
Sejak diputuskan pernikahan mereka akan diadakan empat bulan lagi, Ajeng dan Aldo mulai mengurusnsemua hal yang berkaitan dengan pernikahan mereka.
Mulai dari pemberkasan surat nikah, gaun pengantin, hingga makanan apa saja nantinyanyang akan disajikan dalam acara.
Sedangkan untuk tempat dan dekorasi ruangan semuanya di handle sendiri oleh sahabatnya, Felicia dan teman – temannya yang bekerja di café.
Karena tema yang diusung oleh Ajeng pada resepsinya adalah Garden Party, maka dia akan menggunakan bagian belakang café yang halamannya cukup luas.
Meski sebagian besar hidangan berasal dari menu yang ada di café, tapi Ajeng dia mau monotton, dia juga menambahkan beberapa menu yang tidak ada disana yang merupaka kesukann calon suaminya seperti bakso, sate, dan gado – gado.
“ Ini sudah…yang ini juga sudah…ini juga…”, Ajeng mulai mencorat – coret beberapa item yang sudah dilakukannya dan tinggal mengkonfirmasinya lagi nanti saat menjelang hari bahagianya.
“ Yang…ayo cepetan…kita sudah ditunggu tante Maya ”, teriak Aldo saat melihat calon istrinya tersebut masih
terlihat fokus pada berkas yang ada didepannya.
“ Sebentar….tinggal dikit lagi yang…tanggung ini…”, ucap Ajeng memohon.
“ Kamu tahu sendiri kan kalau tante Maya itu orangnya sibuk banget. Masih untung dia mau meluangkan waktu untuk kita ”, ucap Aldo sebal.
“ Ok…aku selesai sekarang ”, ucap Ajeng mengalah.
Dirinya sudah tidak mau berdebat lagi dengan calon suaminya itu. Meski dengan berat hati harus meninggalkan pekerjaan yang sudah hampir selesai itu, namun Ajeng juga tidak bisa menampik bahwa dirinya dan Aldo cukup beruntung tante Maya mau membuatkan baju pengantinnya.
Maya adalah seorang desainer muda yang karya – karyanya selalu dia kagumi. Dan sekarang dia akan menggunakan gaun pengantin yang didesain dan dibuat oleh tokoh idolanya.
Sesampainya di butik Maya, Ajeng dan Aldo segera diajak oleh salah satu anak staf disana kedalam ruang kerja Maya.
“ Siang tante…”, ucap Aldo dengan wajah berseri.
“ Aura calon pengantin memang beda ya…”, ucap Maya menggoda saat melihat aura bahagia diwajah
keponakannya itu.
Tidak ingin membuang banyak waktu, Ajeng segera memberikan gambaran desain apa yang diinginkannya untuk gaunnya kepada Maya.
Setelah berkonsultasi hampir satu jam, akhirnya apa yang sudah diinginkan oleh Ajeng telah digambar kasar diatas kertas.
“ Aku akan kerjakan cepat sehingga bisa sesuai schedule ”, ucap Maya sambil tersenyum.
“ Terimakasih tante…”, ucap Aldo memeluk Maya erat.
“ Sama – sama…semoga tidak ada kendala sampai hari H ya...”, doa Maya untuk keponakannya.
Setelah berpamitan, Aldo dan ajeng segera meninggalkan butik menuju percetakan dimana undangan pernikahan mereka akan dibuat.
“ Yang ini bagus yang…”, ucap Aldo sambil menunjuk desain undangan yang dipegangnya.
__ADS_1
“ Bisa nggak mas undangan ini diberi hiasan bunga kering dan dedaunaan agar terlihat alami ”, ucap Ajeng menjelaskan detail undangan yang diinginkan.
Sesuai temanya “ Garden Party”, Ajeng ingin semuanya terlihat menyatu dengan alam. Baik itu gaun, dekorasi, hingga undangannya.
