
Sampai di dalam ruangan khusus papa ariana, mereka semua duduk di sofa yang sudah di sediakan.
Papa ariana pun menyuruh sekretarisnya untuk membawakan minuman. Setelah itu mulai berbincang lagi dengan ariana dan zein.
"Bagaimana kalian bisa bersama tadi ?" tanya papa ariana penasaran.
Ariana pun menceritakan kejadian jeff saat kecelakaan tadi. Dan zein pun menceritakan juga awal pertemuannya dengan ariana.
"Astaga om tidak menyangka zein bisa bertemu dengan mu lagi, bagaimana kabar orang tua mu nak ? Om juga lama sekali tidak bertemu dengan mereka" Jawab papa ariana bahagia.
"Mama sudah tidak ada om, dia meninggal terkena serangan jantung. Dan papa sekarang berada di jepang untuk mengurus perusahaan nya" ucap zein dengan wajah sendunya.
"Astagfirullah, maaf om tidak tahu zein. Mas Malik juga tidak pernah memberi kabar kepada om jika mbak maya sudah tiada. Jadi sekarang kamu tinggal dimana nak ?" kelakar papa ariana dengan wajah tidak menyangka nya.
"Saya tinggal di apartemen om, rumah yang ada di bogor sudah papa jual. Karena begitu banyak kenangan bersama dengan mama disana. Papa tak ingin larut dalam kesedihannya jika terus ada di rumah itu" jawab zein.
"Oke baiklah, jika kamu butuh bantuan om silahkan telpon saja atau memberi kabar kepada ariana" ucap papa ariana menepuk pelan pundak zein untuk menenangkan.
Ariana ikut sedih mendengar cerita zein saat ini. Dia juga merasa kehilangan sosok tante maya yang selalu baik kepadanya.
"Oh iya nak, bagaimana kabar ardana dan dimas. Kalian bertiga dulu selalu bersama dan selalu bermain dengan ariana waktu kecil" tanya papa ariana lagi untuk memecah keheningan sesaat.
"Kami masih berteman om sampai saat ini, dan yang baru saja kami ceritakan saat kecelakaan di depan itu adalah ardana. Dimas sedang menjaganya di rumah sakit saat ini" jelas zein dan sontak saja membuat ariana menatap lekat kepada zein saat itu juga.
"Kak zein kenapa tidak bilang kalau kak jeff itu kak ardana. Astaga kau menyebalkan sekali" maki ariana yang tak terima.
"Kan aku juga tidak tahu jika kamu itu teman masa kecil kami arin" ucap zein serba salah.
"Sudah-sudah lebih baik kita kerumah sakit lagi saja sekarang" ajak papa ariana dan ingin menjenguk jeff atau ardana.
"Oke kita kembali lagi kesana" lantang ariana.
Flashback On
"Kak ardan tunggu arin, jangan tinggalin arin sendiri ..!" Pinta ariana menangis karena di tinggal oleh ardana.
Dimas dan zein sudah lebih dulu mengendarai sepedanya, mengayuh dengan cepat meninggalkan ardana dan ariana yang paling belakang.
__ADS_1
"Ayoo cepat arin, kau lambat sekali mengayuh sepedanya" teriak ardana masih terus mengayuh sepeda miliknya.
Dan saat ariana mengayuh dengan kuat tiba-tiba rantai sepeda miliknya putus dan sepeda arin pun oleng menabrak trotoar jalan di perumahannya.
Brrrruuuaakkkk ..
"Aaaahhhh ...." Teriak ariana kencang dan berguling-guling di trotoar jalan itu.
"Ariinnnnn" teriak ardana ketika mendengar suara ariana berteriak.
Lantas ardana pun kembali dan mengayuh sepedanya dengan kencang menuju ke ariana. Ardana pun membuang sepedanya begitu saja dan menolong ariana yang menangis dengan kaki dan tangannya yang berdarah akibat terkena trotoar tersebut.
"Kamu gapapa arin, mana yang sakit ? sini kakak lihat" panik ardana menolong ariana.
"Hikkss ... hikkss .. hikkss ... sakit kak, Kaki dan tangan arin" ariana terus menangis karena darah di kaki dan tangannya terus mengalir tak berhenti.
"Ayo kita pulang, kakak akan gendong kamu. sebentar, sepeda milik kita ditaruh ke pos penjagaan saja yaa..! Tunggu kakak, kakak akan segera kembali" Terang ardana dan meninggalkan ariana yg masih menangis.
Ardana pun memarkirkan sepeda miliknya dan ariana disana. Dan meminta tolong kepada satpam penjaga kompleks perumahan itu untuk menjaga sepeda mereka berdua.
