
Pagi itu, Alfredo mengelar rapat khusus dengan semua staf yang terlibat dalam proyek yang sedang dikerjakannya.
Ditatapnya satu persatu karyawan yang hadir disana dengan tatapan tajam.
Suasana mendadak terasa sangat mencekam.
Semua karyawan yang hadir tidak ada yang berani untuk bersuara.
Brakk....
" Apa begini cara kerja kalian...", ucap Alfredo memukul meja dengan keras.
Semua orang yang berada disana langsung menegakkan posisi duduknya.
Amarah yang sudah menguasainya sejak semalam akhirnya tumpah juga.
Dilemparnya semua berkas pertanggung jawaban yang diberikan kepadanya pagi ini.
Keringat dingin mulai bercucuran dari tubuh semua yang hadir dalam rapat tersebut.
Mereka tidak menyangka jika pimpinannya tersebut akan tahu secepat itu mengenai penyelewengan dana yang mereka lakukan.
Saat ini yang bisa mereka lakukan hanyalah pasrah menunggu nasib apa yang akan diterimanya.
Ditengah kekalutan yang ada tiba - tiba datang wanita cantik yang langsung masuk dalam ruangan rapat.
Alfredo yang sedang marah langsung terdiam saat melihat siapa yang datang tanpa permisi itu.
Deg....
" Irene....", batin Alfredo terkejut.
Cukup lama dirinya terdiam memandangi sosok wanita yang sampai sekarang masih menempati ruang tersendiri didalam hatinya.
" Kena kamu ", batin Michele senang.
Wanita yang bernama Michele itu segera mengeluarkan umpan beracunnya saat merasa bahwa buruannya sudah masuk kedalam perangkapnya dengan tersenyum manis.
Senyum yang sama dengan senyuman yang biasanya Irene berikan kepada Alfredo.
Kemudian dengan rasa percaya diri yang tinggi wanita tersebut mulai memperkenalkan diri dan tujuannya datang kesana.
Tidak ingin melibatkan stafnya, Alfredopun segera menyuruh semuanya untuk meninggalkan ruang rapat dan hanya menyisakan dirinya dan Alex.
Michele yang sudah dilatih secara personal oleh Setyo untuk bisa menyerupai sosok Irene, baik itu dalam pemilihan kalimat, tutur kata, bahasa tubuh, bahkan cara dia tersenyum semuanya sama dengan mendiang istri Alfredo.
__ADS_1
Saat berbicara dengan Michele, Alfredo merasa seperti sedang berbicara dengan mendiang istri yang sangat dicintainya.
" Semuanya sama...bahkan aroma parfum yang digunakanpun sama ", ucap Alfredo terebuai.
Melihat tawaran kerjasama yang diberikan oleh Michele pada saat kondisi proyeknya sedang dalam kondisi kritis, Alfredo pun dengan cepat menyetujui proposal kerjasama yang diajukan oleh Michele.
Jika Alfredo menganggap bahwa Michele seperti malaikat penyelamat yang datang disaat dirinya membutuhkan bantuan, namun lain hal nya dengan Alex yang menaruh rasa curiga terhadap Michele.
Namun kecurigaan Alex tersebut menurut Alfredo sangat tak beralasan.
Ya...Alfredo sudah masuk kedalam perangkap yang telah dibuat oleh Michele dan Setyo.
" Aku tidak menyangka akan semudah itu mendapatkannya ", ucap Michele bangga
Setangguh apapun pria, dia pasti akan takluk pada wanita yang sangat dicintainya " , ucap Setyo merasa miris.
" Tenang saja, aku janji akan membalaskan dendam mu dan Vera " , ucap Michele sambil mengusap bahu Setyo dengan lembut.
" Hancurkan dia sehancur - hancurnya....aku ingin dia merasakan penderitaan yang cukup dalam...", ucap Setyo penuh amarah.
" Aku ingin dia mati secara perlahan dan menyakitkan ", ucapnya dengan mata yang memerah menahan amarah.
Setelah membereskan semua orang yang telah berkhianat padanya, Alfredo segera menghubungi Michele untuk membuat janji bertemu dengannya membahas semua hal yang terkait dengan kontrak kerjasamanya.
Alfredo yang merasa sangat rindu dengan mendiang istrinya terus saja bertemu dengan Michele dengan alasan pekerjaan.
Alex yang melihat perubahan bosnya yang tidak wajar dengan hadirnya wanita yang mirip dengan mendiang istri bosnya tersebut berusaha untuk mengingatkannya, namun tidak berhasil.
Bahkan Alfredo sampai mengancam akan memecatnya jika dia masih saja terus mencampuri kehidupan pribadinya.
Tidak ingin bosnya terjebak terlalu dalam, akhirnya Alex memberanikan diri untuk menceritakan masalah tersebut kepada Mia.
Mia yang mendengar cerita Alex sangat terkejut, apalagi saat melihat foto wanita yang sangat mirip degan mendiang menantu kesayangannya itu.
