
Sudah sepuluh hari berlalu sejak terakhir kali kekasihnya menghubunginya di rumah duka waktu kematian tuan Ardinanta, dan sampai saat ini Alfredo sama sekali belum menghubungi Felicia.
" Apa dia sudah tidak perduli lagi padaku" , batin Felicia sedih.
Bukannya sudah tidak perduli, Alfredo hanya mengikuti saran maminya untuk memberikan waktu pada gadisnya tersebut mendinginkan hati dan pikirannya.
Meski begitu, dia masih bisa mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh gadisnya itu setiap hari lewat laporan anak buahnya.
" Seperti yang diucapkan oleh kakak, aku harus menemui Alfredo dan membicarakan semuanya hingga tuntas sehingga aku bisa mengambil keputusan, langkah apa yang harus aku tempuh. Semoga aku tidak salah memilih" , guman Felicia pelan.
" Itu pemikiran yang bagus. Jangan biarkan perasaanmu terombang - ambing seperti ini. Temui Alfredo sekarang juga, semakin cepat itu semakin baik ", ucap Ajeng yang tiba - tiba muncul disampingnya dan memberikan semangat.
"Terimakasih ya jeng...", ucap Felicia yang langsung beranjak menuju mobilnya.
" Ya...aku harus menyelesaikan semuanya hari ini" , ucapnya mantap.
Dilajukannya Chevrolet Camaro merah miliknya menuju kantor Alfredo.
Sebelum masuk kedalam kantor, Felicia menyempatkan diri untuk mampir di café yang berada disamping kantor, membeli kopi dingin dan kue untuk sang kekasih.
Saat sedang menunggu pesanan tanpa sengaja Felicia mendengar bisik - bisik dari beberapa karyawan yang diyakininya sebagai karyawan yang bekerja dikantor Alfredo, dengan melihat tanda pengenal yang mereka pakai.
"Jadi itu calon istrinya pak CEO yang baru" , ucap wanita berambut pendek sebahu.
" Sepertinya begitu, kalau dilihat dari seringnya dia datang kekantor seminggu terakhir, sepertinya begitu" , ucap temannya yang lain.
Felicia yang mendengar hal itu segera mengikuti pandangan karyawan yang bergosip tadi.
Betapa terkejutnya gadis itu saat melihat kekasihnya mengenggam erat kedua tangan wanita yang ada didepannya.
Wanita yang sama dengan yang mencium kekasih tempo hari.
"Kali ini aku tidak boleh melarikan diri. Ayo Felicia, selesaikan sekarang juga ", batin Felicia geram.
Dengan hati panas Felicia melangkahkan kakinya menuju meja tempat kekasih dan wanita itu berada.
" Maaf, apa saya menganggu...", ucap Felicia dengan muka dibuat semanis mungkin.
Alfredo yang sangat terkejut dengan kedatangan kekasihnya secara tiba - tiba, dengan spontan dia langsung melepaskan genggaman tangan wanita yang ada didepannya.
" Enggak kok sayang...kamu sama sekali tidak menganggu" , ucap Alfredo sambil menarik kursi yang ada disampingnya agar Felicia bisa duduk disitu.
"Kenalkan ini Cecilia, teman kuliah yang aku ceritakan tempo hari ", ucapnya lagi.
"Felicia ", ucap gadis itu seramah mungkin, menekan segala macam amarah yang berkecamuk dalam hatinya.
" Sabar Felicia..kamu harus kuat...kita lihat sampai sejauh mana permainan mereka ", batin Felicia geram.
__ADS_1
Melihat raut muka tenang Felicia membuat Alfredo semakin takut. Ditelannya ludah beberapa kali karena tiba - tiba tenggorokannya terasa sangat kering.
Melihat perubahan raut muka sahabatnya tersebut, Cecilia segera buka suara untuk menjelaskan tentang hubungannya dengan Alfredo yang hanya sebatas teman dan rekan kerja.
Cecilia memang akhir - akhir ini sering datang kekantor Alfredo untuk sharing mengenai permasalahan yang dialami perusahaan suaminya.
Karena kebaikan Alfredo, salah satu anak cabangnya yang berada dikota tempat perusahaan suaminya Cecilia berada mengadakan kerjasama untuk kembali meningkatkan kepercayaan para klien yang sempat menghilang karena adanya beberapa kasus yang membuat nama perusahaan suami Cecilia menjadi buruk.
Meski sudah dijelaskan semuanya, tapi Felicia merasa masih ada sesuatu hal yang menganjal hatinya.
Bagaimana kekasihnya tersebut bisa bersikap mesra didepan umum seperti itu.
Saat dirasa Felicia sudah bisa menerima semua penjelasan yang ada, maka Cecilia pun segera undur diri agar sepasang kekasih yang berada didepannya segera menyelesaikan kesalahpahaman yang ada diantara mereka.
"Ayo kekantor, ada sesuatu hal yang ingin aku biacarakan lagi denganmu" , ucap Alfredo sambil mengenggam tangan Felicia.
Namun genggaman tersebut dilepaskan oleh Felicia dengan kasar dan dia segera melangkah lebih dulu meninggalkan Alfredo yang berjalan dibelakangnya sambil menghela nafas panjang.
" Kirain sudah beres, ternyata masih marah" , ucap Alfredo sedih.
Tidak mau ramai dimuka umu, dibiarkan Felicia melakukan apa yang diinginkannya.
Sesampainyadodepan ruang kerja kekasihnya, Felicia segera menyerahkan bungkusan kopi dan kue yang tadi dibelinya di bawah kepada Alex dan Cindy asisten Alfredo.
