Lika - Liku Cinta Alfredo

Lika - Liku Cinta Alfredo
ISTRI PENGERTIAN


__ADS_3

Setelah badai bertubi - tubi menyerang keluarganya, kini kebahagiaan tampaknya mulai menghampiri Alfredo beserta keluarganya.


Hadirnya baby Rafael membuat kehidupan Alfredo semakin lengkap.


Bayi munggil tersebut mampu memberikan warna tersendiri bagi keluarga kecilnya.


Tingkah pola baby Rafael yang mengemaskan membuat semua orang merasa terhibur dan menambah rasa sayang mereka terhadapnya.


Setiap hari keceriaan selalu menghiasi rumah keluarga Brahmasty.


Bukan hanya keluarga kecilnya yang merasakan kebahagian tersebut, tapi seluruh pekerja dirumah mewah tersebut juga turut merasakanya.


Meski Rafael telah hadir ditengah - tengah mereka tak membuat Felicia terus melupakan keberadaan anak sulungnya, Sammy.


Ditengah kesibukannya merawat si kecil, Felicia tetap memberikan perhatian yang lebih terhadap Sammy agar bocah kecil tersebut tidak sampai cemburu terhadap adiknya.


Tidak jarang juga Felicia melibatkan putra sulungnya itu dalam mengurus baby Rafael, seperti mengambilkan popok saat adiknya baru buang air besar dan ikut menyiapkan pakaian setelah adiknya selesai mandi.


Kegiatan yang kesannya sederhana tersebut ternyata mampu membuat Sammy merasa dibutuhkan oleh mamanya dan menambah kedekatan emosional antara dirinya dengan sang adik.


Pada awalnya, Sammy merasa takut jika kehadiran Rafael dapat merebut perhatian dan kasih sayang sang mama darinya.


Tapi semua ketakutan yang ada dalam pikirannya tersebut sama sekali tidak terbukti.


Yang ada malah sebaliknya, perhatian mamanya semakin besar kepadanya setelah hadirnya sang adik.


Hal itu tentu saja membuat Sammy merasa sangat bahagia.


Meski sibuk dengan sikecil namun Felicia tidak pernah absen untuk menemani Sammy belajar.


Tidak jarang kadang baby Rafael yang rewel ikut digendong menemani sang kakak dalam mengerjakan pekerjaan rumahnya.


Kedekatan Sammy dengan baby Rafael sebagai saudara kandung sudah tidak perlu diragukan lagi.


Bahkan Sammy setiap pulang sekolah selalu berusaha untuk secepatnya sampai kerumah agar bisa segera bermain bersama adik kecilnya itu.


Hal tersebut tentunya membuat Alfredo bahagia, dia sama sekali tidak menyangka bahwa istri kecilnya itu mampu berbuat adil terhadap kedua buah hatinya.


Selain merawat kedua putranya, Felicia juga tidak melupakan tugasnya sebagai seorang istri dan menantu yang baik bagi Mia.


Mia sangat bersyukur mendapatkan menantu sebaik Felicia.


Untuk itu dia tidak akan diam saja jika ada orang yang akan membuat menantunya itu bersedih hati, meski itu adalah anaknya sendiri.


Sejak hamil sampai melahirkan, Felicia sama sekali tidak diperbolehkan untuk terlalu capek oleh suami dan mertuanya.


Sehingga semua urusan pekerjaan yang ada di café diserahkan kepada Ajeng selaku orang kepercayaannya.


Meski belum diperbolehkan untuk datang mengurus cafenya secara langsung, namun Felicia tetap memantau perkembangan usahanya yang baru saja membuka cabang kelima dikota tetangga itu dari rumah.


Bukannya tidak percaya dengan kinerja Ajeng, namun dia masih belum bisa melepas begitu saja usaha yang sudah dirintisnya dari nol itu.


Ditambah lagi, selama ini Ajeng sudah cukup banyak membantunya dalam segala hal.


Apalagi sekarang hubungan antara Ajeng dan Aldo sudah sampai tahap serius.


Sebagai sahabat, Felicia merasa perlu memberikan waktu pribadi buat Ajeng untuk mengejar kebahagiaannya sendiri.


Tidak terlalu dipusingkan dengan berkas pekerjaan yang menumpuk sepanjang waktu.


Meski Ajeng sama sekali tidak keberatan dengan hal tersebut, namun Felicia cukup sadar diri.


Lagian baginya cukup badannya saja yang perlu diistirahatkan, tapi otaknya jangan.


