
Tak terasa sudah dua minggu lamanya Felicia dan Alfredo menikmati bulan madu dinegeri pizza tersebut.
Semua kota romantis yang berada disana sudah mereka datangi.
Sekarang waktunya untuk pulang, kembali ke aktivitas rutin seperti biasa.
Sammy yang sedikit marah karena lamanya mereka bepergian membuat Felicia harus meluluhkan hati anak tirinya yang sekarang lagi merajuk dengan cara mengantar dan menjemput anaknya tersebut dari sekolah setiap hari.
Seperti pagi ini, sebelum berangkat kekampus Felicia menyempatkan diri untuk mengantar Sammy kesekolah.
Tentu saja bocah kecil tersebut sangat senang bisa diantar dan dijemput mamanya setiap hari.
" Hallo Sammy, ini siapa...?", tanya Alika teman Sammy.
" Ini mamaku...", ucap Sammy bangga.
" Ma....kenalkan ini Alika . Alika ini mamaku ", ucap Sammy memperkenalkan.
" Halo cantik, salam kenal ya " , ucap Felicia lembut sambil mengelus kepala Alika dengan lembut.
" Aku boleh manggil mama juga tidak..? ", tanya Alika meminta persetujuan Sammy.
" Boleh....kamu boleh memanggilnya mama, seperti aku ", ucap Sammy dengan lantang.
" Terimakasih ", ucap Alika kepada Sammy.
" Mama, Alika masuk kelas dulu ya " , cicit gadis kecil itu.
" Belajar yang rajin ya..." , ucap Felicia lembut.
Setelah mencium punggung tangan Felicia, Alika dan Sammy segera memasuki halaman sekolah.
Felicia sangat senang melihat wajah gembira anak tirinya itu. Setelah Sammy sudah tidak terlihat lagi, Felicia segera menuju mobilnya dan menjalankannya menuju kearah kampus.
Setelah mengikuti dua mata kuliah yang ada, Felicia segera meluncur ke café yang sudah lama tidak dia datangi.
Semua karyawan terlihat sangat gembira dengan kedatangan gadis cantik itu.
"Duh....yang habis bulan madu, mana nih oleh - olehnya ", todong Ajeng sambil tersenyum lebar.
" Ini buat kalian..." , ucap Felicia sambil memberikan tiga buah paperbag besar berisi oleh - oleh untuk seluruh karyawannya.
" Dibagi rata ya..." , ucap Felicia sambil melangkah masuk keruang kerjanya.
" Buat aku mana ?", tanya Ajeng masih dengan senyum lebarnya.
" Nich buat kamu, ayah dan bunda " , ucap Felicia sambil memberikan tiga buah paperbag kecil.
" Lalu yang ini sudah jadi belum..?", tanya Ajeng sambil memegang perut Felicia.
" Belum lah.....baru juga diisi" , ucap Felicia sambil tersenyum.
Sebenarnya dalam hati kecilnya dia merasa bersalah karena telah memakai alat kontrasepsi tanpa seijin suaminya.
Meski dia tahu kalau tindakannya tersebut akan membuat kecewa banyak orang.
Tapi untuk saat ini, Felicia masih belum siap untuk menjadi seorang Ibu diusianya yang baru menginjak Sembilan belas tahun.
Saat ini dia ingin melimpahkan semua kasih sayangnya buat anak tirinya, Sammy.
" Hey..mau kemana..?", tanya Ajeng saat melihat Felicia sudah menenteng tasnya dan berjalan kearah parkiran.
"Mau jemput Sammy...", ucap Felicia sambil masuk kedalam mobil.
" Tumben...", batin Ajeng sambil menatap mobil sahabatnya itu meninggalkan halaman parkir.
__ADS_1
Sesampainya disekolah, terlihat Sammy dan Alika sedang berdiri didekat pos satpam.
Melihat kedatangan mamanya, Sammy dan Alika segera berlari menuju kearah Felicia.
" Jangan berlari sayang, nanti jatuh....", ucap Felicia sambil berjongkok dan memeluk dua bocah kecil itu.
" Sudah lama nunggunya...maaf tadi mama kejebak macet " , ucap Felicia dengan wajah bersalah.
" Nggak lama kok ma.... kita juga baru saja keluar kelas ", ucap Sammy tersenyum.
"Oya ma, ALika boleh nggak main kerumah ? ", tanya Sammy memohon.
" Tentu saja boleh sayang..." , ucap Felicia lembut.
" Tapi Alika sudah ijin orang tuanya belum?", tanya Felicia sambil menatap Alika yang sudah duduk manis di belakang bersama Sammy.
" Belum ma....mama bisa kan teleponin papa aku " , ucap Alika sambil mecatatkan nomor ponsel papanya disecarik kertas.
" Baik sayang, mama teleponin papanya Alika dulu ya ", ucap Felicia lembut.
Satu kali.....dua kali.....tiga kali.....telepon tersambung tapi tidak diangkat.
Mungkin papa Alika lagi sibuk sayang, nanti sampai rumah coba mama telepon lagi ya" , ucap Felicia sambil melajukan mobilnya.
Selama perjalanan dua orang anak kecil tersebut terlihat asyik mengobrol dan bersenda gurau.
Felicia sangat senang melihat raut wajah ceria anaknya itu. Hingga tak terasa mobil sudah memasuki halaman rumah.
