
Dengan hati yang terasa sedih dan hampa, Ardian melajukan motor Nayla ke rumah Zanna.
Tiba di rumah Zanna, Ardian melihat Nayla sudah duduk di teras bersama Zanna.
Keduanya terlihat diam dengan wajah yang sama dingin.
"Assalamualaikum." sapa Ardian melepaskan senyum sedihnya.
"Waalaikumsallam Pak Ardian." jawab Zanna tersenyum menahan rasa iba pada Ardian yang masih bisa melepas senyumnya.
"Nayla, kamu tidak membalas salam Pak Ardian?" tanya Zanna kesal pada Nayla yang baru datang di antar Kenzo.
"Sudah dalam hati." Jawab Nayla mengalihkan pandangannya pada halaman depan.
"Ada apa? apa kalian bertengkar?" tanya Ardian tak ingin Nayla dan Zanna bertengkar soal semalam.
"Entahlah, dari pagi Zanna seperti itu!!" jawab Nayla sambil mengambil tasnya di atas meja dan berjalan ke arah motor yang di parkir Ardian.
"Zanna, apa itu benar kalian ada bertengkar?" tanya Ardian kuatir.
"Tidak Pak Ardian, kita hanya ada salah paham saja." jawab Zanna tersenyum pada Ardian yang begitu baik dan sabar orangnya.
"Syukurlah kalau begitu, aku mengantar Nayla dulu ya Zan." pamit Ardian pada Zanna.
Zanna menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
Berdua di atas motor, Nayla sama sekali tidak berpegangan pada Ardian.
Dengan kecepatan pelan Ardian melajukan motornya ke rumah Nayla.
Tiba di rumah Nayla, Sasongko dan Bunda Nay sudah menyambut kedatangan Ardian.
Setelah Nayla turun dari motor, Ardian pun turun dari motor dan meletakkan motornya di bawah pohon kelapa.
__ADS_1
Nayla berjalan bersama Ardian masuk ke dalam rumah.
Nayla masuk ke dalam rumah, dan melihat pandangan Ayah dam Bundanya penuh kemarahan, entah karena apa.
"Ayah Bunda." sapa Nayla tersenyum pada orangtuanya.
Namun bukan jawaban yang di dapatkan Nayla, tapi sebuah tamparan sangat keras yang di dapat Nayla.
"PLAKKKK"
"Ayah,..ada apa? kenapa Ayah menamparku?" tanya Nayla memegang pipinya dengan airmata yang sudah mengalir deras.
Ardian yang terkejut dengan sikap Sasongko segera menahan tangan Sasongko saat akan menampar Nayla lagi.
"Biarkan saya menampar anak yang tidak tahu malu ini Nak Ardian." teriak Sasongko sambil menunjuk wajah Nayla.
"Ayah,!! apa salahku??? aku melakukan hal apa sampai Ayah malu?" tanya Nayla dengan suara keras bercampur Isak tangis.
"Kamu masih berani bertanya sama Ayah? setelah kamu semalam tidak pulang dan tidur di rumah kontrakan Kenzo??" teriak Sasongko hendak menampar wajah Nayla lagi.
Nayla mengalihkan pandangannya pada Ardian dengan tatapan penuh kebencian.
Dengan cepat Nayla mendekati Ardian dan mendorong tubuh Ardian dengan sangat keras hingga tubuh Ardian membentur dinding.
"Apa kamu puas sekarang!! kamu senangkan? jika Ayah dan Bunda membenciku!! kenapa kamu tega bilang pada Ayah setelah aku percaya padamu dan minta tolong padamu." teriak Nayla sambil memukul dada Ardian.
"Nayla aku tidak.." Ardian mencoba menjelaskan dan melanjutkan bicaranya namun Nayla tidak memberikan kesempatan sedikitpun pada Ardian.
"Cepat kamu keluar!! tinggalkan rumah ini, aku tidak ingin melihatmu lagi." teriak Nayla mendorong kasar tubuh Ardian keluar dari dalam rumah.
Melihat sikap Nayla yang menjadi-jadi, Sasongko menarik tangan Nayla kasar dan di dudukkan di kursi kayu.
