
Sudah satu bulan sejak kejadian Yasmin mengunting gaun Ajeng, sejak saat itu juga mantan kekasih Aldo itu berusaha mengacaukan acara pernikahan sahabatnya yang kurang satu bulan lagi.
Mulai dari sabotase terhadap undangan yang dikirim percetakan melalui jasa kurir sehingga undangan tersebut tidak sampai ketangan Ajeng hingga masalah gedung dan catering.
Undangan pernikahan Ajeng yang diambil tersebut dihancurkan oleh Yasmin melalui orang – orang suruhannya ditengah perjalanan.
Kurir yang membawa undangan tersebut sempat melawan, namun gagal. Akibatnya dia mendapatkan luka yang cukup serius dibagian tangan terkena sabetan pisau dari orang sewaan Yasmin.
Kejadian tersebut sudah dilaporkan kepihak berwajib, tapi karena kurangnya bukti dan kurir yang terluka tidak mau bersaksi karena mendapatkan ancaman maka Yasmin tidak bisa ditangkap.
Akibat hal tersebut Ajeng terpaksa harus mencetak ulang undangan yang ada dalam kurun waktu yang tinggal sedikit itu.
Agar tidak terjadi hal serupa, Ajeng menggunakan jasa percetakan yang biasa menangani urusan yang ada dikantor Alfredo sehingga halserupa tidak akan terulang kembali.
Setelah menyabotase undangan, Yasmin juga mengacaukan beberapa pesanan makanan yang sudah disiapkan jauh – jauh hari oleh Ajeng.
Untungnya hal tersebut bisa diatasi oleh Roland yang memang ditugaskan untuk mengamankan semua hal yang berhubungan dengan pernikahan sahabat istrinya itu.
Gagal dalam menyabotase segala hal yang berkaitan dengan pelaksaan acara pernikahan kekasih hatinya itu membuat Yasmin akhirnya nekat untuk mencelakai Ajeng.
“ Kurasa aku benar – benar harus membunuhnya agar pernikahan tersebut batal ”, batin Yasmin penuh amarah.
Namun lagi – lagi usahanya tersebut gagal total karena ketatnya penjagaan yang dilakukan Roland terhadap Ajeng.
Felicia yang mendengar keselamatan sahabatnya terancam akhirnya meminta ijin kepada suaminya untuk menemani Ajeng hari ini untuk melakukan fiting gaun pengantin di butik Maya.
Alfredo pada awalnya tidak menyetujui hal tersebut karena takut terjadi sesuatu yang buruk pada istrinya, mengingat banyaknya tindakan yang telah dilakukan oleh Yasmin untuk mencelakai Ajeng.
Setelah dipaksa dan diberi pengertian berkali – kali akhirnya dengan berat hati dia mengijinkan istrinya pergi dengan syarat tidak boleh terlalu jauh dari Roland.
Tidak ingin berdebat dengan suaminya, Felicia pun mengiyakan semua syarat yang diberikan oleh Alfredo agar dirinya bisa menemani Ajeng keluar hari ini.
“ Terimakasih ya babe…kamu sudah mau menemaniku hari ini ”, ucap Ajeng penuh haru.
“ Tentu saja jeng…bagaimana pun juga kamu adalah sahabat sekaligus saudaraku ”, ucap Felicia sambil memeluk Ajeng dengan erat.
Mereka berduapun segera masuk kedalam mobil menuju butik Maya berada. Yasmin yang sudah mengintai Ajeng sejak keluar dari rumah terus membututinya.
“ Akan kupastikan kali ini usahaku tidak akan gagal ”, ucap Yasmin penuh penekanan.
Roland yang sempat menyadari keberadaan mobil Yasmin sempat mengecohnya dan membuat mantan kekasih Aldo tersebut kehilangan jejak.
“ Sial…aku kehilangan jejak ”, guman Yasmin penuh amarah.
Diapun kemudian segera memacu mobilnya untuk mencari keberadaan Ajeng di beberapa tempat yang akhir – akhir ini sering dikunjunginya.
Sementara itu Ajeng dan Felicia yang sempat terkena macet selama perjalanan akhirnya sampai didepan butik Maya dan langsung masuk kedalam.
