Lika - Liku Cinta Alfredo

Lika - Liku Cinta Alfredo
KEKACAUAN PART 1


__ADS_3

        Tak terasa sudah satu bulan Felicia mulai aktif mengurus cafenya bersama baby Rafael dan bik Ina yang dengan setia menemaninya.


            Dan selama itu pula Ajeng jadi punya waktu yang cukup banyak untuk fokus terhadap persiapan acara bahagianya.


            Pagi itu seperti biasa, setelah sarapan, suaminya pergi kekantor dan Sammy berangkat kesekolah, Felicia segera menyiapkan semua hal yang akan dibawahnya untuk pergi ke café.


            Hari ini Mia ikut pergi ke café karena Felicia ada acara penting di café cabang ketiganya yang mengharuskannya berada disana dalam jangka waktu yang cukup lama.


            Karena acara tersebut sangat penting mengingat jika dia bisa bekerja sama dengan agen travel terbesar dikota itu maka bisa dipastikan bahwa semua cabangnya yang berada di kota tetangga juga akan mengalami kenaikan omzet.


            Untuk itu Mia ikut dalam membantu menjaga baby Rafael yang sudah mulai aktif bergerak. Meski belum bisa berjalan, tapi Rafael sudah bisa merangkak dengan cepat.


            Bahkan sekarang baby tampan itu tidak mau berlama – lama berada dalam gendongan membuat siapapaun yang menjaganya dibuat kewalahan, terutama jika sendiri tanpa dibantu yang lain.


            Lengah sedikit saja Rafael sudah berada entah dimana, jadi kita harus tetap fokus pada bayi tampan itu yang pergerakannya  begitu cepat.


            Setelah sampai di jalan Topaz tempat café cabang ketiganya berada Felicia segera masuk untuk menyiapkan semua materi yang akan dipresentasikan dihadapan pemilik travel tersebut.


            Setelah semua hal sudah selesai dilakukan, dia menghampiri Rafael untuk memberinya asi terlebih dahulu sebelum acara dimulai.


            Setelah selesai dengan baby Rafael, Felicia segera beranjak ke halaman belakang café yang telah disulap sebagai tempat pertemuan.


            Setelah menunggu cukup lama dari jadwal yang telah disepakati bersama, akhirnya pimpinan  PT.Travelindo Dirgantara Utama beserta staf datang.


            Mereka cukup terkesima dengan desain café yang memiliki konsep semi indoor tersebut.


“ Selamat datang Bapak dan Ibu sekalian di Dreaming Café…silahkan duduk dan menikmati hidangan yang tersaji ”, ucap salah satu karyawan Felicia ramah.


“ Cukup nyaman ”, batin Ricardo puas.


            Selanjutnya Felicia segera mempresentasikan perihal cafenya beserta menu yang tersedia. Tidak lupa dia juga memberikan tiga penawaran kerjasama dengan pembagian keuntungan yang berbeda antar tipenya.


            Ricardo mempelajari penawaran yang disampaikan oleh Felicia dengan seksama. Membaca tiap point yang tertera disana.


            Sebagai pengusaha tentunya dia menginginkan keuntungan yang lebih dari kerjasama yang akan  dijalaninya saat ini.


“ Kurasa dia bukan hanya pengelola café biasa ”, batin Ricardo penasaran.


            Diapun langsung memanggil anak buah yang telah diperintahkan untuk mencari data pemilik café yang saat ini didatanginya sebelum datang.


            Biasanya dia tidak akan datang sendiri untuk mengurus kerjasama dengan pemilik café yang hanya memiliki lima cabang di dua kota berbeda itu


            Tapi entah kenapa, instingnya mengatakan bahwa kali ini dia harus datang dan menandatangani secara langsung perjanjian kerjasama tersebut.


“ Hebat juga dia ternyata…”, batin Alfredo takjub saat melihat informasi yang telah didapatkannya.


            Cukup lama Ricardo memperhatikan gerak – gerik Felicia yang sedang menjelaskan rincian kerjasama kepada wakilnya.


