Lika - Liku Cinta Alfredo

Lika - Liku Cinta Alfredo
PENYELIDIKAN


__ADS_3

Misteri kematian Irene dan Bramasty sedikit semi sedikit mulai terkuak. Beberapa bukti dan saksi yang dihadirkan Alfredo semakin mempercepat penyelidik untuk mengungkap fakta yang ada. Dan dalam waktu dekat pihak penyelidik akan memanggil Vera sebagai saksi.


Malam ini, Vera tidak bisa tidur. Beberapa kali dia membolak -balikkan badan dengan perasaan gelisah. Alfredo yang merasa terganggu dengan tingkah istrinya tersebut terbangun dan memandangnya dengan tatapan tajam.


" Maaf sayang, aku sudah membuatmu terbangun ", cicit Vera dengan wajah bersalah.


" Kalau tidak bisa tenang, sebaiknya kamu tidur diluar ", bentak Alfredo dengan wajah garang.


Melihat kemarahan diwajah suaminya membuat Vera bungkam. Ditariknya selimut yang berada dikakinya hingga menutupi lehernya.


Beberapa kali dia menghela nafas panjang dan berusaha untuk tidur, tapi kedua matanya terasa sulit sekali untuk dipejamkan.


Pikirannya mulai menerawang tentang panggilan yang didapatkannya tadi siang. Pihak kepolisian memintanya datang kepolresta sebagai saksi atas kasus pembunuhan Irene dan Bramasty.


Jujur saja Vera sangat terkejut mendapat panggilan tersebut. Bagaimana tidak, kejadian yang telah ditutupinya dengan sangat rapi delapan tahun yang lalu akhirnya bisa terbongkar.


Padahal saat itu semua orang percaya bahwa kematian Irene akibat kondisinya yang kritia pasca melahirkan.


Begitu juga dengan kematian papi mertuanya yang menurut hasil diagnosa dokter penyebabnya adalah serangan jantung yang diderita mertuanya tersebut sejak lama.


Takut membangunkan suaminya, dengan langkah perlahan Vera keluar dari kamar menuju ruang kerja suaminya. Disana dia menghubungi Setyo, orang kepercayaan yang telah mendampinginya selama ini.


Setyo merupakan saksi hidup dari semua kejahatan yang telah Vera lakukan selama ini.


Rasa cinta yang cukup dalam terhadap Vera lah yang selama ini menjadi pemicu Setyo untuk mendukung semua keputusan dan tindakan Vera.


Baginya, asalkan Vera masih membutuhkannya, dia akan selalu siap sedia berada digaris paling depan untuk membantunya.


Begitu juga dengan malam ini, Vera yang sedang merasa gelisah hanya bisa ditenangkan oleh Setyo.


" Kamu jangan takut, mereka tidak akan bisa membuktikan apa - apa. Aku pastikan mereka tidak akan berani menyentuhmu ", ucap Setyo lembut.


" Apa kamu yakin semua bukti telah lenyap ", tanya Vera panik.


" Kamu harus tenang Vera. Jangan berpikir macam - macam . Sekarang kamu istirahat, masalah ini biar aku yang membereskan ", ucap Setyo menenangkan Vera.


" Baiklah....aku percayakan semua padamu", ucap Vera pelan dan langsung menutup sambungan telepon.


Dengan lemas, dia berjalan menuju kekamarnya. Pelan - pelan mulai naik keatas ranjang dan menarik selimutnya.


Dipandanginya wajah tampan lelaki tampan yang ada disampingnya. Lelaki yang delapan tahun bersamanya.


" Semua hal gila ini kulakukan demi kamu. Tapi kenapa sampai sekarang sedikitpun kamu tidak mau membuka hati padaku ", ucap Vera sedih.


Tak terasa airmatanya mulai menetes dipipi. Vera menangis dalam diam hingga tak terasa matanya mulai terpejam akibat kelelahan menangis.


Alfredo yang terbangun karena suara isak tangis Vera hanya bisa terdiam. Cukup lama dia memandangi wajah istri yang menemaninya selama delapan tahun ini.