Para pegawai di butik yang memang sudah menunggu Ajeng segera membawanya masuk kedalam ruangan khusus yang biasanya digunakan oleh Maya untuk menerima tamu VVIP nya.
Mereka tidak mau mengambil resiko dengan membiarkan Ajeng mencoba gaun pengantinnya diruangan yang biasa digunakan para pelanggan.
__ADS_1
Kejadian penyerangan tersebut masih membekas dihati para karyawan dan sedikit menimbulkan trauma bagi karyawan yang sempat terkena tusukan gunting dari Yasmin.
“ Wah…kamu cantik sekali…”, ucap Felicia dengan sorot mata berbinar.
“ Ku yakin pasti Aldo terpesona melihatmu…”, ucapnya masih dengan boal mata berbinar.
Feliciapun segera menyuruh Ajeng untuk memutar tubuhnya dan mulai mengambil beberapa gambar sahabatnya itu.
“ Apaan sih…bikin malu aja…”, ucap Ajeng dengan pipi merona.
Tapi Felicia tidak menghiraukan aksi protes sahabatnya itu. Gambar yang telah diambilnya segera dikirim ke ponsel Aldo.
Aldo yang mendapatkan kiriman gambar dari Felicia hanya bisa tersenyum simpul melihat betapa cantiknya calon istrinya itu.
“ Konsentrasi…”, ucap Alif mengingatkan adiknya karena saat ini mereka masih berada di ruangan untuk
meeting dengan beberapa investor yang berniat untuk bekerja sama dengan perusahaan konstruksi yang didirikan oleh Aldo dan Alif tiga tahun yang lalu.
Aldopun langsung memasukkan ponselnya kedalam kantong jasnya dan kembali fokus pada meeting yang sedang berlangsung.
Setelah semuanya selesai Ajeng dan Feliciapun segera keluar dari dalam butik dan menyuruh karyawan agar mengantarkan gaun tersebut kerumahnya setelah diperbaiki, karena tadi ada beberpa jahitan yang terlihat
kurang rapid an ada sedikit manik – manik yang terlepas.
Sebelum masuk kedalam mobil Felicia ingat kalau didekat butik ada toko kue yang sangat enak. Dia berencana untuk membelikan keluarganya kue disana, terutama Sammy yang sangat suka sama chesse cake.
Namun saat Felicia dan Ajeng hendak menyeberang jalan tiba –tiba ada mobil yang melaju dengan kecepatan penuh kearah mereka.
Untung saja Roland dengan sigap menarik tubuh kedua gadis itu saat dilihatnya dari jauh ada sebuah mobil dengan kecepatan tinggi sengaja memgarah ke arah istri bosnya tersebut.
Kepala Ajeng yang hampir menyentuh aspal jalan raya segera ditahan dengan tangan kanan
Felicia hingga menyebabkannya sedikit terkilir dan lecet.
“ Kamu tidaka apa – apa Jeng…”, tanya Felicia panik.
“ Kenapa kamu malah mengkhawatirkan kondisiku…lihat tanganmu berdarah ”, ucap Ajeng yang lalu mengambil tisu untuk membersihkan telapak tangan Felicia yang terluka akibat menahan kepalanya agar tidak menyentuh aspal secara langsung.
“ Ini hanya luka ringan, sebentar lagi sembuh ”, ucap Felicia dengan senyum yang sedikit dipaksakan.
Tiba – tiba Felicia merasakan sakit yang lumayan dipergelangan tangan kanannya saat berusaha untuk menggerakkannya.
“ Sebaiknya kita pulang saja, aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu ”, ucap Ajeng dengan tatapan horror.
Dia merasa ngeri saat membayangkan amarah Alfredo saat melihat istrinya terluka. Felicia yang melihat raut ketakutan dari sahabatnya itu akhirnya menurut dan segera masuk kedalam mobil.
Roland yang sedikit hafal dengan warna dan plat nomor mobil Yasmin segera menyuruh anak buahnya untuk melacak keberadaan mobil Yasmin lewat pantauan cctv yang dimiliki petugas disepanjang jalan.
Alfredo yang mendengar istrinya hampir saja ditabrak dan terluka terlihat sangat marah. Apalagi saat dia mengetahui bahwa orang yanga hendak menabrak istrinya dan Ajeng adalah Yasmin membuat dirinya murka.