            Sedangkan para staf lainnya yang ikut serta dalam kunjungan kali ini terlihat sangat menikmati suasana dan hidangan yang tersaji.


            Baby Rafael yang merasa bosan tiba – tiba merangkak keluar meninggalkan ruangan tempat dimana dia bermain sejak tadi saat nenek dan pembantunya lengah.

__ADS_1


“ Dimana mama…”, batin Rafael sambil menoleh kekanan dan kekiri mencari keberadaan Felicia.


            Diapun terus merangkak dengan cepat keluar ruangan menuju halaman belakang café tanpa disadari oleh semuanya.


“ Nah…itu mama…”, gumannya bahagia dalam bahasa bayi.


“ Mama….aku datang…”, teriaknya masih dengan bahasa bayi.


            Semua orang didalam ruangan yang telah menyadari ketidak beradaan Rafael mulai panik mencari ke semua tempat, namun bayi tampan itu tidak juga ditemukan.


            Sedangkan bayi yang membuat semua orang panik, terlihat sangat nyaman duduk di dalam meja yang diduduki oleh para tamu undangan.


“ Apa itu…”, batin Baby Rafael saat melihat sebuah gantungan kunci mobil bergambar tengkorak yang


berada diatas meja Ricardo.


            Karena tidak bisa mengapai barang yang diinginkan, maka Rafael akhirnya menarik ujung kain yang menutupi mejadengan tangan mungilnya.


            Dengan kekuatan penuh dia mulai menarik kain yang menjuntai didepannya itu dan langsung saja semua hidangan yang ada diatas meja jatuh ke bawah.


            Untung saja dengan sigap Ricardo yang menyadari bahwa kain yang menutup mejanya bergerak segera melihat kebawah untuk mencari penyebabnya.


            Ricardo cukup terkejut saat mendapati seorang bayi duduk manis menarik kain tersebut sambil tertawa terbahak – bahak.


            Spontan diapun langsung mengangkat bayi tampan itu sebelum gelas dan piring yang berada diatas meja jatuh menimpanya.


“ Rafael…”, teriak Felicia spontan saat melihat bayi munggilnya berada dibawah meja sambil menarik kain yang menutupi meja tersebut.


“ Tidak masalah…siapa nama bayi tampan ini ”, ucap Ricardo tersenyum melihat wajah mengemaskan baby Rafael.


“ Rafael namanya…”, ucap Felicia tersenyum.


            Saat hendak mengambil baby Rafael dalam gendongan Ricardo, pimpinan PT. Travelindo Dirgantara Utama itu  menolaknya dengan alasan dia masih ingin bermain dengan bayi tampan itu.


            Bukan hanya Felicia yang terkejut , tapi hal itu juga dirasakan seluruh karyawan Ricardo. Laki – laki yang sejak awal datang menunjukkan sikap dingin tak tersentuh namun berubah hangat dan ceria saat bersama Rafael.


            Entah kenapa Ricardo yang masih lajang begitu tertarik dengan seorang bayi, padahal dari dulu dia sama sekali tidak suka dengan anak kecil.


            Saat melihat tatapan mata Rafel yang cukup mengemaskan membuatnya tanpa sadar mengangkat tubuh bayi itu dan mulai bermain dengannya.


            Mulutnya yang kecil terus berceloteh sesuatu hal yang kurang bisa dimengerti oleh orang dewasa membuat laki – laki tampan itu tertawa keras.


            Saat semua orang sibuk berbisik – bisik membicarakan tingkah laku aneh sang bos, Felicia sudah berjalan masuk kedalam café untuk memberitahukan kepada ibu mertua dan pembantunya yang pasti sudah cemas kehilangan Rafael.


            Mia, bik Ina dan seluruh karyawan Felicia merasa lega saat mengetahui bahwa Rafael baik – baik saja dan bersama dengannya.


“ Itu siapa yang bermain dengan Rafael…”, ucap Mia penasaran.


