
Sidang perdana yang menghadirkan Santi sebagai saksi sempat ricuh karena banyak masyarakat yang hadir merasa marah terhadap fakta yang dibeberkan oleh Santi mengenai kasus pembunuhan yang dilakukan Vera terhadap saudara dan mertuanya tersebut.
Bukan hanya dua kasus pembunuhan itu yang diungkap oleh Santi. Dirinya juga membeberkan kasus kematian yang telah menimpa saudara kembarnya Sinta yang dianggapnya sangat kejam dan tidak bermoral.
Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah bahwa Vera lah dalang dibalik kecelakaan yang dialami Mia, mami mertuanya.
Vera juga memberi mertuanya tersebut obat yang berbahaya sehingga bukannya menyembuhkan, obat tersebut justru membuat mertuanya cacat, lumpuh untuk selamanya.
Hal tersebut dibuktikan oleh Santi lewat rekaman chat antar Vera dengan orang yang ditugaskan untuk menabrak Mia, dan beberapa resep obat apa saja yang telah diberikan oleh Vera kepada mertuanya.
Masyarakat yang mendengar seluruh kesaksian Santi terlihat sangat marah dan meminta hakim segera menjatuhi hukuman mati bagi Vera.
Mereka ingin wanita jahat tersebut menerima balasan atas semua kejahatan yang telah dilakukannya.
Karena kondisi semakin tidak kondusif, akhirnya sidang ditunda sampai besok.
Alfredo yang masih menunggu maminya sadar dari pingsan merasa sedikit lega mendengar kabar penundaan tersebut.
Saat ini dirinya benar - benar ingin mengawal kasus tersebut sampai akhir. Dia tidak mau kalau nantinya Vera sampai lolos dari jeratan hukum seperti yang terjadi selama ini.
Untuk itu dia ingin melihat dengan mata kepala sendiri hakim mengetok palu bahwa mantan istrinya tersebut bersalah dan harus menanggung hukuman yang setimpal dengan perbuatannya.
Semua hal ini dilakukannya demi almarhum papi dan istrinya. Agar mereka bisa tenang dialam sana.
Setelah mengantar maminya pulang, Alfredo segera meluncur ke cafe milik Felicia untuk melepas semua penat yang ada.
Felicia yang melihat kedatangan pria beranak satu tersebut sangat bahagia. Disambutnya Alfredo dengan senyum termanisnya.
Tiba - tiba cup.... Alfredo langsung mengecup bibir gadis didepannya.
Felicia cukup kaget dengan tindakan spontan kekasihnya tersebut.
Melihat Felicia masih bengong, Alfredo kembali mengecupnya berulang - ulang
cup…cup…cup…muka Felicia langsung merah padam menahan malu. Diseretnya Alfredo menuju ruang kerjanya.
Ajeng dan beberapa karyawan serta pengunjung cafe yang kebetulan melihat adegan mesra dua sejoli tersebut hanya tersenyum tipis.
Mereka menyadari jika orang yang lagi jatuh cinta itu sering lupa tempat dan waktu. Dunia seperti milik mereka berdua, yang lainnya hanya ngontrak.
Sesampainya didalam ruang kerjanya, Felicia terus memukul tubuh Alfredo karena telah membuatnya malu.
" awww...aduh... sakit yang...", ucap Alfredo sambil meringis berusaha untuk menghindari pukulan Felicia.
" Mas ini apa - apain sih. Malu tahu...", ucap Felicia geregetan sambil terus memukul tubuh Alfredo.
" Iya, maaf....", cicit Alfredo dengan muka dibuat sesedih mungkin.
Felicia yang masih merasa sebal dengan tingkah kekasihnya tersebut langsung membuang muka.
Alfredo yang melihat gadisnya merajuk segera memeluknya dari belakang.
__ADS_1
" Aku capek banget yang....", ucapnya lirih sambil bersandar di bahu Felicia.
Mendengar ucapan Alfredo, Felicia segera memutar tubuhnya, dielusnya wajah tampan pria yang ada didepannya.
Cukup lama mereka saling memandang. Ada rasa rindu yang teramat sangat, terpancar dari sorot mata dua sejoli itu.
