
Mobil yg di tumpangi dimas telah sampai di tempat parkir pantai. Di sana banyak orang yg berkerumun dan para wartawan juga meliput landing nya pesawat di sana.
Jefri sudah menunggu di meja yg di sediakan untuk menanti jemputan dari para anggota keluarga. Dimas melihat area sekitar dan mencoba menghubungi jefri dari sambungan teleponnya.
"*Hallo jeff, kamu berada di sebelah mana ?" Tanya dimas yg masih berjalan memutar di area sekitar pantai.
"Lihat arah jam 2, kamu akan melihat ku" Pinta jefri yg sudah melihat sahabatnya*.
Dimas menoleh ke arah kanan dan menemukan jefri yg sedang duduk sendiri di antara para penumpang lain. Dimas pun berjalan dan mendekatinya.
"Kau lama sekali dim ?" Keluh jefri yg sudah lama menunggu disana.
"Maaf, jalanan sedikit macet" Jawab dimas.
Mereka berdua berjalan menuju tempat parkir mobil. Tak lupa dimas menyalakat tombol remote untuk membuka kunci mobilnya. Jefri memasukkan koper miliknya dan duduk di samping kursi kemudi.
Dimas pun menyalakan mobil dan tancap gas menuju ke rumah sakit. Jefri hanya memejamkan matanya untuk istirahat sejenak. Jantung nya masih terasa berdenyut kencang, akibat kecelakaan itu.
"Ceritakan kepadaku, bagaimana kejadiannya tadi saat dalam penerbangan ?" Ucap dimas memecah kesunyian.
"Biarkan aku mengontrol jantung ku dulu dim. Aku perlu beristirahat sejenak, Bolehkah ?" Ujar jefri yg tak ingin ambil pusing atas peristiwa yg menimpanya.
"I'm sorry brother. Oke, istirahat lah. Kamu bisa menceritakan nya nanti" Jawab dimas dan fokus dengan kemudinya.
Ditempat lain,
Nyonya susan sedang menonton siaran berita sore itu. Dia sangat terkejut dengan peristiwa yg terjadi.
Dia mencoba menghubungi ariana, tetapi ponselnya mati. Nyonya susan hanya mendesah pasrah dengan keadaan. Lalu dia mengingat sesuatu kembali. Dia mencoba menghubungi nomor zein, tetapi nihil. Panggilan nya juga tidak bisa bersambung kan.
Dan menit kemudian sang suami menghubungi nya. Nyonya susan pun mengangkat panggilan telepon dari sang suami dan menanyakan ada keperluan apa di waktu sore ini sampai harus menghubungi nya.
"*Hallo ma ?" Sapa tuan sean.
"Ya pa, ada apa ?" Tanya nyonya ayu.
__ADS_1
"Mama sudah melihat berita di televisi ?" Tanya balik tuan sean.
"Hem, ini mama sedang menonton" Jawab singkat nyonya ayu.
"Feeling papa merasa ada yg aneh ma, coba hubungi anak - anak saja ?" Saran tuan sean.
"Sudah pa, tapi tidak ada yg aktif ponselnya" Jelas nyonya susan mengeluh.
"Mama coba hubungi dimas atau jefri saja. Papa 5 menit lagi ada meeting dengan client" Pinta tuan sean.
"Ya, baiklah" Jawab singkat nyonya susan dan mematikan sambungan teleponnya*.
Nyonya susan mencoba menghubungi nomor dimas. Karena dia tidak memiliki nomor jefri.
Didalam mobil, dimas menerima panggilan dari nyonya susan. Dimas menggunakan handset di telinganya. Dia sedikit melirik ke arah jefri yg sedang memejamkan matanya.
"Hallo tante, ada apa ?" **Tanya dimas dengan masih fokus di kemudinya.
"Maaf nak, apakah tante mengganggu mu ?" Tanya balik nyonya susan yg mendengar sedikit kebisingan di sambungan teleponnya.
"Tante mau bertanya, apakah kamu sudah melihat berita sore ini ? Firasat tante sedang tidak baik - baik saja" Jelas nyonya susan.
"Eum, ya tante sudah. Dan kabar mengejutkan nya adalah ardan yg berada di pesawat tersebut" Terang dimas ragu - ragu.
