
Kemarin malam saat Mia memeriksakan dirinnya ke dokter Angga, dia menunjukkan beberapa obat yang dikonsumsinya selama ini.
Malam itu dia juga menunjukkan hasil laboratorium salah satu obat yang dikonsumsinya.
Dokter Angga sangat tetkejut saat membaca selembar kertas putih yang disodorkan kepadanya.
Untuk mengetahui kondisi Mia secara pasti agar hasilnya akurat, maka dokter Angga menyuruh Mia melakukan pengambilan darah untuk di tes dan foto rontgen untuk mengetahui kondisi kakinya.
Dan hari ini, mulai pagi maminya Alfredo itu sudah melakukan serangkaian tes dan cek laboratorium untuk mengetahui kondisi tubuhnya saat ini.
"Mami tenang ya, jangan terlalu tegang gitu " , ucap Alfredo lembut sambil memegangi tangan maminya yang akan diambil darahnya.
" Nah...sudah selesai ", ucap perawat ramah.
Kemudian darah Mia yang diambil segera dicek di laboratorium untuk mendapatkan hasilnya.
" Hasilnya bisa diambil besok siang ya bu " , ucap petugas laboratorium ramah.
Setelah proses pengambilan darah selesai kini Mia menuju ruang rotgent untuk memfoto kakinya.
Pada saat menunggu giliran tiba - tiba Alfredo dikejutkan oleh panggilan dari seorang dokter wanita yang berjalan menuju kearahnya.
" Alfredo kan? ", sapa dokter wanita itu sambil tersenyum.
" Ranti Wulandari " , ucap Alfredo senang.
" Apa kabar ? Kok bisa berada disini ? bukannya kamu ikut suamimu ke B**i ya ? " , tanya Alfredo penasaran.
"Aku baru pindah kesini sekitar lima bulan yang lalu. Kebetulan suami pindah dinas kesini sekarang ", ucap Ranti menjelaskan.
" Siapa yang sakit ? " , tanyanya cemas.
" Ini lagi ngantar mami rotgent ", ucap Alfredo menjelaskan.
" Mi....kenalin ini Ranti temanku waktu kuliah dulu " , ucap Alfredo sambil memperkenalkan Ranti ke Mia.
" Nak Ranti disini sebagai dokter apa ?" , tanya Mia basa - basi.
" Saya dokter kandungan bu ", ucap Ranti ramah.
" Wah....kebetulan. Bagaimana kalau Felicia kamu ajak periksa ke nak Ranti saja, kalau sudah kenal sama dokternya kan lebih enak konsultasinya ", ucap Mia menyarankan.
" Felicia...?" , ucap Ranti binggung.
" Iya, istriku yang baru " , ucap Alfredo malu - malu.
" Aku sudah bercerai dengan Vera dan dia sudah meninggal...", ucap Alfredo berusaha menjelaskan.
Meninggal....kenapa ? " , tanya Ranti penasaran.
" Ceritanya panjang...kapan - kapan kalau ada waktu aku ceritakan " , ucap Alfredo yang kemudian segera masuk mendorong maminya kedalam ruangan untuk di rotgent.
Ranti yang masih berdiri di ruang tunggu hanya bisa terdiam sambil memikirkan perkataan temannya itu.
Kemudian dia segera kembali ke ruangannya dengan rasa penasaran yang masih menganjal di hati.
Ternyata proses pemeriksaan dan test yang harus dijalani Mia hari ini cukup panjang hingga menyebabkan dirinya harus beristirahat di rumah sakit akibat terlalu lelah.
Felicia yang seharusnya bisa pulang hari ini terpaksa mengundurkan waktu kepulangannya untuk mertuanya yang tidak mendapatkan ruang inap disana.
Untungnya ruang rawat inap Felicia adalah VVIP yang didalamnya terdapat ruang tidur tersendiri bagi orang yang menjaga pasien, sehingga Mia bisa beristirahat disana.
" Maaf ya... hari ini mas sibuk sehingga tidak bisa menemanimu " , ucap Alfredo lembut.
" Tidak apa - apa, ini semua kan demi kesembuhan mami " , ucap Felicia sambil mengelus kepala suaminya yang sudah disandarkan dibahunya.