" Kamu masih punya aku, jadi jangan disimpan semuanya sendiri ", bisik Felicia sambil memeluk Alfredo erat.
" Makasih ya...kamu selalu ada buat aku ", bisik Alfredo bahagia.
Dihirupnya dalam - dalam aroma vanila yang keluar dari tubuh Felicia. Aroma yang selalu membuat Alfredo merasa tenang dan nyaman.
Alfredo menumpahkan segala gundah yang ada dihatinya kepada kekasihnya itu.
Sambil tersenyum, Felicia mengusap tangan yang mengenggamnya dengan lembut untuk memberi kekuatan pada pemiliknya.
Senyum hangat dan perhatian yang Felicia berikan mampu membuat hatinya yang sedang kalut menjadi tenang.
Meski tidak berlebihan, tetapi gadisnya itu selalu bisa memberikan semangat dan dukungan yang cukup besar terhadap setiap keputusan yang telah dibuatnya.
Hal inilah yang membuatnya selalu merasa nyaman saat berada didekatnya.
" Aku buatkan minum dulu ya mas...", ucap Felicia sambil bangkit dari kursi.
" Buatkan aku coklat hangat saja ", ucap Alfredo lembut.
" Ok. Mas mau makan apa, biar sekalian aku bikinin...", tanya Felicia sambil berjalan menuju pintu.
" Kalau yang itu buat nanti malam. Sekarang aku buatkan nasi goreng seafood ya..", ucap Felicia tersenyum sambil melangkah keluar.
" Yesss.....", batin Alfredo gembira.
Sambil rebahan di sofa menunggu makanan datang, dia mulai membuka ponselnya untuk mengecek beberapa pekerjaan.
Hari ini memang Alfredo memutuskan untuk tidak pergi kekantor. Dia juga sudah ijin pihak kampus agar jadwal hari ini dikosongkan.
Hari ini dia ingin fokus menghadiri acara persidangan kasus kematian istri dan papinya serta menghabiskan waktu bersama gadisnya.
Beberapa hari terakhir, dirinya sangat sibuk dengan beberapa permasalahan yang ada dikantor, serta mengawal kasus kematian istri dan papinya tersebut agar bisa berjalan dengan lancar. Sehingga dia tidak memiliki waktu untuk bersama dengan kekasihnya.
Untungnya Felicia termasuk gadis yang mandiri dan sangat pengertian. Dia tidak terlalu banyak menuntut dan selalu mensuport apapun keputusan yang dibuat oleh kekasihnya tersebut.
Hari ini, Alfredo sengaja tidak memberitahukan maminya bahwa sidang lanjutan akan digelar.
Dia tidak ingin maminya kembali syok mengetahui semua fakta yang ada.
" Mas yakin tidak mau aku temani ?", tanya Felicia sambil membenahi pakaian kekasihnya tersebut.
Ya....semalam Alfredo menginap dirumah Felicia. Selain untuk melepas rindu, dia juga tidak ingin maminya ikut kepersidangan hari ini.
" Tidak perlu. Kamu doain semoga hari ini semua bisa berjalan dengan lancar ya sayang...", ucapnya sambil mengecup kening Felicia.
__ADS_1
" Doaku selalu menyertaimu mas...", ucap Felicia lembut.
Setelah sarapan, mereka segera berangkat. Alfredo menurunkan Felicia dikampus, sedangkan dirinya langsung meluncur kepengadilan negeri.
Sebelum sidang dimulai, Alfredo menyempatkan diri untuk menemui jaksa penuntut umum agar terus mengawal kasus tersebut hingga tuntas, karena dia menginginkan keadilan untuk istri dan papinya.
Setelah sempat mundur selama sepuluh menit karena masalah teknis, akhirnya sidang lanjutan kasus pembunuhan Irene dan Bramasty digelar.
Agenda hari ini ada dua, yang pertama adalah mendengarkan kesaksian Bianca yang mendapatkan data rekaman kejahatan Vera langsung dari Bramasty sebelum dirinya meninggal.
