Lika - Liku Cinta Alfredo

Lika - Liku Cinta Alfredo
USAHA


__ADS_3

Tok….Tok…Tok…


" Ya ...", ucap Felicia membuka pintu kamar sambil menguap dengan rambut acak - acakan khas orang bangun tidur.


" Ini masih jam lima pagi Anton...", gerutu Felicia sebal.


" Ini ada paket buat kamu ", ucap Anton sambil menyerahkan satu bucket mawar putih dan sebuah kotak besar berwarna putih.


" Dari siapa? ", tannya Felicia heran.


" Baca sendiri aja, itu ada kartunya " , ucap Anton cuek sambil menunjuk kartu yang ada didalam bucket bunga sambil pergi dari kamar Felicia.


Felicia yang merasa heran hanya bisa garuk - garuk kepala. Dibacanya tulisan yang ada diatas kartu.


... Cinta kita kuat tak terbatas ...


... Jangan biarkan kesalapahaman Menghancurkan cinta kita ...


... Tidak ada yang bisa mengantikanmu dihatiku...


... Aku mencintaimu ...


... Mohon.....maaf kan aku...


...Kekasihmu ALFREDO...


"Tumben mas bisa seromantis ini ", batin Felicia sinis sambil mulai membuka kotak putih yang ada dihadapannya.


" Dia pikir bisa menyogokku dengan ini " , guman Felicia sebal dan menutup secara asal kotak kue yang ada dihadapannya.


Setelah selesai mandi dan berpakaian rapi, Felicia keluar dari dalam kamarnya sambil membawa kotak yang berisi aneka kue dan ditaruhnya diatas meja.


"Wah....enak ini ", ucap Wisnu sambil mencomot satu kue dan langsung memakannya hingga habis.


" Woy....lapar apa doyan lu...", ucap Anton sambil memukul kepala Wisnu yang hendak mengambil kue keduanya.


"Udah ijin yang punya belum ? mau mati lu...", ucapnya lagi sambil menunjuk sebuah kertas dengan tulisan " Dari Alfredo " .


" Kenapa nggak ngomong dari tadi sih lu....mana udah masuk perut lagi ", ucap Wisnu cemas.


Meliha tingkah kedua sahabatnya, Felicia yang baru saja bergabung hanya bisa tersenyum kecil.


" Nggak apa - apa. Habisin aja sekalian" , ucap Felicia sambil tersenyum.


" Maaf ya, aku nggak tau kalau ini dari ayang bebebnya Felicia ", ucap Wisnu merasa bersalah.


" Sudah....nggak apa - apa, habisin saja. Aku kalau pagi tidak biasa makan kue kaya gini ", ucapnya lagi.


" Serius...", ucap mereka berbarengan.


" Dua rius malah " , jawab Felicia sambil tersenyum.


Tidak memerlukan waktu yang cukup lama bagi Anton dan Wisnu untuk menghabiskan beraneka macam kue yang ada didalam kotak.


Bagi mereka makan roti atau sejenisnya itu tidak membuat perut kenyang, kalau belum makan sama nasi.


Professor Willy yang baru bergabung diruang tamu hanya bisa geleng - geleng kepala melihat kelakuan dua mahasiswanya itu.


" Syukurlah....dia sudah bisa tersenyum pagi ini " , batin Willy bahagia.


" Ayo bersiap, semuanya harus selesai hari ini biar sore kita bisa balik ke j**a " , ucap professor Willy sambil menyiapkan perlengkapan yang akan dibawanya kekampus.


"Lho...bukannya kita baru pulang besok prof " , tanya Wisnu dengan muka belepotan krim.


" Saya ada urusan pentinh, jadi kita harus pulang sore ini " , ucapnya lagi.

__ADS_1


" Oh....baiklah kalau begitu ", jawab ketiga mahasiswanya kompak dan segera bersiap pergi kekampus.


Sementara itu, Alfredo yang mulai semalam tidak bisa tidur memikirkan kekasihnya, akhirnya pagi ini berinisiatif menyuruh orang mengantar bucket bunga dan kue untuk kekasihnya sebagai ucapan permintaan maaf.