Karena itu adalah asetnya paling berharga yang bisa membuatnya hingga bisa seperti saat ini.

__ADS_1


Meski tidak menjadi wanita karir seutuhnya, namun Felicia juga tidak ingin berdiam diri di rumah tanpa melakukan apa - apa.


Mungkin untuk saat ini tidak masalah karena Rafael juga masih belum bisa terlalu sering diajak keluar rumah.


Namun seiring berjalannya waktu, dia pastinya nanti akan mengajak baby Rafael ke cafenya dan mulai memperkenalkan dunia luar terhadap anak keduanya secara perlahan.


Tak terasa baby Rafael kini sudah menginjak usia enam bulan.


Diusia tersebut Rafael sudah bisa tengkurap, meski kadang dia masih belum bisa bergerak maju ataupun mundur.


Hanya bisa membolak balikkan badan antara tengkurap dan terlentang.


Perkembangan Rafael yang terbilang cukup pesat tersebut tentunya membuat semua orang terkagum - kagum.


Bahkan meski belum jelas dia juga sudah bisa menyebutkan kata, seperti ma.... , pa... , mi..., cu..., dan kata - kata pendek lainnya yang masih belum terlalu jelas pengucapannya.


Ocehannya yang belum terlalu jelas tersebut sering membuat semua orang terkekeh apalagi jika di sertai dengan mimik wajahnya yang super mengemaskan itu.


" Panggil kakak....kakak....", ucap Sammy mengajarkan Rafael untuk memanggil dirinya.


" cak....cak...", ucap Rafael berulang - ulang.


" kak....bukan cak....Rafael ", ucap Sammy mulai gemas.


" cak...cak....cak...", ucap Rafael sambil tersenyum gemas.


Melihat adiknya seperti itu akhirnya Sammypun menyerah dan mulai menciumi pipi adiknya dengan gemas.


Rafael diperlakukan seperti itu tertawa kegelian sambil menggerak - gerakkan badannya hingga kakinya terlilit selimut yang ada di bawahnya.


Melihat adiknya kesulitan untuk menggerakkan kedua kakinya, Sammy dengan lembut melepaskan selimut yang melilit kaki adiknya itu.


" Ayo kak...sudah malam. Waktunya tidur ", ucap Felicia yang mulai menggendong Rafael dan mengantar Sammy kedalam kamarnya.


" Adik tidur disini juga sama Sammy ya ma...", ucapnya manja.


Diapun segera menyusui Rafael sambil mengusap lembut kepala Sammy dengan tanganya yang bebas.


Perlakuan lembut mamanya itu membuat Sammy cepat tertidur sambil memeluk sang adik yang ada diantara dirinya dan Felicia.


Setelah kedua anaknya sudah terlelap, dengan perlahan Felicia mulai memindahkan tangan Sammy dari tubuh Rafael dan mengangkat bayinya untuk dipindahkan ke dalam box bayi.


" Sekarang tinggal menidurkan bayi besar " , batin Felicia sambil masuk ke dalam kamar.


Diranjang terlihat Alfredo sudah menunggu istrinya sambil memainkan ponsel yang ada ditangannya.


Senyum manisnya mulai terkembang saat sang istri sudah selesai melakukan ritualnya dikamar mandi dan berganti pakaian dengan gaun tidur.


" Kenapa senyam - senyum kaya gitu....mencurigakan..." , ucap Felicia sambil memicingkan matanya penuh rasa curiga.


" Kangen yang...", ucap Alfredo langsung menarik tangan Felicia hingga sang istri terjatuh diranjang.


Tanpa menunggu waktu yang lama, aktivitas malam pun akhirnya dimulai.


Karena tidak bisa sebebas dulu, maka setiap ada kesempatan Alfredo akan menghajar istrinya hingga kelelahan.


" Yang....kita bikin anak perempuan yuk biar lengkap " , ucap Alfredo disela - sela kegiatan malamnya dengan sang istri.


" No....tunggu dua tahun baru aku lepas ", ucap Felicia tajam.


" Kelamaan yang....keburu akunya semakin tua ", ucap Alfredo dengan muka memelas.


" Lagian saat kita bikin belum tentu langsung jadi ", ucapnya lagi dengan wajah sedih.


Melihat suaminya kembali merajuk membuat Felicia segera memutar bola matanya malas.

__ADS_1


Untung saja waktu selesai masa nifasnya dia segera memasang alat kontrasepsi setelah berkonsultasi dengan dokter Ranti.