Simple namun berkesan, itulah yang ingin Ajeng buat dalam pesta pernikahannya nanti. Karena menikah adalah satu hal yang dilakukan sekali seumur hidup, Ajeng ingin membuatnya secara spesial, meski tidak mewah.
Setelah semuanya selesai hari sudah gelap. Sebelum pulang Aldo menyempatkan diri untuk mengajak sang kekasih makan malam.
Setelah selesai makna, mereka berdua segera bergegas pulang ke rumah masing – masing karena masih banyak hal yang harus mereka siapkan esok hari.
Felicia yang melihat kesibukan Ajeng dalam mempersiapkan hari bahagianya mencoba untuk membujuk suaminya kembali agar diijinkan untuk datang ke café dan mengelolanya seperti biasa.
“ Ayolah mas…ijinkan aku ke café ya….kasian Ajeng kalau tidak kubantu ”, renggek Felicia kepada suaminya.
“ Tidak…”, jawab Alfredo datar.
“ Mas….”, renggeknya lagi.
Tidak ingin luluh atas rengekan istrinya, Alfredopun langsung beranjak meninggalkan Felicia begitu saja dan pergi bermain bersama baby Rafael dan Sammy diruang keluarga.
“ Hmmm…tampaknya ini akan sulit ”, batin Felicia sambil menghembuskan nafas dengan kasar.
Saat bermain dengan kedua putranya, Alfredo seringm elirik istrinya yang terlihat sedih. Bukannya dia tidak ingin memberikan ijin, hanya saja Alfredo takut jika nantinya ada laki – laki yang mendekati istrinya.
Wajah Alfredo yang gundah dan wajah Felicia yang terlihat sedih membuat Mia yang sedari tadi diam akhirnya kembali bertanya – tanya.
“ Kenapa lagi dengan mereka…”, batin Mia cemas.
Hingga akhirnya pembicaraan berujung pada pembahasan tentang keinginan Felicia untuk kembali aktif mengelola cafenya dengan alasan ingin memberikan Ajeng waktu luang dalam mempersiapkan segala keperluannya sampai dengan hari H.
Mia sebenarnya tidak mempermasalahkan kalau menantunya itu ingin aktif mengelola kembali cafenya. Dengan usia Rafael yang beranjak tujuh bulan tentunya sudah bisa ditinggal ataupun dibawa ikut ke café dengan
ditemani bik Ina tentunya.
“ Nanti akan mami coba bujuk suamimu…kamu jangan sedih ya ”, ucap Mia lembut.
Feliciapun segera membaringkan kepalanya dipangkuan ibu mertuanya itu. Mia yang melihat menantunya sedih mencoba untuk menghibur dan memberikan pengertian agar sabar.
Sentuhan lembut Mia diatas kepalanya membuat Felicia secara tidak sadar tertidur dipangkuan ibu mertuanya.
Alfredo yang melihat hal itu segera mengangkat sang istri dan memindahkannya keatas ranjang tempat tidurnya.
Selanjutnya dia menemani putra sulungnya untuk tidur di dalam kamar. Sedangkan baby Rafel sudah dari tadi ditidurkan oleh bik Ina.
“ Setelah Sammy tidur, temui mami dibawah. Ada yang mau mami bicarakan ”, ucap Mia sebelum Alfredo naik untuk menemani Sammy tidur.
“ Baik mi…”, ucapnya sambil melangkah naik kekamar Sammy.
__ADS_1
Setelah Sammy tertidur, dia segera pergi keruang keluarga menemui maminya. Mia mulai berusaha untuk membujuk anak semata wayangnya itu untuk lebih fleksibel terhadap istrinya.
“ Kamu harus percaya sama istrimu. Bukannya suatu hubungan itu akan langgeng jika didasari dengan rasa kepercayaan antara kedua belah pihak ”, ucap Mia tajam.
“ Aku percaya sama Felicia mi…tapi aku tidak percaya dengan mereka…”, ucap Alfredo terlihat sedikit frustasi.
“ Sampai kapan kamu akan seperti ini…”, ucap Mia geram.
