
Hari ini adalah hari yang paling membahagiakan bagi Felicia, karena dirinya sudah diperbolehkan untuk meninggalkan rumah sakit.
Kondisi kesehatan yang berangsur membaik membuatnya diijinkan untuk pulang.
Semua orang sudah merencanakan pesta kejutan untuk menyambut kepulangan gadis cantik itu.
Rumah mewah Alfredo yang biasanya sepi sekarang terlihat ramai. Semua orang sangat antusias untuk membuat pesta yang berkesaan bagi Felicia.
Bukan hanya bagian dalam rumah yang disulap menjadi indah, namun bagian luar juga. Semua ini dikerjakan oleh Mia dan Ajeng yang dibantu oleh para karyawan Felicia yang cukup gembira mendengar kabar bahwa bosnya sudah sembuh.
Bahkan Ajeng sampai membuat kebijakan khusus untuk hari ini, bahwa café diliburkan, tentunya agar omzet harian tetap tercapai mereka sudah berjuang keras sehari sebelum libur agar mendapat omzet dua kali lipat dari biasanya. Dan hal ini disambut baik dan disupport oleh semua karyawan.
Sementara itu, Vera dan Setyo yang berada di luar rumah sakit juga sudah bersiap untuk menjalankan rencananya menyambut keluarnya Felicia dari rumah sakit.
"Sekarang kamu bisa tertawa lebar, tapi tunggu saja, sebentar lagi kamu akan menangis darah melihat kekasihmu meninggal ", batin Vera tertawa puas saat melihat Alfredo yang mendorong kursi roda yang dinaiki Felicia menuju ke mobil.
Setelah semua barang telah dimasukkan, mobil segera meninggalkan halaman rumah sakit.
Saat keluar dari dari gerbang rumah sakit, Alfredo sempat sekilas melihat ada mobil yang sedikit mencurigakan.
Diliriknya kaca spion, ternyata mobil mencurigakan tersebut terus mengikutinya. Alfredo yang menyadari mobilnya telah dibuntuti semenjak keluar dari rumah sakit segera menghubungi anak buahnya agar jangan sampai lengah.
" Singkirkan semua penghalang. Kalau bisa kartu As kamu pegang. Jangan sampai lolos lagi ", perintah Alfredo dan langsung menutup ponselnya.
Setelah menghubungi anak buahnya, Alfredo juga menghubungi Martin, temannya yang bekerja dikepolisian. Lelaki inilah yang selama ini berjasa membantu Alfredo dalam mengawal kasus kematian papi dan istrinya hingga sampai kepengadilan.
Bersama Martin, Alfredo segera menyusun rencana untuk menjebak Vera. Karena dia sangat yakin jika Vera akan ikut andil dalam penyerangan kali ini.
Melihat betapa gigihnya mantan istrinya itu berusaha untuk masuk dalam ruang perawatan Felicia dan hendak mencelakainya selama kekasihnya tersebut berada di rumah sakit.
Para pengawal Alfredo yang berada tepat dibelakang mobilnya dia biarkan begitu saja dilumpuhkan oleh anak buah Vera tanpa perlawanan.
Selanjutnya dia tinggal melanjutkan rencana yang telah disusunnya bersama Martin.
Didalam mobil, Vera dan Setyo tersenyum puas saat mendengar kabar bahwa anak buahnya telah berhasil melumpuhkan semua pengawal Alfredo.
" Bagus, sekarang kita bisa langsung serang sasaran ", ucap Vera tersenyum puas.
" Akhirnya keberuntungan berada dipihak kita " , timpal Setyo tertawa lebar.
" Apa kamu yakin akan menghabisi Alfredo juga...?" , tanya Setyo penasaran.
" Tentu saja. Seharusnya sejak dari dulu dia kusingkirkan. Dia tidak layak mendapatkan cinta dan pengorbananku " , kata Vera dengan hati penuh dendam, saat dirinya mengingat kembali bagaimana mantan suaminya tersebut memperlakukannya selama ini.
Kemudian mereka berdua kembali tertawa penuh kemenangan, padahal mereka tidak menyadari jika sudah masuk kedalam jebakan yang telah disiapkan oleh Alfredo.
Saat tiba ditempat yang telah ditargetkan, Vera bersama anak buahnya segera menyerang mobil yang diyakini membawa Alfredo dan Felicia.
Dor…dor…dor…
__ADS_1
Dor…dor…dor…
Anak buah Vera yang sudah berhasil mengejar mobil yang ditumpangi Alfredo, mulai menembakinya.
Karena kelihaian sang supir, beberapa tembakan yang dilepaskan berhasil dihindari. Aksi kejar - kejaran pun berlangsung dengan sengit.
Tiba tiba mobil yang mereka tembaki berhenti mendadak dengan posisi melintang , menghalangi jalan.
Tabrakan beruntunpun tak bisa dihindari lagi. Karena kerasnya tabrakan yang terjadi menyebabkan dua mobil yang berada tepat didepan Vera meledak.
Vera dan Setyo yang melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi juga tidak bisa menghindar dari tabrakan.
Tanpa banyak berpikir, mereka berdua melompat keluar sebelum mobilnya meledak terbakar.
Tubuh Vera yang terpental cukup jauh dari mobil terlihat sudah tidak bergerak lagi. Darah mulai mengalir dari kepalanya yang terbentur batu besar dipinggir jalan.
Sedangkan Setyo yang terpental tidak jauh darinya mengalami luka cukup parah di bagian wajah dan tangannya akibat terbentur badan jalan.
Darah yang mengalir di muka dan tangannya tidak dia hiraukan lagi.