"Apa nak ? Nak ardan yg mengalaminya, astagfirullah. Apakah dia baik - baik saja saat ini ?" Tanya nyonya susan dengan kepanikannya**.
Dimas melirik ke arah jefri yg berada di sampingnya. Jefri masih dalam posisi memejamkan matanya. Dimas berfikir dia memang sudah tertidur.
"Ya tante, aku baik - baik saja. Dan dimas sudah menjemput ku di pantai tadi" Ucap jefri kemudian.
Dimas hanya mengernyitkan dahinya, dia kira jefri sudah tertidur dengan pulas. Ternyata dia salah, dimas menyalakan louse speaker supaya jefri mudah untuk mendengarkan ucapan nyonya susan.
"*Alhamdulillah nak kalau begitu. Om sean juga khawatir saat melihat berita itu. Entah firasat apa yg menyatukan hati kamu bawah salah satu dari kalian sedang tidak baik - baik saja" Terang nyonya susan.
"Ya tante, alhamdulillah. Saat ini arin dan zein sedang dalam penerbangan nya menuju ke tokyo" Jelas jefri.
__ADS_1
"Hah, bukannya arin dan zein sudah berada di sana beberapa hari yang lalu ?" Syok nyonya susan.
"Dia datang ke singapura 2 hari yang lalu tante. Aku sakit, zein, arin juga dimas mengunjungi ku kesana" Terang jefri.
"Oh seperti itu. Baiklah nak, kabari tante jika ada apa - apa dengan kalian. Tante sampai lupa, ardan terbang ke indonesia untuk apa ?" Tanya nyonya susan sebelum memutuskan panggilan teleponnya.
"Daddy saya sakit tante. Saat ini dia sedang di rawat di rumah sakit x" Jelas jefri.
"Apa ardan ? Papa mu sakit apa nak ?" Panik nyonya ayu.
"Ardan belum tau tante. Ini kita on the way ke sana" Jawab jefri.
"Oke baiklah. Tante juga akan kesana sekarang. Kamu hati - hati yaa dijalan. Dimas tidak boleh ngebut kalau bawa mobil" Nasihat nyonya susan sebelum memutuskan panggilan nya.
"Siap mom" Canda dimas dan tertawa*.
Nyonya susan mematikan sambungan teleponnya dengan menggeleng - gelengkan kepalanya. Rindu dengan semua tingkah laku anak - anak nakal itu. Saat masih kecil semua selalu berkumpul di rumah nyonya susan. Mereka semua sudah di anggapnya sebagai anak sendiri olehnya juga suaminya.
Nyonya susan sangat senang dengan dimas yg selalu saja memanggil nya dengan panggilan "Mommy". Dia merasa terharu dengan panggilan yg sering dimas ucapkan sewaktu masih kecil.
Dimas yg selalu perhatian kepadanya saat nyonya susan sedang sakit. Dia sudah seperti anaknya sendiri. Maka dari itu ariana sudah menganggap dimas sebagai abangnya sendiri, dibandingkan dengan zein juga jefri.
Nyonya susan bersiap - siap di dalam kamarnya. Tak lupa dia juga memberi kabar kepada suaminya bahwa dia akan menjenguk tuan wahyu yg berada di rumah sakit.
"Pa, mama mau pergi menjenguk mas wahyu. Jefri mengabari bawah papanya sedang berada di rumah sakit saat ini" Isi pesan nyonya susan.
Sekitar 3 menit tuan sean membalas pesan sang istri.
"Baik, papa akan menyusul setelah meeting selesai. Mama tunggu di sana saja" Jawab tuan sean.
Nyonya ayu berjalan keluar dan sebelum meninggalkan rumah, dia berbicara kepada pelayan untuk tidak perlu menyiapkan makan malam. Karena dia sudah berinisiatif untuk makan malam di luar saja.
Nyonya ayu berjalan ke dalam mobil dan masuk setelah sang supir membukakan pintu di belakang kemudi. Pak supir pun melajukan mobilnya keluar pelataran rumah aestetic itu dan menuju jalan raya.
Di dalam penerbangan, ariana sudah tertidur pulas setelah puas dalam tangisan nya. Zein merasa sangat bersalah telah mengungkit masa lalu ariana bersama bima.
__ADS_1
Dia mencoba untuk memikirkan memberikan hadiah kecil kepada arina saat sudah sampai di tokyo jepang.