“ Tampaknya mereka mau main – main denganku ”, guman Alfredo berang.
__ADS_1
Dia segera menghubungi anak buahnya agar membuat perhitungan terhadap Ibra agar putri bungsunya tersebut bisa dikendalikan.
Ibra yang baru saja keluar dari rumah sakit cukup terkejut terhadap peringatan yang diberikan oleh anak buah Alfredo kepadanya.
“ Ada apa pi….”, tanya Susi cemas saat melihat raut muka suaminya yang terlihat tegang setelah selesai
menerima telepon.
“ Anak itu…”, ucap Ibra sambil memegangi dadanya yang tiba – tiba terasa sangat sakit.
“ Tarik nafas pi…papi harus tenang ya…”, ucap Susi sambil membantu suaminya untuk duduk diatas ranjang.
Susipun segera membantu suaminya meminum obat yang diberikan dokter kepadanya agar rasa sakit yang dirasa bisa sedikit berkurang.
Setelah meminum obat, Ibra secara perlahan mulai memejamkan kedua matanya. Saat suaminya sudah tertidur Susi segera mengambil ponsel suaminya dan melihat siapa yang baru saja menghubungi suaminya.
Anak buah Alfredo yang dihubungi Susi melalui ponsel suaminya kembali memberi peringatan agar segera mengatasi putri bungsunya yang telah mencelakai istri Alfredo.
Ini adalah peringatan terakhir bagi keluarga Ibra, jika masih saja Yasmin berulah maka bisa dipastikan keluarga tersebut akan menerima akibatnya.
Mendengan hal tersebut Susi terlihat sangat geram terhadap tingkah laku Yasmin yang selalu saja membuat masalah bagi keluarganya.
Susi berusaha untuk menghubungi putri bungsunya tersebut namun tidak diangkat, bahkan sekarang ponsel Yasmin sengaja dimatikan.
“ Albert….cepat cari Yasmin dan seret dia pulang sekarang. Aku tidak mau tahu bagaimana caranya, pokoknya aku mau hari ini dia ada dirumah ”, teriak Susi saat menghubungi Albert, salah satu orang kepercayaannya.
Daniel dan Raka yang baru saja datang darui kantor sedikit terkejut dengan suara teriakan maminya yang berada diatas tangga.
Merekapun segera menghampiri sang mami dengan tergesa – gesa, takut terjadi sesuatu dengan sang papi mengingat kondisi beliau masih belum pulih pasca operasi.
“ Ada apa mi…papikenapa…”, ucap Raka dan Daniel berbarengan.
“ Papa sudah tidak apa – apa, sekarag lagi beristirahat ”, ucap Susi sedih.
“ Sekarang yang perlu kalian khawatirkan adalah masa depan keluarga kita…”, ucap Susi sambil berderai air mata.
“ Keluarga kita…”, tanya Daniel binggung.
“ Tolong jelaskan pada kami mi…”, ucap Raka penasaran.
“ Ini semua ulah adikmu….ta..tadi ada orang perwakilan pihak Bramasty menghubungi papimu dan memberikan ancaman kalau adikmu tidak menghentikan tindakannya maka jangan salahkan mereka jika membuat perhitungan dengan kita ”, ucap Susi sedih.
“ Sudah kuduga…”, ucap Raka terduduk lemas.
“ Memang apalagi yang telah diperbuat Yasmin…”, tanya Daniel penasaran.
“ Katanya, Yasmin baru saja melukai istri Alfredo ”, ucap Susi dengan berderai air mata.
Daniel yang melihat tubuh maminya hampir terjatuh segera menopangnya dan memapahnya menuju sofa yang berada diruang keluarga lantai atas.
“ Kamu temani mami. Aku akan mencari Yasmin…”, ucap Raka sambil beranjak dari tempat duduk setelah mengambilkan maminya segelas air putih agar tenang.
__ADS_1
“ Aku tidak akan membiarkan dia menghancurkan keluarga kita…tidak akan pernah…”, ucap Raka geram.
Diapun segera meningglakan Susi dan Daniel untuk pergi mencari adik bungsunya. Dirinya sudah cukup mentolerir semua tindakan Yasmin selama ini.