Yang kedua adalah dakwaan pemalsuan surat wasiat Irene dengan menghadirkan Alfredo sebagai penerima wasiat tersebut.
Bianca cukup lancar dalam memberikan kesaksian. Semua pertanyaan yang diajukan dia jawab dengan tenang tanpa beban.
Jika Bianca terlihat tenang selama persidangan, tapi hal itu berbeda dengan Vera yang terlihat gusar selama persidangan.
Dia sama sekali tidak menyangka bahwa Bianca bisa mempunyai rekaman aksi kejahatannya.
" Dasar k*****t !!!..t*a b****a itu membuat masalah sebelum dia mati ", umpat Vera dalam hati.
Kesaksian Bianca semakin memperkuat bukti bahwa pembunuhan yang Vera lakukan memang sudah direncanakannya secara matang dan terkoordinir.
Setelah istirahat selama lima belas menit, sidang dilanjutkan dengan agenda kedua, pemalsuan surat wasiat Irene.
Alfredo sebagai saksi segera duduk didepan dan menjawab semua pertanyaan yang diajukan dengan lancar.
Selanjutnya, jaksa penuntut umum maju kedepan sambil membawa surat wasiat Irene serta buku catatan Irene, dan menunjukkannya kepada hakim serta masyarakat yang hadir menyaksikan jalannya persidangan.
" Sekilas, kita sebagai orang awam melihat dua tulisan tangan ini sama. Tapi coba kita perhatikan lagi. Dalam penulisan huruf konsonan, korban selalu memberikan penebalan, mari kita lihat..", ucap Hardian, sang Jaksa sambil menunjukkan beberapa huruf konsonan lewat kaca pembesar yang dia bawa.
" Semua huruf konsonan yang ditulis korban selalu ada penebalan disetiap hurufnya. Bisa dilihat dalam buku catatan ini dan beberapa buku lagi yang saya bawa. Bahwa korban konsisten melakukan itu. bukan hanya karena pengaruh pena yang digunakan, artinya itu adalah ciri khas gaya penulisannya. Sedangkan tulisan yang ada di surat wasiat tidak seperti itu ", ucapnya tegas, kemudian memberikan buku catatan Irene dan surat wasiatnya kepada hakim untuk diteliti.
Hakim yang meneliti tulisan tersebut membenarkan semua ucapan yang dikatakan oleh Hardian. Begitu juga dengan pengacara Vera yang sedikit terkejut dengan fakta yang ada.
" Satu lagi...gaya bahasa yang digunakan dalam surat wasiat yang menggunakan kata "aku" "kamu" merupakan kata yang sangat jarang, bahkan tidak pernah korban gunakan sehari - hari, dan juga dalam catatn yang dia tulis. Bukan begitu tuan Alfredo ", tanya Hardian sambil memandang tajam Alfredo.
" Benar, istri saya tidak pernah menggunakan kata "aku" "kamu" dalam bahsa sehari - hari. Mungkin terdengar agak aneh, tapi memang dari awal saya kenal dia sudah seperti itu ", ucap Alfredo meyakinkan.
Bukti dan keterangan yang diberikan oleh saksi sangat memberatkan Vera, membuatnya diam tak berkutik.
Dalam hati Vera meruntuki kebodohannya yang kurang teliti dalam mengamati tulisan Irene.
Dirinya terlalu percaya diri, karena selama ini dia berhasil mengelabui banyak orang dengan tulisan tangannya yang sama dengan milik Irene.
Adanya banyak bukti dan saksi yang memberatkan, agaknya sulit bagi Vera untuk menyatakan dirinya tidak bersalah. Yang bisa dilakukan pengacaranya hanyalah mengajukan banding jangka waktu hukuman.
Sidang dilanjutkan minggu depan dengan agenda pembelaan tersangka.
Alfredo cukup puas dengan hasil sidang hari ini. Dirinya yakin akan memenangkan kasus ini.
Sementara itu, Vera segera menyusun strategi untuk sidang pembelaan dirinya minggu depan. Dia tidak mau kalau sampai harus menjalani hukuman mati.
__ADS_1
" Kuharap Setyo berhasil menjalankan tugasnya dengan baik " batin Vera cemas.