Namun bagaimanapun Mia masih bisa menggunakan akal sehat dan sangat yakin bahwa wanita itu bukanlah Irene ataupun saudaranya.
Karena seingat dia Irene merupakan anak tunggal dan kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan tidak lama setelah Irene meninggal saat melahirkan.
" Itu pasti buka Irene...", ucap Mia yakin.
"Saya juga berpikir begitu bu, dan kalau dilihat lihat lebih teliti lagi ada beberapa bagian wajahnya yang memang sengaja dioperasi agar menyerupai mendiang nyonya " , ucap Alex menjelaskan.
" Maksudmu, muka wanita itu hasil operasi plastik? ", ucap Mia penasaran.
" Saya rasa begitu, karena saya punya banyak teman yang melakukan operasi plastik di wajahnya. Kalau diamati secara seksama, dibagian hidung dan bibir sepertinya operasinya tidak terlalu bagus. Tapi semua itu bisa tertutupi dengan penggunaan make up " , ucap Alex menjelaskan secara rinci dugaannya.
__ADS_1
" Lalu bagaimana anak ku yang bodoh itu bisa masuk dalam perangkap wanita itu " , ucap Mia sebal.
Saya rasa wanita ini sudah professional, melihat bagaimana cara dia merayu pak Alfredo. dia tidak hanya menggunakan bagian fisik tubuhnya tapi juga menyentuh emosi Bapak, dan saya rasa dia sepertinya tahu banyak hal tentang pak Alfredo, bahkan masa lalu beliau dia juga paham. Saya rasa dia mungkin adalah orang suruhan musuh bapak bu " , ucap Alex menduga.
"Maksudmu....bisa kamu jelaskan " , ucap Mia ingin tahu detail permasalahan yang ada agar dia bisa mencarikan solusinya.
" Jadi wanita ini datang tepat disaat proyek yang ada di Bogor bermasalah dan membawa solusi yang membuat proyek tersebut terselamatkan. Saya rasa kebetulan ini aneh sekali, apalagi ditambah wajahnya yang mirip dengan mendiang nyonya, jadi saya menduga ada orang yang sengaja melakukan hal itu bu ", ucap Alex berusaha menjelaskan semua fakta yang terjadi.
" Sekarang tugasmu, awasi Alfredo dan diam - diam cari semua informasi mengenai siapa wanita tersebut dan dimana dia melakukan operasi plastik. Ingat....jangan sampai gerak - gerikmu diketahui oleh Alfredo " , ucap Mia tajam.
" Baik bu...", ucap Alex patuh.
" Kabari aku jika ada perkembangan sekecil apapun " , ucap Mia menekankan.
" Aku tidak akan membiarkan siapa saja menghancurkan kebahagiaan keluargaku....tidak akan lagi ", batin Mia penuh amarah.
Selama ini dia sudah membiarkan Vera menghancurkan kebahagiaan putra dan cucu satu - satunya.
Dan sekarang, saat ada gadis yang bisa membuat rumah ini kembali ceria, maka dia tidak akan diam berpangku tangan seperti dulu.
Dia akan menyingkirkan siapa saja yang berpotensi untuk menghancurkan kebahagiaan itu dengan tangannya sendiri.
Sejak dia mengetahui bahwa penyebab dirinya terpuruk dan tidak berdaya karena penyakitnya tersebut adalah Vera, mantan menantunya dulu.
Mia bertekad untuk kali ini dia akan berusaha sekuat tenaga untuk sembuh dan terus menjaga kebahagiaan yang datang kedalam keluarga kecilnya ini.
" Aku tidak akan membiarkan senyumanmu menghilang lagi sayang...", batin Mia bahagia saat melihat senyuman ceria cucunya tersebut saat bersama dengan mamanya.
Felicia yang melihat sedikit kesedihan di wajah mertuanya setelah mengangkat telepon tadi akhirnya mendekatinya dan memberikan segelas teh jahe hangat.
" Mami minum ini supaya badan mami tetap hangat ", ucap Felicia lembut.
" Maksih ya sayang...", ucap Mia tersenyum.
" Oya, kenapa Alfredo belum pulang juga. Apa masalah disana belum beres ? " , tanya Mia memancing respon Felicia.
" Iya mi, kata mas masalah disana cukup rumit sehingga masih harus berada disana untuk waktu yang tidak bisa ditentukan" , ucap Felicia sedih.
Meski Felicia sangat rindu dengan suaminya tapi dia juga tidak ingin egois, bagaimanapun juga suaminya disana sedang bekerja dengan keras demi masa depan keluarganya.
Melihat raut wajah sedih menantunya, Mia hanya bisa mengelus kepala Felicia dengan lembut.
Dia tidak tahu bagaimana reaksi gadis itu jika tahu suaminya disana sedang bersama dengan wanita lain.
" Tidak...Felicia tidak boleh sampai tahu masalah ini ", batin Mia sedih.
__ADS_1
Setelah melihat teh yang disajikannya sudah habis diminum, maka Felicia segera mengajak mertuanya dan anaknya untuk masuk kedalam kamar dan beristirahat.