"Pak agus saya titip sepeda sebentar, nanti saya akan kembali mengambilnya" Lantang ardana dan segera berlari meskipun pak agus menanyakan sesuatu. Ardana tidak menggubris pertanyaan satpam tersebut.
Pak agus pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saat ardana tidak menyahuti pertanyaannya.
Ardana pun sampai dimana ariana saat itu berada. Ariana pun masih saja menangis tak berhenti.
"Ayo naiklah ke punggung kakak, kakak akan mengantarmu pulang" ajak ardana berbalik membelakangi ariana.
Umur ardana dan ariana terpaut beberapa tahun saja. Ardana saat itu masih usia 10 tahun dan Ariana berusia 7 tahun. Jadi ariana selalu memanggilnya kakak, dan selalu menganggap ardana adalah pahlawannya.
Ardana selalu bersikap manis kepada ariana. Dan selalu memberi perhatian kepadanya. Meskipun salah satu sahabatnya juga menyukai ariana, tapi ardana tetap saja perhatian kepada ariana.
Ariana tidak pernah mengetahui jika salah satu teman ardana ada yang menyukainya. Pasalnya mereka berempat jika bermain bersama, hanya ardana saja yang selalu perhatian dengannya.
"Sudah jangan menangis, kakak kan sudah mengantar mu pulang. Hapus air matamu itu" ucap ardana menghibur.
"Iya kak, terima kasih sudah mengantar arin" jawab arin menghapus sisa air mata di pipi chubby nya.
__ADS_1
Zein dan dimas sudah sampai lebih dulu di depan rumah ardana. Mereka berdua melihat kebelakang mencari keberadaan ardan dan arin.
"Kenapa mereka berdua lama sekali yaa zein ?" tanya dimas dengan duduk di taman depan rumah ardan.
"Entahlah mungkin mereka memang lambat mengayuh sepedanya" jawab zein dan termenung sendiri.
Zein merasakan ada sesuatu yang terjadi kepada arin saat ini. Zein sangat tau jika arin tak bisa mengayuh sepeda dengan kencang, karena badannya yg cukup berisi.
Sampai beberapa menit kemudian, zein dan dimas melihat arin yang sedang digendong oleh ardan. Melihat kaki arin yang berdarah zein dan dimas langsung berdiri menghampiri nya.
"Kamu kenapa arin, kenapa kaki mu berdarah ?" tanya zein panik.
"Aku jatuh di trotoar sana kak, Kalian sih mengayuh sepedanya terlalu kencang dan aku tidak bisa mengimbangi kalian. Akhirnya rantai sepeda ku putus dan sepeda milik ku oleng menabrak trotoar. Untung saja kak ardan tidak jauh dariku saat itu, jadi dia yang menolong ku" jelas arin merasa bangga dengan ardan yang menolong nya.
Zein pun merasa irih dengan sikap ardan yang menolong ariana. Zein pun mengepalkan tangannya dan mencoba menetralkan perasaannya. Pasalnya ardan pun juga masih sahabatnya.
"Ayo kita segera bawa arin ke rumahnya" ucap zein dan dimas bersama.
Ardan pun terus saja menggendong arin sampai ke rumahnya.
"Assalamualaikum ... tante .. tante .." panggil mereka bertiga saat sudah berada di depan pintu rumah arin.
"Waalaikumsalam .. iyaa sebentar" jawab mama arin dengan terburu-buru membuka pintu rumahnya.
Mama arin pun sempat kaget saat melihat arin berada di gendongan ardana saat itu.
"Astagfirullah, arin kenapa nak. Ayo bawa dia masuk" suruh mama arin dan berlari mencari kotak P3K.
Saat sudah menemukan, mama arin pun segera menuju ruang tamu dan berjongkok di depan ariana untuk mengobati lukanya.
"Kenapa sampai seperti ini nak ? Ardan, dimas, zein bagaimana bisa arin seperti ini" tanya mama arin panik saat melihat luka yg begitu banyak di siku tangan dan lutut ariana.
Ardan pun menjelaskan kejadian yang terjadi kepada ariana saat bersepeda tadi. Dan mama ariana pun menasehati mereka berempat.
"Baiklah, untuk kalian semua jangan bawa sepeda terlalu kencang nak. Itu sangat berbahaya. Untung saja luka arin tidak parah. Lain kali jika bermain jangan tinggalkan arin di belakang yaa nak. Kalian tau sendiri jika tubuh arin sangat tambun" jelas mama arin.
"Baik tante, maafkan kami yg sudah meninggalkan arin" ucap mereka bertiga.
__ADS_1
Mama arin pun mengiyakan dan memaafkan mereka semua.