Dengan terseok - seok, Setyo mencoba mendekat dan membangunkan Vera yang tidak sadarkan diri.
Setelah beberapa kali menepuk pipi Vera dengan keras, akhirnya wanita tersebut sadar.
Dengan kesadaran yang masih belum seratus persen, Vera segera ditarik oleh Setyo untuk bangun dan mencari tempat persembunyian saat melihat mobil petugas yang mulai berdatangan mengepung mereka.
Dibalik tong tersebut mereka mengamati pergerakan para petugas polisi yang mulai mengecek mobil yang mengalami kecelakaan didamping petugas damkar yang mulai memadamkan api akibat ledakan.
Jalur yang dilewat oleh Alfredo dan Vera memang sengaja ditutup untuk menghindari berbagai hal yang tidak diinginkan.
Sehingga saat terjadi kecelakaan tidak ada korban jiwa dari warga yang tidak bersalah.
"Ada satu mobil yang tidak ada penumpangnya ndan...", lapor salah satu anak buah Martin.
" Cari disekitar sini, aku yakin mereka belum kabur terlalu jauh " , perintah Martin sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh badan jalan.
" Ndan...disini ada bekas darah. Dan kalau dilihat dari bercak darah yang tertinggal, sepertinya tersangka lari kearah sana " , ucap anak buah Martin sambil menunjuk kearah tong tempat Setyo dan Vera bersembunyi.
Melihat polisi yang semakin mendekati persembunyiannya, Setyo segera mengambil pistol yang disembunyikan dibalik bajunya.
Dor…dor…dor…
Dor…dor…dor…
Dor…dor…dor…
Baku tembak terjadi antara petugas polisi dengan Setyo yang masih meringis menahan sakit di wajahnya.
Vera yang sudah sepenuhnya sadar segera membantu Setyo untuk menghalangi petugas yang berusaha untuk mendekat.
__ADS_1
Rasa sakit yang ada dikepalanya tidak dirasakannya lagi. Wanita itu terus memborbardir petugas dengan tembakan membabi buta.
Saat peluruh sudah semakin menipis, Setyo menyuruh Vera agar berlari dengan cepat kearah semak - semak yang tidak jauh dari persembunyian mereka.
Sementara Setyo berusaha mengalihkan perhatian petugas.
Salah satu petugas yang hendak berjalan memutar agar bisa menangkap Setyo dari belakang melihat pergerakan Vera. Tanpa membuang waktu dia segera menembak kaki wanita tersebut saat hendak kabur.
Vera yang terkejut kakinya tertembak, berusaha untuk bangun dan mencoba lari lagi. Tapi langkahnya terhenti saat timah panas tersebut mengenai kaki sebelahnya.
Dengan dua kaki tertembak dan kepala yang semakin pusing akibat luka benturan tadi membuat Vera akhirnya terjatuh tidak sadarkan diri.
Setyo yang melihat Vera terkapar di jalan terlihat sangat marah. Sambil mendekat ke tempat Vera berada, Setyo terus menembak petugas yang berusaha menghalanginya secara membabi buta.
Saat dua polisi yang berusaha mendekat terkapar tak berdaya terkena peluru yang dilesatkannya , pria itu segera mengangkat tubuh Vera dan berjalan menuju semak - semak untuk bersembunyi.
Sebelum sampai ketujuan, tiba tiba langkahnya terhenti saat peluru panas menembus punggungnya.
Setyopun jatuh terkapar di jalan bersama Vera, darah mengucur dari punggung dan tangannya.
Melihat dua tersangka dalam kondisi tidak berdaya memudahkan polisi untuk menangkapnya.
Dibawahnya Vera dan Setyo ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama dengan pengawalan ketat.
Alfredo yang mendapat laporan bahwa tersangka sudah tertangkap akhirnya bisa sedikit bernafas lega.
Begitu juga dengan Felicia, dirinya sangat bersyukur memiliki kekasih yang selalu bisa menjaga dan melindunginya setiap kali dirinya dalam bahaya.
FLAS BACK ON
Tak jauh dari rumah sakit, Alfredo menyuruh sopirnya untuk berbelok ke SPBU terdekat demi menjalankan rencananya.
Felicia disuruhnya pergi ke toilet bersamanya, saat mereka berdua pergi, lima menit kemudian mobil yang mereka kendarai mulai meninggalkan area SPBU bersama dua mobil yang mengawal mereka.
Kondisi SPBU yang cukup ramai membuat Vera yang mengintai dari seberang jalan tidak terlalu jelas melihat keberadaan Felicia dan Alfredo yang sempat keluar mobil.
Saat melihat mobil yang ditumpangi oleh Felicia dan Alfredo meninggalkan SPBU beserta pengawalnya, wanita itupun segera mengikutinya.
Setelah kondisi aman, Alfredo segera mengajak Felicia pergi dari SPBU memakai mobil lain yang telah disiapkan disana.
Felicia yang awalnya binggung kenapa harus berganti mobil, akhirnya mengerti setelah mendengar semua rencana yang telah disusun oleh kekasihnya itu.
Mereka meninggalkan area SPBU dengan rute yang berbeda, tentunya dengan pengawalan yang superketat dari anak buahnya.
FLASH BACK OFF
Alfredo juga mengingatkan kepada Martin agar jangan sampai lengah dan terpedaya lagi oleh tersangka, mengingat mereka berdua adalah penjahat yang memiliki seribu cara licik agar bisa meloloskan diri.
Melihat pimpinan mereka tertangkap, tentunya anak buah Setyo tidak akan tinggal diam dan akan melakukan berbagai macam cara agar bisa membawa Setyo kabur.
__ADS_1