Sebenarnya dia cukup kasihan dengan iatrinya tersebut, tapi masalah hati tidak bisa dipaksakan. Dimana rasa nyaman tidak pernah dia dapatkan meski selalu bersama.

__ADS_1


Sebenarnya waktu itu, ditahun kedua pernikahannya dengan Vera, Alfredo sempat ingin menceraikan istrinya tersebut karena dirinya merasa tidak bisa mencintai dan membahagiakan Vera.


Tapi istrinya tersebut menolak dengan keras, bahkan Vera sempat bersujud kepadanya. Dia tidak masalah jika Alfredo tidak pernah mencintainya, asalkan bisa bersama sudah membuatnya bahagia. Dia juga berjanji akan selalu menjaga dan menyayangi Sammy dan kedua orang tua Alfredo dengan sepenuh hati.


Saat itu hati Alfredo sedikit tergerak dengan semua ucapan Vera. Ditambah lagi, anaknya yang masih kecil saat itu membutuhkan sosok seorang ibu membuatnya berpikir ulang untuk menceraikan istrinya tersebut.


Tapi sekarang Alfredo menyesal dengan keputusan yang diambilnya enam tahun yang lalu.


Senjak pertemuannya dengan Bianca beberapa bulan yang lalu, Alfredo mulai mengurus perceraiannya dengan Vera melalui pengacaranya.


Hatinya terasa sakit saat mengetahui fakta bahwa Vera adalah orang dibalik kematian istri dan papinya.


Apalagi sekarang Alfredo sudah menemukan seseorang yang dia cintai, jadi baginya tidak ada alasan lagi untuk tetap mempertahankan pernikahan yang menyiksa ini.


Setelah membersihkan diri dikamar mandi, Alfrefo segera berganti pakaian dan bergegas keluar. Para pembantu yang melihat kepergian Alfredo pada pagi buta seperti ini tidak terkejut, karena selama ini sang majikan memang sering berangkat kerja dini hari dan pulang larut malam karena tuntutan pekerjaan.


Dengan perlahan Alfredo mulai melajukan kendaraannya. Jalan raya yang sepi dan alunan musik yang menenangkan menemani perjalanan Alfrefo pagi ini.


Alfredo segera menepikan mobilnya saat melihat penjual nasi pecel dipinggir jalan. Setelah mengantri cukup lama, akhirnya nasi yang dia pesan selesai dibungkus.


Dengan wajah gembira dia mulai melajukan mobilnya menuju apartemen Felicia.


Sementara itu, dikediamannya, Felicia yang telah berdiam diri selama sepekan di rumah akaibat sakit lambung yang dideritanya, akhirnya hari ini sudah mulai beraktivitas seperti biasa.


CEEKLEEKKK.....


Meski sarapan yang dibawa oleh Alfredo sangat sederhana, tapi hal tersebut tidak menghilangkan keromantisan yang ada diantara mereka berdua.


Keintiman yang terjadi diantara mereka pagi ini membuatnya ingin segera meresmikan hubungan tersebut kejenjang pernikahan setelah surat cerai dia dapatkan.


Sungguh bahagia bisa makan pagi dengan keluarga kecilnya, Felicia, Sammy, dan maminya. Alfredo tersenyum sendiri saat membayangkan hal tersebut.


" Lgi mikirin apa sih sampai senyum - senyum sendiri. Lagi mikir jorok ya...", ucap Felicia membuyarkan lamunan Alfredo.


" Lagi mikirin makanan penutup ", ucap Alfredo datar.


" Maksudnya...", tanya Felicia binggung.


" Aku ingin kamu sebagai makanan penutupnya ", ucap Alfredo dengan senyum jail.


Felicia yang mendengar ucapan Alfredo kembali fokus kenasinya yang ada dipiringnya. Pura - pura tidak mendengar apa yang dikatakan lelaki didepannya tersebut. Felicia sadar, jika dia menanggapi ucapan tersebut, maka bisa dipastikan hari ini dia tidak akan bisa pergi kekampus.


