
"Kenzo, ada panggilan masuk dari Alex, kita lanjutkan nanti pembicaraan kita ya." ucap Priambodo dengan hati yang berdebar-debar.
"Oke..jangan lupa kabari aku secepatnya." ucap Kenzo kemudian mengakhirinya panggilannya.
"Siapp." sahut Priambodo seraya menerima panggilan Alex.
"Hallo.. Alex, bagaimana? apa ada kabar baik atau buruk?" tanya Priambodo dengan serius.
"Dargo dan kawan-kawannya sudah kita amankan kapten, ada satu yang tewas karena melawan." jelas Alex di sana.
"Syukurlah, aku minta padamu khusus untuk Dargo kamu amankan di markas kita jangan sampai ada yang menghubunginya ataupun dia menghubungi orang luar. Dargo kunci utama untuk menyelesaikan masalah kita, aku akan segera ke sana." ucap Priambodo dengan serius.
"Siap kapten." ucap Alex dengan tenang di sana.
Priambodo menghela nafas lega, akhirnya apa yang di harapkannya telah menjadi nyata.
Dengan langkah panjang, Priambodo keluar dari rumah sakit seraya mengirim pesan pada Ardian memberitahu kabar yang terbaru tentang tertangkapnya Dargo.
"Aku harus ke markas sekarang untuk mendapatkan pengakuan dari Dargo sebelum terjadi sesuatu." gumam Priambodo menjalankan mobilnya menuju ke markas militernya.
Tiba di markas militer, Priambodo keluar dari mobilnya dan sudah di sambut dengan Alex.
"Di mana dia?" tanya Priambodo seraya melepas kacamata hitamnya.
"Ada di ruang interogasi kapten." jawab Alex dengan sigap.
"Baik, aku akan ke sana." ucap Priambodo berjalan ke ruang interogasi dengan langkah kaki panjangnya.
Tiba di depan pintu ruang interogasi Priambodo menyalakan perekam pada ponselnya dan memasukkannya lagi di kantong sakunya.
Di dalam ruangan Dargo sudah duduk di sebuah kursi depan kedua tangannya terikat di belakang kursi.
Priambodo melihat Dargo pingsan dengan wajah Dargo sudah terlihat babak belur yang mungkin sudah di hajar habis-habisan oleh anak buahnya.
Priambodo mengambil segelas air kemudian dia tuangkan satu botol air cuka dan garam ke dalamnya.
__ADS_1
Dengan membawa air cuka garam, Priambodo mendekati Dargo dan menyiram wajah Dargo dengan setengah gelas air yang di bawanya.
Seketika itu juga terdengar teriakan keras dari Dargo dengan wajah yang terlihat memerah dan sedikit melepuh.
"Katakan siapa yang menyuruhmu membunuh Anita?" tanya Priambodo langsung pada pokok pemikirannya, karena dia tahu Dargo adalah seorang pembunuh sewaan. Jadi di saat dia bersama Anita pasti ada orang yang menyuruhnya.
"Aku tidak tahu siapa Anita!" jawab Dargo berusaha tenang.
"Oh ya? bagaimana kalau salah satu orangku punya rekamannya saat kamu bersama Anita yang tengah memegangi saudara Ardian di lorong rumah sakit? apa kamu masih menyangkal?" gertak Priambodo dengan suara yang lunak.
Dargo menatap wajah Priambodo tidak percaya.
"Kamu ingin menjebakku bukan! kamu bohong?" ucap Dargo dengan tatapan matanya yang terlihat menahan perih.
"Bohong? apa aku bohong jika kamu memakai pakaian kemeja kotak-kotak hitam dan kedua temanmu yang juga berjalan di belakangmu saat membekap saudara Ardian dengan sebuah saputangan?" ucap Priambodo dengan sangat meyakinkan membuat Dargo menelan air ludahnya.
"Aku memang di suruh Anita dan bukan aku yang membunuh Anita!" jawab Dargo bertahan untuk melindungi Burhan.
"Kamu tahu Dargo, aku tidak suka dengan pertanyaan yang bertele-tele, aku tanya dan kamu harus menjawab dengan benar. Siapa yang menyuruhmu membunuh Anita!!" teriak Priambodo sambil menyiram wajah Dargo dengan air cuka garam lagi.
"Aaakkkhhh!! Tidak ada yang menyuruhku dan juga bukan aku yang membunuh Anita!" jawab Dargo dengan suara teriakan penuh kesakitan.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Dargo dengan wajah meringis menahan perih.