Selanjutnya, pria tampan itu langsung meluncur ke X City untuk bertemu calon kakak iparnya, Leon.


Berbekal informasi dari anak buahnya, kekasih Felicia itu tidak terlalu kesulitan mencari alamat yang hendak dituju.


Leon yang baru saja pulang dari tempat kerja sangat terkejut dengan kedatangan Alfredo pagi - pagi di rumahnya.


Begitu juga dengan Ira, istri Leon yang sama terkejutnya dengan sang suami.


Setelah berbasa - basi sebentar, akhirnya Alfredo mengungkapkan maksud dan tujuannya datang kerumah calon kakak iparnya itu, yaitu meminta restu untuk bisa menikah dengan adiknya, Felicia.


" Kenapa kamu ingin menikah dengan adikku ? " , tanya Leon penuh selidik.


" Karena aku mencintainya ", ucap Alfredo singkat.


" Benarkah...?" , tanya Leon sinis.


" Kalau kamu sangat mencintainya, bagaimana bisa kamu selalu menempatkan adikku dalam kondisi bahaya seperti itu " , sindir Leon.


Alfredo yang mendengar penuturan Leon agak sedikit terkejut.


Bagaimana mungkin calon kakak iparnya itu bisa tahu kalau Felicia beberapakali berada dalam bahaya.


Padahal mereka belum pernah bertemu dan berkomunikasi sejak sepuluh tahun yang lalu.


"Jangan - jangan Leon juga tahu kalau adiknya sempat diculik " , batin Alfredo cemas.


Melihat perubahan raut muka kekasih adiknya itu, Leon hanya bisa tersenyum tipis.


Dipandanginya pria yang ada didepannya itu dengan seksama.


" Jangan kaget. Meski aku tidak berada disamping adikku, tapi aku selalu memantau setiap perkembangan yang ada dalam dirinya" , ucap Leon seakan menjawab pertanyaan yang ada dikepala Alfredo.


Aura membunuh sangat terasa saat Leon memberikan pernyataan terakhirnya, membuat bulu kuduk Alfredo merinding seketika.


" Aku akan bertanggung jawab dengan semua yang telah aku lakukan. Aku juga berjanji akan selalu menjaga dan membuat Felicia bahagia " , ucap Alfredo berusaha meyakinkan.


" Apa aku bisa pegang kata - katamu ", ucap Leon ragu.


" Laki - laki sejati selalu menepati janjinya " , ucap Alfredo mantap.


"Sangat percaya diri. Bagus..." , batin Leon tersenyum.


" Silahkan diminum kopinya ", ucapnya sambil mengangkat cangkir yang ada ditangannya.


Alfredopun segera menyesap minuman yang tersaji didepannya, masih dengan perasaan yang berkecamuk.


Tak terasa keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.


Beberapa kali dia terlihat menyeka keringat didahi dan lehernya.


Padahal pagi itu udara sedang dingin - dinginnya, namun tidak dengan Alfredo yang merasa kepanasan dan tegang selama obrolan berlangsung.


Tidak ingin meninggalkan kesan buruk, pria tampan itu berusaha untuk setenang mungkin dan terlihat percaya diri agar Leon mau menyerahkan adik semata wayangnya untuk dirinya.


Ditatapnya lagi Alfredo dengan intens, mencari hal apa yang bisa membuat seorang Felicia bisa jatuh hati pada duda beranak satu ini.


" Tidak ada yang special selain wajahnya yang tampan dan rasa percaya dirinya yang cukup tinggi ", batin Leon.


Kemudian Leon teringat perkataan istrinya semalam.


Istrinya bercerita kalau adiknya itu semalam datang dengan Willy, dosen sekaligus sepupu dari orang kepercayaannya Leon.

__ADS_1


Melihat interaksi yang terjadi diantara mereka berdua, Ira yakin kalau Willy memiliki perasaan terhadap adik iparnya itu.


Begitu juga dengan Felicia yang terlihat sangat nyaman saat bersama dengan Willy. Tapi mungkin adik iparnya tersebut tidak menyadari kalau dirinya memiliki perasaan terhadap dosen tampannya itu.


Mendengar cerita sang istri membuat Leon harus berpikir ulang untuk menerima lamaran Alfredo.