"Dengarkan Ayah Nayla!! bukan Nak Ardian yang keluar dari rumah ini, tapi kamu!! kamu ingin tahu kan? darimana Ayah tahu hal ini? Ayah tahu dari Ayah Kenzo!! kamu tahu Nayla? di taruh di mana wajah Ayah saat Ayah Kenzo bilang kalau kamu tidur di rumah kontrakan Kenzo??? dan satu lagi, Nak Ardian telah melindungimu, Ayah menelponnya semalam memastikan pesan dari kamu benar atau tidak, dan Nak Ardian bilang sama Ayah kalau kamu bersamanya karena kamu sakit, dan sekarang sudah jelas kamu salah, masih saja marah pada Nak Ardian?" ucap Sasongko dengan kemarahan yang luar biasa.
__ADS_1
Tangis Nayla pecah, semakin keras dan tak tahu harus bilang apa lagi.
Ardian yang berada di luar, berdiri dan bersandar di dinding dengan mata terpejam.
Sasongko keluar dan menarik tangan Ardian mengajak masuk ke dalam rumah.
"Nak Ardian, lain kali jika Nayla melakukan kebohongan dan melakukan kesalahan lagi, Bapak mohon jangan lagi melindungi dan menutupi kesalahannya Nak...biarkan Nayla mendapatkan hukumannya." ucap Sasongko yang semakin merasa bersalah pada Ardian.
"Nayla, minta maaflah pada Nak Ardian kalau kamu ingin Ayah dan Bunda memaafkanmu, jika kamu tidak mau kamu bisa pergi dari rumah ini sekarang." ucap Sasongko dengan sangat tegas.
Nayla menatap Ayah dan Bundanya dengan perasaan malu, apa yang di takutkan benar-benar tejadi.
Dengan sangat menyesal Nayla bersujud di bawah kaki Ayahnya.
"Ayah maafkan aku, maafkan aku karena telah membuat malu Ayah dan Bunda, aku berani bersumpah aku tidak melakukan apa-apa, aku hanya menjaga Kenzo karena dia sakit dan mencoba bunuh diri Ayah." jelas Nayla dengan airmata yang tidak ada hentinya.
"Nayla jangan di ulangi lagi seperti ini Nak, sekarang minta maaflah pada Nak Ardian, karena Ayah dan Bunda tidak akan bisa memaafkanmu kalau kamu tidak meminta maaf pada Nak Ardian, Nak Ardian sangat baik Nayla jangan lagi menyakiti hati Nak Ardian." ucap Sasongko menitikkan airmata, membuat Nayla semakin menangis dalam penyesalan.
"Ayo Bunda, kita masuk ke dalam, biar Nayla menyelesaikan masalahnya dengan Nak Ardian." ucap Sasongko merengkuh pundak Bunda Nay yang hanya bisa menangis lirih melihat pertengkaran antara Suami dan putrinya.
"Ingat Nayla, mungkin saat ini kamu belum bisa mencintai Nak Ardian, tapi Bunda sebagai wanita sangat tahu bagaimana laki-laki yang bisa menjagamu Nak, Nak Ardian sangat mencintaimu dan bisa menjagamu dengan baik, percaya sama Bunda Nay." ucap Bunda Nay sebelum masuk ke dalam kamar.
Setelah Sasongko dan Bunda Nay masuk ke dalam kamar, tinggal Nayla dan Ardian duduk terdiam dengan pemikirannya masing-masing.
Dengan matanya yang sembab, Nayla menatap Ardian sekilas kemudian menundukkan wajahnya dengan perasaan malu dan menyesal dengan semua yang terjadi.
"Apa Pak Ardian mau memaafkan aku jika aku minta maaf?" tanya Nayla menangis sambil menundukkan wajahnya.
Ardian menatap wajah sembab Nayla yang masih menangis dengan wajah tertunduk.
Berlahan Ardian mengangkat dagu Nayla dan mengusap airmata yang masih mengalir deras.
"Jangan menangis, cantikmu akan hilang jika menangis terus." ucap Ardian dengan tersenyum.
__ADS_1
"Apa Pak Ardian mau memaafkan aku, aku tahu aku salah, dan kesalahanku ini tidak bisa mudah di maafkan oleh Ayah dan Bunda terutama Pak Ardian, aku menyesal dengan semua ini." ucap Nayla masih dengan mata tertunduk tidak ada keberanian untuk membalas tatapan Ardian.
"Nayla, lihatlah aku..apakah aku terlihat marah padamu?" tanya Ardian yang tiba-tiba dadanya berdebar-debar sangat kencang, saat Nayla berlahan menatap matanya dengan mata yang berkaca-kaca.