" Ayo kalian turun, terus ganti baju, cuci tangan lalu makan ", ucap Felicia sambil mengandenga dua anak kecil itu.
Disebuah rumah sakit terlihat Dokter Alif yang baru saja melakukan operasi segera mengambil ponsel yang ada di atas meja kerjanya.
"Tiga panggilan tak terjawab, siapa ya ? ", batinnya penasaran.
Sementara itu, Aldo adik Alif terlihat panik saat keponakannya yang hendak dijemput sudah tidak ada di sekolah.
Menurut beberapa orang yang berada disana, Alika masuk kedalam mobil seorang perempuan, tapi mereka tidak mengetahui siapa perempuan itu.
" Hallo bang....gawat bang....gawat...", ucap Aldo panik.
" Ada apa do....tenang dulu....tarik nafas panjang sekarang ", ucap Alif dari balik telepon.
" A....Alika hilang bang...", ucap Aldo sedih.
" Apa.... Bagaimana bisa...", ucap Alif dengan nada agak tinggi.
" Maaf bang, tadi aku ngantar Yasmin belanja duli, jadi sedikit telat jemput Alikanya. Dan waktu kutanya security katanya Alika sudah pulang dijemput mamanya ", ucap Aldo menjelaskan.
" Mamanya....bukannya kamu sendiri tahu kalau mamanya Alika sudah meninggal " , ucap Alif mulai merasa panik.
" Coba kamu hubungi teman - teman Alika, aku coba telepon bunda " , ucap Alif memerintah.
" Baik bang ", ucap Aldo, dan sambungan telepon pun terputus.
Semua orang telah dihubungi, tapi hasilnya nihil.
Tidak ada yang mengetahui keberadaan Alika. Ditengah kepanikan tersebut tiba - tiba Alif teringat nomor asing yang menghubunginya beberapa kali tadi.
Satu kali...dua kali...tiga kali...empat kali....tidak ada jawaban, baru dipanggilan kelima terdengar suara perempuan disana.
F : Hallo....
A : Hallo....maaf, apa tadi anda menghubungi nomor saya ?
Setelah berpikir cukup lama akhirnya Felicia sadar bahwa yang menelepon adalah papanya Alika.
__ADS_1
F : Iya pak, ini papanya Alika ya ?
F : Tadi saya menghubungi bapak untuk meminta ijin karena Alika ingin bermain ke rumah...
A : Maaf, kalau boleh saya tahu anda siapa ?
F : Saya mamanya Sammy pak
Tut....tut....tut....
Sambungan telepon terputus karena ponsel Alif kehabisan daya.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya dia coba menghidupkan ponselnya dan mulai menghubungi mamanya Sammy kembali.
Felicia yang sedang asyik makan kue bersama Alika dan Sammy menerima panggilan video dari papa Alika.
Alif sedikit terkejut saat panggilan diterima oleh seorang gadis cantik.
" Apa benar ini mamanya Sammy, kenapa terlihat sangat muda " , batin Alif terkejut.
F : Haloo pak....
A : Iya bu...
A : Apa benar ini dengan mamanya Sammy ?
F : Benar pak...
F : Alika...ini ada papa sayang (kemudian ponsel diarahkan kepada Alika dan Sammy yang sedang asyik makan kue)
Ai : Haloo pa... (ucap Alika dengan gembira)
Ai : Alika lagi makan kue buatan mama, enak sekali pa... (ucapnya sambil menunjukkan kue muffin ditangganya)
A : Mama???? ( Alif terlihat binggung)
Ai : Mamanya Sammy maksudku pa, tapi aku juga boleh panggil mama kok sama Sammy (ucapnya menjelaskan saat melihat raut muka binggung papanya )
Ai : Iya kan ma...(ucap Alika sambil menoleh kearah Felicia)
F : Iya sayang...(ucap Felicia sambil membelai rambut alike dengan lembut)
Alif yang melihat pemandangan tersebut hatinya mulai bergetar, ada perasaan hangat saat Felicia dengan lembut tersenyum kepada putrinya.
Begitu juga sebaliknya, Alike terlihat sangat nyaman bersama Felicia.
A : Nanti saya minta alamat ibu supaya Alika bisa dijemput.
Ai : Tapi Alike tidak mau pulang sekarang pa...
Ai : Alika mau mengerjakan PR sama Sammy dulu. Nanti papa saja yang jemput Alika sepulang kerja ya....
A : Baik sayang(kemudian Alif melihat Alika sudah beranjak pergi bersama Sammy, sekarang hanya tinggal dirinya bersama mama Sammy )
A : Saya minta maaf sudah merepotkan anda
F : Tidak apa - apa pak. Justru saya senang Alika main kerumah, Sammy jadi punya teman belajar .
A : Sekali lagi terimakasih bu sudah menjaga putri saya dan maaf sudah merepotkan.
Kemudian sambungan telepon terputus. Alif memegangi jantungnya yang berdetak cukup kencang.
Tiba - tiba wajah Felicia muncul dalam ingatannya, wajah cantik dengan senyum lembut yang mempesona.
" Tidak....apa aku sudah gila suka sama istri orang " , guman Alif sambil menggeleng gelengkan kepalanya berulang kali.
__ADS_1