunggal Alfonso hilang karena ulah adiknya.
Maka dari itu dia tidak akan pernah memaafkannya, bahkan jika besok Yasmin masih bersikeras dengan pendiriannya, maka dia tidak akan segan untuk menghabisi nyawa adiknya itu.
Sementara itu, Yasmin yang sudah sadarkan diri perlahan mulai bangkit dan beranjak naik keatas ranjangnya. Dia sangat sedih dengan perlakuan kasar keluarganya terhadapnya.
__ADS_1
“ Bahkan binatang pun tidak akan membunuh anaknya sendiri…”, batin Yasmin miris mendapat perlakuan seperti itu.
Meski begitu, Yasmin bertekad tidak akan pernah meminta maaf kepada Ajeng apapun alasannya.
“ Aku tidak akan pernah merendahkan diriku dihadapan j****g itu…apapun alasannya ”\, guman Yasmin geram.
Sementara itu di kediaman Bramesty, Alfredo berusaha untuk menenangkan sang istri yang sudah beberapa hari ini terlihat bersedih hati.
“ Sudah sayang…jangan terlalu dipikirkan…aku jamin sekarang Yasmin tidak akan berbuat ulah lagi ”, ucap Alfredo sambil mengusap kepala Felicia dengan lembut.
“ Entah kenapa hatiku masih belum tenang…aku merasa sesuatu yang buruk akan terjadi ”, ucap Felicia dengan
wajah cemas.
“ Ada Roland yang menjaga Ajeng di rumah. Aku berjanji akan benar – benar menghancurkan keluarga Ibra jika Yasmin masih berulah. Dan aku pastikan itu akan langsung terjadi…”, ucap Alfredo berusaha untuk menenangkan istrinya.
“ Sekarang yang perlu kamu khawatirkan itu adalah aku ”, ucap Alfredo dengan wajah sedih.
“ Memang mas kenapa…”, tanya Felicia penuh selidik.
“ Sudah hampir satu minggu mas kamu cuekin…bagaimana jika nanti adekku ngambek…”, ucap Alfredo merajuk.
“ Adek….??? ”, tanya Felicia binggung.
“ Itu…”, ucap Alfredo sambil melirik pusakanya.
Felicia yang sudah mulai faham akan arah pembicaraan suaminya hanya bisa menghela nafas panjang.
“ Bagaimana mas masih bisa berpikir kearah sana dalam kondisi seperti ini…”, ucap Felicia sebal dengan sang suami yang masih saja memiliki hasrat yang tinggi.
“ Justru karena situasinya seperti ini maka mas harus sering – sering memanjakanmu agar pikiranmu bisa tenang….”, ucap Alfredo kembali merajuk.
“ Ayolah sayang….”, ucap Alfredo mencoba merayu sang istri.
“ Apa kamu mau pusaka mas ini berkarat…”, ucapnya dengan mimik wajah dibuat sesedih mungkin.
“ Delapan tahun pusaka mas itu jarang dipakai tapi sampai sekarang tidak berkarat. Masa ini dianggurin
seminggu saja sudah berkarat… ”, ucap Felicia mencibir.
“ Itu lain sayang…karena air yang membasahinya berbeda…”, ucap Alfredo masih berusaha untuk meyakinkan
istrinya.
“ Jika mas terus merajuk seperti ini , maka jangan salahkan aku jika malam ini aku akan tidur dengan Sammy ”, ucapnya dengan nada mengancam.
“ baiklah…baiklah…aku tidak akan minta jatah malam ini. Sekarang istirahatlah…”, ucap Alfredo mengaklah dan langsung menarik tangan Felicia agar kembali duduk.
Dengan enggan Feliciapun menuruti keinginan suaminya untuk kembali berbaring diatas ranjang.
“ Sabar ya…”, ucap Alfredo sambil mengelus pusakanya.
Dengan penuh cinta dia mulai menyelimuti tubuh sang istri dan memeluknya dari belakang karena Felicia langsung memunggunginya. Akhirnya merekapun terlelap menuju alam mimpi bersama.
__ADS_1