
Flashback On
"Kak zein tungguin arin ?" Teriak ariana yg langkahnya sudah sangat jauh dengan zein.
Zein tak menggubris sama sekali ariana yg berteriak memanggil namanya. Zein terus melangkah untuk menuju kamar tempat dia menginap. Dia membawa card access yg di minta kepada mamanya sebelum dia kembali menuju penginapan.
Papa dan mama zein masih asyik di tepi pantai, menikmati suasana sore hari. Angin semilir membuat ombak di pantai mengalun dengan indah. Mereka tak ingin melewatkan kesempatan ini.
Zein sedikit marah kepada mamanya, karena nyonya maya terus saja memperhatikan ariana di bandingkan dirinya. Lantas zein pun meninggalkan mereka semua tak kembali ke penginapan nya.
Ariana berlari terus untuk mengejar langkah zein yg sudah sangat jauh di hadapannya. Zein telah sampai di penginapan nya dan menutup pintu kamarnya.
Saat itu usia ariana masih 7 tahun dan zein 10 tahun lebih tua dibandingkan ariana yg terlihat menggemaskan.
Saat ariana sudah sampai di depan kamar penginapan, dia mengetuk pintu kamar itu untuk meminta zein membukakan pintu.
Dokk .. dookkk .. doookkk ...
"Kak zein buka pintunya ?" Panggil ariana dari luar dengan suara khas anak-anak.
Zein tetap saja tidak mengidahkan panggilan ariana yg masih terus berusaha memanggil namanya.
Ariana juga sedikit kesal kepada zein, karena tangan mungilnya terasa sakit saat menggedor-gedor pintu kamar penginapan itu.
Cleaning servis yg akan membersihkan kamar penginapan di sebelah kamar yg di sewa oleh tuan malik pun melintas, dan tak sengaja melihat ariana yg terus saja memanggil si pemilik. Lantas dia pun menanyakan kepada ariana apa alasannya dia menggedor-gedor pintu itu.
"Adik kecil, kamu kenapa menggedor-gedor pintu kamar ini. Apa saudara mu berada di dalam ?" Tanya pegawai itu kepada ariana mensejajarkan posisi dirinya.
"Itu, kak zein tak ingin membukakan pintu untuk ku kak" Ucap ariana mulai terisak.
"Mama dan papamu ada dimana sekarang ?" Tanya pegawai itu kembali.
__ADS_1
"Mama, papa arin ada di jakarta. Arin kesini bersama orang tua kak zein" Jelas ariana.
"Lalu mereka berada dimana sekarang, arin mau kakak antarkan saja kepada orang tua zein ?" Tanya pegawai itu yg tak tega melihat ariana menangis sendiri di depan kamarnya.
Ariana pun menganggukkan kepalanya. Lalu cleaning servis itu mengantar ariana menemui orang tua zein di tepi pantai.
Ariana sudah menunjukkan arah dimana orang tua zein berada. Cleaning servis itu pun dengan senang hati mengantarkannya dan menuntunnya menuju tepi pantai.
"Arinnn ..?" Panggil nyonya maya saat melihat ariana digandeng oleh seorang wanita muda.
"Maaf nyonya, saya mengantarkan nona arin kesini. Tadi saat saya akan melintas di depan kamar anda, saya melihat nona arin menangis di depan sana. Dan menggedor-gedor pintu kamar tersebut" Jelas pegawai tersebut.
Lalu nyonya maya pun mengambil ahli ariana dan menggendongnya. Tuan malik tak habis fikir dengan sikap zein putranya itu, dia akan memberi pelajaran setelah ini.
"Terima kasih yaa mbak, sudah mengantarkan arin kepada kami !" Ucap tuan malik dan nyonya maya.
"Sama-sama tuan, nyonya. Saya permisi dulu" Jawab pegawai itu dan berlalu setelah mendapat anggukan dari tuan malik dan nyonya maya.
Tuan malik pun menanyakan kepada ariana apa yg terjadi. Lalu ariana menceritakan kejadian saat dia berlari memanggil nama zein dan menggedor-gedor pintu kamar penginapan.
Tuan malik pun akhirnya mengajak mereka kembali ke kamar penginapan nya. Dia menggendong ariana di punggungnya dan nyonya maya berada di sampingnya.
Zein yg berada di dalam kamar itu pun masih saja merasa kecewa kepada mama dan papanya. Dia menatap kosong semuanya dan mulai menetralkan semua pikirannya.
Mereka bertiga sudah sampai di depan kamar penginapan miliknya. Nyonya maya pun mulai mengetuk pintu kamar itu dan memanggil nama zein.
Tukk .. tukk .. tukk ..
"Zein, buka pintunya nak ?" Panggil nyonya maya.
Zein tak menjawab, dia beranjak dari sofa dan membuka pintu kamar itu. Setelah membukanya dia duduk kembali diatas sofa dengan mengsedekapkan tangan di dadanya.
__ADS_1
Nyonya maya dan tuan malik yang melihat putra semata wayang nya itu hanya tersenyum saja. Rupanya dia sedang marah kepada mereka, apalagi saat ini ariana berada di gendongan papa tercintanya. Zein semakin cemberut saat melihat itu semua.
"Kamu kenapa zein ?" Tanya tuan malik menghampirinya dan menurunkan ariana di atas sofa sebelah zein.
Zein hanya diam membisu tanpa ingin berbicara kepada mereka semua. Lantas ariana duduk di sebelahnya dan memeluk zein dari samping.
Tuan malik dan nyonya maya saat melihat ariana bersikap begitu peduli kepada zein pun tersenyum bahagia.
"Maafkan arin kak zein, arin tidak merebut siapapun disini. Arin juga sudah memiliki mama dan papa. Om malik dan tante maya tetaplah papa dan mama kak zein" Ucap ariana dengan suara khasnya.
Zein masih saja tak bergeming dengan kata-kata apapun. Dian hanya melirik sekilas ariana dan mengacuhkannya kembali.
"Kak zein tidak ingin memaafkan ku ? Arin tau kak zein sedang iri kan dengan arin ?" Tanya ariana masih dengan posisi yang sama.
"Kamu tau dari mana kalau aku sedang iri denganmu ?" Jawab zein kemudian dan menatap ariana.
Tuan malik dan nyonya maya hanya memperhatikan saja kelakuan dua bocah yg berada di depannya itu. Sesekali mereka tetkikik geli melihat tingkah laku mereka.
"Ya arin tau, kalau kak zein tidak iri dengan arin. Kak zein sudah pasti membuka pintu kamar ini saat arin memanggil dan menggedor-gedor pintu tadi" Jelas ariana.
"Lalu kamu ingin apa dariku ?" Tanya zein lagi.
"Aku ingin kak zein memaafkan ku dan aku berjanji tidak akan merebut papa dan mama milik kak zein. Kak zein mau kan memaafkan arin ?" Jawab ariana dan menunjukkan jari kelingking nya untuk di satukan dengan jari kelingking zein.
"Oke, kak zein mau memaafkanmu. Tetapi ada satu syaratnya ?" Ucap zein dan memikirkan syarat yg akan di ajukkannya.
"Apa itu kak ?" Tanya ariana.
"Papa dan mama tidak boleh memprioritaskan ariana lagi. Dan harus mendahulukan zein" Ucap zein lantang.
Tuan malik dan nyonya maya pun menganggukkan kepala sebagai tanda bahwa mereka setuju dengan permintaan putranya.
__ADS_1
Lalu ariana mengecup pipi zein dan berterima kasih kepadanya. Tuan malik dan nyonya maya pun tersenyum bahagia saat dua bocah itu kembali akur.
Flashback Off