"Membakarmu secara perlahan-lahan." jawab Priambodo dengan nada dingin.
Sambil menyalakan pemantik apinya, Priambodo membuka resleting celana Dargo dan menarik pelan ke**luan milik Dargo. Dengan pelan tapi pasti Priambodo mendekatkan pemantik apinya yang sudah menyala pada ke**luan milik Dargo. Rasa panas sudah di rasakan Dargo.
Keringat dingin sudah keluar dari kening dan kulit tubuh Dargo.
"Sekarang katakan dengan benar, atau kamu akan melihat milikmu terbakar!" ucap Priambodo bersiap-siap membakar milik Dargo.
"Jangan-jangan!" teriak Dargo dengan wajah pucat saat api itu sedikit membakar miliknya dan itu sangat menakutkan sekali.
"Sekarang katakan, waktuku tidak banyak lagi." ucap Priambodo dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Burhan, Burhan yang menyewaku membunuh Anita, dan Burhan juga yang menjebak Ardian dan memperkosa Anita saat Anita tidak sadar setelah banyak minum." ucap Dargo dengan wajah pucatnya. Dargo tidak bisa membayangkan jika Priambodo benar-benar akan membakar barang miliknya sampai hangus, bagaimana dia bisa menikmati saat bercinta dengan setiap wanita yang akan di kencaninya.
"Sudah cukup." ucap Priambodo yang tidak terlalu banyak bertanya, Karena dia sudah mendapatkan jawaban yang penting baginya dan itu semua sudah terekam di ponselnya.
"Alex!! kemarilah!" panggil Priambodo pada Alex yang menunggunya di balik pintu.
"Ya Kapten." sahut Alex langsung masuk ke dalam ruangan.
"Jaga dia di sini sampai masa persidangan tiba." ucap Priambodo sambil menepuk bahu Alex dan meninggalkan tempat.
Dengan perasaan lega, Priambodo kembali ke rumah sakit untuk menemui Ardian dan Nayla.
Tiba di depan kamar Ardian, Priambodo mengetuk pintu dan masuk ke dalam kamar.
"Paman, Nay? sedang apa kalian?" tanya Priambodo saat tahu Nayla sedang berciuman dengan Ardian.
Ardian tersenyum dengan wajah memerah, sedangkan Nayla mengusap bibirnya yang sedikit basah terkena bibir lembab milik Ardian.
"Sudah Pri, jangan bertanya kami sedang melakukan apa! kamu masih kecil." jawab Nayla yang sebenarnya menahan rasa malu.
Priambodo tertawa kecil mendengar jawaban Nayla.
"Paman, aku sudah mendapatkan pengakuan dari Dargo kalau ternyata Burhan menyewanya untuk membunuh Anita. Dan Burhan juga yang memperkosa Anita sebelum Dargo membunuhnya." ucap Priambodo setelah duduk di samping Ardian.
"Apa benar itu Pri? Akkhhh syukurlah Pri kamu memang benar-benar keponakan mas Ardian yang keren." ucap Nayla seraya mendekati Priambodo namun berbelok memeluk Ardian.
Ardian tersenyum bahagia melihat Nayla memeluknya, tidak lagi memeluk Priambodo.
Priambodo tersenyum kecut sambil mengusap tengkuk lehernya.
"Jadi paman benar-benar cemburu nih ceritanya, sekarang Nayla sudah tidak berani memelukku lagi. Padahal aku kan pantas untuk mendapat hadiah sebuah pelukan." ucap Priambodo dengan merubah wajah sedih.
"Pri...kemarilah peluk paman dan peluk juga bibimu Nayla." ucap Ardian merentangkan kedua tangannya.
Dengan wajah bahagia Priambodo memeluk Ardian dan Nayla. Ketiganya saling berpelukan merasakan kebahagiaan yang luar biasa karena telah melewati semua ujian yang sangat berat.
__ADS_1
"Terimakasih Pri, sungguh kami tidak tahu, jika tidak ada dirimu. Mungkin aku sudah ada di penjara dan Nayla sendiri bersama bayi kami." ucap Ardian dengan rasa haru.
"Sama-sama paman, sudah sepatutnya aku menjaga paman, karena hanya paman yang selalu support aku di saat aku membutuhkan semangat untuk mendapatkan semua ini." ucap Priambodo yang menganggap Ardian sebagai ayahnya.