" Mas makan dulu ya... biar tidak sakit " , ucap Felicia lembut.
__ADS_1
" Aku maunya makan kamu..." , ucap Alfredo manja sambil memeluk istrinya dari samping.
" Apaan sih mas...Ini masih dirumah sakit loh" , ucap Felicia gemas dan langsung mencubit perut sixpack suaminya.
Sakit yang....", ucap Alfredo meringis.
" Salah sendiri genit ", ucap Felicia sebal.
Alfredo yang tidak terima dicubit oleh istrinya segera menghujani Felicia dengan kecupan di seluruh permukaan wajahnya.
" Sudah mas.....ampun....", ucap Felicia tertawa kegelian.
Mia yang sebenarnya belum tidur hanya tersenyum kecil melihat tingkah anak dan menantunya itu yang seperti anak kecil.
" Kuharap Felicia bisa segera hamil sehingga kebahagiaan ini bisa semakin lengkap " , batin Mia penuh harap.
Keesokan harinya, Alfredo yang sudah mencari informasi mengenai jadwal praktek Ranti segera mendaftarkan istrinya untuk diperiksa disana.
" Mi...aku tinggal dulu ya ", ucap Alfredo pamit.
" Semoga hasilnya baik ya sayang ", ucap Mia sambil tersenyum.
Kemudian Alfredo dan Feliciapun pergi menuju tempat praktek Ranti.
Alfredo segera mengedarkan pandangannya untuk mencari kursi kosonh di ruang tunggu yang dipenuhi oleh ibu - ibu dengan perut membuncit.
Setelah dapat kursi, Felicia dan Alfredo duduk manis disana sambil menunggu panggilan.
Baru beberapa menit disana, Felicia sudah terlihat akrab dengan ibu - ibu yang berada disebelahnya.
Mereka saling bertukar cerita dan pengalaman selama masa kehamilan dan melahirkan.
Beberapakali Felicia terlihat meringis seperti menahan sakit waktu mendengar kisah seorang ibu yang sedikit bermasalah waktu proses persalinan.
Satu persatu pasien diruang tunggu mulai pergi setelah diperiksa, kini tinggal giliran Felicia dan Alfredo masuk kedalam ruangan.
" Semuanya normal, kondisi sel telurnya juga cukup bagus " , ucap Ranti sambil tersenyum.
Setelah semua selesai, Felicia segera turun dari tempat tidur dan duduk disamping suaminya.
" Masih sembilan belas tahun ya..., masih berpeluang cukup besar untuk memiliki anak " , ucap Ranti ramah.
Kemudian dia segera membuatkan resep vitamin untuk dikonsumsi Felicia setiap hari.
Namun sebelum beranjak keluar, Ranti menahan Alfredo karena ada sesuatu yang ingin dibicarakan.
Kebetulan pada saat itu Felicia sedang mengangkat panggilan dari Ajeng karena ada sedikit masalah di cafenya, jadi dia permisi keluar duluan.
" Ada apa ? bukannya tadi kamu bilang istriku baik - baik saja ? ", tanya Alfredo cemas.
" Kondisi semuanya normal dan baik, tapi rahimnya agak sedikit kering. Apakah istrimu menggunakan alat kontrasepsi ? ", tanya Ranti.
Deg....
" Alat kontrasepsi...", ucap Alfredo binggung.
Melihat Alfredo binggung akhirnya Rianti paham kalau Felicia telah menggunakan alat kontrasepsi tanpa sepengetahuan suaminya.
" Apakah istrimu setiap hari mengkonsumsi obat atau sejenisnya ? ", tanya Ranti lagi.
Mendengar pertanyaan Ranti, Alfredo mulai mengingat - ingat kalau istrinya itu setiap malam sebelum tidur selalu meminum sebutir pil yang diyakininya sebagai vitamin.
" Iya....setiap malam dia selalu minum satu buah pil, tapi istriku bilang itu vitamin ", ucap Alfredo dengan dahi yang berkerut.
" Bisa tidak aku fotoin bentuk pil nya dan kemasannya ", ucap Ranti penasaran.
" Baik, nanti aku bawain botolnya ", ucap Alfredo kemudian segera berlalu karena Felicia sudah memanggilnya.