Melihat raut muka sedih suaminya, Felicia merasa tidak tega.


Tapi mau bagaimana lagi, dirinya masih belum siap jika harus hamil dalam waktu dekat.


Apalagi baby Rafael juga belum genap berusia satu tahun.


" Tunggu Rafael satu tahun dulu ya " , ucap Felicia akhirnya mengalah, sambil mengusap pipi suaminya dengan lembut.


" Makasih ya....maaf jika aku terlalu mendesakmu " , ucapnya sambil berbisik dan mulai menyusupkan kepalanya keceruk leher sang istri, menghirup dalam - dalam aroma tubuh yang sudah menjadi candunya itu.


Tingkah laku suaminya tersebut membuat tubuh Felicia kembali bergetar.


Entah kenapa sekarang tubuhnya terasa lebih sensitive setiap kali disentuh oleh Alfredo.


Melihat reaksi sang istri membuat Alfredo tersenyum penuh kemenangan.


Diapun mulai memberikan sentuhan - sentuhan lembut dibeberapa titik sensitive Felicia.


" Lagi ya....mumpung baby Rafael tidak rewel malam ini ", bisik Alfredo sendu.


Felicia yang sudah terpancing dengan tindakan suaminya akhirnya mengangguk tanda setuju.


Alfredopun langsung tancap gas melihat lampu hijau yang diberikan oleh istrinya.


Pagi harinya, Alfredo bangun dengan wajah berseri - seri.


Hal tersebut berbanding terbalik dengan Felicia yang terlihat sedikit kusut dari biasanya.


" Mama kenapa kok lehernya merah - merah begitu ", ucap Sammy dengan polosnya.


" Semalam mama digigit nyamuk sayang jadinya merah - merah seperti ini" , ucap Felicia sambil pura - pura menggaruk lehernya yang tidak gatal itu.


Alfredo yang mendapat tatapan tajam dari sang istri hanya bisa meringis dan mengaruk tekuknya yang tidak gatal.


" Ini ma....diolesi minyak dulu supaya rasa gatalnya cepat hilang. Papa nanti pulang kerja jangan lupa beli obat nyamuk buat dikamar, kasian kalau mama setiap malam digigit nyamuk terus ", ucap Sammy sambil mengolesi leher mamanya dengan minyak kayu putih.


" Tenang saja sayang....nanti nyamuknya akan nenek basmi hingga tak bersisa ", ucap Mia penuh penekanan sambil menatap tajam putranya.


Mia sedikit gemas dengan kelakuan putranya itu, bagaimana dia bisa membuat istrinya kelelahan seperti itu hanya demi memuaskan nafsunya.


" Lain kali dikontrol, kasian istrimu jika harus memuaskanmu seperti itu " , ucap Mia gemas saat mengantar cucunya kedalam mobil.


" Maaf mi...khilaf ", ucap Alfredo sambil cengar - cengir.


" Tidak apa - apa mi, aku masih bisa mengatasi keganasan putra mami ini..." , ucap Felicia tersenyum sambil memasangkan jas suaminya dan mencium punggung tangannya sebelum Alfredo masuk ke dalam mobil.


" Beruntung banget kamu punya istri seperti Felicia ", ucap Mia sinis, masih sebal dengan tingkah pola anaknya itu.


" Terimakasih ya sayang untuk semuanya. Baik - baik di rumah ", ucap Alfredo mengecup mesra kening sang istri.


" Pa....ayo berangkat sekarang...nanti Sammy terlambat " , teriak Sammy sudah tak sabar dari dalam mobil.


" Mi....aku berangkat dulu ya " , pamitnya sambil mengecup punggung tangan sang mami.


" Hati - hati di jalan....", ucap Mia yang kemudian segera mengajak Felicia untuk masuk kedalam rumah.


" Kamu itu jangan terlalu manjain Alfredo, kalau memang capek bilang saja...", ucap Mia menasehati.


" Iya mi...", ucap Felicia tersenyum.


" Tapi kamu menggunakan alat kontrasepsi kan...", tanya Mia khawatir.


" Aku sudah pasang alat kontrasepsi setelah selesai masa nifas kemarin " , jawabku dengan lembut.

__ADS_1


" Baguslah....kasian Rafael kalau harus punya adik sekarang ", ucap Mia sedikit lega.


Kemudian merekapun segera beranjak kedalam kamar Rafael saat mendengar suara tangis bayi tersebut.


__ADS_2