Alfredo sedikit kecewa karena ucapannya tidak mendapat respon, tapi dirinya juga tidak terlalu memaksa mengingat gadianya tersebut baru saja sembuh dari sakit.


Dia tidak ingin Felicia terlalu lelah, untuk itu dirinya akan menunggu sampai kondisi gadisnya tersebut benar - benar pulih.


Felicia yang menyadari perubahan raut muka lelaki tampan yang ada didepannya segera berdiri dan mengecup pipinya. Alfredo yang terkejut dengan tindakan spontan Felicia hanya bisa tersenyum bahagia.


" Mulai nakal ya sekarang ", ucap Alfredo sambil memeluk Felicia dan menghujaninya dengan kecupan diseluruh wajahnya.

__ADS_1


" Ammpunn....ammpunn..." , ucap Felicia yang merasa kegelian akibat perbuatan Alfredo.


Altivitas mereka terhenti saat ponsel yang berada disaku Alfredo berbunyi.


Raut muka Alfredo berubah menjadi tegang saat melihat nama yang tertera dilayar ponselnya.


Dia kemudian berjalan sedikit menjauh dari Felicia agar bisa berbicara lebih leluasa


" Kawal terus.... jangan sampai lengah ", perintah Alfredo.


" Kamu tenang saja...aku pastikan secepatnya kasus ini akan maju kepersidangan ", ucap Martin, teman masa kecil Alfredo yang bekerja dikepolisian.


" Ok. Aku percaya padamu ", ucap Alfredo singkat dan langsung menutup telepon.


Saat menoleh, Alfredo melihat Felicia yang baru saja keluar dari kamar terlihat sudah rapi dan siap berangkat kekampua.


" Apa agendamu hari ini ", tanya Alfredo.


" Sampai siang aku berada dikampus, sore baru pergi ke cafe ", ucap Felicia sambil membenahi baju yang dikenakannya.


" Kalau nanti urusan di cafe beres, segera pulang dan istrihat ", nasehat Alfredo sambil mengecup pucuk kepala Felicia.


" Ayo kita berangkat ", ajak Felicia sambil mengandeng lengan Alfredo.


Sikap Felicia yang seperti inilah yang membuat Alfredo semakin nyaman berada didekatnya.


Felicia tidak akan bertanya apapun jika Alfredo tidak mengatakannya. Dia hanya akan memberikan perhatian saat dirinya membutuhkan.


Tidak terlalu berlebihan, semua sesuai dengan apa yang dibutuhkannya.


Hal tersebut berbeda dengan Vera yang terlalu cerewet dan ingin tahu tentang semua hal yang dilakukannya.


Tapi saat dia membutuhkan perhatian, Vera tidak pernah memberikannya. Rasa ingin tahu yang dimiliki istrinya tersebut semata - mata hanya ingin mengontrol dirinya.


Sementara iti di polresta, Vera yang sedang berada diruang penyelidikan untuk memberikan kesaksian mengenai keberadaannya dan semua hal yang diketahuinya sebelum kedua korban menghembuskan nafas terakhir.


Banyaknya pertanyaan yang diberikan oleh penyidik membuatnya sedikit kewalahan.


Keringat dingin mulai mengucur dari tubuhnya. Vera berusaha untuk tetap santai dan tetap dengan argumennya bahwa dirinya tidak tahu apa - apa mengenai kejadian tersebut.


Tapi para penyidik lebih cerdas dari dugaan Vera. Beberapa kali jawaban yang keluar dari mulutnya sempat tergelincir yang membuat penyidik curiga.


Dengan keahlian acting dan kemampuan berbicara yang dimilikinya, Vera bisa langsung merubah kondisi setiap dirinya terpojok atas pertanyaan yang diajukan padanya.


Setelah interogasi yang berjalan selama lima jam tersebut selesai, Vera segera bergegas pergi ke tempat Setyo berada.


Dia harus mulai menyusun strategi baru bersama Setyo agar kejahatan yang telah dilakukannya delapan tahun yang lalu jagan sampai terungkap.


Bagaimanapun dia sudah berjalan sejauh ini, jadi Vera tidak ingin semuanya hancur begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2