
Nayla berjalan sedikit cepat saat sudah sampai di kamar Kenzo. Di lihatnya Zanna sudah di depan pintu menunggunya.
"Zanna, bagaimana apa Kenzo sudah sadar?" tanya Nayla yang terlihat sangat lelah.
"Sudah Nay, sekarang tidur habis di suntik tenang oleh dokter, kejiwaan Kenzo kurang baik Nay, Kenzo krisis kepercayaan pada dirinya sendiri." ucap Zanna seraya duduk di kursi panjang depan kamar Kenzo.
Nayla pun mengikuti Zanna duduk di sampingnya.
"Aku sangat lelah dengan semua ini Zan." ucap Nayla dengan suara lirih, mata Nayla terlihat berkaca-kaca.
"Kenapa Nay? ada apa? apa kamu sakit?" tanya Zanna mengamati wajah Nayla yang terlihat pucat.
"Aku tidak tahu di mana Mas Ardian berada Zan, aku sangat mencemaskannya...aku merasa ada rasa sakit di dadaku ini tiap mengingat Mas Ardian, aku sudah mencarinya ke mana-mana sampai aku tadi pergi ke desa untuk mencarinya." Ucap Nayla menundukkan wajahnya tak ingin Zanna melihat airmatanya.
"Kamu pergi ke desa Nay? lalu apa kamu menemukan Pak Ardian?" tanya Zanna terkejut, sekaligus senang kalau Nayla sudah bertemu dengan Ardian.
"Ya Zan, pagi tadi aku kesana..kamu tahu Zan, aku menemukan selembar puisi ini di mejanya, di situ Mas Ardian membuat puisinya tanggal empat April, dan sekarang tanggal lima bukan? aku sangat yakin Mas Ardian ada di rumah desa kemarin, aku mencium bau parfum mint di bantal guling dan selimut Mas Ardian tapi saat aku tanya Bik Ummah katanya Bik Ummah tidak tahu karena Bik Ummah pulang kampung selama dua hari, aku sedih Zanna.. sepertinya hidup ini telah mempermainkan hatiku, di saat aku mencintai Kenzo, aku tidak bisa memilikinya malah aku hidup bersama Mas Ardian, dan sekarang..di saat aku mencintai Mas Ardian aku juga tidak bisa memilikinya, aku malah ada di sini bersama Kenzo, apa salahku Zanna? dosa apa yang telah aku perbuat? kenapa aku harus menerima ujian hidup seperti ini?" Ratap Nayla yang sudah tidak kuat lagi dengan rasa kehilangannya tanpa ada Ardian.
"Apa kamu yakin kamu mencintai Pak Ardian Nay, dan tidak lagi pada Kenzo?" tanya Zanna dengan wajah serius.
"Sebelum Mas Ardian memberikan surat cerai padaku, aku sudah mengatakan padanya untuk memberiku kesempatan agar aku yakin dengan perasaanku padanya karena aku merasa sudah mencintainya, tapi Mas Ardian tetap memberikan aku surat cerai saat tahu Kenzo tidak bisa melihat lagi, dan sejak kepergiannya aku merasa sangat yakin dengan perasaanku Zanna, hatiku terasa hampa..ada sesuatu yang hilang dalam diriku, aku menginginkannya kembali Zanna." ucap Nayla sambil menangis mengeluarkan semua rasa sedihnya.
Hati Zanna ikut menangis melihat Nayla yang begitu menderita tanpa ada Ardian.
__ADS_1
"Sabar ya Nay, kamu jangan putus asa untuk mencari pak Ardian ya?" Ucap Zanna memeluk pundak Nayla.
Nayla menyandarkan kepalanya pada pundak Zanna dan menangis pelan.
"Nay, kalau kamu tidak menemukan pak Ardian di rumahnya, apa kamu sudah mencari ke rumahmu? siapa tahu pak Ardian ada di sana?" ucap Zanna yang heran kenapa Ardian tidak ada di rumahnya, apakah Ardian sembunyi di saat tahu Nayla ke sana.
"Aku sudah ke rumah Zan, di sana sepi tidak orang, Ayah dan Bunda ke rumah sakit katanya kontrol rutin aku sudah mau ke sana untuk tanya apa tahu keberadaan Mas Ardian, tapi keburu kamu meneleponku." jawab Nayla yang tidak mencurigai apa-apa.
"Ayah dan Bunda ke rumah sakit?" Tanya Zanna setengah kaget dan mulai mengerti kenapa orang tua Nayla ke rumah sakit pasti Ardian dalam keadaan drop.