__ADS_1
Selama perjalanan kembali keruang rawat istrinya Alfredo terlihat diam dan sedikit melamun.
Hal tersebut tentu saja membuat Felicia sedikit curiga.
" Apa ada masalah mas?" , tanya Felicia saat mereka sudah masuk kedalam ruang rawat.
" Aku hanya harus kembali kekantor siang ini, ada sedikit masalah yang harus aku selesaikan. Kamu sama mama tidak apa - apa kan aku tinggal sebentar ", ucap Alfredo yang langsung berpamitan dengan mengecup kening istrinya dan mencium tangan maminya.
Kedua perempuan yang sangat disanyanginya itu hanya terdiam melihat sikap aneh Alfredo.
Namun hal tersebut tidak terlalu dia perdulikan.
Saat ini dirinya hanya fokus untuk segera mengambil botol vitamin yang biasa dikonsumsi oleh istrinya itu dan memberikannya ke Ranti agar dia bisa mendapatkan kepastian.
Sesampainya didalam rumah, Alfredo segera menuju kedalam kamar dan mencari obat tersebut disetiap laci yang ada didalam ruangan itu.
" Ini dia...", ucapnya lega setelah mengeledah hampir seluruh kamar.
Dengan cepat dia melajukan mobilnya kembali menuju ke rumah sakit dan segera menemui Ranti.
Saat tiba, Alfredo terpaksa harus menunggu wanita tersebut selesai rapat dengan pimpinan rumah sakit.
Setelah menunggu hampir satu jam akhirnya Ranti muncul dibalik pintu ruang kerjanya dengan muka sedikit kusut.
"Wah...kamu cepat juga sudah kembali kesini. Mana obatnya...", ucap Ranti sambil menengadahkan tangannya meminta obat dari Alfredo.
Ranti sedikit terkejut melihat label yang ada di botol obat tersebut.
Namun kecurigaannya cukup besar, dibukanya tutup botol dan dikeluarkan isi obat yang ada didalamnya.
" Seperti dugaanku...", batin Ranti tersenyum.
" Bagiamana ? " , tanya Alfredo penasaran.
" Botol obat ini memang vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Tapi isinya adalah pil kb ", ucap Ranti tersenyum.
"Bagaimana bisa begitu...", ucap Alfredo dengan raut muka binggung.
"Tentu saja bisa, karena isinya telah ditukar ", ucap Ranti menjelaskan.
Melihat wajah Alfredo yang terlihat sangat kecewa, Ranti berusaha untuk membesarkan hatinya.
" Hey....dia masih muda, masih punya banyak kesempatan untuk memiliki anak ", ucap Ranti berusaha menghibur.
" Aku tahu dia masih sangat muda, tapi aku....usiaku sudah kepala empat. Aku tidak ingin saat aku sudah tua nanti, anak - anakku masih kecil ", ucap Alfredo sedih.
" Bagaiman kalau kita tukar pil ini dengan obat penyubur kandungan. Aku ada obat penyubur yang bentuk dan warnanya hampir sama dengan ini ", ucap Ranti memberikan ide.
" Apakah itu ada...", ucap Alfredo bersemangat.
" Tentu saja ada...", ucapnya sambil tersenyum.
Kemudian Ranti segera membuang semua obat yang ada dalam botol tersebut dan mengantinya dengan obat penyubur kandungan.
" Kalau isi obat ini sudah habis, kamu bisa menghubungiku " , ucap Ranti menawarkan.
Terimakasih banyak ya ", ucap Alfredo bahagia.
" Sama - sama. Jika obat ini dikonsumsi beserta obat yang aku resepkan, dijamin dalam waktu dekat istrimu bisa cepat hamil ", ucapnya memberi semangat.
Alfredopun segera meninggalkan ruang kerja Ranti dengan wajah gembira.
Meski pada awalnya dia sempat kecewa karena kebohongan yang dilakukan istrinya.
Namun nampaknya Tuhan masih berpihak kepadanya dengan mempertemukannya dengan Ranti.
" Akhirnya....sebentar lagi impianku untuk menjadi ayah akan segera terwujud " , guman Alfredo bahagia.
__ADS_1