LOVE THE OLD MAN

LOVE THE OLD MAN
JIKA KITA MEMANG BERJODOH


__ADS_3

"Nayla, berjanjilah padaku...kalau sudah lima bulan, kamu akan meminta cerai dari pak Ardian." ucap Kenzo dengan tatapan penuh kesedihan karena Nayla tetap bersikeras menikah dengan Ardian.


"Ya Ken, kamu tenang saja ya." ucap Nayla mengusap wajah Kenzo dengan penuh cinta.


"Aku mencintaimu Nay." ucap Kenzo menatap wajah cantik Nayla.


"Aku juga mencintaimu Ken, hati-hatilah kalau pulang, ini sudah larut malam." ucap Nayla dengan perasaan tidak rela jika Kenzo harus pulang.


"Aku pulang dulu ya Nay, kamu harus cepat pulang sebelum tengah malam." ucap Kenzo mengecup kening Nayla.


Nayla mengangguk kecil.


Setelah Kenzo berlalu dengan motornya, Nayla menatap langit hitam pekat dan sedikit hujan rintik.


Nayla masuk ke dalam rumah sambil melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul sembilan malam.


Di balik jendela rumah, hati Ardian seperti tertusuk duri saat melihat Kenzo mencium kening Nayla.


"Ya Tuhan beri hambamu kesabaran, dan keikhlasan, agar tidak terlalu sakit hati ini." ucap Ardian dalam hati sambil menekan dadanya yang terasa sakit.


"Pak Ardian." panggil Nayla mengetuk pintu kamar Ardian.


"Sebentar Nay." ucap Ardian berjalan ke pintu dan membukanya.


"Aku langsung pulang ya pak, takutnya hujan di luar semakin deras. " ucap Nayla setelah Ardian membuka pintunya.


"Maaf aku tidak bisa mengantarmu Nay, mobil lagi di pinjam Mang Maman, apa aku antar pakai motor kamu saja." ucap Ardian merasa tidak enak membiarkan Nayla pulang sendiri.


"Tidak usah pak, tidak apa-apa...saya pulang sendiri saja." ucap Nayla tersenyum.


Di temani Ardian, Nayla berjalan keluar rumah baru sampai teras terdengar suara petir menyambar hingga Nayla meloncat ke dalam pelukan Ardian.


"Ya Tuhan, pak Ardian kenapa harus ada petir lagi." ucap Nayla dengan mata terpejam memeluk erat tubuh Ardian.


"Aku antar pulang ya Nay, hujan masih belum terlalu deras." ucap Ardian kembali merasakan detak jantungnya berpacu.


"Tidak pak, aku takut petirnya datang lagi, bawa aku masuk ke dalam pak." cicit Nayla memeluk Ardian lebih erat.


Ardian semakin tak bisa bergerak, antara menenangkan hatinya dengan pelukan Nayla yang menyesakkan dadanya.


"Tapi ini sudah malam Nay, kamu harus pulang." ucap Ardian pelan.

__ADS_1


"Aku sungguh takut pak, biarkan aku di sini sampai hujan reda." ucap Nayla dengan wajah yang sudah pucat dengan tubuh yang bergetar.


"Baiklah kita masuk ke dalam ya Nay." ucap Ardian dengan memejamkan matanya.


"Ya Tuhan jika memang Nayla adakah jodohku biarkan takdir yang mendekatkan Nayla padaku." ucap Ardian dalam hati.


Dalam pelukan Ardian, Nayla di bawanya ke kamar yang khusus untuk tamu.


"Nay, sementara kamu di sini ya...kamu bisa istirahat sekarang, aku akan memberitahu Ayah kamu dulu." ucap Ardian hendak meninggalkan kamar, namun Nayla sedikitpun tak melepaskan pelukannya.


"Nay, itu hanya suara petir di luar kamu tidak akan kenapa-kenapa, kamu aman di sini." ucap Ardian mencoba melepas tangan Nayla.


"Pak Ardian mau ke mana?" tanya Nayla menatap Ardian dengan wajah ketakutan.


"Aku mau ke kamar Nay, ponselku ada di dalam sana." ucap Ardian sedikit bingung dengan ketakutan Nayla yang seperti orang trauma.


"Aku ikut pak, jangan tinggalkan aku sendiri di sini." ucap Nayla dengan memohon.


"Baiklah, ayo kita ke kamar." ucap Ardian memeluk pundak Nayla, sedang Nayla memeluk pinggang Ardian dengan erat.