"Yah Zan, kenapa kamu terlihat kaget Zan?" Tanya Nayla ingin tahu kenapa Zanna sampai terkejut saat dia mengatakan Ayah dan Bundanya ke rumah sakit.
"Jangan-jangan!! apakah ini seperti yang di pikirkannya? Ayah dan Bundanya bersama Ardian, karena setahu Nayla Ayahnya tidak pernah kontrol sejak dia pulang ke desa, dan kenapa Ayahnya untuk kontrol saja harus dengan Bunda? bodohnya kamu Nayla!!! kenapa kamu tidak berpikir seperti ini saat di sana????" monolog Nayla sambil menatap Zanna tak berkedip.
"Zanna, aku akan kembali ke desa sekarang, tolong jaga Kenzo sampai aku kembali." ucap Nayla yang berdiri tiba-tiba dan berlari cepat ke arah mobilnya.
Sampai di depan rumahnya Nayla menghentikan mobilnya dan bergegas keluar ingin menemui Ayah dan Bundanya secepatnya.
"Assalamualaikum, Ayahhh...Bundaaa." panggil Nayla dengan nafasnya yang terengah-engah. Sambil menunggu pintu terbuka Nayla menenangkan hatinya dan berdoa dalam hati agar bisa di pertemukan dengan Ardian.
"Nayla?? kamu ke sini lagi Nak?" tanya Bunda Nay dengan wajah terkejut.
" Yah Bunda, aku kemari lagi karena mencari keberadaan Mas Ardian, aku akan menceritakan semuanya pada Ayah dan Bunda." ucap Nayla dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.
__ADS_1
"Masuklah Nay, Ayah dan Bunda sudah tahu semua dari Bik Ummah, tadi Bik Ummah kemari bawa makanan, katanya kamu tadi pagi tidak sempat makan?" ucap Bunda Nay membelai rambut Nayla penuh kasih sayang.
"Apa Ayah dan Bunda tidak marah sama aku setelah tahu semuanya dari Bik Ummah?" tanya Nayla tak mengerti dengan apa yang terjadi pada orang tuanya.
"Bunda tidak menyalahkanmu Nak, Ayah dan Bunda lah yang salah di sini Nak." ucap Bunda Nay menangis kecil.
"Bunda..maafkan aku, aku tidak bisa menjaga keutuhan rumah tangga aku, aku ingin memperbaikinya Bunda, aku tidak akan menandatangani surat cerai yang sudah di tanda tangani Mas Ardian Bun." Ucap Nayla menangis pilu.
"Ya sayang, tindakan kamu sudah benar, tapi bagaimana perasaanmu pada Kenzo Nay, apa kamu sudah tidak mencintainya lagi?" tanya Bunda Nay menatap lembut wajah Nayla yang terlihat sangat menderita.
"Aku sudah tidak mencintainya lagi Bunda, aku menyadarinya saat Mas Ardian pergi dari rumah dan tidak tahu ke mana Mas Ardian pergi, aku mencarinya ke mana-mana tapi tidak bisa ku temukan." Isak Nayla sambil memeluk Bundanya.
"Sabar ya sayang, mungkin ujian buat kamu sayang." ucap Bunda Nay tidak sampai hati melihat keadaan Nayla menderita seperti halnya Ardian yang sekarang sakit di rumah sakit.
"Bunda, di mana Ayah? bukannya Ayah dan Bunda tadi ada di rumah sakit untuk kontrol?" Tanya Nayla yang mulai berpikir seperti apa yang di pikirkan tadi saat mau kembali ke desa.
"Bunda, apa Ayah di rumah sakit bersama Mas Ardian? apa Mas Ardian sakit?" tanya Nayla beruntun dengan dada yang terasa sesak.
Bunda Nay terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan Nayla selain hanya bisa menangis, karena sudah berjanji pada Ardian untuk tidak memberitahu keberadaannya pada Nayla, karena memang hidupnya Ardian tidak akan lama lagi.
Melihat Bundanya yang menangis menambah keyakinannya bahwa Ardian bersama Ayahnya ada di rumah sakit.
"Aku harus ke rumah sakit sekarang Bunda." ucap Nayla beranjak dari tempatnya.
__ADS_1
"Nayla, Ayahmu tidak bersama Nak Ardian, Ayahmu pergi ke rumah pak Lurah sayang." Ucap Bunda Nay menahan Nayla untuk pergi ke rumah sakit.
"Aku akan tetap ke sana Bunda." ucap Nayla dengan sangat yakin.