" Ini Buat kalian " , ucap Felicia ramah.
" Terimaksih bu ", ucap mereka kompak.
Sebelum masuk Alfredo memberitahu asistennya agar jangan ada yang menganggu mereka berdua didalam.
"Apa yang ingin mas katakan ", tanya Felicia to the point.
" Kurasa kamu sudah dengar sendiri dari Cecilia bahwa aku dan dia tidak ada hubungan apa pun. Hubungan kami murni pertemanan dan sebatas rekan kerja. Lagian dia juga sudah punya suami dan anak ", ucap Alfredo menjelaskan.
"Hmmm.....", jawab Felicia acuh.
"Kamu masih marah sama aku ya sayang", ucap Alfredo merajuk.
" Kalau mas tidak bisa menjaga perasaanku, seharusnya mas bisa menjaga harga diri dan nama baik keluarga mas" , ucap Felicia sinis.
"Maksudmu apa....tolong kamu jelaskan...mas masih tidak begitu mengerti, ucap Alfredo binggung.
"Menurut mas, apa tindakan mas itu pantas. Bermesraan seperti itu di depan umum.." , ucap Felicia geram.
"Untuk masalah itu, kan mas sudah bilang kalau Cecilia itu besar di luar negeri. Jadi hal seperti itu sudah biasa ", ucap Alfredo membela diri.
" Biasa bagi mas dan dia, tapi tidak bagiku dan orang lain yang melihat " , ucap Felicia sewot.
__ADS_1
"Mas tidak perduli dengan apa yang orang lain pikirkan tentang mas ", ucap Alfredo datar.
" Aku perduli...dan kurasa, mami sama Sammy juga akan bicara hal yang sama jika mereka tahu kelakuan papanya di luar ternyata seperti itu ", ucap Felicia kecewa.
"Aku menyesal telah membela mas mati - matian didepan kak Leon. Jika ternyata kelakuan mas aslinya seperti ini ", ucap Felicia geram.
" Aku benar - benar kecewa sama kamu mas , ucap Felicia dengan mata berkaca kaca.
Alfredo yang melihat kesedihan di wajah kekasihnya segera berjalan mendekat dan memeluknya, tapi pelukan tersebut ditepis oleh Felicia.
"Sebaiknya kita akhiri hubungan kita sampai disini ", ucap Felicia sedih.
Dipeluknya tubuh Felicia dengan erat, meski meronta dengan keras tapi Alfredo sama sekali tidak berniat untuk melepaskannya.
" Tidak....tidak....jangan katakan itu. Kumohon " ,bisik Alfredo sedih.
Dia biarkan gadis yang ada didekapannya memukulnya berulang kali.
Melampiaskan semua kemarahan yang ada di hatinya. Hingga akhirnya pukulan tersebut semakin melemah dan hanya meninggalkan isak tangis yang terdengar sangat menyayat hati.
Dikecupnya berulang kali pucuk kepala Felicia sambil meminta maaf.
Alfredo merasa sangat bodoh, dia tidak menyadari kalau perbuatan dan ucapannya dapat melukai perasaan kekasihnya hingga sedalam ini.
Setelah gadis yang ada dalam dekapannya merasa lebih tenang, Alfredo segera membawanya duduk di sofa.
Diambilkannya air minum dan berjongkok dihadapan kekasihnya yang masih enggan untuk menatap wajahnya.
" Kamu boleh marah, boleh mencaci maki aku, boleh pukul aku sepuasmu. Tapi satu..., tolong jangan pernah ucapkan kata - kata itu lagi. Aku sangat sayang sama kamu. Aku nggak mau berpisah dari kamu ", ucap Alfredo memohon sambil mengecup punggung tangan Felicia dengan lembut.
"Tolong katakan apa yang harus mas lakukan agar kamu percaya sama mas" , ucap Alfredo penuh harap.
Dipejamkannya kedua mata sambil menghirup nafas dalam - dalam.
Meski sangat kecewa, tapi Felicia tidak bisa memungkiri perasaannya bahwa dia masih sangat mencintai laki - laki yang ada didepannya itu.
"Jangan pernah bertemu dengan wanita itu lagi ", ucap Felicia parau dengan amarah yang tertahan.
"Jika mas ingin melakukan sesuatu hal, tolong ingat aku, Sammy dan mami. Jangan kecewakan kami " , ucap Felicia kembali berurai air mata.
" Makasih sayang....mas janji mulai sekarang mas tidak akan bertemu dan berhubungan dengan Cecilia lagi. Biar urusan dia nanti Alex dan Cindy yang mengatasinya " , ucap Alfredo bahagia sambil mengusap air mata Felicia dengan tangannya.
" Mas juga berjanji tidak akan melakukan tindakan yang akan membuatmu, Mami dan Sammy kecewa terhadap mas, ucapnya sambil memeluk kekasihnya itu dengan erat.
" Mas hanya manusia biasa yang bisa salah dan khilaf. Jika ada tindakan ataupun perkataan mas yang diluar batas, tolong ingatkan. Jangan hanya diam, biar permasalahan tersebut bisa segera terselesaikan dan tidak berlarut - larut seperti ini " , ucapnya lagi dan dibalas anggukan oleh Felicia.
Setelah mengusap air mata yang tersisa, mereka berdua saling memandang dengan tatapan penuh kerinduan.
__ADS_1
Hingga tak terasa wajah mereka semakin lama semakin dekat dan kedua bibir mereka saling bertemu. Alfredo segera m*****t bibir merah yang selama ini dia rindukan.
Mereka berdua menikmati waktu yang ada untuk melepas segala kerinduan yang selama ini menyesakkan dada.