Tiba di kamarnya, Ardian menuntun Nayla ke tempat tidur.


"Berbaringlah Nay, pakailah selimutku...aku akan menelpon Ayah." ucap Ardian seraya mengambil ponselnya dan menelpon Sasongko.


"Ya nak Ardian, apa Nayla masih di sana? hujan deras di sini, apa di sana juga deras?" tanya Sasongko yang tahu kelemahan Nayla.


"Ya Ayah, di sini ada petir juga, Nayla takut saya antar pulang." ucap Ardian jujur.


"Ya tidak apa-apa nak Ardian, biar Nayla tidur di sana tapi ayah minta...nak Ardian segera menghalalkan Nayla agar nak Ardian bisa membimbing Nayla untuk menjadi wanita yang lebih baik dan dewasa." ucap Sasongko panjang lebar.


"Insyaallah Ayah, saya harus bicara dulu sama Nayla mau tidak menikah dengan saya dalam minggu ini." ucap Ardian sambil melihat Nayla lagi yang sedang menatapnya.


"Ya sudah nak Ardian, Ayah tunggu besok di rumah untuk membahas pernikahan kalian." ucap Sasongko kemudian mengakhiri panggilannya.


Ardian mengambil nafas panjang, kemudian menatap Nayla yang masih menatapnya.


"Ayah ingin kita menikah secepatnya, bagaimana denganmu? apa kamu mau menikah denganku Nay?" tanya Ardian menatap dalam wajah Nayla.


Nayla mengangguk cepat.


"Ya aku mau pak." jawab Nayla tanpa ragu.

__ADS_1


"Alhamdulillah, trimakasih Nay." ucap Ardian membelai rambut Nayla.


"Tapi pak, kesepakatan kita tetap berlaku kan? pak Ardian tidak ingkar janji kan?" tanya Nayla berharap Ardian menepati janjinya.


Ardian tersenyum menatap lembut Nayla.


"Selama kamu tidak meminta, selama hidupku aku akan bersamamu Nayla, tapi jika kamu memintanya, aku akan mengabulkannya, jadi kamu jangan takut lagi soal hal itu ya." ucap Ardian dengan suara lirih, membuat hati Nayla tak mampu lagi bernafas.


"Sekarang, apa kamu percaya padaku?" tanya Ardian dengan suara lembut.


Nayla mengangguk pelan.


"Aku percaya sama pak Ardian, aku mohon jangan hancurkan kepercayaanku ya pak?" ucap Nayla penuh harap.


Ardian mengangguk mengusap pipi Nayla lembut.


"Sekarang tidurlah, aku menjagamu di sini." ucap Ardian duduk di kursi di samping Nayla.


"Maukah pak Ardian memelukku? aku masih takut dengan suara petir." ucap Nayla yang masih mendengar suara petir walau tidak sekeras di hujan awal.


"Peganglah tanganku Nay, kamu akan merasa tenang." ucap Ardian meraih tangan Nayla dan menggenggamnya erat.


"Pejamkan matamu, dan rasakan kalau aku menjagamu, berada dekat di sampingmu, mm maka kamu akan tenang." bisik Ardian sambil mengusap punggung tangan Nayla dengan lembut.


Mata Nayla terpejam, tidur meringkuk di balik selimut dengan tangan Ardian yang berada dalam genggamannya.


Hampir dua jam Ardian duduk menjaga Nayla agar bisa tidur lelap, setelah yakin Nayla tertidur pulas, Ardian beranjak dari duduknya dan pindan tidur di kursi sofa panjang.


Ardian melepaskan rasa lelahnya yang belum istirahat dari siang, pikirannya selalu tertuju pada Nayla gadis muda yang sangat di cintainya.


Karena terlalu lelahnya, Ardian pun tertidur di sofa tanpa memakai selimut.


Nayla yang sudah tidur beberapa jam, terbangun menjelang pagi. Dengan mata yang sedikit berat, Nayla mencari keberadaan Ardian.


Nayla turun dari tempat tidurnya, saat melihat Ardian tertidur tanpa memakai selimut.


Dengan penuh perhatian, Nayla mengambil selimutnya, dan menyelimuti tubuh Ardian.


Tanpa sadar, Nayla mengusap wajah Ardian yang tampak terlihat sangat lelah.


Kuliat wajah Ardian terasa panas menyengat.

__ADS_1


"Apakah pak Ardian demam?" tanya Nayla dalam hati dengan tangannya yang masih meraba kening Ardian.


__ADS_2