
Pesawat yg di tumpangi oleh jefri sudah landing di perairan indonesia. Beruntung sekali tidak sampai meledak dan terbakar. Semua orang diminta untuk tetap mengikuti aba-aba dari maskapai.
Jefri bernafas dengan lega saat dia turun dengan selamat. Jantungnya terasa berdebar sangat cepat saat pesawat mulai turun dengan sangat cepat.
Dia mencoba mengaktifkan ponselnya dan menghubungi dimas. Jefri meminta dimas untuk menjemputnya karena jarak dari pantai itu sudah lumayan dekat dengan jakarta.
Di tempat lain,
Dering ponsel dimas pun berbunyi dan si empunya pun menerima panggilan dari jefri. Dimas bernafas dengan lega, ketika jefri menghubungi nya.
"Hallo jef, kamu sudah sampai ?" Tanya dimas antusias.
"Kau sedang berada dimana dimana ?" Tanya balik jefri.
"Aku sedang di ruang perawatan om wahyu" Jawab dimas.
"Keluarlah sebentar, aku tidak ingin mommy mendengarkan kita berbicara" Terang jefri di balik sambungan teleponnya.
"Ada apa nak ? Apakah ardan sudah sampai ?" Tanya beruntun nyonya ayu.
"Ah, iya tante. Saya permisi dulu mau menjemput nya" Jawab dimas sekenanya.
"Ya baiklah, hati - hati di jalan" Ucap nyonya ayu dan dimas hanya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Dimas berjalan keluar ruangan. Dan menempelkan ponselnya ke arah telinga untuk berbicara lagi dengan jefri.
"Aku sudah berada di luar jef, katakan ? Apa kamu baik - baik saja ?" Tanya dimas dengan khawatir nya.
"Ya, alhamdulillah aku baik - baik saja. Saat ini aku membutuhkan bantuan mu. Jemput aku di pantai x sekarang. Jantung ku ingin rasanya berhenti berdetak saat ini dim" Jelas jefri dan mengeluh kepada dimas.
"Oke, tunggu aku disana. 40 menit aku akan sampai" Jawab dimas dan mematikan sepihak panggilan nya.
Dimas terburu - buru menuju ke parkiran mobil. Dan menancap gas keluar dari pelataran rumah sakit itu.
Di dalam pesawat, Ariana mimpi buruk dan zein mencoba membangun kan nya. Karena suara ariana sedikit mengusik orang lain yg berada di dalam pesawat tersebut.
"Dear bangunlah.." Goyang - goyang zein, lengan ariana. Ariana pun mulai sadar dan mengerjabkan matanya. Dia melihat ke arah sekitar dan beristighfar.
"Aku hanya bermimpi buruk tentang kak ardan, kak. Mimpi itu seperti nyata sekali" Jelas ariana.
"Ya, tenangkan dulu hatimu. Semoga saja dia baik - baik saja" Usap zein puncak kepala ariana.
Ariana menganggukkan kepalanya dan mencoba menetralkan semuanya. Perjalanannya masih sangat jauh lagi, ariana mencoba untuk bercerita dengan zein.
"Kita masih membutuhkan waktu berapa lama lagi kak ?" Tanya ariana yg sudah mulai resah. Zein melihat di jam tangannya.
"Mungkin sekitar 4 jam lagi dear" Terang zein.
__ADS_1
"Aku tak ingin tidur lagi kak. Bisakah kau bercerita tentang apapun itu ?" Jawab ariana.
"Kamu mau aku bercerita apa dear ?" Tanya zein yg sedikit merasa bingung.
"Apapun kak, biarkan aku mengahlikan perasaan khawatir ku kepada kak ardan" Terang ariana.
" Em, baiklah. Bolehkan aku bertanya dear ? Mungkin ini kesannya sedikit aneh untukmu. Tapi aku perlu tau semuanya, jika kamu tidak berkenan memberitahuku aku tidak keberatan" Ucap zein.
"Ya, baiklah. Katakan kak ?" Pinta ariana akhirnya.
"Sejauh mana kamu mengenal bima ?" Tanya zein kemudian.
"Kenapa harus membahas dia kak ?" Sarkas ariana.
"Kan aku sudah bilang dear sebelumnya, apakah tidak bisa kamu memberitahuku ?" Jawab zein.
"Ya, akan aku jelaskan kak. Dia dan aku sangat dekat. Dia mantan kekasihku, mungkin sekitar 8 bulan atau lebih sepertinya hubungan kami terjalin. Dan saat itu .." Ariana memutuskan ceritanya. Dia merasa sangat sakit saat mengingat bima bersama wanita lain di hadapannya.
"Aku tahu, tidak perlu dilanjut kan lagi. Itu sudah cukup untuk mewakili ceritamu" Terang zein dan membenarkan surai rambut ariana.
Ariana meneteskan air matanya. Sampai saat ini dia masih merasakan goresan pisau yg menancapnya terlalu dalam. Zein yg melihat gadisnya menangis pun, memeluknya dari samping.
"Tenangkan hatimu. Maafkan aku yg telah mengungkit masa lalu mu dear" Ucap zein.
__ADS_1
Ariana tak bisa berkata - kata lagi. Dia semakin menangis di dalam pelukan zein. Ariana sadar saat itu dia juga tak bisa banyak menceritakan tentang hubungannya kepada zein. Dia merasa sedikit bersalah kepada pria itu.