
Pagi - pagi sekali Felicia terbangun karena perutnya terasa sangat mual.
Dimuntahkannya semua isi yang ada didalam perutnya.
Karena seharian kemarin perutnya belum terisi makanan apapun maka yang keluar hanya berupa cairan.
Huekkk....huekkk....huekkk.....
Tidak ada apapun yang keluar karena semua cairan yang ada didalam perutnya sudah dimuntahkan semuanya.
Tenggorokannya terasa panas dan sakit karena berupaya mengeluarkan sesuatu yang ada didalam perutnya dengan paksa.
"Tampaknya asam lambungku naik lagi ", guman Felicia lirih.
Saat ini dia merasakan rasa pahit dan tidak nyaman saat cairan kekuningan keluar dari mulutnya.
Cukup lama Felicia tertunduk didepan kloset mengeluarkan semua yang ada didalam perutnya hingga badannya sangat lemas.
Sammy yang terbangun karena suara Felicia langsung pergi memanggil neneknya saat melihat mamanya terduduk lemas di samping kloset.
Mia dan bik Ina yang datang segera memapah Felicia dan membaringkannya diranjang.
Dengan penuh kasih sayang Mia membaluri perut dan punggung menantunya itu dengan minyak kayu putih agar hangat.
" Sebentar, mami panggilkan dokter dulu ya " , ucap Mia panik.
" Tidak perlu mi...aku kemarin hanya telat makan aja ", ucap Felicia lirih.
Kemudian dia menyuruh bik Ina untuk mengambilkan obat penghilang mual dikotak obat yang ada di lemari kecil disamping ranjang.
Setelah minum obat dan beristirahat sebentar rasa mual yang ada perlahan mulai menghilang.
" Tampaknya non Felicia masuk angin..." , ucap bik Ina sambil memijit bagian tubuh Felicia agar terasa ringan.
" Iya bi...sepertinya begitu ", ucap Felicia yang beberapakali terlihat bersendawa mengeluarkan angin yang ada didalam tubuh.
Dalam keadaan lemas Felicia menikmati setiap pijatan yang diberikan bik Ina kepadanya.
" Maaf ya sayang, mami tidak bisa menemani Sammy sarapan ", ucap Felicia lembut sambil merapikan pakaian Sammy.
" Sammy berangkat dulu ya ma...", pamitnya sambil mengecup punggung tangan Felicia.
" Belajar yang rajin ya sayang... ", ucapnya sambil mencium kedua pipi anak tirinya itu dengan lembut.
Sammy pun tak lupa berpamitan kepada Mia sebelum beranjak pergi ke sekolah bersama Ajeng.
Didalam mobil Alika terlihat sangat senang melihat kedatangan Sammy dan Ajeng.
" Ini rumah siapa...", tanya Alika memandang gedung apartemen tempat Sammy barusan keluar.
" Ini rumah mamaku ", ucap Sammy sedih.
" Mamamu tinggal disini sekarang...", tanya Alika lagi.
__ADS_1
" Iya, aku dan mama tinggal disini sekarang " , ucapnya masih dengan wajah murung.
" Kamu kenapa sedih..." , tanya Alika yang langsung memeluk Sammy agar sahabatnya itu tidak bersedih lagi.
" Mama sakit....dari tadi pagi muntah - muntah terus dan sekarang lagi dipijit sama bik Ina " , cicit Sammy dengan mata sudah berkaca - kaca.
Ajeng yang mendengar perkataan Sammy terlihat cukup cemas, dia bertekad akan memaksa sahabatnya tersebut ke rumah sakit setelah selesai mengamtar Sammy ke sekolah.
Dia tidak ingin kondisi Felicia semakin parah mengingat cukup tertekannya sahabatnya tersebut akibat perselingkuhan yang dilakukan oleh suaminya.
Felicia yang baru saja terbangun dari tidurnya setelah dipijat oleh bik Ina segera pergi ke dapur untuk melihat mertuanya sedang memasak apa.
Baru saja langkah kakinya menginjak dapur, aroma masakan yang terhirup hidungnya membuat perutnya kembali terasa mual.
Huek....huek....huek...
Felicia segera berlari menuju wastafel dekat meja makan.
Karena perutnya masih kosong belum terisi apapun maka yang berhasil dikeluarkannya hanya air.
Mia dan bik Ina yang lagi fokus memasak cukup terkejut mendengar suara Felicia muntah.
Dengan wajah cemas dikecilkannya api kompor agar masakannya tidak gosong dan mereka berdua segera menghampiri Felicia yang terlihat sangat pucat dan lemas disamping wastafel.
" Kamu harus pergi ke dokter, mami tidak tenang jika kondisimu seperti ini terus" , ucap Mia yang langsung memapah menantunya duduk di kursi dapur.
" Baunya cukup menyengat mi...membuatku mual ", ucap Siska yang langsung berlari menuju kearah wastafel untuk kembali memuntahkan isi perutnya yang mulai bergejolak kembali.
Mia yang melihat menantunya tersebut muntah setelah mencium aroma masakan yang dibuatnya mulai menaruh rasa curiga.
Setelah itu Mia mengantar Felicia masuk kedalam kamarnya agar menantunya tersebut tidak mencium aroma masakan yang dibuatnya.