Leon yang dari awal kurang setuju adiknya itu menjalin hubungan dengan duda beranak satu ini, tentunya akan lebih memilih Willy sebagai calon adik iparnya.


Karena selain tampan dan mapan, Leon juga sudah kenal dekat dengan keluarga besar Ardinanta, karena berkat mereka lah Leon bisa sukses seperti sekarang.


Sedangkan dengan Alfredo, selain usianya yang jauh lebih tua dari adiknya , selama menjalin hubungan dengannya Felicia selalu berada dalam bahaya.


Hal tersebut yang membuat Leon ragu melepaskan adiknya kepada pria beranak satu itu.


" Maaf, bukannya aku menolak. Aku hanya harus berbicara dengan adikku dulu sebelum mengambil keputusan " , ucap Leon dengan suara lembut.


" Aku akan mengikuti apa yang sudah menjadi keputusan Felicia " , ucapnya lagi.


" Terimakasih kak, atas jamuannya. Karena masih ada hal yang harus saya kerjakan, saya undur diri dulu ", ucap Alfredo sopan sambil berdiri menjabat tangan Leon dan istrinya sebelum masuk kedalam mobil.


Meski Leon tidak mengatakannya secara langsung, tapi Alfredo cukup paham jika kakak Felicia itu kurang begitu suka dengan dirinya.


Penolakan itu tidak membuat Alfredo patah semangat. Malah sebaliknya, dia merasa tertantang untuk membuktikan kepada Leon bahwa dirinya layak menjadi pendamping Felicia.


Bagaimanapun caranya, dia akan berjuang terus sampai mendapatkan restu untuk menikah dengan sang pujaan hati.


" Saat ini aku harus meyakinkan Felicia, bahwa aku dan Cecilia tidak ada hubungan apa apa. Aku harus membuktikannya, dan menjauhkannya dari Willy, serigala berbulu domba itu ", guman Alfredo geram saat mengingat dosen kekasihnya itu.


Meski tidak cukup akrab, tapi dirinya cukup tahu siapa Willyandaru Putradinata.


Sebagai salah satu dosen muda berbakat, apa yang ditampilkan diluaran bukanlah wajah sebenarnya.


Tidak banyak yang tahu tentang sisi gelap seorang Willyandaru, hanya orang - orang yang terkoneksi didunia yang sama dengannya saja yang tahu, itupun hanya tahu dirinya sebagai " Black Devil ".


Sebagai seorang professional dan cukup lama berkecimpung disana, dua kepribadian yang ditampilkan oleh Willy tentunya banyak mengecoh semua orang, tapi tidak dengan Alfredo.


Tampaknya usahanya untuk menjauhkan Willy dari kekasihnya tidak akan berjalan dengan mudah melihat betapa dekatnya Felicia dengan sang dosen.


Untuk itu dia harus menyusun rencana yang benar benar matang agar Willy tidak bisa mengambil Felicia dari sisinya.


Drrrtt.....Drrrtt.... Drrrtt...


A : Ya


B : Nona Felicia sekarang sedang dalam perjalanan ke bandara bos...


A : Bukannya baru besok dia pulang ?


B : Saya juga tidak tahu kenapa jadwal kepulangannya dipercepat..


A : Jam berapa pesawatanya berangkat ?


B : Jam dua siang bos...


A : Ok. Siapkan semuanya. Kita balik sekarang..


B : Baik bos....


Setelah menutup sambungan telepon Alfredo segera memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, berharap dia masih bisa bertemu dengan kekasihnya dibandara.


Karena bertepatan dengan jam makan siang, maka lalu - lintas menuju bandara lumayan padat membuatnya terlambat sampai di Bandara.


Melihat kepulangan Felicia dan tim yang cukup mendadak tanpa adanya seorang pun yang tahu ini memperlihatkan bahwa Willy sudah mulai bergerak.


" Arcchhh.....s**l. Aku kalah satu langkah lagi" , umpat Alfredo kesal.

__ADS_1


"Sudah cukup....aku tidak akan membiarkanmu melangkah lebih jauh dari iniWillyandaru !!! ", ucap Alfredo geram.


__ADS_2