
Ariana pun terisak di dalam kamarnya. Dia tidak menyangka jika jefri harus di larikan ke rumah sakit.
Pagi ini zein telah sampai di lobby apartemen miliknya. Dia menyapa resepsionis dan berlalu masuk ke dalam lift setelahnya. Zein sudah memencet tombol, dimana unit miliknya berada.
Hari ini zein tidak di supiri oleh arata. Dia ingin membawa mobil miliknya sendiri tanpa asisten pribadinya.
Denting lift pun berbunyi dan pintu terbuka. Zein melangkah keluar dan menuju unit miliknya. Zein memencet bel pintu, dan menunggu ariana membukanya.
Ariana yg berada di dalam kamarnya, segera menghapus air matanya yg mengalir di pipinya. Dan berlalu turun ke lantai bawah.
Ariana membuka pintu dan tersenyum kepada zein. Zein yg melihat raut wajah ariana langsung memegang pundak ariana. Sembab di sekitar matanya masih terlihat jika ariana habis menangis.
"Kamu kenapa dear ?" Tanya zein menatapnya.
"Ah, tidak kak" Elak ariana.
Zein menutup pintu dan mengajak ariana duduk di sofa ruang tamu. Lalu menanyakan kembali rasa penasaran nya.
"Katakan kepadaku dear ada apa ? Sepertinya kamu habis menangis ?" Tanya zein lagi.
Ariana masih mengelak tidak ingin membuat zein khawatir. Dia mengalihkan pandangannya dan mengapus lagi air mata yg mengalir di pipinya.
__ADS_1
Zein yg melihat itu langsung memeluknya. Membenamkan wajah ariana di dada bidangnya. Ariana langsung terisak kembali di dalam pelukan zein.
"Ada apa hmm ?" Tanya zein dengan nada lembutnya.
"Kak ardan, kak .." Ariana tidak melanjutkan kata-katanya. Isakan tangisnya masih belum menyurut.
"Ceritakan pelan-pelan dear. Ada apa dengannya ?" Ucap zein dengan sabarnya.
"Kak ardan pingsan di apartemen nya. Saat ini kak julian telah membawanya ke rumah sakit" Jelas ariana kemudian saat tangisnya sudah meredah.
"Apa ? Kenapa dengannya ?" Syok zein saat mendengar penjelasan ariana.
"Arin juga tidak tau kak, ayo kita terbang ke sana kak. Aku tidak ingin jika kak ardan kenapa - kenapa ?" Pinta ariana terisak kembali.
Zein menghubungi arata dan meminta nya untuk menyiapkan segalanya. Zein dan ariana akan terbang siang hari ini juga ke singapura.
Zein juga mengabari dimas yg menurutnya paling dekat dengan negara jeff saat ini. Mereka semua sudah sepakat jika akan terbang siang ini.
Zein menghampiri ariana setelah menghubungi arata dan sahabatnya. Zein meminta ariana untuk menenangkan dirinya saat ini. Lalu zein mengambil kotak P3K untuk mengganti perban ariana dan mengolesi salep untuk lukanya.
Zein juga sudah memesan makanan untuk sarapan mereka berdua. Pagi ini zein memutuskan sarapan di apartemen miliknya bersama dengan ariana.
__ADS_1
Changi bay singapura,
Jeff sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Julian setia menunggu temannya itu di sana. Julian bernafas lega, karena dokter mengatakan kalau tidak ada yg serius dengan penyakit jefri. Hanya saja suhu tubuhnya naik, karena terkena air terlalu lama.
Julian sangat penasaran dengan apa yang dilakukan oleh oleh jefri saat pagi tadi. Dia ingin menanyakan setelah jefri sadar nanti. Rasa penasaran nya sangat menggebu-gebu.
Hari ini julian izin kepada dosennya untuk tidak masuk kuliah. Dia sendiri sedikit heran dengan dirinya. Kenapa dia yg harus berjaga di rumah sakit. Mungkin karena permintaan ariana tadi, dia mau menjaga jefri.
Julian juga menunggu pesanan makanannya datang. Dia memutuskan untuk menyibukkan diri mengerjakan tugas kuliahnya diatas sofa yg di sediakan.
10 menit kemudian, jeff mengerjapkan matanya. Kepalanya terasa pusing, diapun memeganginya. Julian yg melihat itu, langsung menghampiri jefri di samping ranjangnya.
"Kamu sudah siuman ?" Tanya julian.
"Ada apa denganku, jul ?" Tanya balik jeff.
"Kamu tadi pingsan di apartemen, lalu aku membawa mu ke rumah sakit" Jawab julian menatapnya.
"Hem, terima kasih" Ucap jefri menatap sayu ke arah julian.
"Sama - sama jeff. Istirahat lah, kurasa aku harus menanyakan nya nanti saat kamu benar-benar sudah pulih" Jawab julian kemudian.
__ADS_1
Jefri hanya menganggukkan kepalanya dan kembali memejamkan matanya. Julian kembali duduk di sofa dan melanjutkan mengerjakan tugasnya.