Saat melihat Ajeng datang, Mia segera menyuruhnya untuk pergi ke apotik membeli alat test kehamilan.
Ajeng yang mendengar perintah Mia sontak membulatkan matanya karena terkejut.
" Apa Felicia hamil...." , ucap Ajeng penasaran.
" Makanya ini mau kita test...cepat kamu belikan " , perintah Mia sambil menyuruh Ajeng untuk segera turun.
Sementara itu Alfredo yang sedang berada dikantornya merasa bahwa badannya sangat lemas.
Dirinya seperti tidak mempunyai tenaga setelah ditinggalkan oleh orang - orang yang dicintainya.
" Lex....belikan aku yang seger - seger ", perintah Alfredo lirih.
" Maksud bapak minuman...?", ucap Alex binggung.
" Minuman bisa, buah juga bisa...aku ingin makan yang asem - asem seperti mangga muda gitu" , ucap Alfredo dengan wajah bersemangat saat membayangkan makan mangga muda dengan cocolan sambal pedas.
" Baik pak, akan saya belikan sekarang" , ucap Alex patuh.
" Kaya orang ngidam aja pengen mangga muda " , guman Alex lirih tapi masih bisa terdengar oleh Alfredo.
__ADS_1
" Apa aku ngidam....tidak...ini tidak mungkin. Itu bukan anak ku ", ucapnya sambil mengeleng - gelengkan kepala.
Alfredo sangat yakin bahwa anak yang diakndung oleh Michele bukanlah darah daginganya jadi tidak mungkin kalau sekarang dia lagi ngidam.
Sementara itu Alex yang ditugaskan untuk mencari mangga muda terlihat sedikit kesulitan karena buah tersebut belum musimnya sekarang.
Seandainya adapun itu buah yang sudah matang bukan yang masih muda.
"Mesti nyari dimana lagi aku " , ucapnya binggung.
Saat dirinya lagi binggung dan menoleh kekanan dan kiri jalan tiba - tiba ada yang penepuk pundaknya dari arah belakang yang sontak membuat Alex terkejut.
" Maaf... sudah membuat terkejut. Anda sedang mencari alamat ya, karena dari tadi saya perhatikan anda terlihat binggung ? ", ucap seorang wanita tua menyapanya.
Kalau diperhatikan dengan seksama wanita tua ini sepertinya sedang bersih - bersih rumah melihat sapu yang dibawanya dan lap yang tergantung dipundaknya.
" Saya lagi mencari mangga muda nek, katanya ada yang jual didaerah sini. Tapi dari tadi saya keliling masih belum ketemu" , ucap Alex letih sambil mengusap peluh yang ada didahinya.
" Butuh berapa..", tanya nenek itu lagi.
" Nggak banyak nek, secukupnya saja ", ucap Alex sopan.
" Buat istri hamil ya...", ucap sang nenek sambil tersenyum.
" Kamu petik aja mangga yang ada di pohon nenek " , ucapnya sambil menunjuk pohon mangga yang ada dipekarangannya.
Setelah susah payah memetik mangga langsung dari pohonnya, Alex pun segera memberi nenek itu sejumlah uang sebagai ucapan terimakasih dan pamit undur diri.
Sesampainya dikantor, Cindy melihat Alex dengan tatapan wajah penuh keheranan.
Pasalnya Alex yang biasanya terkenal rapi dan bersih, siang ini datang dengan wajah kusut dan pakaian yang kotor di beberapa bagian.
" Sudah....jangan menatapku seperti itu. nih....kasih ke bosmu aku mau ganti pakaian dulu " , ucap Alex sedikit sebal.
Cindy yang melihat raut kesal dari wajah Alex hanya bisa tersenyum tipis dan segera menuju ruang kerja Alfredo.
Alfredo melihat mangga muda yang dibawah oleh Cindy beserta sambal segera memakannya hingga habis tak bersisa.
Melihat lahapnya Alfredo makan mangga muda yang terlihat sangat asam tersebut, Cindy hanya bisa meringis membayangkan rasa asam yang keluar dari mangga itu.
" Pak bos kok kaya orang ngidam gitu sih...apa jangan - jangan bayi yang dikandung wanita itu benar - benar anaknya pak bos ", ucap Cindy lirih.
" Tidak mungkin lah...wanita itu sudah hamil tiga bulan, sedangkan pak bos baru makai dia bulan kemarin " , ucap Alex ketus.
" Kalua begitu apa jangan - jangan nyonya Felicia hamil ", ucap Cindy menebak.
" Siapa yang hamil ? ", tanya Alfredo yang tiba - tiba sudah berada di belakang mereka.
" Nyonya Felicia bos ", ucap Cindy sedikit terbata - bata karena takut dimarahi akibat ucapannya.
Sejenak Alfredo mulai berpikir akan ucapan asistennya itu untuk mencari kebenaran ucapannya.
" Ya sudah..sekarang belikan aku asinan dan bakso bakar pedas, tiba - tiba aku pengen makan itu sekarang ", perintahnya, kemudian melangkah pergi meninggalkankan kedua asistennya yang masih terbengong karena terkejut.
__ADS_1
" Fix...nyonya sedang hamil sekarang " , ucap mereka kompak.