“ Itu pimpinan travel mi…tadi dia yang menyelamatkan baby Rafael saat dia berusaha menarik kain yang menutup mejanya ”, ucap Felicia menjelaskan.


“ Bagaimana bisa dia menarik kain yang ada makanan diatasnya…”, ucap Mia tak percaya.

__ADS_1


“ Mungkin punya kekuatan super ”, ucap Felicia geli saat membayangkan baby Rafael berubah jadi bayi yang kuat seperti yang ada di film The Incredibles.


“Apa…”, tanya Mia binggung dengan jawaban menantunya.


            Felicia segera mengajak Mia untuk masuk kembali kedalam cafe setelah melihat kondisi Rafael baik – baik saja.


“ Apa tidak apa – apa Rafael berada disana…apa tidak menganggu pekerjaanmu…”, ucap Mia cemas.


“ Tidak apa – apa mi…mami istirahat saja di dalam bersama bik Ina mumpung Rafael ada yang menjaga ”, ucap


Felicia sambil mengedipkan satu matanya.


“ Kamu itu…jangan terlalu dekat dengan pimpinan travel itu, kalau suamimu tahu, bisa dikurung lagi dirumah kamu…”, ucap Mia mengingatkan.


“ Iya mi…siap…”, ucap Felicia terkekeh dan langsung pergi meninggalkan ibu mertuanya yang hanya bisa


geleng – geleng kepala melihat kelakuan menantunya.


            Sedangkan Felicia yang kembali keruang meeting dikejutkan dengan baby Rafael yang tertidur nyenyak didalam dekapan Ricardo.


“ Ssttt…Dia baru saja tidur, biarkan dulu ”, ucap Ricardo pelan saat Felicia hendak mengambil bayi tampan itu dari dekapannya.


            Semua orang yang semula berisik langsung terdiam begitu sang bos menekankan telunjuk tangannya di depan mulut.


            Saat ini Ricardo sudah seperti ayah yang selalu siaga untuk anak – anaknya. Entah kenapa pemandangan tersebut membuat hati Felicia hangat.


            Dia tak menyangka kalau Rafael akan lengket seperti itu pada Ricardo, seseorang yang baru pertama kali ditemuinya.


            Apalagi Ricardo bukanlah sosok yang humble, hal itu tentu saja membuat Felicia penasaran akan daya tarik pa yang  pria itu miliki  sampai membuat anaknya bisa tertidur nyenyak dalam dekapannya.


            Setelah lebih dari sepuluh menit tertidur dalam dekapan Ricardo, akhirnya Felicia mengambil alih baby Rafael dan meletakkannya diatas sofa dalam ruang kerjanya.


“ Maaf pak kalau anak saya sudah menyulitkan bapak…”, ucap Felicia sopan saat dirinya menandatangani kontrak kerja dengan Ricardo.


“ Tidak apa, aku senang bersamanya ”, ucapnya datar.


“ Berapa usianya…”, tanya Ricardo masih dengan nada datar.


“ Delapan bulan ”, ucap Felicia menjelaskan.


“ Dia termasuk baby yang cerdas ”, ucapnya lagi.


            Karena sudah tidak ada hal yang dilakukan lagi, maka Ricardo beserta lima orang staf yang dibawanya undur diri.


            Felicia cukup lega karena dirinya akhirnya bisa bekerja sama dengan PT. Travelindo Dirgantara Utama.


            Bukan hanya itu saja, café Felicia juga mulai besok akan menjadi penyedia makan siang bagi staf  PT.Travelindo Dirgantara Utama yang berada dikantor pusat.


            Tentunya hal tersebut disambut baik oleh Felicia dan karyawannya. Karena jika omzet yang diperoleh café naik maka bonus bulanan mereka bisa dipastikan akan mengalami kenaikan juga.


            Hal tersebut tentu saja membuat semua orang bahagia. Semua itu juga berkat Rafael yang telah membuat bos yang terkenal dingin tak tersentuh akhirnya bisa bersikap hangat seperti tadi.

__ADS_1


__ADS_2