“ Berilah sedikit kebebasan dan biarkan istrimu berkreasi….”, ucap Mia pelan.
“ Dia sudah berkorban banyak hal buat kamu, anak – anakmu, dan keluarga kita ”, ucap Mia menasehati.
Alfredo terdiam mendengarkan penuturan sang mami. Dia sadar istrinya tersebut sudah mengorbankan masa mudanya demi mengurus keluarganya.
Tapi ego dan rasa takut kehilangan yang cukup besar membuatnya sedikit mengabaikan fakta yang ada didepan matanya itu.
Cukup lama Alfredo terdiam dan merenungkan setiap perkataan sang mami. Tampaknya dia harus mulai membiarkan istrinya beraktivitas seperti biasa, meski itu sulit namun dirinya akan berusaha untuk mencoba
melawan setiap pikiran negatif saat Felicia berada diluar.
“ Terimakasih atas nasehatnya mi…coba nanti aku pikirkan lagi. Kuharap keputusanku kali ini tidak salah ”, ucap Alfredo lirih dan membaringkan kepalanya di pangkuan sang mami.
“ Mami tau kamu sangat sayang sama istrimu, tapi mengekangnya bukanlah jalan yang terbaik. Justru hal tersebut bisa membuat istrimu suatu saat jenuh dan pergi meninggalkanmu. Mami hanya ingin melihat kebahagian kalian berdua…”, ucap Mia lembut sambil mengusap kepala anaknya dengan penuh kasih sayang.
Keesokan harinya Alfredo menyuruh Alex untuk menyulap ruang kerja Felicia yang ada di café utama agar nyaman ditinggali baby Rafael.
Mendapat perintah tersebut Alex segera menjalankan apa yang sudah diperintahkan oleh bosnya. Pagi itu seleopas meeting dia langsung meluncur ke cafe Felicia yang ada di jalan kaliurang.
Sesampainya disana, Alex beserta tim segera menyampaikan apa yang diperintahkan oleh bosnya kepadanya. Meski sempat terkejut, namun Ajeng akhirnya mengijinkan Alex untuk mendesain ulang ruang kerja Felicia.
Tidak banyak hal yang dirubah dalam ruangan itu, Alex hanya menambah kursi buat Felicia menyusui dan satu tempat diujung ruangan sebagai tempat bermain baby Rafael.
Tidak lupa, Alex juga menyediakan tempat tidur kecil untuk baby Rafael di samping kursi yang akan digunakan Felicia menyusui.
“ Akhirnya suamimu mengijinkanmu keluar juga dari sangkar emasmu... ”, ucap Ajeng terkekeh saat menghubungi
Felicia pagi itu.
“ Aku tidak menyangka akhirnya dia mengijinkanku…ini semua pasti berkat bujukan mami ”, ucap Felicia lega.
“ Ya…semoga selama kamu disini para fansmu tidak kembali datang mengejarmu…”, ucap Ajeng mengoda.
“ Asal mulutmu tidak ember, mereka pasti tidak tahu ”, ucap Felicia ketus. Mendengar hal itu Ajeng hanya bisa tertawa terbahak – bahak. Kemuidian dia menutup teleponnya karena ada klien yang datang.
“ Semoga nanti Aldo bisa sayang sama aku seperti Alfredo sayang kepada Felicia, meski kadang cara pengungkapannya secara berlebihan ”, batin Ajeng penuh harap.
Setelah memakan waktu hampir seharian penuh, akhirnya semua hal yang dilakukan oleh Alex dan tim selesai. Diapun segera mengirim beberapa gambar hasil kerjanya kepada sang bos. Alfredo yang melihat gambar yang dikirim Alex tersenyum bahagia.
__ADS_1
“ Semoga langkahku kali ini tepat ”, batin Alfredo cemas.
Entah kenapa dia masih belum terlalu yakin akan tindakannya mengijinkan istrinya untuk kembali aktif mengelola cafenya.